Temukan Selera Sendiri

“Tinggalkan gaya lama, jadilah yang sekarang,” kira-kira begitu kata seorang penulis yang baru kukenal. Penulis yang hari ini ulang tahun (nggak ada hubungannya antara kalimatnya dan ulangtahunnya, aku cuma ingin menyebut). Saat itu kami sedang membicarakan penulisan cerpen.

Aku setuju dengannya, meskipun sebenarnya aku tak begitu tahu seperti apa gaya yang sekarang. Lhoh? Maksudku aku sepakat bahwa dalam penulisan prosa tidak harus terpaku mengulang gaya yang sama; gaya lama.

Sekarang aku sedang suka mengeksplorasi bentuk tulisan yang lugas, menghindari ekspresi yang menyek-menyek. Aku juga sedang bosan dengan karya yang penuh kiasan sastrawi. Ibarat gambar gerak, aku sedang suka gaya FTV. FTV yang sering diputar SCTV seringkali memberikan judul tersurat dan dialog yang lugas. Aku mencari bentuk semacam itu tapi untuk diwujudkan dalam prosa.

Oleh karena itu, ketika belakangan ini aku akan memberikan judul pada karyaku, aku mencari frasa atau kalimat yang lugas. Selain itu, kucoba cari rasa khas diri (original). Meskipun, setiap penulis barangkali akan selalu dipengaruhi oleh karya orang lain, tetapi setidaknya bisa menemukan gaya sendiri. Kalau punya rasa sendiri kenapa harus mengikuti rasa orang lain?

Soal karya, kalau akan diterbitkan di penerbit mayor, tentu akan bertemu dengan tim kreatif dan pihak pemasaran. Akan ada kompromi sana sini. Semoga idealisme bisa saling ketemu. Aku kadang sedikit khawatir kalau ukuran selera pasar akan membatasi kreatifitas dan/atau mengurangi rasa aslinya.

Beberapa waktu lalu, Ello (Marcello Tahitoe), penyanyi yang kini jadi gitaris Band Real, di sebuah acara TV bilang, ingin berkarya sesuai yang diinginkan. Dia ingin menjadi gitaris dengan musik seperti yang dia impikan. Pasar bukan ukuran utama. “Karya disukai banyak orang atau tidak, tak masalah. Tetap berkarya, ngamen sana sini, yang penting halal,” tuturnya. Dia berani keluar dari zona nyaman karena katanya sudah terlalu lelah harus mengikuti selera pasar yang kadang malah kehilangan selera diri sendiri. Popularitas Ello belakangan ini memang tak seheboh dulu, tapi dia berani mewujudkan apa yang dia mau, tidak stereotype, dan menurutku itu bagus. SALUT. Oh ya, Ello juga mengubah penampilannya, lebih kurus, gondrong, bercambang, dan berkumis. Seandainya halaman ini dibaca Ello, aku ingin bilang, “aku suka gayamu, hanya saja aku kurang suka kamu memelihara kumis”. Duh, nggak penting banget mengomentari kumisnya.😀

Kini saatku menemukan dan memperkuat rasaku sendiri.❤

Laeliyaa, 13 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s