Nyala Semangat di Antara Bising Terminal

 

kholil 5

Sekolah Master, sekolah gratis untuk anak-anak jalanan, terletak di antara masjid dan terminal Depok, Jawa Barat, Indonesia. Foto oleh: Hasannudin M. Kholil.

Sore itu, Sabtu 27 Juli 2013 tenda sudah berdiri di halaman sekolah Master, sekolah gratis untuk anak-anak jalanan di area Terminal Depok. Ketua panitia, Mas Puthut Gambul, sedang berbicara dengan para guru tentang susunan acara yang akan berlangsung. Acara yang diorganisir oleh para alumni UGM itu sedianya akan mengadakan kegiatan bakti sosial dan buka puasa bersama dengan murid-murid Master. Bakti sosial itu berupa pemberian bingkisan alat tulis, pengenalan percobaan sains, training pengolahan limbah, dan story telling.

Panitia mengundang trainer dari Rumah Sains Ilma untuk pendampingan percobaan sains dan pelatihan pengolahan limbah. Karena terbatasnya trainer dan kit percobaan, hanya 150 anak yang bisa mengikuti training. Dan terbatasnya tenaga dan dana, dari 2000 murid Master, tidak semua bisa dilibatkan. Sebanyak 350 anak SD hingga SMA menerima hadiah bingkisan alat tulis. Dua ratus anak yang tidak mengikuti training, rencananya akan mendengarkan dongeng dari seorang storyteller.

Jauh hari sebelumnya, panitia telah mengupayakan untuk mengundang story teller dari alumni UGM, namun semua berhalangan hadir. Lalu, kami minta pendapat kepada pihak sekolah apakah ada mentor yang selama ini biasa mendongeng. Dan tersebutlah sebuah nama. Ternyata, saat hari pelaksanaan, ada sedikit salah paham. Nama yang tersebut tadi hanya menyanggupi kultum menjelang buka bersama. Duh gimana nih? Acara menarik apa yang bisa disampaikan kepada 200 anak selama 1,5 jam? Misal diisi game, tentu saja butuh persiapan. Sedangkan panitia sepertinya tak cukup siap jika mendadak. Misal nonton, pun tak ada persiapan alat yang mendukung. Setelah bisik-bisik sebentar dengan mas Puthut, spontan diputuskan acara diisi sharing tentang cita-cita. Mas Puthut yang selama ini bisa diandalkan dalam menguasai panggung, tak perlu diragukan lagi untuk berkoar-koar di khalayak ramai.
Benar saja, di depan ratusan murid-murid SMP dan SMA yang duduk lesehan beralaskan terpal plastik, mas Puthut berhasil memeriahkan suasana.

bukber depok 2013

Puthut Gambul memecah es (ice breaking :p). Foto oleh: Arief Kresno Wibowo

Mas Puthut memulai dengan ice breaking, mengajak peserta untuk fokus ke acara. Peserta diminta untuk memperhatikan apa yang dikatakan mas Puthut. “Dagu mana?” tanya Mas Puthut sembari memegang jidat. Sebagian peserta serta merta turut memegang jidatnya masing-masing. Itu berarti masih ada yang belum fokus.
Selanjutnya,
Puthut: kalau belajar, apa yang di baca?
Murid ( serentak jawab dengan kencang): buku…
Puthut (mengulangi): apa?
Murid: BUKU…
Puthut: di ujung jemari, jika panjang perlu dipotong, apa itu?
Murid: kuku…
Puthut: apa?
Murid: KUKU…
Puthut: anaknya anak, disebut?
Murid: cucu…
Puthut: apa?
Murid: CUCU..
Puthut: sapi minum?
Murid: susu…
Puthut: APAAA???
Murid: hehehe… Eh… Air…

Singkat cerita, selanjutnya mas Puthut menyinggung tentang cita-cita dan mimpi kepada murid-murid. Lalu, mas Ary Lesmana maju untuk berbagi tentang mimpi. Mas Ary bercerita saat kecil tiap kali mendapati pesawat terbang melintasi awan nun jauh di langit sana, ia berangan-angan kelak bisa menaikinya. Di kemudian hari, mimpi itu terwujud. Bahkan kini sudah tak terhitung lagi berapa kali naik pesawat, termasuk bolak balik ke luar negeri. Mas Ary juga menyampaikan bahwa cita-cita itu tidak harus seperti yang sudah umum, tidak melulu menjadi pilot, dokter, polisi, tapi masih banyak pilihan lain.

