You Are What You Eat

Semalam jalan-jalan sama teman-teman kantor. Jalan-jalan dalam arti bukan urusan pekerjaan. Sekian waktu lalu, teman-teman yang lebih dulu bekerja alias karyawan lama mendapat bonus tahunan, semantara anak-anak baru–termasuk aku– tidak dapat. Jadi, semalam dalam rangka memberiku–dan anak baru lainnya–gratis makan dan minum di restoran yang tidak biasa. Menu yang tidak biasa. Biasanya pada hari-hari kerja, kami makan siang di warung dengan menu ayam goreng, pecel Jatim, soto Banjar, dan mie ayam. Itu lagi dan lagi, berulang. Semalam sengaja makan yang selain itu.

Kami makan di Margo City. Sekitar 15 orang memenuhi meja Redbean. Seorang teman yang datang terlambat mendapati kami berpakaian beda-beda. Padahal saat berangkat dari kantor tadi kami semua berseragam. Dia bilang, “kalian nggak berani pakai seragam ya?” Sebagian besar dari kami memang melepas seragam. Ada yang tetap membiarkan melekat di badan namun dibalut jaket. Entah mengapa ada perasaan kurang nyaman memakai seragam untuk urusan di luar kantor.

Aku sendiri menyimpan seragamku di tas. Beberapa teman sengaja pulang dulu ganti baju main. Tidak tahu alasan pasti mengapa mereka melepas seragam. Mungkin semacam tidak ingin diketahui siapa mereka. Bagaimanapun seragam adalah bagian dari identitas. Padahal andai kami berseragam, aku yakin orang awam tidak akan tahu siapa kami. Kalau seragam polisi, tentara, perawat, atau pegawai bank, kan sudah jelas. Sedangkan seragam kami berupa hem putih tulang dengan label berupa dua huruf berwarna hijau di dada dan lengan. Aku yakin 99 dari 100 orang di mall dipastikan tidak tahu kami siapa. Lha memang siapa? Ada editor, penulis, fotografer, setter, socmed officer, marcom officer, dan sekretaris yang pada waktu tertentu memakai pakaian sama persis.

Soal seragam dipakai atau dilepas diam-diam menjadi perdebatan dalam diriku. Ketika aku pakai seragam itu, aku yakin orang-orang di mall tak akan tahu aku ini setter atau socmed officer atau malah sales kompor gas. Atau bahkan, jangan-jangan orang-orang tak menyangka yang kupakai itu seragam kerja. Jadi, mengapa aku perlu melepas seragam? Mungkin singkatnya, saat itu aku hanya ingin melepas identitas karyawan perusahaan anu. Dengan pakaian bebas, bagi orang-orang asing yang lewat, aku adalah entah siapa.

Kami pesan menu untuk bersama. Macem-macem menu sampai aku lupa namanya apa saja. Yang kuingat sayurannya beberapa selada dengan nama yang beda-beda. Lauknya ada daging sapi lada hitam. Jamur yang seperti jengkol, jamur kancing, dan entah jamur apalagi lagi. Juga, ayam dipotong kecil-kecil digoreng tepung krispi. Udang yang ditempel pada roti tawar. Aku lupa semua nama menunya. Minumnya aku pesan Capucino es krim.

Di dinding restoran itu tertera tulisan, “you are what you eat.” Kamu adalah yang kamu makan. Pertanyaan tentang “siapakah aku dengan dan tanpa seragam” dijawab oleh sederet kata yang terpancang di dinding. Aku adalah selembar selada, aku juga sekotak tahu, aku semangkok bubur, aku sehelai mie renyah, aku sepotong daging sapi lada hitam, aku sepuluh sendok nasi, aku sekian teguk Capucino, aku 3 keping wortel rebus, aku potongan bunga kol. Aku kenyang sekali. Separuh nasi di mangkuk jatahku tak berhasil masuk perut.

Pagi harinya panggilan alam mengosongkan isi usus besarku. Masih kuingat tulisan di dinding restoran semalam. You are what you eat. Kali itu aku belum makan apapun. Berseragam ataupun tidak, kali itu aku bukan apa-apa.

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s