Monthly Archives: October 2013

Bukan Sumpah

sumpah-pemudaPada peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober ini sebenarnya aku ingin menandai dengan berbuat sesuatu yang berguna. Tapi apa gitu ya? Mungkin dimulai dengan berusaha menggunakan bahasa yang baik dan benar. Mungkin loh ya, gak janji. :D. Juga, berusaha membangun kalimat yang sejernih mungkin dan mengurangi penggunaan kata-kata yang rumit. Kalau memakai kata “tergantikan” lebih jernih, mengapa memilih kata rumit “tersubstitusikan”? 🙂

Aku perlu memperhatikan perihal bahasa karena profesiku terkait itu. Sebagai penulis dan editor, ketika meluncurkan buku yang mengandung kesalahan bahasa, bisa ditiru oleh pembaca terus-menerus. Setiap hari aku berkutat dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menulis, dan mengedit naskah. Secara keseluruhan aku senang melakukannya. Bahkan kadang aku merasa tidak sedang bekerja, tetapi semacam menekuni hobi. Namun, yang kadang mengganggu adalah ketika aku ingin mengedit apa saja, semuanya. Ketika sedang di area publik, di sepanjang jalan rasanya ingin mengedit papan reklame, poster, dan bahkan stiker di tiang listrik.

Ketika menemukan papan nama milik tukang satai dan penjual mi, aku terbersit ingin mengoreksi. “Sate” harusnya “satai” dan “mie” harusnya “mi”. Kesalahan yang tidak dikoreksi akan diduplikasi terus menerus. Keinginan itu seringkali cuma dalam hati. Kalau dipraktekkan bisa ribut sama tukang satai. Hehe.

Untuk memahami dan menerapkan bahasa yang baik dan benar memang butuh proses. Meskipun sehari-hari aku sering membuka buku panduan tata bahasa, bisa saja aku lupa menerapkannya saat praktik penulisan dan penyuntingan (editing). Yang jelas aku harus terus belajar dan membiasakan diri menerapkannya. Meskipun tak bisa dipungkiri bahasa akan selalu berinteraksi dengan keadaan zaman dan bisa berkembang luwes.

Seperti kita ketahui, isi Sumpah Pemuda poin ketiga berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”  Ikrar ini dianggap sebagai penegasan semangat dan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Keinginanku untuk mencoba menggunakan bahasa yang tepat mungkin berlebihan jika disebut sumpah. Ini hanya usaha sederhana yang kulakukan semampuku, sekaligus dedikasi pada profesi. *Halaah*. Merdeka!
Cibubur, 30 Oktober 2013

Advertisements

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle, Writing&Journalism

Rahasia Dapur Redaksi

Di dalam dapur redaksi sebenarnya banyak hal yang bersifat rahasia. Misal sebuah koran akan menurunkan sebuah berita khusus, ada rapat tertutup yang hanya Tuhan dan tim redaksi yang tahu. Begitu juga dapur redaksi penerbitan buku, ada diskusi-diskusi yang sifatnya sangat rahasia. Ada rencana-rencana judul yang tidak bisa diberitahukan pada khalayak sebelum benar-benar terbit. Namun, kali ini aku akan sedikit membuka rahasia bagaimana kerja kreatif tim redaksi. Barangkali berguna bagi siapa saja yang sedang menggali ide.

Dalam rapat usulan judul, tim redaksi biasanya terdiri dari chief editor, penulis internal, copy editor, dan setter. Tiap-tiap orang bisa usul belasan judul, tetapi yang disetujui terbit biasanya cuma satu atau dua. Di sinilah kami dituntut untuk berpikir dan bekerja kreatif demi menghasilkan karya yang segar dan bernilai daya jual.

Jadi, inilah tips bagaimana proses menggodok ide naskah di dapur redaksi agar buku terbit laris manis.

1. Kembangkan ide dengan menggali suatu objek sejauh mungkin.

Beberapa tahun terakhir, buku-buku pertanian yang paling laris adalah yang berbau “jurus”. Misal “Jurus Panen Lele dalam 2 Minggu”. Nah, dari lele ini bisa diangkat berbagai macam judul. Mulai dari “Jurus Beternak Lele di Kolam Terpal” sampai soal “Bisnis Lele Antigagal”. Intinya, dari satu objek lele, bisa dikembangkan keman-mana.

Buku tema “Beternak Ayam di Teras” bisa dikembangkan menjadi “Beternak Ayam di Kolam”, “Beternak Ayam di Kamar Tanpa Bau”,  “Beternak Ayam Kampus Antirugi”, dan bahkan “Beternak Virus di Flashdisk”.

2. Pilihlah judul secetar mungkin.

Seringkali konten sebuah buku sangat bagus, tetapi karena judulnya datar, penjualannya buruk. Untuk mengatasinya, buatlah judul yang tidak biasa. Judul “Pisang Antihama” dan “Resep Donat Antibantat” itu sudah sangat biasa. Cobalah usulkan judul “Salak Anticurian”, “Semangka Antimaling”, atau “Olahan Bakso Antikenyang”.

3. Buatlah kemasan buku sekreatif mungkin.

Selain layout yang keren, kemasan buku juga harus dibuat super kreatif. Buku disertai bonus CD adalah salah satu cara kreatif. Dari situ bisa dibikin jadi super kreatif. Misal buku “Cara Membuat Sabun Mandi” dikasih bonus CD orang mandi.

4. Tampillah Berbeda dari buku-buku yang sudah ada.

Judul “Mukjizat Jus”, “Buah Ajaib”, dan berbagai tema yang mengangkat sisi kelebihan buah, sudah sangat biasa. Cobalah angkat tema bahaya buah manggis. Manggis berbahaya bila dimakan sambil menyebrang jalan. Manggis berbahaya apabila dimakan setelah nyemplung di air aki.

5.Ubah yang Biasa menjadi Luar Biasa.

Kadang ada tema yang sebenarnya sangat sederhana. Namun, karena cara penyajian isinya luar biasa, jadi berdaya jual tinggi. Misal judul buku “Resep Makanan untuk Anak Sakit” membutuhkan daya kreatif tinggi dalam menyusun isi. Bikinlah resep masakan yang memungkinkan menyembunyikan sayuran di bawah nasi, alias resep jebakan anak agar mau makan.

6. Untuk revisi buku, tambahkan informasi terbaru.

Buku yang beredar di toko, meskipun cetak ulang sekian kali, namun dalam kurun waktu tertentu harus direvisi. Revisi ini bertujuan untuk melengkapi atau menyesuaikan dengan kondisi terbaru. Misal, harga benih lele tak lagi seperti lima tahun lalu, jadi konten buku lele perlu direvisi untuk mencantumkan harga terbaru.

Selain update harga, jika ada hasil penelitian atau pengembangan cara budidaya lele paling mutakhir juga perlu ditambahkan. Kadang ini tidak mudah. Kadang sudah tak ada lagi yang bisa ditambahkan, tetapi naskah harus revisi. Harus ditambah! Nah, untuk mengatasinya, coba usulkan tambahan konten hasil penelitian yang benar-benar belum pernah ada. Contoh, “Pengaruh Badut Ancol terhadap Pertumbuhan Lele” dan “Beternak Lele Tanpa Air”. Pada buku tentang sapi perah, konon kurang berdaya jual. Untuk mengatasinya, pada buku revisi tambahkan bab “Sapi Perah Hasilkan Susu Rasa Vanila”.

Sekian.

Bacanya jangan terlalu serius. Maaf, salah ngasih tips. Dapurnya sedang rusak! 😀

Cibubur, 17 Oktober 2013.

Leave a comment

Filed under Conservation