Penulis-Penulis Favoritku

Kalau ditanya ‘siapakah penulis favoritmu?’, jawabanku mungkin akan selalu berbeda antara dulu, kini, dan esok. Saat jaman SMA, aku suka Nawal El-Sadawi, kayaknya hingga awal kuliah. Lalu sepertinya berganti ke Dee Lestari, kemudian Paulo Coelho. Lalu entah siapa lagi. Seiring waktu bergulir, seleraku pun berubah.

Pertanyaan itu menjadi penting ketika salah satu emailku terblokir. Untuk bisa mendapatkan emailku kembali, aku musti menjawab sekian pertanyaan yang pernah aku isi. Salah satunya tentang penulis favorit. Karena penulis favoritku selalu berganti seiring waktu, aku lupa nama siapa yang dulu kutulis. :D . Dan hingga kini aku belum bisa membuka salah satu emailku. 😥

Oke, kembali ke soal penulis favorit. Terakhir kali, aku suka tulisan Ayu Utami. Meski sudah baca sejak jaman kuliah, tapi aku baru menyukai akhir-akhir ini. Terutama catatan hariannya Si Parasit Lajang yang Ayu klaim sebagai fiksi. Meski siapapun yang baca itu pasti tahu, itu kisah nyata Ayu. Atau mungkin 98 persen nyata. Kalau novel lanjutannya yang tentang kekasihnya Enrico bisa jadi memang lebih banyak fiksinya, karena Ayu menggunakan riset sejarah untuk latarnya.

Aku suka cara bertutur Ayu yang jujur. Mengenai nilai yang ingin dia usung, aku tidak selalu setuju. Namun, cara dia menyadarkan pembaca dengan menyadari kebodohan sendiri, membuat gagasannya tidak menggurui. Dia juga pintar dalam mengemas kalimat. Terasa sekali dia menyadari pilihan katanya. Tiap kata yang dia hadirkan itu diperhitungkan apakah efektif atau tidak.

Kalau soal pemilihan kalimat, selain Ayu, aku juga suka gaya Dee. Dee punya diksi yang indah. Beberapa tulisan lamanya, menurutku ada kalimat yang masih kedodoran. Kurang efektif. Tapi itu tak seberapa. Dan seiring waktu, tulisan Dee makin oke. Kalau soal ide, sejak dulu Dee memang sudah oke.

jane-austen

Jane Austen

 Aku pertama kali ‘mengenal’ sastra Inggris dari karya Jane Austen. Nama Jane Austen kutemukan dari film. Saat jaman kuliah dulu, aku punya teman kos yang memiliki hobi nonton dan diskusi film. Bahkan, saking cintanya pada film, temanku itu kerja di rental film, agar bisa pinjam CD gratis tanpa batas. (saat itu aku juga sempat kerja di rental software untuk program dan game, pemiliknya juga punya rental film di sebelahnya, dan aku juga bisa pinjam gratis, tanpa batas :D ). Di situlah, aku dan temanku ‘ketemu’ dalam diskusi. Saat itu dalam seminggu bisa nonton hingga 10 judul. Aku seneng bisa nonton banyak film, bisa melihat dunia lebih luas. Tapi di sisi lain, semua CD film yang tonton itu bajakan. Hiks. Eh. :D .

Salah satu bahasan kami adalah film-film yang disadur dari novel Jane Austen. Jane Austen adalah perempuan penulis novel romantis dari Inggris yang hidup pada abad 18.

Film-film tersebut yaitu Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Persuasion, dan Sense and Sensibility. Semua judul film itu sama dengan judul novelnya. Bahkan, sampai ada film berjudul The Jane Austen Book Club (2007). Film itu diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Karena Joy Flowler.

The Jane Austen Book Club berkisah tentang komunitas pecinta/pembaca buku, khususnya fokus pada 6 karya Jane Austen. Ah ya, buku ke-6 Austen berjudul Sanditon, namun karya tersebut belum final. Austen meninggal sebelum menamatkan buku terakhirnya. Karya-karya Austen berlatar belakang Inggris abad 18, satu masa dengan kehidupannya.

Satu lagi, penulis favoritku adalah David Mamet, seniman asal Amerika. Dia seorang penulis esai, naskah film, dan sutradara film dan teater. Pernah memenangkan Pulitzer Prize untuk karyanya berjudul Glengarry Glen Ross. Untuk karyanya itu pernah diangkat dalam teater oleh seniman Jogja pada 2008, disadur dan disesuikan dengan latar Sleman, Jogja. Meski sudah disadur, kesanku terhadap karya itu tetap lucu, seru, dan ngenes banget kisahnya. Mungkin khas David Mamet memang begitu. Sutradara dan yang main di Jogja itu teman-temanku di teater. Sayangnya aku nggak ikut main, tapi aku menulis liputannya untuk sebuah majalah teater, Skana.

Btw, film We’re No Angel juga diangkat dari karya David Mamet. Film komedi favoritku, mungkin udah belasan kali aku nonton itu dan tetap saja tertawa. :D

Btw, siapa saja penulis favoritmu?😉

Cibubur, 1 Mei 2013.

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s