Monthly Archives: January 2015

Menyimak Seks, Islam, dan Cinta dalam Prosa

Judul buku: Sex. Islam. Love

Penulis: Muhammad Anta Kusuma

Penerbit: independen

Tahun terbit: 2014

Jumlah halaman: 92

No. ISBN: 9786021638347

buku anta

“Sex. Islam. Love” merupakan buku kumpulan 17 cerpen dan prosa ditulis oleh Muhammad Anta Kusuma. Pada suatu kesempatan, penulis mengaku cerita-cerita di buku ini berdasarkan pengalaman hidupnya dan sebagian fiktif. Judul buku diambil dari salah satu cerpen. Bisa dikatakan ketiga hal itu—seks, Islam, dan cinta, mewakili tema keseluruhan cerita.

Cerpen judul “Sex. Islam. Love” bercerita tentang lelaki dan perempuan yang bertemu di kedai susu hingga kemudian terlibat hubungan mendalam. Cerita ini berlatar kota Jogja. Si perempuan, mahasiswi UGM, yang mengoleksi karya-karya Irsyad Manji itu mengaku kabur ke Kota Pelajar usai lulus SMA. Ayahnya seorang pemimpin ormas agama yang sering berlaku dan berkata kasar pada ibunya, hingga membuat perempuan itu tak tahan. Si lelaki diceritakan sedang salat, tetapi pikirannya mengingat-ingat pertemuan dan kebersamaan dengan si perempuan. Termasuk ketika bermalam di kosnya dan bercinta. Kekecewaan si perempuan menyaksikan cara ayahnya beragama mempengaruhi keputusannya dalam hidup. “Mas, aku ingin hidup denganmu, bukan dengan Islam,” ungkapnya pada si lelaki.

Kisah-kisah dalam buku ini tidak lepas dari perkara seks, Islam, dan cinta. Seks di sini muncul dalam berbagai bentuk. Dituturkan dengan bahasa yang menurut saya tidak vulgar dan tidak bertele-tele. Namun, tetap tidak untuk konsumsi remaja. Seks yang terjadi atas kesepakatan, seks atas nama cinta, seks yang dipaksakan (perkosaan), dan seks yang konsekuensinya tidak disepakati. Untuk bentuk seks yang terakhir seperti dalam cerpen berjudul “Yohana” dan “Setan”, perempuan dan lelaki melakukan seks dalam hubungan cinta. Namun, ketika si perempuan hamil, si lelaki lari tak bertanggungjawab atas konsekuensi perbuatannya. Terkait Islam, sejumlah kisah di buku ini mempertanyakan nilai-nilai agama yang selama ini dianggap sudah mapan. Selanjutnya tentang cinta. Dalam buku ini, cinta dinarasikan beragam bentuknya; cinta antara lelaki dan perempuan, cinta sesama jenis, serta cinta antara anak dan orangtua.

Sejumlah cerita memiliki akhir mengejutkan. Setiap kali memulai cerita baru, saya menunggu-nunggu kejutan apalagi yang akan dibuat Anta. Beberapa cerita yang lain mengangkat hal-hal biasa, seperti tentang pertemuan dengan orang asing di pesawat dan pertemuan di rumah makan. Bila saya betah membacanya, itu karena Anta punya sudut pandang yang berbeda. Penulis buku ini memiliki latar belakang sebagai jurnalis, aktor, dan lulusan Filsafat UGM.

Buku di tangan saya ini cetakan ke-4 terbit Desember 2014. Tiap kali cetak, buku tampil dengan sampul yang berbeda. Sampul buku yang saya baca bergambar minimalis, sosok berjilbab dengan wajah bentuk hati. Warna hitam dan putih. Judul buku tidak tertera dalam kover. Cerita-cerita dalam buku ini ditulis lebih pendek daripada cerpen pada umumnya. Anta pernah mengatakan, dia sengaja tidak mengikuti penulisan kaidah lama.

Cerita di buku ini menampilkan latar di berbagai tempat, di antaranya Jogja, Kalimantan, Amerika, Belanda, dan Jepang. Ada satu prosa yang ditulis dengan format dialog pendek dan pernah dipentaskan oleh Teater Gadjah Mada saat awal peluncuran buku, Mei 2014. Semua cerita disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan menurut saya termasuk bacaan ringan. Mengenai latar dan perasaan tokoh dinarasikan secara lugas, efisien, dan tidak cengeng.

