Copy Editor

Sekian waktu lalu saya mengikuti Copy Editing Skills Shout Course yang diselenggarakan oleh Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (Alenia) di IKAPI Pusat. Pelatihan ini tentu saja ditujukan untuk para copyeditor. Meskipun tugas utama saya di kantor bukan itu—posisi saya kali ini sebagai penulis internal, saya merasa perlu belajar copy editing. Ini sangat mendukung kerja penulisan. Lebih dari itu, saya menjadi lebih tahu kerja copy editor. Meskipun sehari-hari saya berada di antara mereka, pengalaman kali ini membuat saya makin dekat dengan dunia editing. Juga tidak menutup kemungkinan kelak saya akan mengedit buku.

Bagi yang awam dunia penerbitan mungkin perlu tahu bahwa ada profesi bernama Copy Editor. Apa bedanya dengan Editor? Ini berdasarkan kata mereka yang sudah malang melintang di dunia penerbitan. Konon sebutan editor dipakai untuk menjuluki juru edit secara umum. Ada perbedaan antara editor media massa dan editor penerbitan buku. Editor koran harian, media online, dan majalah biasanya para redaktur. Sedangkan Editor penerbitan buku biasanya tim redaksi. Lalu apa bedanya? Duh, jadi bingung.

Ini catatan saya sebagai anak baru yang masuk dunia penerbitan. Saya belum genap setahun memasuki dunia persilatan ini.Jadi, sedang sangat kepo-keponya perihal pengeditan. Sebelumnya saya terjun di dunia jurnalistik, bekerja di koran harian untuk desk Hukum dan Politik. Lebih banyak menulis hardnews dan sedikit feature. Tidak tahu banyak soal editing, hanya tahu berita yang saya tulis sering dipotong demi halaman koran yang terbatas. Atau judul diedit dengan diksi yang lebih bombastis. Juga pernah cukup lama belajar penulisan fiksi di Forum Lingkar Pena, Jogjakarta. Tentu saja saya pernah dengar soal profesi editor, tapi tidak tahu persis seperti apa profesi itu seharusnya. Sekali lagi, se-ha-rus-nya. Jadi, berikut adalah internalisasi subjektif saya memahami copyediting.

Copy Editor itu ngedit apa? Tentu saja naskah. Ada juga yang menerjemahkan Copy Editor menjadi Editor Nas. Nas di sini dalam arti “teks”. Dalam KBBI, konon “nas” diturunkan dari kata “nash” (bahasa arab). Artinya lebih dalam dari sekedar teks. Sepintas lalu, sepertinya kerjaan seperti itu mudah. Mungkin hanya paham EYD saja sudah cukup. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Copy editor profesional musti mengedit naskah hingga layak terbit menjadi buku. Mulai dari isi, gambar, hingga sampul depan dan belakang. Bukankah itu bagian dari kerjaan layouter? Yup, untuk gambar dan sampul memang yang bikin layouter, setter, atau bahkan orang khusus pembuat sampul, tapi finally yang memeriksa kesesuaian gambar dan isi adalah sang copy editor.

Makanya dalam sesi training itu dibahas sekilas tentang Pictorial Editing. Mengedit gambar. Copyeditor harus jeli memeriksa apakah gambar sudah mewakili isi. Adakah yang janggal dari gambar. Saat training, peserta diberi sampul buku bergambar sepasang laki-laki dan perempuan sedang boncengan sepeda. Si perempuan ternyata duduknya kidal. Kidal? Maksud saya, duduknya menyamping ke arah yang tidak umum. Dalam dunia nyata, mungkin saja ada orang yang dibonceng dengan cara demikian, namun itu tidak lazim. Sang perempuan juga menaruh kaki persis di atas rantai. Itu juga tidak lazim. Copy editorlah yang musti jeli mengoreksi karena dia menjadi ujung tombak buku menemui pembacanya.

Selain itu, dalam training juga dibahas tentang copywriting. Hah, editor juga musti paham pekerjaan Copy Writer? Profesi ini biasanya ada di bidang periklanan. Menyusun teks dan gambar yang bernilai daya jual. Nah, sebagai editor buku dituntut untuk bisa membuat blurb (cover belakang buku) yang isinya menarik. Dari blurb inilah pembaca menilai dan memutuskan membeli buku.

