Wisata di Kerajaan Burung Pulau Rambut

oleh : Nur Laeliyatul Masruroh.

Pulau Rambut dipotret dari menara pandang. Photo by Novian Wijaya.

Pulau Rambut merupakan satu pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu yang dijuluki Kerajaan Burung, luas area 45 hektar, 50%nya hutan mangrove, sisanya hutan daratan dan rawa. Selain itu, ketika berjelajah di sana tidak akan ditemukan warung dan penginapan, karena pulau ini tidak berpenduduk. Bagi sebagian orang, kawasan ini mungkin dianggap tidaklah menarik. Hutan dengan  pepohonan lebat, vegetasi lantai, rawa belumpur, ular berbisa sewaktu-waktu muncul di cabang pohon, dan biawak melata dari semak-semak. Kawasan ini memang bukan untuk wisata biasa. Lalu mengapa ada sekelompok orang sampai repot antri untuk daftar ke sana?

Varanus salvator at Rambut Island, Photo by Eko Sutrisno HP.Area konservasi Pulau Rambut oleh Pemerintah Indonesia ditetapkan sebagai cagar alam burung. Tidak semua orang bisa berkunjung bebas di sini. Untuk memasukinya perlu mengantongi surat sakti dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Jakarta. Sebuah perjalanan yang perlu perencanaan jauh hari untuk mengurus ijin agar bisa masuk ke lokasi wisata alam yang dilindungi ini. Pada keadaan biasa, diperkirakan sekitar 20.000 burung hidup di pulau ini. Bahkan, di bulan Maret sampai September, jumlah itu meningkat hingga 50.000 burung. Burung-burung itu diperkirakan datang dari Australia. Beruntung sekali teman-teman keluarga alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) yang tergabung dalam kelompok Fotografi Kagama mengadakan Photography Gathering, pada 26-27 Mei 2012 mendapatkan akses melakukan perjalanan wisata alam ke sana untuk sehari semalam.

Burung-burung di Pulau Rambut, Photo by Yassir Suhari AbasKetika kapal mendarat di dermaga, mereka disambut hilir mudik puluhan marga aves. Selain itu, sayang sekali sampah plastik juga berserakan di bibir pantai, sampah kiriman dari sungai Jakarta. Kegiatan yang dilakukan oleh pecinta fotografi tersebut adalah bersih pantai, tanam bakau, dan birdwatching. Menurut Haris Yunanto, salah satu peserta alumni Fakultas Kehutanan, menuturkan berhasil memotret sekitar 9 jenis burung, yaitu Bangau Bluwok, Pecuk Ular, Cangak Abu, Pecuk Padi, Elang Laut, Kuntul, Kowak Malam, Gegajahan Besar, dan Cikalang.

Burung-burung tersebut bisa kita lihat bebas beterbangan di udara, di atas deburan ombak, berenang di tepi laut, di pepohon pinggir pantai, atau juga di ranting tertinggi pohon kepuh di tengah hutan. Di tengah hutan bakau terdapat menara pandang sebagai tempat strategis mengamati burung dengan jangkauan lebih luas. Di dasar hutan yang sebagian berawa, puluhan spesies biawak (Varanus salvator), ular piton (Phyton reticulatus), dan ular cincin emas (Boiga dendrophila) melata, menunggu burung-burung muda yang masih belajar terbang terjatuh untuk dimangsa. Burung-burung biasanya muncul lebih banyak pada sore hari.

Untuk berjelajah hutan, di pulau ini telah dibangun trek ke berbagai arah, lengkap dengan papan arah. Termasuk arah menuju menara pandang, tempat berkontruksi besi ini memiliki ketinggian yang cukup membuat jantung berdebar ketika menaikinya. Namun di atas sana, pemandangannya sangat indah.

Dari atas menara pandang dengan ketinggian sama dengan ranting pohon kepuh, nampak tajuk-tajuk pepohonan yang hijau lebat dikelilingi laut, dibalut matahari yang cerah, burung-burung beterbangan atau duduk di ranting, bergerombol atau sendirian pulang ke sarang.  Saat itulah kita bisa menikmati surga yang tersembunyi di sebuah titik di Indonesia.

Untuk istirahat malam, mereka mendirikan tenda dan sebagian tidur di pos jaga. Sedangkan makanan didatangkan dari pulau lain terdekat, pulau Untung Jawa, menggunakan boat kecil. Momen yang jangan sampai terlewatkan adalah sunrise dan sunset. Debur ombak yang kencang, laut perpadu langit, siluet tajuk pohon, dibalut sinar matahari yang sedang terbit ataupun mulai tenggelam, dan disempurnakan dengan hilir mudik sekelompok burung terbang. Sunrise dan sunset yang sempurna ini bisa ditemukan di sana.

Menurut Wild Life Indonesia, beberapa daftar penghuni suaka ini adalah kepodang (Oriolus chinensis), dara laut (Steanidai), bluwok/walangkadak (Ibis cinercus), cangak abu (Ardea cinerea), cangak merah (Ardea purpurea), raja udang (Alcedinidae), kowak malam (Nycticorax nycticorax), kowak merah (Nycticorax saledonicus), alap alap putih/tikus (Elanus hypoleucus), culik culik (Edynamis scolopacea), kalong (Pteropus), elang bondol (Haliastur indus), gagak (Corvus), bangau tong tong atau merabu (Leptoptilos javanicus), kucing hutan, srigunting, biawak, pelung mandar, pecuk padi (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular (Anhinga melanogaster), blekek, blekek kembang, mliwis kembang, roko roko (Plegadis falcinellus), mliwis, kuntul bangau putih, ibis putih, pelatuk besi, ular phyton (Python reticulatus), dan ular cincin emas (Boiga dendrophila).

Selain dihuni oleh burung air endemik Indonesia, Pulau Rambut juga menjadi tempat persinggahan burung migran. Pulau ini sudah menjadi area konservasi sejak zaman Belanda dan dilindungi Undang-undang sehingga surga ini hingga kini aman dari tangan kotor manusia. Sebagai area konservasi, Pulau Rambut turut membangun citra keindahan Kepulauan Seribu, sehingga Kepulauan Seribu menjadi satu dari 10 tempat wisata favorit versi Majalah National Geographic pada 2009.

Burung Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) di Pulau Rambut. Photo by Haris Yunanto.

Depok, 7 June 2012

Penulis adalah jurnalis dan alumni Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada.

Beberapa fauna dan flora yang ditemukan dan dipotret di Pulau Rambut :

Photo by Eko SHP

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s