Mengenal Burung Pecuk Ular

Burung Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) di Pulau Rambut. Photo by Haris Yunanto.

Salah satu spesies endemik yang ditemukan di Kerajaan Burung Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, adalah burung Pecuk Ular, memiliki nama ilmiah Anhinga melanogaster, suku Phalacrocoracidae, dan bangsa Pelecaniformes.

Burung Pecuk Ular memiliki leher panjang dan langsing menyerupai ular. Burung ini termasuk golongan burung air, menyenangi daerah perairan seperti mangrove, danau, rawa, dan sungai. Panjang tubuhnya mulai dari kepala hingga kaki bisa mencapai 80-90 cm. Kepala sempit kecil. Bulu ditubuhnya terutama bagian depan badan berwarna hitam legam, bagian belakang berwarna kecoklatan, ada setrip dagu putih sepanjang leher, bulu penutup putih halus dengan pinggir hitam, kaki keabu-abuan. Sedangkan pada leher coklat kekuningan. Paruhnya panjang berwarna kuning muda atau abu-abu.

Setelah berenang atau menyelam, burung pecuk ular harus mengeringkan dulu tubuhnya, sebab mereka tidak akan bisa terbang jika sayap dalam keadaan basah. Sarangnya berupa tumpukan ranting pada pohon tinggi dekat pantai. Telur berwarna keputih-putihan, berjumlah 2-4 butir. Berbiak bulan Desember-Maret dan Maret-Juni.

Bentuk lehernya yang panjang memudahkan burung ini menangkap ikan di sungai. Selain ikan, mereka juga memangsa berbagai hewan air seperti katak, kadal air dan sejenisnya. Burung ini mampu menyelam hingga kedalaman 200 meter di bawah air. Lamanya mereka menyelam tergantung sejauh mana mangsa ditemukan. Biasanya berkisar antara beberapa menit sampai satu jam! Mangsa yang didapat tidak langsung ditelan melainkan dikibas-kibaskan dulu sampai tak berdaya, baru dikunyah.

Sebagian pengamat burung menyebutnya sebagai Oriental Darter karena memang hanya berada di daerah Asia, terutama India, Filipina, Indonesia dan Thailand. Di Indonesia burung pecuk ular bisa dijumpai di Jawa (pulau Rambut, gugusan kepulauan Seribu), Sulawesi, Kalimantan (Kawasan Taman Nasional Betun Kerihun – TNBK) dan sebagian Sumatera.

Dari berbagai sumber.

Depok-West Java, Indonesia, 7 June 2012

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s