Monthly Archives: April 2013

Seragam

Dulu, saat jaman masih sekolah, aku berangan-angan kelak dewasa ingin bekerja di tempat yang tak perlu pakai baju seragam. Kali ini aku coba mengingat-ingat apa yang membuatku menghindari seragam.

Saat SD, aku diberitahu oleh guru bahwa semua siswa wajib berseragam agar si kaya dan si miskin memakai baju yang sama. Tak ada baju yang lebih bling-bling atau lebih gaya, semua sama model dan warnanya, merah putih. Oke, aku setuju! Hingga pada suatu hari pada Senin pagi, ketika aku kelas 2 SD, saat berangkat sekolah, jalanan becek karena malam sebelumnya hujan. Ada ular melintas di bahu jalan yang membuatku kaget hingga terpeleset. Aku pulang untuk ganti baju. Di rumah masih ada baju putih atasan, namun tak ada lagi rok merah. Ibuku menyarankan aku pakai rok putih. Rok lipat yang modelnya sama dengan seragam rok merah.

Saat sampai di sekolah, aku satu-satunya yang pakai rok putih. Usai upacara, di lapangan aku dimarahi guru karena tak memakai seragam. Aku sudah jelaskan bajuku kotor sebab aku terjatuh tadi pagi, tapi Ibu Guru terus mengomeliku. Katanya kalau gak seragam nggak boleh masuk sekolah. Tapi aku takut ketinggalan pelajaran, diam-diam aku tetap mengikuti kelas. Saat itu aku mulai menyadari bahwa aku benci seragam. Kenapa hanya karena gak seragam, tidak boleh sekolah.

Di hari yang lain, aku pindah sekolah. Bukan karena soal seragam sih, melainkan karena bapakku ingin anaknya ada yang hafal Aquran, jadi aku dipindah ke pondok pesantren anak-anak. Di sebuah tempat di pelosok desa yang jauhnya puluhan KM dari rumahku. Pondok ini dipimpin oleh seorang Kyai dari Solo, bertujuan khusus mendidik anak-anak belajar Alquran, fiqih, aqidah, dan ahlak. Tapi halafan Quran adalah yang utama. Untuk mendapatkan pendidikan umum, aku sekolah di SD negeri di luar pesantern. Di dalam pesantren, kembali aku dihadapkan dengan baju-baju seragam ngaji. Di sekolah dan di luar jam sekolah, selalu seragam. Lalu, saat SMP, aku juga tinggal di pesantren, lain pesantren. Hari-hari berseragam kembali berulang. Pagi, siang, sore, dan sekolah malam selalu seragam. Hanya tidur yang gak pakai seragam. Hehe.

Mungkin keadaan itu yang dulu makin membuatku ingin segera melepas seragam. Hingga aku kuliah, akhirnya bebas dari seragam. Tidak benar-benar bebas, ada jas lab, jas almamater, jaket angkatan, jaket komunitas, dan kaos-kaos kegiatan yang seragam, tapi itu tidak dipakai sehari-hari. Selanjutnya aku bekerja di tempat yang tidak mengharuskan seragam. Begitu juga di tempat kerja berikutnya, baju bebas. Bahkan, kaos oblong juga boleh. Buatku saat itu, inilah salah satu bentuk kemerdekaan.

Bagi orang lain, yang tidak punya kesan khusus tentang seragam mungkin itu hal yang remeh temeh. Tapi bagi yang memiliki kesan khusus, itu sesuatu. Bagi mereka yang punya kesan baik tentang seragam, seperti salah satu temanku, seragam adalah penyemangat. Temanku sejak kecil sangat kagum dengan tentara, dia melihat betapa gagahnya memakai seragam itu. Kelak di kemudian hari, saat dia jadi tentara, sangat bangga memakainya. Kita menjadi berbeda dalam memandang suatu hal karena sejarah yang masing-masing yang kita lewati berbeda.

Lalu, di tempat kerjaku kini, hari-hariku kembali berseragam. Saat pertama kali dapat seragam, kupandangi baju itu lama. Hah, pakai seragam? Mulanya kehadiran seragam itu seperti teror buatku. Aku bertahun-tahun menghindari seragam, ini kok ketemu lagi? Aku juga sempat heran dengan tempat kerjaku, karena kantor ini adalah lingkungan kerja kreatif, kok orang-orang di dalamnya berseragam? Bukankah kerja kretif lebih dekat dengan dunia seniman? Seniman kok seragam? Bukankah ini kurang lazim? Ini bukan bank, pikirku. Selain itu, model seragamnya formal berkerah. Seniman kok formal? Eh, tapi ini bukan sanggar seni, ini kantor formal. Baiklah! 🙂

Seiring waktu, aku memaknai seragam dengan berbagai cara. Aku coba mencari jawaban yang masuk akal kenapa aku perlu berseragam. Salah satunya, seperti yang orang-orang katakan, sebagai identitas. Tapi kenapa musti menunjukkan identitas diri? Kalau tujuannya untuk nunjukin identitas, ngalungin KTP juga bisa kan? Haha. Atau, mungkin karena saat itu kantor berada di lingkungan yang menyatu dengan kantor-kantor lain, jadi biar saling mudah mengenal dengan para tetangga, karena mereka juga berseragam. Karena di lingkungan itu banyak tamu berseliweran, bisa jadi salah satu tujuan berseragam adalah untuk pembeda antara tamu dan karyawan. Terus buat apa dibedakan? Haha, gak selesai-selesai deh pertanyaannya.

