Seragam

Dulu, saat jaman masih sekolah, aku berangan-angan kelak dewasa ingin bekerja di tempat yang tak perlu pakai baju seragam. Kali ini aku coba mengingat-ingat apa yang membuatku menghindari seragam.

Saat SD, aku diberitahu oleh guru bahwa semua siswa wajib berseragam agar si kaya dan si miskin memakai baju yang sama. Tak ada baju yang lebih bling-bling atau lebih gaya, semua sama model dan warnanya, merah putih. Oke, aku setuju! Hingga pada suatu hari pada Senin pagi, ketika aku kelas 2 SD, saat berangkat sekolah, jalanan becek karena malam sebelumnya hujan. Ada ular melintas di bahu jalan yang membuatku kaget hingga terpeleset. Aku pulang untuk ganti baju. Di rumah masih ada baju putih atasan, namun tak ada lagi rok merah. Ibuku menyarankan aku pakai rok putih. Rok lipat yang modelnya sama dengan seragam rok merah.

Saat sampai di sekolah, aku satu-satunya yang pakai rok putih. Usai upacara, di lapangan aku dimarahi guru karena tak memakai seragam. Aku sudah jelaskan bajuku kotor sebab aku terjatuh tadi pagi, tapi Ibu Guru terus mengomeliku. Katanya kalau gak seragam nggak boleh masuk sekolah. Tapi aku takut ketinggalan pelajaran, diam-diam aku tetap mengikuti kelas. Saat itu aku mulai menyadari bahwa aku benci seragam. Kenapa hanya karena gak seragam, tidak boleh sekolah.

Di hari yang lain, aku pindah sekolah. Bukan karena soal seragam sih, melainkan karena bapakku ingin anaknya ada yang hafal Aquran, jadi aku dipindah ke pondok pesantren anak-anak. Di sebuah tempat di pelosok desa yang jauhnya puluhan KM dari rumahku. Pondok ini dipimpin oleh seorang Kyai dari Solo, bertujuan khusus mendidik anak-anak belajar Alquran, fiqih, aqidah, dan ahlak. Tapi halafan Quran adalah yang utama. Untuk mendapatkan pendidikan umum, aku sekolah di SD negeri di luar pesantern. Di dalam pesantren, kembali aku dihadapkan dengan baju-baju seragam ngaji. Di sekolah dan di luar jam sekolah, selalu seragam. Lalu, saat SMP, aku juga tinggal di pesantren, lain pesantren. Hari-hari berseragam kembali berulang. Pagi, siang, sore, dan sekolah malam selalu seragam. Hanya tidur yang gak pakai seragam. Hehe.

Mungkin keadaan itu yang dulu makin membuatku ingin segera melepas seragam. Hingga aku kuliah, akhirnya bebas dari seragam. Tidak benar-benar bebas, ada jas lab, jas almamater, jaket angkatan, jaket komunitas, dan kaos-kaos kegiatan yang seragam, tapi itu tidak dipakai sehari-hari. Selanjutnya aku bekerja di tempat yang tidak mengharuskan seragam. Begitu juga di tempat kerja berikutnya, baju bebas. Bahkan, kaos oblong juga boleh. Buatku saat itu, inilah salah satu bentuk kemerdekaan.

Bagi orang lain, yang tidak punya kesan khusus tentang seragam mungkin itu hal yang remeh temeh. Tapi bagi yang memiliki kesan khusus, itu sesuatu. Bagi mereka yang punya kesan baik tentang seragam, seperti salah satu temanku, seragam adalah penyemangat. Temanku sejak kecil sangat kagum dengan tentara, dia melihat betapa gagahnya memakai seragam itu. Kelak di kemudian hari, saat dia jadi tentara, sangat bangga memakainya. Kita menjadi berbeda dalam memandang suatu hal karena sejarah yang masing-masing yang kita lewati berbeda.

Lalu, di tempat kerjaku kini, hari-hariku kembali berseragam. Saat pertama kali dapat seragam, kupandangi baju itu lama. Hah, pakai seragam? Mulanya kehadiran seragam itu seperti teror buatku. Aku bertahun-tahun menghindari seragam, ini kok ketemu lagi? Aku juga sempat heran dengan tempat kerjaku, karena kantor ini adalah lingkungan kerja kreatif, kok orang-orang di dalamnya berseragam? Bukankah kerja kretif lebih dekat dengan dunia seniman? Seniman kok seragam? Bukankah ini kurang lazim? Ini bukan bank, pikirku. Selain itu, model seragamnya formal berkerah. Seniman kok formal? Eh, tapi ini bukan sanggar seni, ini kantor formal. Baiklah!🙂

Seiring waktu, aku memaknai seragam dengan berbagai cara. Aku coba mencari jawaban yang masuk akal kenapa aku perlu berseragam. Salah satunya, seperti yang orang-orang katakan, sebagai identitas. Tapi kenapa musti menunjukkan identitas diri? Kalau tujuannya untuk nunjukin identitas, ngalungin KTP juga bisa kan? Haha. Atau, mungkin karena saat itu kantor berada di lingkungan yang menyatu dengan kantor-kantor lain, jadi biar saling mudah mengenal dengan para tetangga, karena mereka juga berseragam. Karena di lingkungan itu banyak tamu berseliweran, bisa jadi salah satu tujuan berseragam adalah untuk pembeda antara tamu dan karyawan. Terus buat apa dibedakan? Haha, gak selesai-selesai deh pertanyaannya.

Sampailah suatu hari seorang teman mengeluhkan model seragam kami yang mirip seragam OB. Dia nggak mau dianggap seperti OB. Eh? Kok jadi mengecilkan eksistensi OB? Apa salahnya jadi OB? Hehe. Mirip seragam OB ataupun mirip seragam Menteri, harusnya seragam tidak mengurangi nilai kemanusiaan kita. Kemudian, ketika aku lihat lebih detail baju OB di perusahaan lain, memang benar, mirip dengan salah satu seragamku. Dan di perusahaan lain itu, baju OB berbeda dengan baju para karyawan lain yang kedudukannya lebih tinggi. Hal-hal seperti inilah yang menurutku berbahaya, seragam sebagai identitas kelas.

Aku sempat berpikir, harusnya kantor-kantor tidak perlu memberlakukan seragam jika hanya untuk menunjukkan kedudukan masing-masing. Tapi ketika aku lihat dengan cermat di kantorku, mulai dari OB, editor, penulis, sekretaris, admin, layouter, sosmed officer, supervisor, hingga direktur, seragamnya sama. Persis sama, tak ada tambahan embel-embel lambang-lambang lain yang membedakan. Seragam ini memang identitas perusahaan, tapi tidak untuk membedakan kedudukan satu dan lainnya. Di situlah aku berdamai dengan keadaan, aku lega, seragam yang kupakai ini tak berbahaya. Bahkan, aku salut pada kantorku, karena direktur hingga OB-nya memakai seragam yang sama.😉

25 April 2013

Leave a comment

April 25, 2013 · 9:02 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s