Copy editor juga musti memiliki ketrampilan Rewriting. Seringkali naskah yang masuk ke redaksi dalam keadaan luar biasa belepotan. Biarpun penulis punya ide brilian membahana, tapi kalau tidak diolah dengan tepat, hanya akan numpuk di gudang naskah. Tidak jarang ditemukan naskah bagus tapi banyak paragraf yang susunan kalimatnya salah logika. Saking banyaknya yang harus diedit dalam satu paragraf, akhirnya copy editor musti menulis ulang. Nah, di sini copy editor dituntut memahami maksud penulis, lalu membantu menuliskan ulang.  Ketika editor gagal memahami maksud penulis, bagaimana akan memahamkan pembaca.

Gaya Selingkung. Gaya apaan tuh? Baca pelan-pelan, bukan gaya selingkuh lhoh ya. Biarpun bekerja di media, belum tentu ngerti apa itu gaya selingkung. Jadi, kalau kamu baru pertama kali mendengarnya, tenang, kamu banyak temennya!😀. Intinya sih, gaya khas suatu redaksi. Buku dan media massa memiliki gaya selingkung masing-masing.

Sebut saja koran Tempo. Koran ini menomori halamannya dengan gabungan huruf dan angka, misal A3, A4, A5 dst. Ukuran kertasnya lebih kecil dibanding koran lain. Iklannya menyasar pada konsumen menengah ke atas. Sering memunculkan istilah baru, seperti berkelindan, senyampang, dll. Bahasanya EYD dan sastrawi. Foto pada halaman utama seringkali gambar tokoh, diletakkan bergabung dengan teks. Berbeda dengan Kompas yang meletakkan foto pada halaman pertama di kanan atas dalam ukuran besar dan biasanya foto peristiwa. Itulah gaya selingkung koran Tempo. Gaya ini membedakan Tempo dengan media lain.

Contoh lain, buku terbitan Penebar Swadaya (PS). Biasanya penerbit ini meluncurkan buku-buku pertanian, lebih tepatnya agrokompleks. Buku-bukunya kebanyakan tertera simbol PS di kiri atas cover depan. Penulisnya biasanya praktisi atau akademisi. Itulah gaya selingkung penerbit PS. Pada cover belakang buku PS, nama dan alamat penerbit tersebut di kiri bawah. Barcode muncul di kanan bawah. Tapi perlu dicatat, soal penempatan logo, alamat, danbarcode, biasanya hampir semua buku begitu, karena konon sudah pakem. Tapi ada juga yang menaruh logo dimana saja, suka-suka. Bisa jadi memang sengaja untuk ciri khas, atau bisa juga karena layoter dan editornya nggak paham gaya selingkung.

Dalam media penerbitan biasanya memiliki berbagai imprint. Setiap imprint kadang memiliki gaya selingkung tersendiri. Jadi, sebagai copyeditor wajib paham gaya selingkung. Ketika seorang editor resign, editor berikutnya bisa mengikuti gaya selingkung yang sudah ada. Meskipun tim redaksinya berganti-ganti, satu penerbit bisa tetap mempertahankan gaya khasnya.

Satu lagi rahasia di dunia copyediting. Copy editor boleh saja menuliskan kata yang tidak dianjurkan oleh KBBI, artinya boleh sengaja salah. Meskipun salah, harus konsisten. Contohnya dalam penerbit buku-buku islami, mereka menuliskan kitab suci umat Islam dengan kata “Al-Qu’an”. Padahal kata baku yang benar adalah “Alquran”.Jadi, jika suatu buku memilih menggunakan kata “Al-Qur’an”, meski keliru harus keliru terus sampai akhir.

Itu saja tentang copyeditor dan copyediting. Kalau ada teman-teman yang punya pengalaman lain dalam copy editing, silakan berbagi, menambahi, dan/atau mengoreksi. Terima kasih.😉

Depok, 25 Februari 2013

Leave a comment

Filed under Writing&Journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s