Menekuni Bidang Tulis Menulis

“Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk menekuni bidang penulisan Mbak?” tanya seorang adik angkatan yang tertarik bidang tulis menulis. Lalu, dia juga bertanya tentang pengalaman saya di bidang ini.

Saya merasa belum sukses dalam bidang penulisan, masih banyak yang belum dicapai. Tapi saya rasa tidak ada salahnya berbagi, mungkin bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Langkah-langkah yang saya tempuh dalam menekuni dunia tulis menulis:

1. Menerbitkan Tulisan di Media.
Sejak kecil saya ingin sekali menulis di majalah, tapi tak pernah cukup berani mengirimkan naskah. Sering mencoba coret-coret menulis, tapi hanya disimpan di buku diari atau di folder. Ketika umur 19 tahun, saya baru berani mengirim esai pendek, judulnya “Pemuda dan Tradisi Menulis”, dimuat di sebuah majalah nasional yang saat itu kantornya di Solo. Setelah itu, saya berani mengirim sejumlah cerpen ke majalah, satu persatu dimuat.

Jadi, kalau ditanya sejak kapan saya serius menulis, bisa dibilang sejak usia 19 tahun. Banyak orang memulai menulis sejak usia jauh lebih muda atau usia berapapun tak ada kata terlambat. Beranilah mengirim ke media. Diterbitkannya tulisan seseorang di media, menurut saya bukti bahwa tulisan itu diakui. Ini menambah kepercayaan diri untuk menulis lagi.

2. Gabung di Komunitas Penulisan.

Saya bergabung di komunitas penulisan cukup lama, lebih dari 4 tahun. Ada pertemuan semingu 2 kali. Selain belajar teknik penulisan, ini sangat membantu menjalin jejaring dengan para penulis muda. Sering mengundang narasumber penulis senior, jadi tambah ilmu, tambah kenalan.

Salah satu hasilnya adalah saat masih mahasiswa (2004) saya menulis antologi cerpen dengan sejumlah penulis lain yang diterbitkan oleh sebuah penerbit di Jogja. Bahkan, saya pernah juga dapat kesempatan jadi juri untuk lomba cerpen.🙂. Banyak sekali komunitas penulisan, kalau kita aktif belajar, banyak manfaat di dalamnya.

3. Liputan di Majalah Lokal Jogja.
Saat itu saya masih mahasiwa dan aktif di teater, sebagai penonton maupun pemain. Daripada cuma nonton, saya coba menulis liputan pertunjukannya. Saya menawarkan diri ke redaksi sebuah majalah teater dan tulisan saya dimuat. Cobalah berani menawarkan diri menulis, bisa di manapun, meskipun masih mahasiswa.

4. Training Jurnalistik
Banyak sekali training ditawarkan, carilah yang terbaik. Saya mengikuti training jurnalistik yang diadakan oleh UGM kerjasama dengan Kompas. Menurut saya, Kompas salah satu media terpercaya, saya harus mengikuti training itu meskipun harus menghabiskan tabungan. Saya tak menyesal.

Di kemudian hari, saat bekerja di media dan penerbit, saya juga dapat kesempatan lagi pelatihan jurnalistik, kali ini gratis.

4. Jadi Wartawan
Menurut saya pengalaman menjadi wartawan sangat penting untuk menekuni dunia tulis menulis. Menjadi jurnalis tidak hanya belajar menulis berita (hard news, soft news) dan feature, tetapi juga melatih kemampuan investigasi dan menembus narasumber. Kelak ini akan sangat membantu dalam karier penulisan apapun.

Oh ya, menjadi wartawan juga melatih siap untuk meliput tema apapun. Saya banyak liputan di desk hukum dan politik. Saya bukan lulusan jurnalistik, tetapi di lapangan bertemu dengan teman-teman wartawan yang memiliki latar belakang studi jurnalisme dan hukum, bisa belajar langsung dari mereka. Learning by doing.

5. Jadi Ghostwriter
Apa itu ghostwriter? Seorang penulis yang menulis buku, artikel, cerita, laporan, atau teks lain yang secara resmi dikreditkan ke orang lain. Selebritis, eksekutif, dan para pemimpin politik sering mempekerjakan ghostwriter untuk menyusun dan mengedit otobiografi, artikel majalah, dan bahan tertulis lainnya. Singkatnya, ghostwriter yang menulis, tapi buku atau artikel terbit atas nama orang lain.

Bagaimana untuk jadi ghostwriter?
Untuk pengalaman saya, saat itu kebetulan, ada yang menawari masuk ke tim pembuatan buku seorang tokoh/orang terkenal. Buku terbit atas nama si tokoh. Untuk mendapatkan “kebetulan” ini tentu saja karena kita siap (mampu dan bersedia). Jadi, intinya kita perlu mempersiapkan diri dengan keterampilan menulis. Kelak, pengalaman ini berguna untuk mendapatkan peluang-peluang penulisan semacam ini.

