Penggemar (Fans)

Belakangan ini aku sedang berpikir tentang definisi “penggemar” atau “fans”. Hal itu karena seseorang bilang padaku, “aku nggak ingin orang terlalu ngefans sama aku.”

Kalimat itu ditujukan padaku karena aku banyak berkomunikasi dengannya. Aku berasumsi dia menganggapku fansnya. Padahal bagiku, komunikasiku dengannya setara, bukan seperti fans dan idolanya. Kalau aku fans dia, justru aku tak akan mendekat. Kenyataannya, aku mendekat padanya. Aku memang menyukai dia untuk banyak hal, tapi tidak berarti aku ngefans.

Fans atau penggemar itu apa sih? Hm… aku juga bingung mendefinisikan. Tapi aku bisa membedakan fans dan bukan fans. Aku ngefans seseorang biasanya karena dia populer. Aku pernah menjadi fans sejumlah orang. Saat SMU aku langganan suatu majalah yang sering menampilkan penulis-penulis muda berbakat. Aku ngefans beberapa dari mereka karena karya mereka, baik laki-laki maupun perempuan. Saat itu aku belum jadi penulis. Aku kliping foto mereka. Beberapa dari mereka ada di Jogja. Aku berpikir, suatu saat kalau aku kuliah di Jogja, aku ingin ketemu mereka, mungkin cuma mau salaman. Nggak lebih dari itu.

Tak kusangka, setelah aku serius menulis, aku masuk ke suatu komunitas dan mereka ada di sana. Sejumlah mereka jadi temanku. Teman dalam arti yang sebenarnya, main bareng, bahas tulisan bareng, jalan-jalan bareng, ketawa bareng, dan nangis bareng. Untuk yang perempuan, aku juga pernah beberapa kali nginep di rumahnya dan dia nginep di kosku, dan tetap jadi inspirasiku menulis. Saat itu aku merasa bukan lagi fans, kita teman setara. Yang membedakan, sejumlah mereka profilnya masuk di majalah, sedangkan aku tidak. Saat itu, jujur aku takut populer, nggak suka publikasi. Kirim tulisan ke media, jarang pakai nama asli. Aku ingin menulis kayak mereka tapi nggak ingin populer kayak mereka.

Saat itu aku tahu, temanku yang populer ini setiap jalan di mana-mana, ada saja yang menyapa, tahu namanya. Di pameran buku, orang-orang asing mendekatnya seperti sok akrab. Menurutku saat itu, itu mengerikan.

Sampai suatu ketika ada penulis populer lain yang tadinya aku ngefans, menjadi tak ngefans lagi karena aku tidak cocok dengan sikapnya. Saat itu aku lihat dia ngisi seminar, aku cuma menyimak. Sebelum aku jadi wartawan, aku tak suka mendekat seleb. Saat jadi wartawan, ketemu seleb kadang mendekat atau menyapa karena tuntutan, suatu saat kalau perlu wawancara biar nggak sungkan.

Kembali ke soal penulis populer yang di seminar itu. Karyanya semula di mataku bagus, tapi setelah kenal ternyata sikapnya arogan pada para penggemarnya. Saat itu aku agak lupa apa masalahnya. Dia berlaku apa gitu sama seseorang, semacam menyepelekan. Dan itu dilakukan di depan mataku. Saat itu pas di Jakarta, nggak sengaja semobil dengannya. Di dalam mobil dia mencerocos soal penggemarnya, yang menurutku sikapnya nggak pas. Aku semobil dengannya karena kebetulan dia itu temannya temanku. Aku tahu dia populer, tapi di mataku sikapnya lebay.

Tapi entah kenapa aku jadi malas baca karyanya. Padahal dia penulis produktif. Aku butuh jarak untuk bisa menikmati karyanya lagi. Kuputuskan saat itu untuk tidak terlalu dekat dengannya agar bisa menghargai karyanya lagi. Untuk selanjutnya, dengan berbagai alasan jika aku ngefans seseorang, aku tak akan mendekat. Aku akan membuat jarak. Kecuali jika dia mendekat ke aku duluan.

Nah, untuk yang kusebut di awal tulisan ini, aku nggak ngefans dia. Karena saat pertama kenal, sejujurnya aku sungguh tidak tahu dia populer atau tidak, atau seterkenal apa. Kalau dia menganggapku fans, kebangetan banget deh. Akhirnya kubilang padanya untuk sebaiknya tidak menganggapku fans. Dia bilang sih nggak pernah menganggapku fansnya. Tapi ada pernyataan dia yang kutangkap dia menganggapku fans. Ya sudahlah.

