Monthly Archives: May 2013

Cara menyimpan Gambar PrintScreen

1. Tentukan halaman yang akan disimpan di layar komputer

2. Klik tombol PrintScreen (biasanya di bagian kanan paling atas keybord, urut ke tiga dari kanan)

3. Buka Paint (biasanya di folder program Accessories)

4. Klik Paste

5. Save As, berinama, save!

6. Jika setelah disimpan, lalu dicek di folder gambar tidak muncul, saat saving pilih JPEG pada save as type.

Cimanggis, 7 Mei 2013

 

2 Comments

Filed under Activities

Target

Hari ini aku sedang evaluasi diri untuk meningkatkan kinerjaku. Sebagai penulis internal di sebuah penerbit, aku harus memenuhi target tulisan sebanyak 11 judul naskah dalam setahun. Entahlah aku bisa atau tidak memenuhi target itu tepat waktu. Yang jelas hingga bulan ke-9, naskah yang kuselesaikan belum genap 8 judul. Tapi sedang kuupayakan. Dalam 3 bulan ke depan, aku akan optimalkan waktu dan pikiran untuk menuntaskan hingga terpenuhi target. Bulan-bulan sebelumnya, aku kan masih penyesuaian ritme kerja. (Excuse! :p). Beginilah bekerja di sektor swasta, tuntutan target produksi harus tinggi. Hehe. Tapi it’s OK, itu akan memacuku untuk mengerahkan segenap kemampuan hingga aku tahu batas maksimalku.

Btw, Ayu Utami yang notebene penulis profesional produktif , setahun konon hanya 4 judul buku. Sementara aku ditargetkan sebelas judul, bisa nggak ya? Sebelas judul itu nggak harus segera terbit, tapi minimal sudah masuk bank naskah untuk siap editing. Baiklah.

Sebagai penulis pemula, aku memang menerima naskah apa saja yang ditugaskan padaku. Mulanya karena aku memang belum tahu tema-tema seperti apa yang paling kusuka. Kupikir inilah saatku mengeksplorasi diri, sampai di mana batas-batasku. Dalam perjalanannya aku mulai mengerti diriku, kecenderungan naskah-naskah yang menarik bagiku, dan tentang naskah apa saja yang sekiranya kurang cocok dengan jiwaku. Kadang aku mendapatkan naskah yang menurutku cukup sulit untuk diselesaikan dalam sebulan. Bahkan ada yang 4 bulan baru kelar. Namun, ada juga naskah yang bisa kelar kurang dari seminggu. Jadi, tergantung materinya.

Karena tanggungjawabku setahun 11 naskah, mustinya dalam sebulan setidaknya satu naskah kelar. Aku masih belajar bagaimana menyelesaikan naskah secara efektif. Mulai dari mencari data, verifikasi, hingga menulis ulang. Tidak hanya itu, aku juga melakukan editing meskipun bukan editing final. Dalam perjalanannya, aku mulai menemukan cara-cara tersendiri bagaimana sebuah naskah selesai segera, efektif waktu dan tenaga. Kurasa proses seperti inilah yang kemudian menjadi penting, secara langsung meningkatkan skill menulisku dan membantuku disiplin menulis.

targetSetiap naskah memberiku tantangan dan pelajaran yang berbeda. Ada yang bikin aku segar karena tiap hari lebih banyak memilah foto-foto bunga dan buah, namun di sisi lain kurang meningkatkan kemampuan menulisku. Ada naskah yang datanya bikin pusing tujuh keliling, namun membuatku kaya wawasan baru. Ada naskah yang menantang kemampuan bahasa Inggrisku. Kesulitan dan kemudahan itu kuambil hikmahnya bahwa semua itu adalah proses belajar.

Aku pernah dibuat stres oleh satu naskah. Aku tantang diriku untuk terus melanjutkan sampai otakku terasa panas.  Badanku juga panas. Saat makan, tiap kali ingat naskah itu, apa saja yang masuk di mulutku terasa hambar. Lihat folder naskah itu langsung perasaanku nggak nyaman. Itu berlangsung nyaris sebulan. Dari pengalaman itu, aku pun menjadi tahu diriku bahwa aku tidak bisa bekerja efektif jika hanya terfokus pada satu naskah sulit. Aku putuskan untuk mengerjakan naskah baru, kutinggalkan sementara naskah sulit itu. Di kemudian hari aku buka kembali naskah sulit itu dan saat itu otakku lebih fresh. Lebih mudah untuk menyelesaikannya.

