Penulis Pemula yang Bikin Repot

Aku mau cerita kasak kusuk di antara teman-teman media penerbit. Aku termasuk anak baru di dunia penerbitan. Kalau berinteraksi dengan penerbit memang sudah sejak jaman kuliah, tapi untuk masuk di dalamnya aku belum lama. Dan sesekali menemui pengalaman baru. Seperti ini.

 Seorang teman kerja sedang ngurusin penulis yang merepotkan. Apa itu merepotkan? Konon si penulis mau me-layout bukunya sendiri, bikin cover sendiri, milih foto sendiri. Nah, bagus dong pikirku, nggak merepotkan tim artistik. Tapi ternyata ada lanjutannya, ketika mengoreksi dia nggak langsung segera final. Bolak balik perbaikan. Saat menit-menit terakhir mau cetak dummy, minta perbaikan lagi, banyak pula. Udah gitu katanya bawel, sombongnya minta ampun, blabla.

Rumpi-rumpi di suatu kubik, ada usul dengan meyakinkan yang intinya penulis yang merepotkan gak usah dilanjutkan proses penerbitannya. “Udah kecium baunya bukunya gak laku!” kata seseorang.

Kalau aku pribadi sih, kalau memang tulisannya bagus dan layak terbit, meskipun merepotkan dan bawel, buku tetap bisa dilanjutkan untuk terbit. Hei, tapi mereka juga manusia, kalau dibikin jengkel bisa saja batal menerbitkan. Kalau begitu, mungkin masalahnya adalah soal cara komunikasi kali ya. Si penulis tidak bisa mengkomunikasikan kemauannya soal bukunya, sehingga gayanya sombong dan banyak mau. So, pesan moral dari peristiwa ini, saranku buat penulis pemula, ketika proses menerbitkan buku, kalau misal banyak kemauan ini itu baiknya disampaikan dengan baik dan tepat, gitu kali ya.😀

Terus kalau udah jadi penulis senior boleh bawel dan banyak mau? Hm, boleh nggak ya? Gini, penulis pemula itu secara umum tulisannya belum matang. Meskipun idenya keren, tapi untuk sampai “layak terbit” biasanya dibantu editor dan tim artistik dipoles sana sini biar akhirnya benar-benar layak terbit. Orang-orang penerbit biasanya sudah punya gambaran tentang karya yang bernilai jual. Karena mereka telah pengalaman menandai buku-buku semacam apa yang kemungkinan laku. Kadang juga mereka spekulatif pada buku yang membawa ide baru dan belum pasaran. Kalau penulis senior atau yang sudah punya nama, apalagi kalau karyanya selalu laku, meski banyak mau, biasanya penerbit tetap meloloskan. Mereka sudah menghitung pasarnya tersendiri.

Lalu, kadang ada penulis yang merasa idenya keren, brilian, dan semacamnya tapi komplain saat naskahnya ditolak. Nuduh penerbit gak beranilah, selera gak baguslah. Ups, tunggu dulu, yang begini biasanya penulis pemula yang gak ngerti pasar. Udah gitu nagih-nagih royalti segera. OMG. Mereka maunya diterbitkan, tapi ketika karyanya tidak laku tidak mau berpikir bahwa penerbit menanggung rugi biaya percetakan dan penerbitan. Untuk menerbitkan 1 buku saja untuk cetak 4000 eksemplar bisa membutuhkan biaya belasan juta rupiah. Sekarang ngerti kan kenapa penerbit selalu berpikir soal selera pasar?🙂

Cimanggis, 6 Februari 2013.

Leave a comment

Filed under Writing&Journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s