Monthly Archives: November 2014

Berbagai Alternatif Pakaian Perempuan Islam

“Jilbab” menurut KBBI adalah kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada. Belakangan ini saya tertarik mengangkat soal “jilbab” atau lebih tepatnya “batasan aurat perempuan dalam Islam” karena saya melihat banyak sikap masyarakat yang tidak toleran terhadap pilihan orang lain yang berbeda.

Sekian waktu lalu, ramai dibahas di media sosial tentang ahli tafsir Prof. Quraish Shihab dituding sesat karena memaparkan berbagai pandangan ulama soal jilbab, termasuk tafsir jilbab tidak wajib. Yang meyakini tidak wajib pun dituding sesat. Saya berasumsi sikap intoleran ini berakar dari sikap meyakini satu tafsir yang tidak dibarengi dengan pemahaman bahwa hukum jilbab itu tidak hanya satu. Sehingga ketika mendapati seorang muslim yang meyakini jilbab tidak wajib, mereka merasa perlu meluruskan dengan cara memaksakan keyakinan agar orang lain meyakini persis seperti yang mereka yakini.

Tafsir soal jilbab sangat luas. Hukum jilbab merupakan masalah khilafiah (didebatkan) ulama. Ada ulama yang menafsir aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali mata (cadar itu wajib), ada yang menafsir aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan (jilbab itu wajib), ada yang menafsir jilbab itu sifatnya anjuran bukan keharusan, hingga tafsir yang paling ringan–berpakaian sopan dan boleh tak berjilbab. Di sini tidak akan dibahas dasar dalil masing-masing hukum karena itu bisa diakses lewat internet atau buku.

hijab 1-5

Gambar 1, 2, 3, dan 4 diambil oleh Andreas Harsono untuk data penelitian. Gambar 1-5, model saya sendiri.

Sebagian besar masyarakat kita selama ini hanya tahu tafsir jilbab itu satu, yaitu wajib. Jadi, ketika menemukan pandangan lain yang berbeda, dianggap menyimpang. Mengenai tafsir jilbab itu tidak wajib, bukanlah hal baru. Santri-santri putri NU tahun 60-90an, bahkan beberapa sampai sekarang hanya memakai kerudung seperti opsi 2, kelihatan leher dan rambut. Mereka memilih demikian bukan karena kurang ilmu. Dibandingkan orang awam pada umumnya, mereka lebih menguasai ilmu nahwu shorof untuk membaca berbagai tafsir. Ini bukan soal NU atau bukan, saya menyebut NU karena untuk mencontohkan bahwa tafsir jilbab tidak wajib itu bukan hal baru, seperti yang dikenakan wanita-wanita NU. Perbedaan pilihan ini mustinya bisa didialogkan sehingga tidak lagi muncul tudingan sesat pada ulama/orang lain yang berbeda. Untuk menjaga kebhinekaan ini secara damai, pentingnya sikap toleran terhadap pilihan keyakinan orang lain yang berbeda dengan yang kita yakini. Seseorang memilih berjilbab ataupun tidak, itu hak yang tidak boleh dipaksakan.

Pada 12 Agustus 2014, saya posting gambar tersebut di Facebook, untuk mengetahui alasan para muslimah memilih ekspresi pakaian mereka. Cukup ramai diskusinya. Saya menyimpulkan ada 3 sikap responden:

1. Mereka yang memaksakan keyakinan bahwa semua muslimah harus meyakini jilbab wajib, jika tidak berarti sesat.

2. Mereka yang merespon bahwa meyakini wajib dengan tetap menghargai pilihan tafsir lain.

3. Mereka yang fleksibel, kadang memakai pakaian opsi no.2, kadang 3, atau kadang 4. Artinya, tidak selalu opsi tertentu. 

Kalau saya amati sejumlah teman yang lebih fleksibel itu dari lingkungan pesantren, yang terlatih memahami berbagai tafsir, lebih bijaksana mengungkapkan ekspresi pilihan.

Saya pikir ini penting diangkat dan didiskusikan. Soal hukum jilbab ini biasanya memang agak sensitif ketika mengangkat tafsir yang tidak wajib. Dari diskusi panjang tersebut sebenarnya bukan untuk disimpulkan agar muslimah berbondong-bondong tidak pakai jilbab ataupun agar pakai jilbab, melainkan agar saling menghargai pilihan keyakinan orang lain yang berbeda.

