Jangan Ada Kekerasan (Agama) Lagi di Antara Kita

Sebelum berangkat konferensi Sabtu 18 Oktober 2014 lalu, karena tema berat, saya sempat berpikir, apakah saya benar-benar perlu datang di acara ini? International Interfaith Conference. Building Civic Peace: Inter-faith and inter-ethnic Relations in Indonesia. Karena itu undangan terbatas dan saya sudah konfirmasi datang, jadi saya tetap memutuskan datang.

Saya hadir tidak mewakili insitusi atau kelompok manapun. Saya datang sebagai pribadi dan dengan harapan kehadiran saya tidak terlihat. Terus terang untuk berbagai alasan, apalagi tema begini, saya lebih suka bicara lewat tulisan daripada lisan. Juga, khawatir ada wartawan. Khawatir salah ngomong terus dikutip. Ups, kepedean banget sih Lel, ada yang mau ngutip. Hehe. Justru karena saya pernah jadi wartawan, jadi cukup sadar ganasnya para juru warta. Jadi perlu siaga agar jangan sampai keliru ngomong di forum seperti ini. #Kidding.

Sebenarnya, saya menyimpan banyak pertanyaan tentang masalah-masalah lintas agama. Sekian kali menemui gesekan terkait ekspresi keimananan. Namun, kali ini saya hanya akan menjadi pendengar dan penyimak saja. Kalau acaranya ternyata membosankan, saya akan keluar kapan saja. Tapi ternyata, semua itu berjalan lebih baik dari yang saya bayangkan. Orang bisa berbicara tanpa rasa takut tentang permasalahan agama dan etnis. Acara ini berlangsung di Wisma Makara, Universitas Indonesia.

Acara diawali dengan uraian 3 pembicara dari universitas Indonesia (UI) dan Arizona State University (ASU). Setelah itu sesi tanya jawab. Selanjutnya workshop yang diawali dengan perkenalan satu persatu. Kita memperkenalkan diri pada beberapa orang secara acak mdengan menggambar sesuatu yang menunjukkan identitas/ekspresi diri.

Saat itu saya menggambar daun. Ada tiga alasan mengapa saya mengekpresikan diri dengan daun. Pertama, daun identik warna hijau yang di dunia medis warna hijau itu untuk menyegarkan mata yang lelah. Kalau dikaitkan dengan acara itu, artinya saya datang di acara ini demi mencari pencerahan karena telah lelah melihat kekerasan yang disebabkan perbedaan pemahaman agama. Kedua, daun itu bagian dari tumbuhan yang dalam siklus makanan berarti tumbuhan adalah produsen. Kita seharusnya seperti tumbuhan yang mampu memproduksi sesuatu, bukan hanya menjadi konsumen. Ketiga, daun itu mungkin bisa mewakili latar belakang studi saya Biologi.

Saya berkenalan acak dengan dua teman baru. Pertama seorang geologist, doktor geologi lulusan Italia. Dia menggambar jangkrik. Kenapa jangkrik? Karena jangkrik itu bersuara ketika orang-orang diam. Dia terinpirasi dari jangkrik, untuk bersuara ketika semua orang diam. Saya agak mikir sebentar, ternyata ada ahli geologi juga di sini. Saya pikir, semua yang mengikuti konferensi ini adalah orang-orang yang berlatar belakang studi lintas agama semua. Saya yang berlatar Biologi, jadi merasa tidak sendiri.🙂. Dia sempat tanya ke saya, “apakah kamu beragama?” Saya pun tanya agamanya. Dia Katholik.

Kedua, saya kenalan dengan teman yang sebelumnya sudah saya kenal. Lhoh, kenalan ulang jadinya. Seorang mahasiswa S2 Antropologi UI. Dia menggambar mata. Kenapa mata? Karena menurutnya dari matalah semua bermula. Baik itu kebaikan maupun dosa bermula dari mata.

Berikutnya, acara mengidentifikasi diri. Di dinding ruangan ada 10 kertas karton kosong yang membentang dengan sebuah judul. Masing-masing adalah:

1. Papua

2. Batak

3. Pantekosta

4. Katholik

5. Protestan

6. Liberal Islam

7. Aliran Kebatinan

8. Salafi-Wahabi

9. Ahmadiyah

10. Syiah

Setiap peserta workshop diminta menuliskan sesuatu yang pernah didengar/dipahami tentang masing-masing sekte itu. Mulai dari yang serius sampai konyol. Misalnya, para peserta mendeskripsikan Batak itu identik dengan marga, pengacara, kernet angkot dsb. Salafi-Wahabi itu identik dengan antitradisi, intoleran, FPI, celana cungklang, dsb.

