Keterbatasan

Entah sejak kapan aku mulai menyadari bahwa aku sering tidak bisa membuka botol. Botol air mineral yang tutupnya plastik. Sebenarnya tutup cuma perlu diputar, tapi entah kenapa tanganku sering tidak berhasil membukanya. Biasanya kalau membuka di rumah, pakai bantuan gunting. Tapi botol minuman lebih sering  diperlukan dalam perjalanan, beli di jalan dan membukanya pun di jalan. Karena minuman botol memang biasa untuk bekal perjalanan.

Biasanya aku minta tolong orang di sekitarku untuk membukanya. Sayangnya aku kadang nggak enak minta tolong. Suatu kali pernah aku kesulitan membuka botol. Sekuat tenaga aku berusaha menyelesaikan masalah kecil itu dengan tanganku sendiri. Saat itu panas terik di wilayah Blok M. Dari mulai aku berdiri di samping ruko, lalu duduk di tangga, lalu berdiri lagi. Mulai dari mengelap tangan dulu, lalu memutar tutup dengan bantuan syal, lalu baju. Masih belum berhasil. Banyak orang lalu lalang, namun aku enggan minta tolong. “Masa sih cuma buka botol aja nggak bisa.” batinku.

Saat aku mulai jengkel dengan diriku, tiba-tiba seorang bapak datang menghampiri. “Mbak, mau buka botol ya?” Kok bapak tahu? “Sejak tadi saya lihat mbaknya kesusahan buka botol. Saya kasihan, makanya saya kemari.” Huah, syukurlah.
Lain waktu, saat itu di dalam angkutan umum. Setelah memutar-mutar tutup botol air dan tidak berhasil, aku minta tolong mbak-mbak di sebelahku. Ternyata dia juga nggak bisa. Saat itu aku sedang sangat haus. Anehnya, aku nggak jengkel dengan diriku. Mungkin karena aku merasa nasibku tak sendiri. Di dunia ini ternyata nggak cuma aku, manusia dewasa yang tidak bisa membuka botol dengan tangannya sendiri. Hihi.

Nggak cuma tutup botol. Aku juga kesulitan membuka tutup bensin. Tapi nggak selalu, kadang bisa, kadang tidak bisa. Saat mulai antri di POM bensin, aku mulai cemas. Apakah kali ini aku bisa membukanya atau tidak. Kadang aku minta tolong, kadang tidak. Beberapa kali, selalu ada yang menawarkan bantuan. Ketika aku kesulitan membuka tutup dan aku tidak minta tolong, itu karena aku malu. Jadi, siapa saja yang melihat seseorang kesulitan memutar tutup, semoga tergerak hatinya untuk menawarkan bantuan, meski yang bersangkutan tidak meminta.

Itu mugkin salah satu keterbatasanku. Ini membuatku lebih peka pada hal-hal kecil. Aku kadang memperhatikan detail aktifitas kecil orang-orang di sekelilingku. Menemukan mereka yang sepertinya kesulitan sesuatu tetapi enggan untuk minta bantuan. Lalu, kadang aku coba berani untuk menanyakan. Jika memungkinkan kutawarkan bantuan. Dulu aku heran ada orang yang malu bertanya arah jalan. Padahal bertanya itu tidak bayar, tidak juga merepotkan. Kini aku mengerti, barangkali itu salah satu keterbatasannya, malu bertanya. Keterbatasan mengajariku dengan cara yang berbeda.

Depok, akhir Agustus 2012

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s