Terkait target tulisan, selain meningkatkan kemampuan menulis dan disiplin, juga membuatku belajar melihat selera pasar (pembaca). Berada di lingkungan pekerja kreatif di penerbitan adalah salah satu proses terbaikku dalam perjalanan hidup yang kujalani. Aku ingin berbagi ini karena aku ingin mengabadikan proses yang kurasakan. Sekaligus sebagai rasa syukurku karena Tuhan memberiku kesempatan menekuni passionku.

Ada saat-saat dimana aku ingin menulis sesuai dengan idealismeku. Aku tidak peduli seberapa banyak pembacaku, atau seberapa besar pengaruhnya terhadap mereka. Bahkan hanya satu pembaca pun tak apa, saat itulah aku merasa menjadi seniman. :D. Di sisi lain, aku menyadari hidup dalam industri buku harus menyadari selera pasar. Aku hidup dari menulis, jadi musti siap menulis tema populer yang dibutuhkan pasar, menepati target, dan tentunya sesuai kapasitasku. Pada saat demikian, aku paham diriku adalah pekerja. Btw, tidak ada salahnya menjadi pekerja, aku tidak korupsi uang negara. Bahkan, jika hasil kerjaanku bisa menjadi inspirasi baik bagi pembaca, jiwaku akan makin kaya. Jika tidak memberi inspirasi baik, semoga tidak menambah buruk keadaan. 😉

Kamu juga seorang penulis? Berbagilah proses kreatifmu. 😉

Cibubur, 6 Mei 2013.

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Cara Nulis Blurb

blurbBlurb adalah ringkasan singkat yang biasanya berisi pujian terhadap sebuah karya/kerja kreatif. Contohnya adalah tulisan di sampul belakang buku. Tujuannya untuk meyakinkan pembaca pentingnya membeli dan membaca buku tersebut. Selain buku, film dan iklan juga bisa dibuatkan blurb.

Langkah-langkah bikin blurb

1. Tentukan karya yang ingin dibuat blurb. Bisa berupa film, iklan, atau buku.

2. Pelajari karya tersebut. Misal, baca bukunya atau tonton filmnya.

3. Catat hal yang paling berkesan setelah mempelajari karya itu. Misalnya apakah kamu tertarik? Kaget? Ngeri? Takut? Jijik? Meneteskan air mata?

4. Tuliskan kesanmu terhadap karya itu. Jangan hanya terpaku di satu bagian, tapi buatlah blurb yang mendidik berdasarkan gambaran garis besarnya.

Sumber referensi definisi blurb banyak sekali ditemukan, tapi dalam versi bahasa inggris, aku pilih yang berikut ini.

How to Write a Blurb

A blurb is a short summary of praise pertaining or relating to a piece of creative work.

Decide what piece of work you wish to review. This piece of work could be a movie, advertisement, or book.

Experience the creative work for which you plan to blurb. For example, read the book or watch the movie.

Try to formulate words about it. How was it? Were you intrigued? Astonished? Horrified? Terrified? Disgusted? Brought to tears?

Put it on paper! Write down you how you felt about the work. Make sure you aren’t focused entirely on one part, but make an educated blurb based on the big picture.

Source: http://www.wikihow.com/Write-a-Blurb

Cibubur, 3 Mei 2013

Leave a comment

Filed under Writing&Journalism

Penulis-Penulis Favoritku

Kalau ditanya ‘siapakah penulis favoritmu?’, jawabanku mungkin akan selalu berbeda antara dulu, kini, dan esok. Saat jaman SMA, aku suka Nawal El-Sadawi, kayaknya hingga awal kuliah. Lalu sepertinya berganti ke Dee Lestari, kemudian Paulo Coelho. Lalu entah siapa lagi. Seiring waktu bergulir, seleraku pun berubah.

