Tai Kucing

Baru kemarin aku merasa yakin betul dia orang yang menyenangkan. Kemarin malam aku dibuat jengkel. Hanya gara-gara aku komentar tentangnya yang tidak mengambil sebuah kesempatan bagus. Aku tanya, “kamu beneran mau kerja di X?” Sebuah tempat yang menurutku bagus.
“Surat penerimaannya gak kukirim balik.” jawabnya.
“Sayang sekali, kenapa?” aku ingin tahu.
“Kenapa sayang sekali?” Sudah kebiasaan dia kalau ditanya dibalas dengan pertanyaan. Kadang malah banyak pertanyaan.
“Bukannya di X bagus?” kataku.
“Terus kenapa sayang?” Hah, dia menyebutku sayang? Eh, ini bukan panggilan sayang lhoh ya. Hahaha.
“Sayang kesempatan dibuang,” jelasku.
“Kamu tahu tentang diriku sehingga bilang itu sayang? Aku aja yg menjalaninya biasa aja kok. Dan aku gak membuangnya. Aku cuma gak balikin “kontrak” nya.” Astaga, angkuhnya orang ini.
“Aku gak tahu tentang dirimu, baiklah,” sahutku.
“Itu sama ketika aku menilai: aduh,…sayang banget kamu gak milih kerja di perusahaan x. Menurutku penilaian ini seperti kita mengukur sepatu orang dengan sepatu kita,” urainya.
“Ya deh. Aku ngukur dengan ukuranku, ya itu salah, baiklah.”
“Mungkin gak salah. Tapi menurutku kurang tepat aja kalo kita menilai kehidupan seseorang berdasar ukuran kita,” dia.

Baiklah. Tidak perlu kutulis ulang semua percakapan itu. Terus dia juga bilang kurang nyaman kalau ada yang mulai mencampuri urusan pribadinya. Duh, aku nggak bermaksud mencampuri urusan pribadinya. Kupikir pertanyaanku wajar ketika menyayangkan keputusannya. Karena X adalah media bagus. Aku sebagai mantan wartawan, andai mendapatkan kesempatan itu tak akan kulepas. Dia bilang punya pertimbangan lain mengapa mengembalikan kontrak itu. Aku pun jadi nggak berani tanya, pertimbangan apa itu, khawatir dikira makin mencampuri urusannya. Padahal aku cuma ingin tahu, kenapa kesempatan bagus dilepaskan.

Ngomong sama dia sepertinya harus benar-benar dipikir dulu biar nggak keliru. Atau jangan-jangan penerimaanku terhadap kalimatnya keliru. Bahasa tulis memang sedikit berbeda dengan bahasa lisan, aku tidak tahu dia menulis kalimat-kalimat di atas dengan nada suara seperti apa. Aku masih punya banyak pertanyaan, tetapi untuk sementara sepertinya aku akan menjawabi sendiri karena aku takut bertanya-tanya lagi.

Saat menulis ini aku sambil berpikir, kok sempat-sempatnya aku menulis ini. Aku kadang tidak terlalu pikir apakah tulisanku penting buat orang lain atau tidak. Aku sering lupa dengan perasaanku dan kadang malah lupa dengan momen-momen yang terjadi.

Aku rasa sejak bertemu lelaki yang menjengkelkan ini, hatiku lebih hidup dari biasanya. Menurutku ini sesuatu yang berharga. Aku ingin mengabadikannya di sini agar tidak terlupakan. Suatu kali bisa kutengok lagi. Kenapa berharga? Kurasa perasaan yang hidup itu datangnya dari Tuhan. Beberapa teman pernah curhat, hingga usianya waktu itu di atas 22, sama sekali belum pernah naksir orang dan patah hati. Dia mendengarkan musik yang menurutnya sangat indah, musik dengan lirik patah hati. Dia berdoa khusuk agar Tuhan memberi kesempatan patah hati. Dia bilang, setiap lihat orang patah hati heran, sampai segitu sedihnya. Dia pikir, justru harusnya patah hati adalah kesempatan orang untuk menemukan cinta baru lagi. Dia gampang ngomong gitu. Hingga akhirnya dia jatuh cinta, lalu patah hati dan nangis-nangis di kamarku kayak orang gila. Aku antara prihatin dan ingin ketawa. Saat itu aku dan temanku menjadi mengerti bahwa perasaan yang hidup itu sesuatu yang berharga.

Saat ini aku tidak sedang perlu menjaga hati siapapun, aku bebas menulis apapun tentang orang yang kujumpai dan perasaan-perasaan yang terjadi. Masa sendiri begini di satu sisi adalah masa yang menyenangkan. Bebas mengekspresikan pikiran dan perasaan. Kalau sudah berpasangan, mungkin akan lain. Segala hal yang ditulis, kita perlu menjaga perasaannya, keluarganya, dll. Aku dan temanku pernah saling berkelakar, setelah menikah kelak, kami mungkin tak menuliskan lagi perasaan-perasaan dan urusan rumah tangga, kami hanya akan berbagi tentang jemuran yang basah kehujanan. Haha.

Aku tidak tahu saat aku menikah nanti dan punya anak, apa yang akan kutulis di sini tentang apa yang kurasakan sehari-hari. Mungkin akan banyak menulis tentang kebijakan pemerintah terkait sumber daya alam Indonesia dan Sistem Pangan. Haha. Atau, apakah aku kelak menjadi seorang yang suka berbagi tentang bagaimana cara mengasuh anak? Aku tidak tahu.

Kembali ke soal dia. Apakah kini di mataku dia masih menyenangkan? Masih. Tepatnya, menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Pada orang seperti itu aku ingin melempar bunga. Tentu saja sekaligus potnya. Ups, kidding. Secara keseluruhan dia tetap menyenangkan. Aku telanjur tertarik dengan pikiran-pikirannya dan caranya. Kalau ada bagiannya yang menjengkelkan, aku tetap bisa maklum. No body perfect. Dari dulu aku tak percaya tai kucing bisa rasa cokelat, kali ini sepertinya aku mulai percaya. Ini tai kucing yang berharga.

Sabtu, 29 November 2014

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s