Monthly Archives: December 2014

Buku Sex, Islam, Love

Aku jarang-jarang menanti-nanti tukang pos, tapi sore itu iya. Bahkan sehari itu aku sudah tanya 3x ke orang rumah tentang kedatangan pos. Aku sedang menunggu kiriman buku.

Sekian hari lalu aku membeli buku karya seorang penulis yang kutemukan di sebuah grup diskusi di Facebook. Entah sejak kapan aku terkesan dengan pikirannya dan menyimak setiap komentarnya di diskusi grup.

Bermula ketika aku merasa namanya tidak asing hingga kemudian aku berselancar namanya di google. Ternyata dia menulis buku. Setelah melihat judulnya, sepertinya aku belum membacanya dan aku pun tidak mengenal penulisnya. Tapi entah kenapa nama itu seperti tak asing, seperti sudah kenal belasan tahun. Kelak di kemudian hari baru kutahu ternyata kami pernah beredar di ruang dan waktu yang sama, hanya saja tak pernah berjumpa.

Setelah mengirim pesan dan ngobrol di FB, dia memberitahu kalau isi bukunya berisi kisah nyata dia dan cerita fiktif yang terinspirasi dari kisah hidupnya.

Oh ya, dia mantan jurnalis, aktor, dan penulis tentunya. Latar belakang yang sama denganku. Dari sekian orang yang sering kujumpai di media sosial, dia salah satu yang terbiasa menulis dengan utuh, memperhatikan diksi, tidak banyak menyingkat, dan tidak kebanyakan tanda baca seperti titik dan koma yang biasanya dilakukan kebanyakan orang. Makanya sejak awal aku menduga dia penulis. Pikiran-pikirannya yang seringkali berbeda dengan orang kebanyakan, aku banyak setuju. Aku kadang melihatnya seperti menemukan diriku sendiri versi cowok. Heh.

Tidak semua, beberapa aku tidak setuju. Melalui percakapan di media sosial, kami sempat melewati satu dua hal salah paham. Tapi bukan hal yang besar, semua kembali baik-baik saja. Untuk mencapai keseimbangan, bandul interaksi seringkali perlu bergoyang. Tsaaah. Overall, dia partner diskusi yang baik.Juga, pada dasarnya karena aku terkesan dengan cara pikirnya, jadi aku menunggu-nunggu buah pikirnya di buku itu.

Karena banyak diskusi ini itu, tiba-tiba aku merasa dia begitu dekat. Tapi sedekat apapun kalau hanya bertemu di dunia maya, tetaplah jauh. Hingga kemudian tukang pos datang, aku segera membuka amplop, menyobek plastik bukunya dan langsung berpikir, “akhirnya aku bisa menyentuh DNA-nya!” Haha.

buku antaSampul buku itu pasti ada bekas sidik jarinya. Jadi, tentu meninggalkan DNAnya. Memangnya dia yang ngirim langsung? siapa tahu diposkan temannya. Aku yakin dia yang ngirim langsung karena setengah jam sebelum buku dikirim, dia memberitahu kalau dia mau ke kantor pos. Memangnya kenapa dengan DNA? Setidaknya aku sudah menyentuh bagian fisiknya, meskipun hanya beberapa potong kecil DNAnya. Eits.

Buku ini terdiri dari 92 halaman, 17 cerita, dan ukuran 14×20 cm. Judul ada di halaman pertama. Buku ini memang berbeda dengan anatomi buku pada umumnya. Soal penulisan, sebelumnya penulisnya pernah bilang, suka mencari bentuk baru, sengaja tidak mengikuti kaidah lama. Jadi soal anatomi, barangkali juga.

Baiklah sekarang aku siap membaca pikirannya. Kubuka di bagian daftar isi. Aku langsung menuju judul “Ortu”. Aku tertarik ingin tahu dari orang tua seperti apa dia berasal. Bapaknya seorang pegawai swasta yang mengabdi jadi guru ngaji dan imam di musala di depan rumah. Ya ampun, sama dengan bapakku. Hanya saja bapakku guru PNS yang juga mendirikan surau di depan rumah.

Bedanya, bapaknya masih ada, jadi bisa terus menjadi panutannya hingga dewasa. Sedangkan bapakku sudah meninggal sejak aku berusia 9 tahun, meninggalkan kitab-kitab yang belum semua diajarkan padaku.

Kembali ke soal bukunya. Aku membaca bagian depan tentang kisah cinta lelaki dan perempuan. si perempuan hamil, nyaris bunuh diri, dibawa rumah sakit, lalu si lelaki menghilang. Tentang cerita itu, aku menduga bagian depan itu kisah nyata, tapi yang belakang sepertinya fiktif. Tapi entah kenapa bikin aku ketar-ketir, duh jangan sampai penulisnya pernah hamilin orang, terus kabur.