Secara keseluruhan saya suka cara Anta bercerita. Hanya saja untuk beberapa bagian, antarparagraf satu dan yang lain kadang kehilangan benang merahnya. Seperti ada satu kalimat yang hilang. Sepertinya Anta berusaha membangun kalimat seefisien mungkin. Di satu sisi ini bagus karena menghindari mubazir dan tidak menjelas-jelaskan pada pembaca. Namun, di sisi lain perpindahan dari satu paragraf ke paragraf lain kadang jadi seperti belok mendadak tanpa menyalakan lampu sein. Tapi mungkin justru itulah gaya khas Anta. Selain itu, hal yang bagi saya mengganjal adalah entah kenapa Anta menggunakan judul berbahasa Inggris dengan tiga kata yang dipisahkan oleh titik. Bukan frasa, bukan kalimat.

Terlepas dari kekurangannya, secara keseluruhan buku ini sangat menarik, baik isi cerita maupun penulisannya. Sekali lagi, selamat buat Anta. Ditunggu karya-karya berikutnya. 😉

Suatu Tempat, 28 Januari 2015

Nur Laeliyatul Masruroh

Advertisements

4 Comments

Filed under Writing&Journalism

Mencicip Roman “Layar Terkembang”

Sekian waktu lalu aku baru baca roman “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Terbitan pertama tahun 1935. Seting waktu dan tempat pun sekitar tahun itu. Bahasanya unik. Tidak ada kata mobil, tetapi auto. Memanggil seorang lelaki yang baru dikenal dengan kata “Tuan”. Padahal lelaki itu berusia 20an. Jadi ingat film-film zaman dulu juga begitu, zaman Rano Karno muda. Sekarang tentu tak ada lagi yang memanggil seperti itu, kenapa dan sejak kapan panggilan itu hilang? Entahlah. Bayangkan, kamu hidup pada tahun 2015 kenalan sama cowok asing di kereta, memanggilnya dengan sebutan “Tuan”. Kapan-kapan silakan dicoba, apa reaksi yang kamu terima.

layar-terkembangDulu aku pernah bertanya-tanya kenapa sih orang perlu menulis novel? Saat baca roman ini jadi punya tambahan jawaban. Membaca kisah ini seperti diajak memasuki lorong waktu zaman itu tanpa merasa berat sedang baca buku sejarah. Ada nama-nama sekolah, jalan, dan tempat masa itu yang berasal dari bahasa Belanda. Ditemukan istilah-istilah yang berbeda dengan masa kini. Contoh dalam percakapan ada sebutan “suz” untuk memanggil seorang perempuan. Sejenak merasakan menjadi perempuan zaman sebelum kemerdekaan.

Cara Takdir bertutur menggambarkan karakter tokoh benar-benar berbeda dengan penulis-penulis lain yang pernah kubaca. Itu mungkin bahasa terindah pada masanya. Lugas, tidak cengeng, dan tidak berlebihan. Enak pilihan katanya, hanya saja beberapa kalimat terlalu panjang. Akan tetapi, Takdir banyak memenggalnya dengan koma sehingga tetap bisa dinikmati tanpa harus megap-megap kehabisan nafas saat membacanya.

Roman ini bercerita tentang dua perempuan yang memperjuangkan emansipasi. Kedua perempuan ini memiliki karakter berbeda. Tuti yang tak mudah heran, merasa segala sesuatu diperoleh atas upaya sendiri, dan sadar dia bisa melakukan sesuatu karena kecerdasannya. Lalu Maria, mudah memuji pada hal-hal yang membuatnya takjub– termasuk memuji indahnya warna tubuh-tubuh ikan, digambarkan ekspresif dan ceria. Seandainya Maria hidup di masa kini, mungkin tipikal cewek yang suka upload foto apa saja yang dilihatnya ke media sosial dan suka selfie. Ups, hayo mirip siapa? Seperti kamu? 🙂

Kedua wanita itu aktivis organisasi. Sepertinya masa itu peran perempuan di area publik masih menjadi satu impian yang harus diperjuangkan. Berbeda jauh dengan masa kini, perempuan Indonesia sekarang bisa menjadi apa saja, asalkan memiliki kemauan. Eh, masa sih? Oh ya, di masa sekarang pun masih ada sekelompok umat yang tidak mengizinkan perempuan jadi pemimpin masyarakat. Mereka kecil jumlahnya, tapi suaranya bisa mengeras atas nama agama. Contohnya Lurah Susan, perempuan, beragama minoritas pula, memimpin kelurahan Menteng, diprotes sana sini. Untung ada Jokowi. Eh, plis… bisa nggak sih kalau tak perlu nyebut nama Jokowi. Masih ada yang belum ikhlas dia jadi presiden, tahu!