Sampailah suatu hari seorang teman mengeluhkan model seragam kami yang mirip seragam OB. Dia nggak mau dianggap seperti OB. Eh? Kok jadi mengecilkan eksistensi OB? Apa salahnya jadi OB? Hehe. Mirip seragam OB ataupun mirip seragam Menteri, harusnya seragam tidak mengurangi nilai kemanusiaan kita. Kemudian, ketika aku lihat lebih detail baju OB di perusahaan lain, memang benar, mirip dengan salah satu seragamku. Dan di perusahaan lain itu, baju OB berbeda dengan baju para karyawan lain yang kedudukannya lebih tinggi. Hal-hal seperti inilah yang menurutku berbahaya, seragam sebagai identitas kelas.

Aku sempat berpikir, harusnya kantor-kantor tidak perlu memberlakukan seragam jika hanya untuk menunjukkan kedudukan masing-masing. Tapi ketika aku lihat dengan cermat di kantorku, mulai dari OB, editor, penulis, sekretaris, admin, layouter, sosmed officer, supervisor, hingga direktur, seragamnya sama. Persis sama, tak ada tambahan embel-embel lambang-lambang lain yang membedakan. Seragam ini memang identitas perusahaan, tapi tidak untuk membedakan kedudukan satu dan lainnya. Di situlah aku berdamai dengan keadaan, aku lega, seragam yang kupakai ini tak berbahaya. Bahkan, aku salut pada kantorku, karena direktur hingga OB-nya memakai seragam yang sama. 😉

25 April 2013

Leave a comment

April 25, 2013 · 9:02 am

Robot

Hei, kenapa tiba-tiba aku bicara soal robot? Selama ini aku tidak begitu memperhatikan perihal robot. Mungkin karena pengetahuanku soal robot sangat terbatas. Robot yang paling hadir dalam pikiranku dan familiar di sekitarku adalah mainan untuk anak laki-laki. Jauh sebelum hari ini, aku memang sudah pernah lihat tayangan robot yang bisa berfungsi layaknya manusia. Seperti mengambil barang atau jalan-jalan mendeteksi kebakaran. Lihat dimana? Di TV. Dan itu seperti dunia yang jauh dariku, tidak begitu hadir di pikiranku.

Sebelum ini, aku punya teman yang studi Teknik Elektro, kadang bicara soal robot dan perlombaan merakit robot. Tapi selama ini aku tak benar-benar memperhatikan. Tak satupun aku mengenali jenis robot. Robot yang paling kutahu adalah Satria Baja Hitam. Waduh! Eh, itu robot bukan ya? Haha. Selain itu, Robocop, itupun aku belum pernah nonton tayangannya, hanya tahu dari kaos teman bergambar serupa robot dan bertulisan Robocop. Tunggu dulu, Robocop itu robot bukan ya? :D. Aku sengaja gak googling, biar keluguanku soal robot terasa maksimal. Halaaah. :p

Terus tadi pagi, teman kantor memintaku untuk bikin teks copywriting untuk dua buku tentang robot, yaitu teks yang digunakan untuk iklan mempromosikan buku. Teks harus selesai dalam waktu kurang dari setengah jam. Matilah aku! Tapi aku sanggupi, sekalian belajar mikir cepat dan nulis cepat. Setelah baca cepat seperlunya dan bolak balik lembar buku, jeng jeng jeng, teks selesai! Tentu saja diperiksa lagi oleh temanku itu dan sedikit editing. Sepertinya tugas sederhana, tapi bagiku ini penting dalam karirku untuk meningkatkan skill menulis. Lagi-lagi, hari ini aku belajar dan praktek copywriting. Jiaaah! ;-). Buat orang yang buta soal robot sepertiku, aku ingin koprol untuk diriku sendiri atas selesainya teks itu. 😀

Nah, dari baca cepat itu, aku jadi tahu sejarah robot, jenis-jenisnya, dan perlombaan robot dunia. Dari kedua buku itu, aku menyimpulkan bahwa robot paling terkenal sepertinya Transformers. Aku sudah sangat sering dengar judul film Hollywood itu, tapi sama sekali belum pernah mencari tahu. Karena lihat kover filmnya terasa sangat maskulin (aku suka film drama. :D), jadi nggak tertarik ingin tahu lebih. Bahkan baru tahu hari ini kalau Transformers itu robot. (pasang emoticon tutup wajah).