Pertanyaan itu menjadi penting ketika salah satu emailku terblokir. Untuk bisa mendapatkan emailku kembali, aku musti menjawab sekian pertanyaan yang pernah aku isi. Salah satunya tentang penulis favorit. Karena penulis favoritku selalu berganti seiring waktu, aku lupa nama siapa yang dulu kutulis. :D . Dan hingga kini aku belum bisa membuka salah satu emailku. 😥

Oke, kembali ke soal penulis favorit. Terakhir kali, aku suka tulisan Ayu Utami. Meski sudah baca sejak jaman kuliah, tapi aku baru menyukai akhir-akhir ini. Terutama catatan hariannya Si Parasit Lajang yang Ayu klaim sebagai fiksi. Meski siapapun yang baca itu pasti tahu, itu kisah nyata Ayu. Atau mungkin 98 persen nyata. Kalau novel lanjutannya yang tentang kekasihnya Enrico bisa jadi memang lebih banyak fiksinya, karena Ayu menggunakan riset sejarah untuk latarnya.

Aku suka cara bertutur Ayu yang jujur. Mengenai nilai yang ingin dia usung, aku tidak selalu setuju. Namun, cara dia menyadarkan pembaca dengan menyadari kebodohan sendiri, membuat gagasannya tidak menggurui. Dia juga pintar dalam mengemas kalimat. Terasa sekali dia menyadari pilihan katanya. Tiap kata yang dia hadirkan itu diperhitungkan apakah efektif atau tidak.

Kalau soal pemilihan kalimat, selain Ayu, aku juga suka gaya Dee. Dee punya diksi yang indah. Beberapa tulisan lamanya, menurutku ada kalimat yang masih kedodoran. Kurang efektif. Tapi itu tak seberapa. Dan seiring waktu, tulisan Dee makin oke. Kalau soal ide, sejak dulu Dee memang sudah oke.

jane-austen

Jane Austen

 Aku pertama kali ‘mengenal’ sastra Inggris dari karya Jane Austen. Nama Jane Austen kutemukan dari film. Saat jaman kuliah dulu, aku punya teman kos yang memiliki hobi nonton dan diskusi film. Bahkan, saking cintanya pada film, temanku itu kerja di rental film, agar bisa pinjam CD gratis tanpa batas. (saat itu aku juga sempat kerja di rental software untuk program dan game, pemiliknya juga punya rental film di sebelahnya, dan aku juga bisa pinjam gratis, tanpa batas :D ). Di situlah, aku dan temanku ‘ketemu’ dalam diskusi. Saat itu dalam seminggu bisa nonton hingga 10 judul. Aku seneng bisa nonton banyak film, bisa melihat dunia lebih luas. Tapi di sisi lain, semua CD film yang tonton itu bajakan. Hiks. Eh. :D .

Salah satu bahasan kami adalah film-film yang disadur dari novel Jane Austen. Jane Austen adalah perempuan penulis novel romantis dari Inggris yang hidup pada abad 18.

Film-film tersebut yaitu Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Persuasion, dan Sense and Sensibility. Semua judul film itu sama dengan judul novelnya. Bahkan, sampai ada film berjudul The Jane Austen Book Club (2007). Film itu diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Karena Joy Flowler.

The Jane Austen Book Club berkisah tentang komunitas pecinta/pembaca buku, khususnya fokus pada 6 karya Jane Austen. Ah ya, buku ke-6 Austen berjudul Sanditon, namun karya tersebut belum final. Austen meninggal sebelum menamatkan buku terakhirnya. Karya-karya Austen berlatar belakang Inggris abad 18, satu masa dengan kehidupannya.

Satu lagi, penulis favoritku adalah David Mamet, seniman asal Amerika. Dia seorang penulis esai, naskah film, dan sutradara film dan teater. Pernah memenangkan Pulitzer Prize untuk karyanya berjudul Glengarry Glen Ross. Untuk karyanya itu pernah diangkat dalam teater oleh seniman Jogja pada 2008, disadur dan disesuikan dengan latar Sleman, Jogja. Meski sudah disadur, kesanku terhadap karya itu tetap lucu, seru, dan ngenes banget kisahnya. Mungkin khas David Mamet memang begitu. Sutradara dan yang main di Jogja itu teman-temanku di teater. Sayangnya aku nggak ikut main, tapi aku menulis liputannya untuk sebuah majalah teater, Skana.

Btw, film We’re No Angel juga diangkat dari karya David Mamet. Film komedi favoritku, mungkin udah belasan kali aku nonton itu dan tetap saja tertawa. :D

Btw, siapa saja penulis favoritmu? 😉

Cibubur, 1 Mei 2013.

Leave a comment

Filed under Lifestyle