Oh ya, di buku itu tidak ditemukan kata perempuan, tetapi menyebut dengan kata gadis. Saat itu mungkin kata “perempuan” masih bermakna negatif. Sebelum tahun tertentu, kata “wanita” dianggap bernilai lebih tinggi daripada “perempuan”. Menjadi sama maknanya, sejauh yang kutahu, setelah salah satu guru besar UGM mempopulerkan kata “perempuan” bermakna netral, entah tahun berapa.

Buku prosa ini terbitan Balai Pustaka, pernah menjadi bacaan wajib untuk sekolah menengah pertama dan atas. Entah sekarang masih jadi bacaan wajib atau tidak. Menurutku penting dibaca, mencicipi cita rasa cerita generasi lama.

Suatu Tempat, 23 Januari 2015.

Leave a comment

Filed under Book I Read, Writing&Journalism

Benalu Selalu Menarik Perhatianku

Di antara semua tumbuhan di muka bumi ini yang paling menarik perhatianku adalah benalu. Itulah kenapa penelitian skripsi dan seminarku tentang benalu. Ada sejumlah alasan mengapa benalu itu menarik di mataku. Dia termasuk tumbuhan dikotil, memiliki struktur batang berkayu sama dengan pohon dikotil umumnya, tetapi tidak bisa tumbuh di tanah. Dia memiliki daun hijau untuk membuat makanannya sendiri (berfotosintensis) tetapi hidupnya harus menumpang di inang tumbuhan lain. Aku pernah juga mencoba mengkultur daunnya dengan medium agar-agar dan gagal tumbuh. Seingatku pernah ada literatur yang pernah menyatakan berhasil mengkultur daun benalu dengan medium agar, tapi saat dipindah ke medium tanah tetap tidak bisa tumbuh.

Alam ini bekerja secara unik. Kenapa ada tumbuhan jenis benalu eksis di bumi ini? Entahlah. Yang jelas, burung-burung tertentu perlu buahnya untuk makanan. Mereka akan menelan bulat buahnya, lalu membuang bijinya melalui kotoran. Tubuh burung tidak mencerna biji benalu, biji dikeluarkan dalam bentuk utuh. Burung mengeluarkan kotoran biji benalu itu di batang, ranting, dan daun pepohonan. Selanjutnya biji akan membuat kehidupan baru.

Selain di batang dan ranting, biji benalu bisa tumbuh di daun dikotil yang kuat. Berulang kali aku temukan benih yang hidup di daun. Namun, memang lebih banyak yang tumbuh di batang karena bisa lebih kokoh mengambil hara tanaman lain. Malah ada juga benalu jenis A nempel di benalu jenis B. Benalu jenis B nempel di tumbuhan inang.

Di bawah mikroskop, preparat awetan sel-sel benalu yang menembus organ inang bisa dilihat dan digambarkan. Mereka menembus jaringan organ inang dengan sel-sel haustorium. Sel yang serupa ukurannya dengan floem. Mereka menembus sedikit demi sedikit ke batang hingga meluas menguasai batang inang yang bisa menyebabkan inang mati.

Saat itu aku hanya meneliti mikroanatominya. Karena masih penasaran, kutemui seorang dosen genetika untuk menanyakan benalu secara genetis. Katanya benalu memiliki kromosom tertentu yang mengindikasikan tidak bisa mengambil hara dari tanah. Namun, bisa mengubah oksigen dan sinar matahari menjadi gula, bisa membuat makanan sendiri seperti tumbuhan pada umumnya. Dulu aku juga sempat kontak via email dengan salah satu profesor peneliti benalu di Amerika untuk diskusi soal benalu. Bahkan, namanya menjadi salah satu rujukan dalam penelitianku. Beliau pernah bilang nanti kalau mau sekolah di Amerika diharapkan menghubungi dia untuk penelitian di laboratoriumnya. Tapi memang harus cari beasiswa dulu.

Selain itu, benalu juga memiliki kandungan kimiawi yang bisa mengendalikan sel kanker. Banyak orang farmasi yang telah penelitian ini. Di negara maju belah telah diekstrak dan dibuat tablet untuk obat kanker, di Indonesia masih menjadi obat herbal yang diolah secara tradisonal. Mungkin ini salah satu istimewanya benalu.Tapi juga nggak terlalu istimewa karena tumbuhan lain yang bukan parasit pun ada yang memiliki kandungan serupa.