Cerita selanjutnya, latar Amerika, dugaanku juga di kisah itu ada bagian kisahnya. Di ujung kisah, si lelaki bercinta dengan si perempuan bule. Lagi-lagi, ada saja hal tak terduga yang bikin kaget. Hingga kemudian si perempuan membunuh si lelaki karena tahu dia muslim, untuk membalas dendam peristiwa 9/11. Saat menemukan lelaki itu mati, aku malah lega karena itu artinya ujungnya fiktif. Si lelaki dalam kenyataannya tidak mati, malah menulis kisah itu kan? Eh, kok aku malah menuliskan detail jalan ceritanya? Maaf jadi spoiler.

Tapi cerita bercinta dengan bule itu beneran gak ya? Ya Tuhan, kenapa aku malah jadi pusing sendiri memilah-milah mana yang nyata, mana yang fiktif.

Ada beragam cerita di buku ini, tentu saja tak akan kuceritakan semua. Tentang hubungan cinta, pertemuan-pertemuan singkat di perjalanan, dan masalah-masalah lama yang belum selesai. Kisah-kisah di sini berlatar di berbagai tempat, di antaranya Jogja, Kalimantan, Amerika, Belanda, Jepang, Perancis, kereta, pesawat, kafe, dan toko roti. Pengalaman-pengalaman yang tidak biasa dan yang biasa disajikan dengan enak. Di beberapa kisah, ada saja yang bikin aku waswas; apalagi nih yang akan bikin jantungku mau copot.

Yang unik dari buku ini adalah berkover gambar minimalis, tanpa judul di sampul, hanya gambar seperti jilbab hitam dengan wajah bentuk hati. Didesain langsung oleh penulisnya. Setiap kisah ditulis pendek, lebih pendek dari cerpen pada umumnya. Seperti kata penulisnya, ia tak ingin mengikuti gaya lama. Ejaan rapi, diksi efisien, penulisnya sepertinya tahu betul bagaimana menyusun kalimat agar tidak bubazir.

Aku sebenarnya ingin bikin resensi yang agak serius, bukan curhatan begini, tapi sepertinya aku butuh jarak. Jarak antara emosi dan isi buku. Untuk saat ini jarak itu susah dibentuk karena aku kadung merasa dekat dengan penulisnya. Padahal penulisnya belum tentu merasa dekat denganku. Heuheu. Oh ya, penulisnya bernama… Hm, kasih tahu nggak ya?

Depok, 19 Desember 2014

2 Comments

Filed under Writing&Journalism

Jomblo Tangguh

1. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani nonton di bioskop sendirian, yang di situ ada mantan bersama pasangan.

2. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani datang kondangan sendirian di resepsi mantan.

3. Jomblo tangguh adalah jomblo yang sabar mendengarkan curhat sahabatnya yang baru jadian.

4. Jomblo tangguh adalah jomblo yang mengunjungi Kota Tua untuk motret orang prewed, kesana kemari sendirian.

5. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani jalan sendirian tutup mata membelah lapangan alun-alun kidul Jogja dan nabrak orang pacaran (Apa-apaan ini? >_

6. Jomblo tangguh adalah jomblo yang dengan senang hati menemani temannya cari cincin tunangan.

7. Jomblo tangguh adalah jomblo yang bersedia membantu urusan pernikahan mantan.

8. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani makan malam sendirian di restoran pada Sabtu malam.

9. Jomblo tangguh adalah jomblo yang tidak gegabah jadian hingga menemukan pasangan yang tepat untuk berkomitmen dalam pernikahan.

10. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berhati-hati dalam urusan cinta. Memastikan agar tidak jadi korban, tetapi jadi pemain. Pemain yang baik tidak menyakiti dan tidak tersakiti. #tsaaah.

11. Jomblo tangguh adalah …( silakan lanjutkan). 

Depok, 08 Desember 2014

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Jangan Ada Kekerasan (Agama) Lagi di Antara Kita

Sebelum berangkat konferensi Sabtu 18 Oktober 2014 lalu, karena tema berat, saya sempat berpikir, apakah saya benar-benar perlu datang di acara ini? International Interfaith Conference. Building Civic Peace: Inter-faith and inter-ethnic Relations in Indonesia. Karena itu undangan terbatas dan saya sudah konfirmasi datang, jadi saya tetap memutuskan datang.

Saya hadir tidak mewakili insitusi atau kelompok manapun. Saya datang sebagai pribadi dan dengan harapan kehadiran saya tidak terlihat. Terus terang untuk berbagai alasan, apalagi tema begini, saya lebih suka bicara lewat tulisan daripada lisan. Juga, khawatir ada wartawan. Khawatir salah ngomong terus dikutip. Ups, kepedean banget sih Lel, ada yang mau ngutip. Hehe. Justru karena saya pernah jadi wartawan, jadi cukup sadar ganasnya para juru warta. Jadi perlu siaga agar jangan sampai keliru ngomong di forum seperti ini. #Kidding.