Nur Laeliyatul Masruroh

29 November 2014

Advertisements

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Tai Kucing

Baru kemarin aku merasa yakin betul dia orang yang menyenangkan. Kemarin malam aku dibuat jengkel. Hanya gara-gara aku komentar tentangnya yang tidak mengambil sebuah kesempatan bagus. Aku tanya, “kamu beneran mau kerja di X?” Sebuah tempat yang menurutku bagus.
“Surat penerimaannya gak kukirim balik.” jawabnya.
“Sayang sekali, kenapa?” aku ingin tahu.
“Kenapa sayang sekali?” Sudah kebiasaan dia kalau ditanya dibalas dengan pertanyaan. Kadang malah banyak pertanyaan.
“Bukannya di X bagus?” kataku.
“Terus kenapa sayang?” Hah, dia menyebutku sayang? Eh, ini bukan panggilan sayang lhoh ya. Hahaha.
“Sayang kesempatan dibuang,” jelasku.
“Kamu tahu tentang diriku sehingga bilang itu sayang? Aku aja yg menjalaninya biasa aja kok. Dan aku gak membuangnya. Aku cuma gak balikin “kontrak” nya.” Astaga, angkuhnya orang ini.
“Aku gak tahu tentang dirimu, baiklah,” sahutku.
“Itu sama ketika aku menilai: aduh,…sayang banget kamu gak milih kerja di perusahaan x. Menurutku penilaian ini seperti kita mengukur sepatu orang dengan sepatu kita,” urainya.
“Ya deh. Aku ngukur dengan ukuranku, ya itu salah, baiklah.”
“Mungkin gak salah. Tapi menurutku kurang tepat aja kalo kita menilai kehidupan seseorang berdasar ukuran kita,” dia.

Baiklah. Tidak perlu kutulis ulang semua percakapan itu. Terus dia juga bilang kurang nyaman kalau ada yang mulai mencampuri urusan pribadinya. Duh, aku nggak bermaksud mencampuri urusan pribadinya. Kupikir pertanyaanku wajar ketika menyayangkan keputusannya. Karena X adalah media bagus. Aku sebagai mantan wartawan, andai mendapatkan kesempatan itu tak akan kulepas. Dia bilang punya pertimbangan lain mengapa mengembalikan kontrak itu. Aku pun jadi nggak berani tanya, pertimbangan apa itu, khawatir dikira makin mencampuri urusannya. Padahal aku cuma ingin tahu, kenapa kesempatan bagus dilepaskan.

Ngomong sama dia sepertinya harus benar-benar dipikir dulu biar nggak keliru. Atau jangan-jangan penerimaanku terhadap kalimatnya keliru. Bahasa tulis memang sedikit berbeda dengan bahasa lisan, aku tidak tahu dia menulis kalimat-kalimat di atas dengan nada suara seperti apa. Aku masih punya banyak pertanyaan, tetapi untuk sementara sepertinya aku akan menjawabi sendiri karena aku takut bertanya-tanya lagi.

Saat menulis ini aku sambil berpikir, kok sempat-sempatnya aku menulis ini. Aku kadang tidak terlalu pikir apakah tulisanku penting buat orang lain atau tidak. Aku sering lupa dengan perasaanku dan kadang malah lupa dengan momen-momen yang terjadi.

Aku rasa sejak bertemu lelaki yang menjengkelkan ini, hatiku lebih hidup dari biasanya. Menurutku ini sesuatu yang berharga. Aku ingin mengabadikannya di sini agar tidak terlupakan. Suatu kali bisa kutengok lagi. Kenapa berharga? Kurasa perasaan yang hidup itu datangnya dari Tuhan. Beberapa teman pernah curhat, hingga usianya waktu itu di atas 22, sama sekali belum pernah naksir orang dan patah hati. Dia mendengarkan musik yang menurutnya sangat indah, musik dengan lirik patah hati. Dia berdoa khusuk agar Tuhan memberi kesempatan patah hati. Dia bilang, setiap lihat orang patah hati heran, sampai segitu sedihnya. Dia pikir, justru harusnya patah hati adalah kesempatan orang untuk menemukan cinta baru lagi. Dia gampang ngomong gitu. Hingga akhirnya dia jatuh cinta, lalu patah hati dan nangis-nangis di kamarku kayak orang gila. Aku antara prihatin dan ingin ketawa. Saat itu aku dan temanku menjadi mengerti bahwa perasaan yang hidup itu sesuatu yang berharga.

Saat ini aku tidak sedang perlu menjaga hati siapapun, aku bebas menulis apapun tentang orang yang kujumpai dan perasaan-perasaan yang terjadi. Masa sendiri begini di satu sisi adalah masa yang menyenangkan. Bebas mengekspresikan pikiran dan perasaan. Kalau sudah berpasangan, mungkin akan lain. Segala hal yang ditulis, kita perlu menjaga perasaannya, keluarganya, dll. Aku dan temanku pernah saling berkelakar, setelah menikah kelak, kami mungkin tak menuliskan lagi perasaan-perasaan dan urusan rumah tangga, kami hanya akan berbagi tentang jemuran yang basah kehujanan. Haha.