Entah kenapa eksisnya benalu di bumi ini selalu menarik buatku. Seandainya aku ditakdirkan jadi peneliti Biologi, aku ingin fokus di tumbuhan parasit dan ingin memberinya nama. Ada ratusan benalu Indonesia yang belum diidentiifikasi dan belum diberi nama. Mungkin aku tidak akan menjadi peneliti biologi, tetapi kelak kalau memungkinkan, ingin membuat herbarium segala jenis benalu di dunia. Duh, mimpinya kejauhan, di Indonesia dulu saja belum tentu bisa. Jenis flora terbanyak di dunia konon ada di Kalimantan dan Brazil. Tentu termasuk jenis benalunya. Kerja ini setidaknya sudah kumulai dengan mengamati dan membuat herbarium benalu di Sleman, hanya ada tiga yang banyak ditemukan di pepohonan. Baru tiga! Lah memang di Jogja sejauh ini hanya ada tiga. Hehe.

Setiap jalan ke kota lain, yang kuamati dari pohon-pohon di jalan adalah jenis benalunya. Sejauh yang kutemukan, di kota-kota lain pun di Indonesia hanya ada tiga jenis. Hanya saja beda ukuran, kadang ada yang berdaun lebih lebar atau lebih tebal. Tetapi jenisnya sama. Sepertinya perbedaan itu karena dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti tanah, kelembaban, suhu, dan akses matahari.

Mimpiku untuk menekuni Biologi sepertinya harus dikubur. Namun, aku masih selalu perhatian dengan benalu karena di manapun kakiku melangkah, setiap kali melihat pepohonan, mataku mencari benalu. Kalau soal membuat semacam rumah herbarium, itu masih menjadi impianku. ❤

Suatu Tempat, 23 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Tanya Soal Cinta, Embuh Jawabannya

“Kondisi begini menghantuiku bahwa hubungan yang dijalin dimana salah satu sebetulnya mengharapkan orang lain tidak akan sukses. Malah akan menyakiti salah satunya,” curhat seorang teman yang pernikahannya harus berakhir dengan perceraian. Intinya saat mereka menikah, dalam keadaan salah satu mengharapkan seorang yang lain. Sorry for hear that.

“Efeknya pada sikap, tidak ada keseriusan dalam memperjuangkan komitmen berumah tangga. Makanya aku hati-hati banget, menurutku hubungan harus start dari nol nol,” lanjutnya.

Baiklah. Sepertinya memang penting digarisbawahi bahwa komitmen pernikahan sebaiknya dibangun dalam keadaan tidak menyimpan sisa cinta dengan sebelumnya. Selain itu, komitmen mustinya dibangun dengan rasa cinta yang setara.

Aku jadi bertanya-tanya, kenapa tidak semua orang mendapatkan karunia cinta sejati yang indah? Padahal setiap orang memimpikannya.

Konon setiap mahluk di dunia ini ada pasangannya. Apakah mereka yang pernikahannya gagal itu sebab keliru membaca pertanda? Apakah sebenarnya alam memberi isyarat tentang pasangan sejati tiap mahluk, hanya saja seringkali keliru memilih? Atau bagaimana?

Embuh. Aku juga tak tahu jawabannya. Jika cinta sejati bisa ditemukan, aku sedang mencarinya. Aku sedang menyimak dengan seksama pada setiap pertanda.

Tadinya kupikir cinta sejati itu ketika dua orang saling cocok dalam segala hal. Sepertinya aku keliru. Tak ada dua orang yang selalu cocok dalam segala hal, ada saatnya pasti akan menemukan perbedaan. Sampai di mana ambang batas toleran terhadap perbedaan itu akan menentukan berhasil tidaknya sebuah hubungan.
Seringkali ketidakcocokan pada suatu hal sepertinya justru bisa memperkuat hubungan. Dari ketidakcocokan dalam melihat suatu hal, bisa saling memahami karakter dasar masing-masing dan belajar mengelola konflik.
Kesimpulanku yang pertama, ketika dalam ketidakcocokan bisa tetap menjaga hubungan, di situlah kita akan tahu batas toleransi terhadap pasangan. Jika tiap-tiap perbedaan masih bisa dikompromikan, menurutku itu salah satu tanda hubungan akan berhasil.

Kesimpulanku yang kedua, hubungan itu juga akan berhasil jika dibangun dengan rasa cinta yang setara. Seringkali lelaki yang konon mahluk penakluk, suka ngejar berlebihan. Setelah mendapatkan cinta perempuan, kadang malah menyia-nyiakan. Berarti itu tipikal lelaki yang hanya ingin mengejar, tidak ingin merawat cinta. Nggak semua lelaki begitu. Makanya kalau ada lelaki yang terlalu mengejar, waspadalah. 😀 Atau lebih baik si perempuan saja yang ngejar? Nah, ini katanya bisa bikin si lelaki jadi kurang menjaga komitmen karena mudah mendapatkan cinta perempuan tanpa benar-benar berjuang. Jadi, sebaiknya bagaimana? Mungkin sebaiknya saling menaklukan sampai cinta keduanya menjadi setara.