Sebenarnya, saya menyimpan banyak pertanyaan tentang masalah-masalah lintas agama. Sekian kali menemui gesekan terkait ekspresi keimananan. Namun, kali ini saya hanya akan menjadi pendengar dan penyimak saja. Kalau acaranya ternyata membosankan, saya akan keluar kapan saja. Tapi ternyata, semua itu berjalan lebih baik dari yang saya bayangkan. Orang bisa berbicara tanpa rasa takut tentang permasalahan agama dan etnis. Acara ini berlangsung di Wisma Makara, Universitas Indonesia.

Acara diawali dengan uraian 3 pembicara dari universitas Indonesia (UI) dan Arizona State University (ASU). Setelah itu sesi tanya jawab. Selanjutnya workshop yang diawali dengan perkenalan satu persatu. Kita memperkenalkan diri pada beberapa orang secara acak mdengan menggambar sesuatu yang menunjukkan identitas/ekspresi diri.

Saat itu saya menggambar daun. Ada tiga alasan mengapa saya mengekpresikan diri dengan daun. Pertama, daun identik warna hijau yang di dunia medis warna hijau itu untuk menyegarkan mata yang lelah. Kalau dikaitkan dengan acara itu, artinya saya datang di acara ini demi mencari pencerahan karena telah lelah melihat kekerasan yang disebabkan perbedaan pemahaman agama. Kedua, daun itu bagian dari tumbuhan yang dalam siklus makanan berarti tumbuhan adalah produsen. Kita seharusnya seperti tumbuhan yang mampu memproduksi sesuatu, bukan hanya menjadi konsumen. Ketiga, daun itu mungkin bisa mewakili latar belakang studi saya Biologi.

Saya berkenalan acak dengan dua teman baru. Pertama seorang geologist, doktor geologi lulusan Italia. Dia menggambar jangkrik. Kenapa jangkrik? Karena jangkrik itu bersuara ketika orang-orang diam. Dia terinpirasi dari jangkrik, untuk bersuara ketika semua orang diam. Saya agak mikir sebentar, ternyata ada ahli geologi juga di sini. Saya pikir, semua yang mengikuti konferensi ini adalah orang-orang yang berlatar belakang studi lintas agama semua. Saya yang berlatar Biologi, jadi merasa tidak sendiri. :). Dia sempat tanya ke saya, “apakah kamu beragama?” Saya pun tanya agamanya. Dia Katholik.

Kedua, saya kenalan dengan teman yang sebelumnya sudah saya kenal. Lhoh, kenalan ulang jadinya. Seorang mahasiswa S2 Antropologi UI. Dia menggambar mata. Kenapa mata? Karena menurutnya dari matalah semua bermula. Baik itu kebaikan maupun dosa bermula dari mata.

Berikutnya, acara mengidentifikasi diri. Di dinding ruangan ada 10 kertas karton kosong yang membentang dengan sebuah judul. Masing-masing adalah:

1. Papua

2. Batak

3. Pantekosta

4. Katholik

5. Protestan

6. Liberal Islam

7. Aliran Kebatinan

8. Salafi-Wahabi

9. Ahmadiyah

10. Syiah

Setiap peserta workshop diminta menuliskan sesuatu yang pernah didengar/dipahami tentang masing-masing sekte itu. Mulai dari yang serius sampai konyol. Misalnya, para peserta mendeskripsikan Batak itu identik dengan marga, pengacara, kernet angkot dsb. Salafi-Wahabi itu identik dengan antitradisi, intoleran, FPI, celana cungklang, dsb.

Setelah itu semua peserta untuk mengidentifikasi dirinya sendiri itu pada salah satu sekte tersebut yang paling mewakili diri atau yang paling sreg di hati. Masing-masing sekte tersebut ada “pengikut”nya. Masing-masing dari sekte ada yang mewakili bicara. Salah satunya dari Ahmadiyah yang menurut saya paling mengharukan karena mereka dianggap berbeda dalam berakidah tetapi dikucilkan dan mengalami kekerasan akibat MUI memberi fatwa sesat. Betapa fatwa sesat itu bisa berakibat membahayakan nasib sekelompok orang yang tak bersalah. Sekian kali mengalami serangan, orang Ahmadiyah tidak membalas dendam karena mereka lebih mengutamakan kedamaian. Hanya karena akidah yang berbeda mereka diperlakukan seperti bukan manusia oleh sekelompok Islam lain. Ini sungguh tidak adil.

