Target

Hari ini aku sedang evaluasi diri untuk meningkatkan kinerjaku. Sebagai penulis internal di sebuah penerbit, aku harus memenuhi target tulisan sebanyak 11 judul naskah dalam setahun. Entahlah aku bisa atau tidak memenuhi target itu tepat waktu. Yang jelas hingga bulan ke-9, naskah yang kuselesaikan belum genap 8 judul. Tapi sedang kuupayakan. Dalam 3 bulan ke depan, aku akan optimalkan waktu dan pikiran untuk menuntaskan hingga terpenuhi target. Bulan-bulan sebelumnya, aku kan masih penyesuaian ritme kerja. (Excuse! :p). Beginilah bekerja di sektor swasta, tuntutan target produksi harus tinggi. Hehe. Tapi it’s OK, itu akan memacuku untuk mengerahkan segenap kemampuan hingga aku tahu batas maksimalku.

Btw, Ayu Utami yang notebene penulis profesional produktif , setahun konon hanya 4 judul buku. Sementara aku ditargetkan sebelas judul, bisa nggak ya? Sebelas judul itu nggak harus segera terbit, tapi minimal sudah masuk bank naskah untuk siap editing. Baiklah.

Sebagai penulis pemula, aku memang menerima naskah apa saja yang ditugaskan padaku. Mulanya karena aku memang belum tahu tema-tema seperti apa yang paling kusuka. Kupikir inilah saatku mengeksplorasi diri, sampai di mana batas-batasku. Dalam perjalanannya aku mulai mengerti diriku, kecenderungan naskah-naskah yang menarik bagiku, dan tentang naskah apa saja yang sekiranya kurang cocok dengan jiwaku. Kadang aku mendapatkan naskah yang menurutku cukup sulit untuk diselesaikan dalam sebulan. Bahkan ada yang 4 bulan baru kelar. Namun, ada juga naskah yang bisa kelar kurang dari seminggu. Jadi, tergantung materinya.

Karena tanggungjawabku setahun 11 naskah, mustinya dalam sebulan setidaknya satu naskah kelar. Aku masih belajar bagaimana menyelesaikan naskah secara efektif. Mulai dari mencari data, verifikasi, hingga menulis ulang. Tidak hanya itu, aku juga melakukan editing meskipun bukan editing final. Dalam perjalanannya, aku mulai menemukan cara-cara tersendiri bagaimana sebuah naskah selesai segera, efektif waktu dan tenaga. Kurasa proses seperti inilah yang kemudian menjadi penting, secara langsung meningkatkan skill menulisku dan membantuku disiplin menulis.

targetSetiap naskah memberiku tantangan dan pelajaran yang berbeda. Ada yang bikin aku segar karena tiap hari lebih banyak memilah foto-foto bunga dan buah, namun di sisi lain kurang meningkatkan kemampuan menulisku. Ada naskah yang datanya bikin pusing tujuh keliling, namun membuatku kaya wawasan baru. Ada naskah yang menantang kemampuan bahasa Inggrisku. Kesulitan dan kemudahan itu kuambil hikmahnya bahwa semua itu adalah proses belajar.

Aku pernah dibuat stres oleh satu naskah. Aku tantang diriku untuk terus melanjutkan sampai otakku terasa panas.Β  Badanku juga panas. Saat makan, tiap kali ingat naskah itu, apa saja yang masuk di mulutku terasa hambar. Lihat folder naskah itu langsung perasaanku nggak nyaman. Itu berlangsung nyaris sebulan. Dari pengalaman itu, aku pun menjadi tahu diriku bahwa aku tidak bisa bekerja efektif jika hanya terfokus pada satu naskah sulit. Aku putuskan untuk mengerjakan naskah baru, kutinggalkan sementara naskah sulit itu. Di kemudian hari aku buka kembali naskah sulit itu dan saat itu otakku lebih fresh. Lebih mudah untuk menyelesaikannya.

Terkait target tulisan, selain meningkatkan kemampuan menulis dan disiplin, juga membuatku belajar melihat selera pasar (pembaca). Berada di lingkungan pekerja kreatif di penerbitan adalah salah satu proses terbaikku dalam perjalanan hidup yang kujalani. Aku ingin berbagi ini karena aku ingin mengabadikan proses yang kurasakan. Sekaligus sebagai rasa syukurku karena Tuhan memberiku kesempatan menekuni passionku.

Ada saat-saat dimana aku ingin menulis sesuai dengan idealismeku. Aku tidak peduli seberapa banyak pembacaku, atau seberapa besar pengaruhnya terhadap mereka. Bahkan hanya satu pembaca pun tak apa, saat itulah aku merasa menjadi seniman.πŸ˜€. Di sisi lain, aku menyadari hidup dalam industri buku harus menyadari selera pasar. Aku hidup dari menulis, jadi musti siap menulis tema populer yang dibutuhkan pasar, menepati target, dan tentunya sesuai kapasitasku. Pada saat demikian, aku paham diriku adalah pekerja. Btw, tidak ada salahnya menjadi pekerja, aku tidak korupsi uang negara. Bahkan, jika hasil kerjaanku bisa menjadi inspirasi baik bagi pembaca, jiwaku akan makin kaya. Jika tidak memberi inspirasi baik, semoga tidak menambah buruk keadaan.πŸ˜‰

Kamu juga seorang penulis? Berbagilah proses kreatifmu.πŸ˜‰

Cibubur, 6 Mei 2013.

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s