Apa betul begitu? Embuh.

Catatan: soal bagaimana menemukan cinta sejati jangan percaya padaku, aku sendiri belum menemukannya. Haha.

Terus ngapain aku nulis ini? Sekali lagi, embuh.

Suatu Tempat, 21 Januari 2015.

2 Comments

Filed under Conservation

Mau Jadi Apa?

Sabtu pagi di bulan Desember 2014 lalu, hujan. Di lantai dua yang dibatasi banyak kaca, enak sekali buat menulis. Pohon-pohon basah dan gemericik air jatuh di logam jemuran. Aku akan duduk menulis di emperan setelah mencuci dua ember baju pakai tangan di kamar mandi. Laptop nyala, sejumlah email penting masuk. Sebelumnya aku sudah bolak balik komunikasi dengan berbagai pihak terkait urusan pendaftaran dan beasiswa sekolah. Juga beasiswa les online dan beasiswa tes TOEFL, karena itu masih berhubungan. Donaturnya sama. Aku nunggu kabar beasiswa masterku di universitas di Amerika. Email kubuka, beasiswa masterku tak diterima. Dengan alasan pengalaman kerjaku dan tujuan studi kurang kuat. Huaaa, ya sudahlah.

Saat pendaftaran beasiswa les Inggris online khusus persiapan master, ada syarat esai tentang bidang yang akan ditekuni, bikin 2 esai untuk dua bidang. Aku memilih satu terkait Biologi, satunya Media Studies. Aku diterima entah alasan apa. Saat daftar master, entah kenapa aku ganti, dua-duanya jadi bidang Biologi Terapan, malah nggak diterima. Kini aku menduga, peluangku di bidang Media lebih memungkinkan.

Terkait sekolah, saat itu sekali lagi aku ingin mencari jalan memanfaatkan ilmu Biologi. Aku ingin ambil Biologi Terapan. Mengingat pengalaman kerjaku tak terkait Biologi, aku ambil di wilayah kebijakannya. Entah kenapa aku sering merasa punya beban moral ketika sadar lulusan Biologi, tapi tidak/belum memanfaatkan ilmuku secara maksimal. Pengalaman kerjaku nyaris tak ada yang terkait Biologi. Pas di penerbitan pertanian, hanya sedikit yang bisa kuberikan terkait itu. Selebihnya, di bidang lain.

Dan entah kenapa, tiap kali aku mencari jalan untuk memanfaatkan ilmu Biologi, pintu itu seakan tertutup. Mulai dari ingin jadi reporter bidang pertanian, malah takdir membawaku lebih banyak liputan bidang hukum politik. Ingin mengedit buku pertanian, malah lebih banyak menangani buku sosial. Pernah nyoba daftar posisi kerja terkait Biologi, baru dipanggil wawancara saat aku sudah terikat kerja lain bidang penulisan. Seolah takdirku bukan di Biologi. Selalu ada jalan lain yang lebih terbuka untukku. Dan patut kusyukuri. Alhamdulillah.

Kalau dipikir serius, sebenarnya aku juga jenuh bila harus bekerja penuh di laboratorium. Itu kurasakan ketika mengambil data penelitian skripsi. Berhari-hari ngelab, seharian berteman dengan bahan kimia, daun-daun, bunga, buah, dan peralatan laboratorium. Saat-saat tertentu aku suka, tapi tenggelam begitu lama di lab dengan data-data sains tidak memuaskan aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Saat itu aku membatin, kayaknya hidup di laboratorium bukan jalan yang kuinginkan. Aku lebih tertarik menulis saja, entah menulis apa. Terutama juga karena mimpiku menjadi wartawan.

Setelah mencoba berbagai jenis tulisan, entahlah aku mau jadi penulis apa sekarang. Aku sebenarnya ingin total di suatu bidang penulisan. Aku telanjur banyak terjebur di area ini.