Jadi, pengetahuan hari ini adalah robot bukan hanya Transformers, tetapi tergantung jenis dan fungsinya. Bahkan, mesin ATM itu termasuk robot (kalau soal ini aku sudah tahu sejak lama). Sejak buku itu disusun oleh temanku. Soalnya yang kuingat sekilas hanya itu. Saat itu selama ini aku masih berpikir robot adalah Satria Baja Hitam. Xixixi.

Lalu malamnya, saat buka FB, aku mendapati timeline barisan paling atas, kutemukan seseorang posting berita juara kompetisi robot tingkat internasional. Tepatnya tim mahasiswa UGM memenangkan dua kompetisi robot di dua kota di US. Dua emas dan sekian perak. Juara 1 untuk lomba robot yang intinya menguji kecepatan robot dalam mematikan api. Selain itu pasti ada ukuran-ukuran lain yang digunakan dalam penilaian, konon robot yang dibuat oleh anak bangsa Indonesia tersebut bentuknya unik menyerupai laba-laba.

Begitu saja, aku hanya ingin menyampaikan hari ini aku mendapatkan pengetahuan soal robot dan aku terinspirasi menulis ini. Dan aku ingin mengajakmu terlibat di sini, yaitu menjawab pertanyaanku. Apakah Satria Baja Hitam dan Robocop itu termasuk robot? :p ^_^

23 April 2013.

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Ingin Terus Menulis

Lama aku tak hadir di sini. Aku memang menulis tiap hari, bahkan pada hari libur. Selain tulisan untuk memenuhi tanggungjawab pekerjaan, juga catatan atau curhat yang perlu kutulis. Namun, banyak yang tidak/belum kuunggah di sini. Kali ini aku kembali di sini. Bahkan ke depan, aku ingin lebih rajin menulis di sini. Atau memidahkan tulisanku di tempat lain menuju ke sini. Agar blog ini terus hidup.

Mengapa menulis? Agar aku tetap waras. Menulis membuatku lebih lega, pikiran dan hati. Entah ini apa namanya yang kurasakan ini. Tapi aku juga bisa dibuat stres oleh tulisan yang harus kukerjakan karena tanggungjawab dan detlen. Meskipun sesudah itu aku akan mendapatkan kelegaan dan kepuasan berlipat. Selain mendapat keuntungan finansial, juga merasa kehadiranku di dunia ini lebih berguna.

Sebuah tulisan adalah hasil sebuah proses. Ini tahun ke-11 aku menyadari menyukai dunia tulis. Sejak tulisan esai pendekku berjudul Pemuda dan Tradisi Menulis dicetak di sebuah majalah, pada tahun 2002, aku menyadari bahwa aku tertarik dalam dunia penulisan dan ingin menekuninya. Dalam perjalanan selanjutnya, aku terus menulis, untuk dipublikasikan maupun dokumen pribadi.

Untuk apa menulis? Karena tulisan bisa menjadi jendela untuk melihat dunia. Mulai dari buku, majalah, koran, artikel di portal online, catatan blog, leaflet, panduan teknis suatu alat, hingga tulisan di bungkus kosmetik, semua mengandung informasi. Maka, aku pun ingin menjadi bagian dari mereka yang menulis informasi.

Bagiku menulis pada mulanya adalah hobi. Pikiran yang berlarian di kepala mustinya bisa tuangkan dalam tulisan. Selanjutnya, aku mulai berpikir bahwa aku ingin menghidupi diri dari hobiku. Jadi, dalam melakukan hobi itu ada tanggungjawab yang mengiringinya. Ada kaidah-kaidah penulisan yang harus kutaati. Misalnya, saat menulis hardnews, aku harus patuh untuk tidak memasukkan opini. Saat menulis feature, aku harus menggali sisi kemanusiaan dengan cara baik.

Tidak semua perjalanan bergulir mudah, ada masa-masa sulit. Misalnya harus beradaptasi dengan tema yang kurang menarik. Saat verifikasi data pendukung tulisan, kadang tidak bisa dikerjakan secara singkat. Tapi, karena aku bekerja dengan passion, ada semangat untuk tidak ingin menyerah dalam belajar.

Lalu, di blog ini adalah salah satu wadahku untuk menuliskan apa saja yang bagiku menarik. Tentang semua yang terjadi di bawah matahari yang ditangkap dari mataku. Juga, tentang caraku memandang dunia. Di sini aku lebih bebas mengungkapkan karena aku tidak dibatasi kaidah penulisan.

Semoga aku bisa berkomitmen untuk terus menghidupi blog ini. Kalau bisa, bahkan aku ingin menulis dalam bahasa Inggris lebih banyak. Aku punya cita-cita yang belum terwujud, ingin sekolah menulis di Eropa. Dan satu hal penting yang harus kucapai adalah skor IELTS in writing minimal 7.0. Bisa gak ya? 🙂

Cibubur, 23 April 2013.

Leave a comment

Filed under Lifestyle