Aku tidak tahu saat aku menikah nanti dan punya anak, apa yang akan kutulis di sini tentang apa yang kurasakan sehari-hari. Mungkin akan banyak menulis tentang kebijakan pemerintah terkait sumber daya alam Indonesia dan Sistem Pangan. Haha. Atau, apakah aku kelak menjadi seorang yang suka berbagi tentang bagaimana cara mengasuh anak? Aku tidak tahu.

Kembali ke soal dia. Apakah kini di mataku dia masih menyenangkan? Masih. Tepatnya, menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Pada orang seperti itu aku ingin melempar bunga. Tentu saja sekaligus potnya. Ups, kidding. Secara keseluruhan dia tetap menyenangkan. Aku telanjur tertarik dengan pikiran-pikirannya dan caranya. Kalau ada bagiannya yang menjengkelkan, aku tetap bisa maklum. No body perfect. Dari dulu aku tak percaya tai kucing bisa rasa cokelat, kali ini sepertinya aku mulai percaya. Ini tai kucing yang berharga.

Sabtu, 29 November 2014

Leave a comment

Filed under Conservation

20 Facts About Me

Sekian waktu lalu sedang ngetren di Facebook dan media sosial lainnya menulis 20 fakta tentang diri sendiri. Kali ini aku juga tertarik mencoba menulisnya. Duh, sebenarnya kalau sampai menulis kebaikan-kebaikan diri sendiri itu narsis dan tidak baik, jadi tolong abaikan! Biar lebih adil, kucoba susun 10 kebaikan, lima netral, dan 5 keburukan. Tetap saja poin kebaikan dibanyakin. Huuu.

1. Open mind. Aku merasa termasuk orang yang berpikiran terbuka, tidak fanatik terhadap kultur maupun agama.
2. Tenang. Kata banyak orang, aku kadang terlalu tenang saat menghadapi hal-hal genting. Padahal dulu pernah kena panic attack, sekarang tidak lagi. Alhamdulillah.
3. Memiliki sentuhan artistik. Apa saja yangdisentuh tanganku jadi lebih berseni. Masa sih?
4. Menarik lebih lama. Aku gak enak kalau ngaku cantik, wong Dian Satro saja merasa gak cantik. Tapi jujur, aku merasa menarik. #sibak rambut
5. Awet muda. Orang selalu mengira usiaku lebih muda dari yang sebenarnya. Ya, aku selalu nampak berusia 22.
6. Mudah bergaul dengan orang baru. Aku tidak segan untuk meminta nomer kontak atau alamat FB pada orang baru yang kukenal di perpustakaan, sebuah acara, bahkan di kereta. Pada lelaki ataupun perempuan, pada yang berpasangan ataupun jomblo. Plis jangan keburu GR. 🙂
7. Sabar menghadapi orang menjengkelkan. Malah kadang tertarik menaklukan orang macam itu.
8. Tidak suka makan berlebihan, tidak suka perutku gendut. Sejak kecil didoktrin untuk menjaga perut tetap ramping. Aku punya cara-cara khusus untuk hal ini.
9. Lumayan Kreatif. Aku merasa kreatif untuk beberapa hal dan tidak kreatif di hal lain.
10. Menghargai perbedaan. Seberapapun berbeda prinsip hidup orang, aku bisa hargai asalkan tidak membahayakan diri dan orang lain.
11. Tidak punya peliharaan hidup, seperti kucing, anjing, atau ikan. Aku sedikit takut saat menghadapi perpisahan, meskipun dengan hewan.
12. Sering disorientasi arah, sulit mengingat peta jalan.
13. Tidak suka kepo. Tapi kalau kadung penasaran, bisa mencaritahu sampai ke lubang semut dan tak kalah jago dari penyidik KPK.
14. Tidak suka barang-barang dipindah karena suka lupa. Kalau yang tadinya di barat pindah ke utara, aku bisa muter-muter kayak bajai salah jalan.
15. Pecandu kopi. Aku pernah nyoba berhenti ngopi, tapi kembali kecanduan lagi. Aku kadang menyeduh kopi tanpa kuminum, hanya untuk kuciumi aromanya.
16. Kamar sering berantakan
17. Sering malas memulai sesuatu, tapi kalau sudah memulai sulit berhenti.
18. Kadang tidak PD dengan karya/upaya sendiri, padahal hasilnya menurut orang lain tak seburuk yang kukira.
19. Suka menunda, aku benci sifatku yang ini.
20. Pemuji keindahan fisik dan jiwa manusia, tetapi tidak suka membicarakannya.

Depok, 16 November 2014

Leave a comment

Filed under Activities