Banyak tokoh-tokoh penulis yang total di bidang penulisan dan tidak terkait dengan latar belakang studinya. Sebut saja Andreas Harsono, dia lulusan Teknik Elektro, orang lebih mengenalnya sebagai jurnalis dan aktivis HAM yang rajin menulis. Pernah dapat beasiswa studi jurnalisme di Harvard University, Amerika. Nirwan Dewanto, penyair, pengarang, dan esais produktif. Banyak menulis tentang kebudayaan, padahal sarjana Geologi ITB. Pernah dapat kesempatan residensi program Iowa International Writing Program (IWA, sebuah program dari Universitas Iowa di bidang penulisan kreatif). Asma Nadia, dikenal sebagai novelis sangat produktif. Sejumlah karyanya difilmkan, banyak dapat kesempatan coursework, residensi penulis, dan semacamnya di berbagai negara, termasuk salah seorang peserta IWA juga. Dia pernah kuliah pertanian di IPB, tetapi tak lulus.

Lalu, aku mau jadi penulis yang seperti apa? Aku terpaksa membandingkan diri dengan mereka karena menurutku aku berada di titik jalan yang serupa. Aku harus total di suatu bidang. Mungkin lupakan sejenak soal keinginanku memaksimalkan ilmu Biologi. Mungkin aku sedikit khawatir soal ilmu yang belum bermanfaat. Mustinya aku berpikir, meskipun bekerja di luar bidang Biologi, pengalaman kuliah di Biologi tetap bermanfaat, khususnya pengetahuan dalam meriset dan analisis suatu hal.

Saat kuliah, di laboratorium terlatih membuat hipotesis salah dan benar. Melaporkan hasil praktikum dengan analisis ilmiah untuk menjawab hipotesis itu didukung fakta atau tidak. Ini penting dalam membangun konsep pikiran ke depan. Ah, ini kelebihan atau malah kekurangan? Saat di hadapkan dengan dunia kerja, untuk analisis tertentu hasilnya tidak selalu tentang salah dan benar. Apalagi kali pertama menulis jurnalistik, mengangkat dan menganalisis berbagai masalah hanya di permukaan. Juga harus siap segala tema. Itu awalnya sempat kewalahan, lama-lama terbiasa. Asyik malah.

Sekali lagi, aku mau jadi penulis seperti apa? Sekarang kemampuanku di bidang penulisan terasa sedang mentok, ingin meningkatkan keterampilan dan mendapatkan pengetahuan secara sistematis, ingin sekolah! Yang jelas tahun ini harus bikin perubahan yang signifikan. Tolong beri aku mantra dan kaca mata kuda biar lebih fokus total di satu jalan. 🙂

#curhat
Suatu Tempat, 21 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle, Writing&Journalism

Dua Kesedihan untuk Charlie Hebdo

Terjadi penembakan kantor majalah satire Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015 karena diduga telah memuat karikatur Nabi Muhammad. Banyak orang mengecam tindakan serangan tersebut, tak sedikit juga yang “membenarkan” tindakan itu atas nama membela Nabi. Seperti diketahui selama ini bahwa dalam tradisi Islam, sosok Nabi muhammad tidak boleh digambar. Sebelum berkomentar heboh, sebaiknya memang perlu melihat lebih dalam dulu, apa sebenarnya yang terjadi.

Apa sebenarnya maksud para redaktur ketika menampilkan karikatur Nabi Muhammad? Ada satu karikatur yang beredar di media sosial, sosok yang dianggap Nabi Muhammad bersurban putih akan dibunuh oleh umatnya sendiri. Secara umum orang menyimpulkan bahwa itu sindiran untuk para muslim yang suka melakukan kekerasan. Bisa jadi kartunis dan redaksi majalah punya tujuan baik untuk mengkritik perilaku kekerasan umat Islam. Akan tetapi, mereka mustinya juga bisa memilih cara yang baik.

Pascapenembakan, mereka kembali meluncurkan karikatur Nabi Muhammad, kali ini dalam sampul. Mereka sudah tahu dalam tradisi Islam Nabi Muhammad tidak boleh digambar, tetapi nekad mengulangi lagi dan lagi. Siapapun tentu tidak setuju adanya kekerasan apalagi pembunuhan hanya untuk mengingatkan hal seperti ini.

Kira-kira bagaimanakah cara menegur yang baik biar mereka punya rasa hormat?

Dua kesedihan untuk Paris. Sedih terjadinya serangan pembunuhan dan sedih menemukan mereka yang tidak memiliki rasa hormat. Perlu diketahui, untuk peluncuran sampul terbaru pada Rabu (14 Januari 2015), seperti dilansir AFP pada Selasa (13 Januari 2015), mereka menyiapkan setidaknya 3 juta kopi. Majalah dikerjakan oleh karyawan yang selamat dari serangan. Biasanya majalah itu hanya terbit 60 ribu ekslemplar. Majalah lokal ini pun kini menjadi mendunia, akan didistribusikan ke 25 negara dan diterjemahkan ke dalam 16 bahasa atas permintaan global. Jadi curiga, mereka kali ini menampilkan karikatur Nabi Muhammad (lagi) bukan atas nama kebebasan berekspresi, melainkan untuk menaikkan oplah. Duh, kalau itu benar, sedihnya bertambah lagi.