6. Jadi Content Writer untuk Website
Content Writer adalah seseorang yang secara khusus menyediakan konten tulisan yang relevan untuk sebuah website. Ini tergantung permintaan klien. Biasanya tulisan pendek 2-3 paragraf, tema tertentu. Saya pernah menulis ratusan judul untuk ini. Saya kira cukup banyak perusahaan yang membuka lowongan menjadi content writer untuk website, full time maupun part time.

Saya juga pernah menuliskan ratusan cuitan (tweet) untuk seorang tokoh. Kalimat yang dibatasi 140 karakter itu kemudian ditautkan dengan konten website, tema berkaitan. Soal honor, bisa nego.

7. Penulis Internal di Penerbit
Penulis internal adalah seseorang yang menyiapkan naskah yang diinginkan penerbit. Naskah untuk buku, naskah untuk membantu penulis lain, untuk konten website, press release untuk wartawan saat launching, dll. Ini pengalaman sangat menarik. Mulanya saya melamar untuk menjadi copyeditor, tetapi karena posisi yang kosong adalah penulis internal, jadi saya terima tawaran itu. Ambilah kesempatan yang ada.

Oh ya, sebagai penulis internal tentu saja saya berkesempatan menerbitkan buku nonfiksi atas nama sendiri.😉

7. Jadi Editor di Penerbit
Kenapa perlu saya tekankan “di penerbit”? Berdasarkan pengalaman saya, bekerja di penerbit, seorang Editor tidak hanya mengedit naskah, tetapi juga menjadi Editor secara umum. Kalau penerbit di negara maju, peran masing-masing editor berbeda-beda. Di Indonesia, sejauh yang saya tahu, kebanyakan editor buku merangkap semua kerja editing.

Editor mengerjakan semua tugas Editor Akuisisi (menjaring penulis dan menentukan judul), Copy Editor ( mengedit naskah, bahkan rewriting), dan Development Editor ( Editor Pengembang; membuat konsep kover dan konsep layout, membuat rencana peluncuran buku, serta memastikan buku terjual baik di pasaran). Secara tertulis dalam kontrak, mungkin status seseorang sebagai copyeditor/editor, tetapi kenyataannnya mengerjakan itu semua. Dan itu bagus untuk meningkatkan kemampuan diri.

Menjadi editor di penerbit juga akan bekerja tim dengan setter/layouter, pembuat kover, penulis internal, dan analis pasar (pihak marketing). Ini juga pengalaman penting yang hanya bisa ditemukan ketika masuk ke sebuah perusahaan penerbit.

Mungkin akan ada yang bilang, bisa kok jadi copyeditor freelance tanpa masuk langsung ke dunia penerbit atau media. Ya, bisa saja, tapi keterampilan kita hanya pada soal mengedit kalimat dan tanda baca. Kalau mau jadi copyeditor freelance, menurut saya tidak cukup hanya dengan membaca buku panduan penyuntingan, tetapi juga harus punya pengalaman masuk ke dunia penerbitan atau media lebih dulu. Oh ya, di media (koran, portal berita online, TV dll) biasanya juga ada copyeditor.

8. Menulis Novel
Saya belum pernah menerbitkan novel, tetapi sudah menulisnya dua judul. Salah satunya saya tulis 10 tahun lalu, selesai dalam 2 tahun. Konon ada yang bisa menulis novel dalam 30 hari lho, ada banyak panduannya di internet. Untuk tulisan fiksi, demi alasan yang sulit dijelaskan, saya seringkali tidak ingin muncul dengan nama sendiri. Tapi kali ini saatnya siap muncul, Insyaallah. Ini PR buat saya.

Untuk sekarang ini, menerbitkan novel ataupun naskah lain lebih mudah karena banyak penerbit indie yang menawarkan jasa menerbitkan buku kita sendiri tanpa seleksi dan tentunya dengan biaya sendiri. Siapapun bisa menerbitkan dengan idealisme sendiri tanpa dibatasi soal selera pasar. Tapi kalau ingin diterbit di penerbit mayor juga bagus karena tidak ribet dengan urusan distribusi dan pemasaran.

Demikian pengalaman yang ingin saya bagi. Mungkin bisa bermanfaat bagi yang ingin atau sedang menekuni dunia penulisan. Anda tidak harus mengikuti langkah-langkah seperti yang saya tempuh, kadang seseorang akan menemukan cara tersendiri ketika sudah memasuki sebuah jalan. Tetap semangat menulis!

Nur Laeliyatul Masruroh

Depok, 08 Januari 2015.

Leave a comment

Filed under Writing&Journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s