“Kak, gimana caranya agar ketika saya jadi pejabat, bisa menjadi pejabat yang jujur?”tanya Siti, murid kelas 8 Sekolah Master pada mas Puthut.

utty Damayanti 1

Kelompok Ary Lesmana. Foto oleh: Utty Damayanti.

Lalu peserta dibagi dalam kelompok untuk mengikuti salah satu dari 6 panitia. Karena sesi acara ini mendadak, panitia ditunjuk tanpa briefing lebih dulu. Intinya, kelompok diisi dengan berbagi tentang cita-cita. Mengapa berbagi cita-cita itu penting? Karena cita-cita dan mimpi adalah salah satu yang membuat seseorang optimis menatap masa depan.
“Yang pengen tahu bagaimana meraih mimpi, sini gabung sama saya,” seru mas Ary Lesmana.
Di antara peserta, ada yang berujar bercita-cita ingin menjadi jurnalis. Lalu Mas Ary bilang, yang ingin jadi jurnalis, ikut kelompoknya Mba Laeli.

“Kak, aku pengen kuliah, tapi nggak tahu mau pilih jurusan apa. Gimana dong, biar kami bisa pilih jurusan yang pas?” tanya seorang murid kepada Novetra Senja. Novetra juga mendapatkan pertanyaan, “bagaimana masuk UGM dengan beasiswa penuh?”

kelompok hendri, oleh HMK

Kelompok Hendri Bundrawan. Foto oleh: Hasannudin M. Kholil.

“Cita-cita kakak, apa dong?” begitu pertanyaan salah seorang murid kepada Hendri Bundrawan. Mas Hendri yang fotografer dan membawa kamera bagus, membuat anak-anak banyak yang antusias dalam kelompoknya. Bahkan ada yang mengusulkan agar kegiatan seperti itu dilakukan secara kontinyu.

Lalu mulai terbangun dinamika di kelompok masing-masing.
Seperti yang disebut Mas Ary di atas, murid-murid yang ikut kelompok saya adalah mereka yang tertarik untuk menjadi jurnalis, wartawan, atau reporter, dan penulis. Setelah memperkenal diri dalam kelompok, adik-adik langsung memberondong pertanyaan. Saya mulai dengan menjawab pertanyaan, mengapa kakak jadi jurnalis. Saya menceritakan masa kecil saya yang tinggal di sebuah kampung dengan lingkungan masyarakat yang sehari-hari hidup sederhana dan minim informasi. Ketika membaca sebuah majalah yang berisi banyak informasi, saya bertanya-tanya bagaimana caranya menulis di sana. Dari situlah saya mengerti ada sebuah profesi bernama wartawan. Di kampung saya dulu, tak ada banyak pilihan profesi, sebagian besar bekerja di sawah atau pabrik genteng. Dulu saya pikir, apakah mungkin saya menjadi jurnalis? Dan apapun yang kita cita-citakan ternyata sangat mungkin terwujud.

“Bagaimana untuk meraih cita-cita itu, Kak?” Dengan belajar tekun, belajar apa saja, dari mana saja, dan tidak pantang menyerah. Mereka cerita sering mengakses internet. Itu menjadi peluang yang bagus untuk mendapatkan pengetahuan seluas mungkin. Poin yang ingin saya sampaikan, jangan jadikan kendala sebagai alasan untuk menyerah dalam menggapai cita-cita.

Beberapa pertanyaan mengejutkan muncul, seperti “Apakah cerewet itu cocoknya jadi reporter?” “Kalau jadi wartawan kan harus tahu banyak hal, berarti orangnya kepo dong kak?” “Bagaimana caranya menjadi bos yang uangnya banyak, Kakak?” “Kalau pingin punya uang banyak, apakah harus jualan mobil?” dan ‘Gaji wartawan itu berapa?” Ups.

Di antara mereka, beberapa anak ternyata sudah memiliki blog dan rajin menulis cerita harian. Bahkan ada yang sudah mengenal tentang hardnews dan softnews. Pertanyaan sampai mengerucut tentang sebuah berita itu isinya apa saja. Dan beberapa dari mereka pun sudah mengenal dasar penulisan berita, 5W+1 H. Di antara mereka juga ada yang bercerita pernah mengikuti workshop pelatihan menjadi sutradara.