Masalah ini masih terus bergulir dan masih perlu disimak perkembangannya.

15 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Penggemar (Fans)

Belakangan ini aku sedang berpikir tentang definisi “penggemar” atau “fans”. Hal itu karena seseorang bilang padaku, “aku nggak ingin orang terlalu ngefans sama aku.”

Kalimat itu ditujukan padaku karena aku banyak berkomunikasi dengannya. Aku berasumsi dia menganggapku fansnya. Padahal bagiku, komunikasiku dengannya setara, bukan seperti fans dan idolanya. Kalau aku fans dia, justru aku tak akan mendekat. Kenyataannya, aku mendekat padanya. Aku memang menyukai dia untuk banyak hal, tapi tidak berarti aku ngefans.

Fans atau penggemar itu apa sih? Hm… aku juga bingung mendefinisikan. Tapi aku bisa membedakan fans dan bukan fans. Aku ngefans seseorang biasanya karena dia populer. Aku pernah menjadi fans sejumlah orang. Saat SMU aku langganan suatu majalah yang sering menampilkan penulis-penulis muda berbakat. Aku ngefans beberapa dari mereka karena karya mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Saat itu aku belum jadi penulis. Aku kliping foto mereka. Beberapa dari mereka ada di Jogja. Aku berpikir, suatu saat kalau aku kuliah di Jogja, aku ingin ketemu mereka, mungkin cuma mau salaman. Nggak lebih dari itu.

Tak kusangka, setelah aku serius menulis, aku masuk ke suatu komunitas dan mereka ada di sana. Sejumlah mereka jadi temanku. Teman dalam arti yang sebenarnya, main bareng, bahas tulisan bareng, jalan-jalan bareng, ketawa bareng, dan nangis bareng. Untuk yang perempuan, aku juga pernah beberapa kali nginep di rumahnya dan dia nginep di kosku, dan tetap jadi inspirasiku menulis. Saat itu aku merasa bukan lagi fans, kita teman setara. Yang membedakan, sejumlah mereka profilnya masuk di majalah, sedangkan aku tidak. Saat itu, jujur aku takut populer, nggak suka publikasi. Kirim tulisan ke media, jarang pakai nama asli. Aku ingin menulis kayak mereka tapi nggak ingin populer kayak mereka.

Saat itu aku tahu, temanku yang populer ini setiap jalan di mana-mana, ada saja yang menyapa, tahu namanya. Di pameran buku, orang-orang asing mendekatnya seperti sok akrab. Menurutku saat itu, itu mengerikan.

Sampai suatu ketika ada penulis populer lain yang tadinya aku ngefans, menjadi tak ngefans lagi karena aku tidak cocok dengan sikapnya. Saat itu aku lihat dia ngisi seminar, aku cuma menyimak. Sebelum aku jadi wartawan, aku tak suka mendekat seleb. Saat jadi wartawan, ketemu seleb kadang mendekat atau menyapa karena tuntutan, suatu saat kalau perlu wawancara biar nggak sungkan.

Kembali ke soal penulis populer yang di seminar itu. Karyanya semula di mataku bagus, tapi setelah kenal ternyata sikapnya arogan pada para penggemarnya. Saat itu aku agak lupa apa masalahnya. Dia berlaku apa gitu sama seseorang, semacam menyepelekan. Dan itu dilakukan di depan mataku. Saat itu pas di Jakarta, nggak sengaja semobil dengannya. Di dalam mobil dia mencerocos soal penggemarnya, yang menurutku sikapnya nggak pas. Aku semobil dengannya karena kebetulan dia itu temannya temanku. Aku tahu dia populer, tapi di mataku sikapnya lebay.

Tapi entah kenapa aku jadi malas baca karyanya. Padahal dia penulis produktif. Aku butuh jarak untuk bisa menikmati karyanya lagi. Kuputuskan saat itu untuk tidak terlalu dekat dengannya agar bisa menghargai karyanya lagi. Untuk selanjutnya, dengan berbagai alasan jika aku ngefans seseorang, aku tak akan mendekat. Aku akan membuat jarak. Kecuali jika dia mendekat ke aku duluan.