Aku juga punya penggemar yang menurutku mereka ngefans karena mungkin di mata mereka aku populer. Secara personal mereka tak kenal aku. Berikut ini, contoh beberapa orang yang kusebut fans.
Suatu hari nomor tak dikenal masuk ke HP, zaman saat aku sering main teater.
“Halo L,”
“Ya halo, ini siapa?”
“Aku fans-mu. Selalu nonton pertunjukanmu,”
“Oh, makasih. Darimana dapat nomorku?”
“Aku ngikutin kamu saat kamu mau nonton X, kamu isi buku tamu, ada nomor teleponmu, aku catat.”
“Oh, oke,”
Lalu, dia add FBku dan aku memang tak kenal orangnya. Menurutku itu namanya fans.

Suatu kali seorang yang sama sekali tak pernah interaksi di FB, tak pernah komen atau like di FBku, begitu juga aku. Intinya seingatku kami tak pernah komunikasi. Aku juga lupa bagaimana awalnya berteman di FB, biasanya aku cukup selektif sebelum menyetujui pertemanan FB. Suatu hari dia kirim pesan.
“Hai L. Aku baca semua notesmu.”
“Semua?”
“Ya, semua. Bertahun-tahun, kubaca semua. Aku penggemar tulisanmu.”
“Oh, terima kasih.” Menurutku, itu juga disebut fans.

Lain waktu, seorang teman baikku bilang,
“Mbak, aku suka caramu pakai baju. Apalagi kaos-kaosmu yang dimodifikasi begitu. Aku ngefans deh sama kamu,” ungkapnya. Eh, kalau yang ini temanku beneran, tapi menyatakan diri fans. Oh ya, aku suka permak baju kaos dengan gunting jadi lebih modis dari aslinya, biar lebih enak dipakai. Kalau ini aku menganggap teman yang ngefans. It’s OK🙂

Lain waktu habis pentas, ini sudah ke sekian kali.
“Hai L,” orang asing ini ngejar-ngejar aku di kerumunan.
“Selamat ya untuk pentasnya. Aku suka lihat kamu. Aku fansmu,” lanjutnya.
“Oh ya, terima kasih. Masnya dari mana ya?” Ini bukan basa-basiku. Dia mengapresiasi pertunjukanku, jadi aku juga patut menghargainya, dia sudah berlarian mengejarku hanya untuk bilang selamat dan menyatakan diri fans. Duh, aku terharu.
“Saya hanya penonton. Blablabla.”
Orangnya baik, aku sebenarnya tak ingin dia ngefans aku, berteman saja denganku. Kalau ngefans kesannya jadi berjarak.

Lain waktu, usai pentas, turun dari panggung.
Orang asing menghampiriku.
“Hai L, aku suka aktingmu. Aku ngefans banget sama kamu.”
“Wah, terima kasih,” aku tersanjung.
“Sex appealmu tinggi, bikin aku jadi *******!@#$%%,” tuturnya tanpa beban. Kenal juga tidak, tiba-tiba tak sopan bilang gitu. PINGIN NAMPAR.

Suatu hari, aku sedang nonton pertunjukkan. Tiga orang lelaki menghampiri. Salah satunya bilang, kalau temannya ngefans sama aku. Aku berterima kasih. Lelaki yang katanya ngefans aku itu bilang,
“L, ternyata kamu orangnya biasa aja. Tapi kalau di panggung beda banget.”
“Ya memang biasa aja. Lah, memang harus bagaimana?”
“Kamu lebih bagus kalau dandan. Bla bla bla,” ceramah ngasih nasihat bagaimana aku harus berpenampilan. Rrrrr!

Itulah fans, yang menurutku ada jarak dalam berkomunikasi, berbeda dengan komunikasi layaknya teman yang setara. Aku bukan seleb pun kewalahan menghadapi berbagai rupa fans, bagaimana para selebritis itu ya? Ini kadang membuatku berpikir, menjadi popelar itu menakutkan. Hm, siapa lagi akan jadi fans-ku? Nggak usah ya, jadilah temanku yang setara, yang bisa saling menghargai.😉

Rabu, 14 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s