Beberapa pertanyaan terlontar dari mulut mereka sudah layaknya reporter sungguhan, “Apa pengalaman paling menyenangkan kakak saat jadi wartawan?” “Apa nggak enaknya jadi wartawan?” Juga, ada pertanyaan yang cukup menggelitik, “bisa janjian dengan orang terkenal? Waah, bisa ketemu Nikita Mirzani dong!” tanya seorang murid lelaki. Eh.

Di kelompok yang dipandu Tisna dan Mas Arief banyak yang menanyakan tentang dunia perkantoran, seperti triks dan tips mencari kerja. Kemudian mereka diskusi mengenai ketrampilan apa saja yang sebaiknya dimiliki kalau masuk dunia kerja. Kebutuhan anak-anak itu banyak pada kemampuan bahasa inggris dan komputer.

hasan kholil

Percobaan dipandu oleh trainer dari Rumah Sains Ilma. Foto oleh: Hasannudin M. Kholil.

67607_10201849755589743_150515445_n

Percobaan anak-anak Master dipandu oleh Rumah Ilma Sains. Foto oleh Hasannudin M. Kholil.

Di tempat terpisah, di kelas bertingkat yang dindingnya terbuat dari material bekas kontainer, 150 anak SD sedang melakukan percobaan dipandu trainer dari Rumah Sains Ilma dan dibantu panitia. Di dinding kelas yang mirip gerbong kereta api itu menempel kertas-kertas yang berisi cita-cita siswa di sana. Di ruang guru, panitia yang lain sibuk mengatur persiapan konsumsi dan hadiah. Sejumlah panitia lain, keliling mengabadikan momen dan membantu apa saja hingga acara terselenggara dengan baik dan lancar.

Apa yang bisa kami lakukan mungkin belum seberapa, tapi setidaknya pertemuan seperti ini bisa berbagi energi positif untuk membangun motivasi mereka, membantu mereka mengenali potensi diri, dan terus semangat meraih cita-cita.

Foto oleh: HMK

Foto oleh: HMK

Mengingat latar belakang mereka yang sebagian besar adalah anak-anak jalanan, berasal dari keluarga miskin, yatim piatu, telantar, setiap harinya bekerja serabutan, mengamen, menyemir sepatu, menjual roti, dan berbagai pekerjaan lain di jalanan, terminal, dan pasar, mereka bisa terjebak rasa pesimis meraih masa depan yang lebih baik. Kita terjun di antara mereka untuk saling belajar.

kholil 3

Salah satu sudut area Sekolah Master. Foto oleh Hasannudin M. Kholil.

Sekolah ini didirikan oleh seorang pemilik warteg bernama Pak Nurrohim yang masa kecilnya dihabiskan di jalanan, namun ia mampu meraih pendidikan tinggi. Berangkat dari keprihatinan dan pengalaman, ia ingin berbagi dengan anak-anak jalanan lain untuk mendapatkan akses pendidikan. Nurrohim mengerti betul medan dan kondisi anak-anak jalanan sehingga berupaya mencari bentuk pendidikan yang cocok untuk mereka. Pendidikan di sana berbeda dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Anak-anak diarahkan untuk memilih pelajaran atau kelas yang menjadi minat masing-masing. Di namakan Sekolah Master karena berada di antara masjid dan terminal.

Asrama murid sekolah Master. Foto oleh: Hasannudin M. Kholil.

Asrama murid sekolah Master. Foto oleh: Hasannudin M. Kholil.

Kehidupan keras yang mereka hadapi sehari-hari memang nampak dari sosok-sosok itu. Namun sejauh yang saya lihat mereka sangat menghormati para mentor di sana. Sesekali mereka memanggil mentor untuk minta ini itu, lalu mentor dengan sabar dan tegas menyampaikan untuk sabar menunggu. Mereka patuh pada guru-guru. Beberapa mentor di sana adalah mahasiswa yang masih menempuh pendidikan tinggi. Bagaimana sekolah gratis ini dapat terus hidup? Ada donatur tetap dan dari berbagai pihak yang membiayai, termasuk menggaji guru dan bahkan memberikan beasiswa kuliah kepada anak jalanan yang berhasil masuk pendidikan tinggi. Namun, untuk biaya kehidupan sehari-hari mereka tetap bekerja. Sebagian dari mereka tinggal di asrama di sekitar sekolah.

Inilah bagian dari wajah negeri kita. Di tengah-tengah bising terminal, di antara kerasnya kehidupan jalanan, dan dalam himpitan kekurangan, masih ada nyala semangat menatap masa depan. Sore itu, keterbatasan mengajari kita dengan cara yang berbeda.

Laeli

Depok, 30 Juli 2013.

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s