Nah, untuk yang kusebut di awal tulisan ini, aku nggak ngefans dia. Karena saat pertama kenal, sejujurnya aku sungguh tidak tahu dia populer atau tidak, atau seterkenal apa. Kalau dia menganggapku fans, kebangetan banget deh. Akhirnya kubilang padanya untuk sebaiknya tidak menganggapku fans. Dia bilang sih nggak pernah menganggapku fansnya. Tapi ada pernyataan dia yang kutangkap dia menganggapku fans. Ya sudahlah.

Aku juga punya penggemar yang menurutku mereka ngefans karena mungkin di mata mereka aku populer. Secara personal mereka tak kenal aku. Berikut ini, contoh beberapa orang yang kusebut fans.
Suatu hari nomor tak dikenal masuk ke HP, zaman saat aku sering main teater.
“Halo L,”
“Ya halo, ini siapa?”
“Aku fans-mu. Selalu nonton pertunjukanmu,”
“Oh, makasih. Darimana dapat nomorku?”
“Aku ngikutin kamu saat kamu mau nonton X, kamu isi buku tamu, ada nomor teleponmu, aku catat.”
“Oh, oke,”
Lalu, dia add FBku dan aku memang tak kenal orangnya. Menurutku itu namanya fans.

Suatu kali seorang yang sama sekali tak pernah interaksi di FB, tak pernah komen atau like di FBku, begitu juga aku. Intinya seingatku kami tak pernah komunikasi. Aku juga lupa bagaimana awalnya berteman di FB, biasanya aku cukup selektif sebelum menyetujui pertemanan FB. Suatu hari dia kirim pesan.
“Hai L. Aku baca semua notesmu.”
“Semua?”
“Ya, semua. Bertahun-tahun, kubaca semua. Aku penggemar tulisanmu.”
“Oh, terima kasih.” Menurutku, itu juga disebut fans.

Lain waktu, seorang teman baikku bilang,
“Mbak, aku suka caramu pakai baju. Apalagi kaos-kaosmu yang dimodifikasi begitu. Aku ngefans deh sama kamu,” ungkapnya. Eh, kalau yang ini temanku beneran, tapi menyatakan diri fans. Oh ya, aku suka permak baju kaos dengan gunting jadi lebih modis dari aslinya, biar lebih enak dipakai. Kalau ini aku menganggap teman yang ngefans. It’s OK 🙂

Lain waktu habis pentas, ini sudah ke sekian kali.
“Hai L,” orang asing ini ngejar-ngejar aku di kerumunan.
“Selamat ya untuk pentasnya. Aku suka lihat kamu. Aku fansmu,” lanjutnya.
“Oh ya, terima kasih. Masnya dari mana ya?” Ini bukan basa-basiku. Dia mengapresiasi pertunjukanku, jadi aku juga patut menghargainya, dia sudah berlarian mengejarku hanya untuk bilang selamat dan menyatakan diri fans. Duh, aku terharu.
“Saya hanya penonton. Blablabla.”
Orangnya baik, aku sebenarnya tak ingin dia ngefans aku, berteman saja denganku. Kalau ngefans kesannya jadi berjarak.

Lain waktu, usai pentas, turun dari panggung.
Orang asing menghampiriku.
“Hai L, aku suka aktingmu. Aku ngefans banget sama kamu.”
“Wah, terima kasih,” aku tersanjung.
“Sex appealmu tinggi, bikin aku jadi *******!@#$%%,” tuturnya tanpa beban. Kenal juga tidak, tiba-tiba tak sopan bilang gitu. PINGIN NAMPAR.

Suatu hari, aku sedang nonton pertunjukkan. Tiga orang lelaki menghampiri. Salah satunya bilang, kalau temannya ngefans sama aku. Aku berterima kasih. Lelaki yang katanya ngefans aku itu bilang,
“L, ternyata kamu orangnya biasa aja. Tapi kalau di panggung beda banget.”
“Ya memang biasa aja. Lah, memang harus bagaimana?”
“Kamu lebih bagus kalau dandan. Bla bla bla,” ceramah ngasih nasihat bagaimana aku harus berpenampilan. Rrrrr!

Itulah fans, yang menurutku ada jarak dalam berkomunikasi, berbeda dengan komunikasi layaknya teman yang setara. Aku bukan seleb pun kewalahan menghadapi berbagai rupa fans, bagaimana para selebritis itu ya? Ini kadang membuatku berpikir, menjadi popelar itu menakutkan. Hm, siapa lagi akan jadi fans-ku? Nggak usah ya, jadilah temanku yang setara, yang bisa saling menghargai. 😉

Rabu, 14 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Conservation