Saya berdiri di sekte apa? Rahasia. Sebagai orang Jawa, saya sempat terbersit ingin berdiri di sekte Aliran Kebatinan alias kejawen, tapi saya sendiri tidak paham nilai-nilai orang Jawa murni. Sebagai orang yang sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren, saya rasa lebih paham soal tradisi Islam dibandingkan dengan tradisi Jawa. Tapi, saya tidak antitradisi dan tidak sejalan dengan FPI, jadi saya tidak sepaham dengan Salafi-Wahabi. Kalau Liberal Islam itu diidentikan dengan menghalalkan wine, saya sendiri berkeyakinan haram minum wine, jadi saya harus berdiri di mana? Susah juga memilih sekte yang paling mendekati dengan identitas diri. Namun, kekerasan atas nama agama menurut saya jauh lebih tolol daripada minum segelas wine. Saya menghargai mereka yang berpandangan wine itu tidak haram, tapi karena saya meyakini itu haram, jangan tawari atau coba-coba menjebak saya. Itu juga tolol namanya. Saya pernah menyaksikan teman saya yang meyakini wine itu haram, tapi dijebak oleh sejumlah teman buat canda-candaan hingga tak sadar dia meminumnya, saya murka kalau ingat. Saya juga hampir terjebak, untung saya belum minum. Jadi, saya berdiri di mana? Hm… kasih tahu nggak ya? hehe.

Intinya, konferensi ini sangat menarik. Di sini kami mencoba mengurai masalah mengenai mengapa konflik sektarian meningkat di Indonesia. Di anataranya, keterlibatan pemimpin agama dalam kebijakan sangat tinggi dalam memproduksi kekerasan. Kalau diilustrasikan, ustad-ustad yang provokatif mudah menuding ini itu sesat dan kafir, tanpa penjelasan yang menyeluruh dan utuh bisa diterjemahkan kekerasan oleh pengikutnya. Pemimpin agama dan  negara gagal mendistribusikan rasa adil dan rasa aman. Adanya kelompok-kelompok yang membungkus diskriminasi dengan agama juga berkontribusi meningkatkan kekerasan. Contohnya, Lurah Susan didemo agar turun bukan lantaran kinerja kepemimpinannya melainkan karena agamanya berbeda dengan mayoritas yang dipimpin. Itu diskriminasi yang dibungkus dengan agama.

Konferensi ini diselenggarakan atas kerjasama Abdurrahman Wahid Centre (AWC) UI dan Arizona State University (ASU). Dari konferensi ini juga membawa semangat Gusdur terkait pentingnya sadar pluralisme, memberi kesempatan orang-orang untuk tak takut bicara mengenai masalah sektarian, dan membawa harapan untuk mengatasi konflik dengan dialog.

Saya beruntung malamnya berkesempatan makan malam bersama para pembicara dan moderator, termasuk Prof Dr Mark Woorward dari ASU. Prof. Mark ternyata pernah mengajar terkait Lintas Iman selama 6 tahun di UGM. Jadi, sekalian cerita soal kurikulum Asisten Agama Islam (AAI) di UGM yang dikuasai PKS hingga kemudian tahun 2014 ini dihapus. Untuk menghapus yang semacam itu konon melewati dialog yang sangat sulit. Moderator acara adalah Hani Mohamed dari Singapura–CEO of Alertist (international interfaith & peace-building company) & produser film. Hani dan saya sempat membahas soal jilbab, kebetulan kami sama-sama muslim dan sama-sama meyakini jilbab tidak wajib. Untuk mengekpresikan keyakinan seperti ini juga sepertinya tidak mudah karena di luar sana ada saja yang menuding sesat.

Oh ya, dalam konferensi ini ada sejumlah komitmen nilai yang menjadi dasar dalam mencari solusi (full value commitment) yang disepakati bersama, yaitu: hormat (respect), kejujuran, pemahaman (understanding), transaparan, toleransi, solutif, simpati/peka, cinta (love), kesabaran (patience), peduli (care), dan pendengar yang baik (good listener). Semoga nilai-nilai ini bukan sebatas wacana yang kuat didenungkan dalam konferensi atau seminar, melainkan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang menebar kebencian atas nama agama, menurut saya, sepertinya jumlahnya tidak banyak, tetapi suara mereka keras jadi seolah menjadi representatif kelompok tertentu. Kebencian dibalas dengan kebencian hanya akan membuat kebencian makin mendalam. Saatnya membalas kebencian dengan kasih sayang. 🙂

Depok, 18 Oktober 2014.

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Percakapan

  • Biru = Lelaki
  • Merah Jambu = Perempuan
  • manfaat salat 7a

manfaat salat 8a manfaat salat 9a manfaat salat 10a manfaat salat 11a manfaat salat 12a manfaat salat 13a manfaat salat 14a manfaat salat 15a manfaat salat 16a

manfaat salat 16 Aamanfaat salat 17a manfaat salat 18a manfaat salat 19a manfaat salat 20a

Leave a comment

Filed under Activities