Setelah itu semua peserta untuk mengidentifikasi dirinya sendiri itu pada salah satu sekte tersebut yang paling mewakili diri atau yang paling sreg di hati. Masing-masing sekte tersebut ada “pengikut”nya. Masing-masing dari sekte ada yang mewakili bicara. Salah satunya dari Ahmadiyah yang menurut saya paling mengharukan karena mereka dianggap berbeda dalam berakidah tetapi dikucilkan dan mengalami kekerasan akibat MUI memberi fatwa sesat. Betapa fatwa sesat itu bisa berakibat membahayakan nasib sekelompok orang yang tak bersalah. Sekian kali mengalami serangan, orang Ahmadiyah tidak membalas dendam karena mereka lebih mengutamakan kedamaian. Hanya karena akidah yang berbeda mereka diperlakukan seperti bukan manusia oleh sekelompok Islam lain. Ini sungguh tidak adil.

Saya berdiri di sekte apa? Rahasia. Sebagai orang Jawa, saya sempat terbersit ingin berdiri di sekte Aliran Kebatinan alias kejawen, tapi saya sendiri tidak paham nilai-nilai orang Jawa murni. Sebagai orang yang sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren, saya rasa lebih paham soal tradisi Islam dibandingkan dengan tradisi Jawa. Tapi, saya tidak antitradisi dan tidak sejalan dengan FPI, jadi saya tidak sepaham dengan Salafi-Wahabi. Kalau Liberal Islam itu diidentikan dengan menghalalkan wine, saya sendiri berkeyakinan haram minum wine, jadi saya harus berdiri di mana? Susah juga memilih sekte yang paling mendekati dengan identitas diri. Namun, kekerasan atas nama agama menurut saya jauh lebih tolol daripada minum segelas wine. Saya menghargai mereka yang berpandangan wine itu tidak haram, tapi karena saya meyakini itu haram, jangan tawari atau coba-coba menjebak saya. Itu juga tolol namanya. Saya pernah menyaksikan teman saya yang meyakini wine itu haram, tapi dijebak oleh sejumlah teman buat canda-candaan hingga tak sadar dia meminumnya, saya murka kalau ingat. Saya juga hampir terjebak, untung saya belum minum. Jadi, saya berdiri di mana? Hm… kasih tahu nggak ya? hehe.

Intinya, konferensi ini sangat menarik. Di sini kami mencoba mengurai masalah mengenai mengapa konflik sektarian meningkat di Indonesia. Di anataranya, keterlibatan pemimpin agama dalam kebijakan sangat tinggi dalam memproduksi kekerasan. Kalau diilustrasikan, ustad-ustad yang provokatif mudah menuding ini itu sesat dan kafir, tanpa penjelasan yang menyeluruh dan utuh bisa diterjemahkan kekerasan oleh pengikutnya. Pemimpin agama dan  negara gagal mendistribusikan rasa adil dan rasa aman. Adanya kelompok-kelompok yang membungkus diskriminasi dengan agama juga berkontribusi meningkatkan kekerasan. Contohnya, Lurah Susan didemo agar turun bukan lantaran kinerja kepemimpinannya melainkan karena agamanya berbeda dengan mayoritas yang dipimpin. Itu diskriminasi yang dibungkus dengan agama.

Konferensi ini diselenggarakan atas kerjasama Abdurrahman Wahid Centre (AWC) UI dan Arizona State University (ASU). Dari konferensi ini juga membawa semangat Gusdur terkait pentingnya sadar pluralisme, memberi kesempatan orang-orang untuk tak takut bicara mengenai masalah sektarian, dan membawa harapan untuk mengatasi konflik dengan dialog.

Saya beruntung malamnya berkesempatan makan malam bersama para pembicara dan moderator, termasuk Prof Dr Mark Woorward dari ASU. Prof. Mark ternyata pernah mengajar terkait Lintas Iman selama 6 tahun di UGM. Jadi, sekalian cerita soal kurikulum Asisten Agama Islam (AAI) di UGM yang dikuasai PKS hingga kemudian tahun 2014 ini dihapus. Untuk menghapus yang semacam itu konon melewati dialog yang sangat sulit. Moderator acara adalah Hani Mohamed dari Singapura–CEO of Alertist (international interfaith & peace-building company) & produser film. Hani dan saya sempat membahas soal jilbab, kebetulan kami sama-sama muslim dan sama-sama meyakini jilbab tidak wajib. Untuk mengekpresikan keyakinan seperti ini juga sepertinya tidak mudah karena di luar sana ada saja yang menuding sesat.

Oh ya, dalam konferensi ini ada sejumlah komitmen nilai yang menjadi dasar dalam mencari solusi (full value commitment) yang disepakati bersama, yaitu: hormat (respect), kejujuran, pemahaman (understanding), transaparan, toleransi, solutif, simpati/peka, cinta (love), kesabaran (patience), peduli (care), dan pendengar yang baik (good listener). Semoga nilai-nilai ini bukan sebatas wacana yang kuat didenungkan dalam konferensi atau seminar, melainkan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang menebar kebencian atas nama agama, menurut saya, sepertinya jumlahnya tidak banyak, tetapi suara mereka keras jadi seolah menjadi representatif kelompok tertentu. Kebencian dibalas dengan kebencian hanya akan membuat kebencian makin mendalam. Saatnya membalas kebencian dengan kasih sayang.🙂

Depok, 18 Oktober 2014.

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s