Mau Jadi Apa?

Sabtu pagi di bulan Desember 2014 lalu, hujan. Di lantai dua yang dibatasi banyak kaca, enak sekali buat menulis. Pohon-pohon basah dan gemericik air jatuh di logam jemuran. Aku akan duduk menulis di emperan setelah mencuci dua ember baju pakai tangan di kamar mandi. Laptop nyala, sejumlah email penting masuk. Sebelumnya aku sudah bolak balik komunikasi dengan berbagai pihak terkait urusan pendaftaran dan beasiswa sekolah. Juga beasiswa les online dan beasiswa tes TOEFL, karena itu masih berhubungan. Donaturnya sama. Aku nunggu kabar beasiswa masterku di universitas di Amerika. Email kubuka, beasiswa masterku tak diterima. Dengan alasan pengalaman kerjaku dan tujuan studi kurang kuat. Huaaa, ya sudahlah.

Saat pendaftaran beasiswa les Inggris online khusus persiapan master, ada syarat esai tentang bidang yang akan ditekuni, bikin 2 esai untuk dua bidang. Aku memilih satu terkait Biologi, satunya Media Studies. Aku diterima entah alasan apa. Saat daftar master, entah kenapa aku ganti, dua-duanya jadi bidang Biologi Terapan, malah nggak diterima. Kini aku menduga, peluangku di bidang Media lebih memungkinkan.

Terkait sekolah, saat itu sekali lagi aku ingin mencari jalan memanfaatkan ilmu Biologi. Aku ingin ambil Biologi Terapan. Mengingat pengalaman kerjaku tak terkait Biologi, aku ambil di wilayah kebijakannya. Entah kenapa aku sering merasa punya beban moral ketika sadar lulusan Biologi, tapi tidak/belum memanfaatkan ilmuku secara maksimal. Pengalaman kerjaku nyaris tak ada yang terkait Biologi. Pas di penerbitan pertanian, hanya sedikit yang bisa kuberikan terkait itu. Selebihnya, di bidang lain.

Dan entah kenapa, tiap kali aku mencari jalan untuk memanfaatkan ilmu Biologi, pintu itu seakan tertutup. Mulai dari ingin jadi reporter bidang pertanian, malah takdir membawaku lebih banyak liputan bidang hukum politik. Ingin mengedit buku pertanian, malah lebih banyak menangani buku sosial. Pernah nyoba daftar posisi kerja terkait Biologi, baru dipanggil wawancara saat aku sudah terikat kerja lain bidang penulisan. Seolah takdirku bukan di Biologi. Selalu ada jalan lain yang lebih terbuka untukku. Dan patut kusyukuri. Alhamdulillah.

Kalau dipikir serius, sebenarnya aku juga jenuh bila harus bekerja penuh di laboratorium. Itu kurasakan ketika mengambil data penelitian skripsi. Berhari-hari ngelab, seharian berteman dengan bahan kimia, daun-daun, bunga, buah, dan peralatan laboratorium. Saat-saat tertentu aku suka, tapi tenggelam begitu lama di lab dengan data-data sains tidak memuaskan aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Saat itu aku membatin, kayaknya hidup di laboratorium bukan jalan yang kuinginkan. Aku lebih tertarik menulis saja, entah menulis apa. Terutama juga karena mimpiku menjadi wartawan.

Setelah mencoba berbagai jenis tulisan, entahlah aku mau jadi penulis apa sekarang. Aku sebenarnya ingin total di suatu bidang penulisan. Aku telanjur banyak terjebur di area ini.

Banyak tokoh-tokoh penulis yang total di bidang penulisan dan tidak terkait dengan latar belakang studinya. Sebut saja Andreas Harsono, dia lulusan Teknik Elektro, orang lebih mengenalnya sebagai jurnalis dan aktivis HAM yang rajin menulis. Pernah dapat beasiswa studi jurnalisme di Harvard University, Amerika. Nirwan Dewanto, penyair, pengarang, dan esais produktif. Banyak menulis tentang kebudayaan, padahal sarjana Geologi ITB. Pernah dapat kesempatan residensi program Iowa International Writing Program (IWA, sebuah program dari Universitas Iowa di bidang penulisan kreatif). Asma Nadia, dikenal sebagai novelis sangat produktif. Sejumlah karyanya difilmkan, banyak dapat kesempatan coursework, residensi penulis, dan semacamnya di berbagai negara, termasuk salah seorang peserta IWA juga. Dia pernah kuliah pertanian di IPB, tetapi tak lulus.

Lalu, aku mau jadi penulis yang seperti apa? Aku terpaksa membandingkan diri dengan mereka karena menurutku aku berada di titik jalan yang serupa. Aku harus total di suatu bidang. Mungkin lupakan sejenak soal keinginanku memaksimalkan ilmu Biologi. Mungkin aku sedikit khawatir soal ilmu yang belum bermanfaat. Mustinya aku berpikir, meskipun bekerja di luar bidang Biologi, pengalaman kuliah di Biologi tetap bermanfaat, khususnya pengetahuan dalam meriset dan analisis suatu hal.

Saat kuliah, di laboratorium terlatih membuat hipotesis salah dan benar. Melaporkan hasil praktikum dengan analisis ilmiah untuk menjawab hipotesis itu didukung fakta atau tidak. Ini penting dalam membangun konsep pikiran ke depan. Ah, ini kelebihan atau malah kekurangan? Saat di hadapkan dengan dunia kerja, untuk analisis tertentu hasilnya tidak selalu tentang salah dan benar. Apalagi kali pertama menulis jurnalistik, mengangkat dan menganalisis berbagai masalah hanya di permukaan. Juga harus siap segala tema. Itu awalnya sempat kewalahan, lama-lama terbiasa. Asyik malah.

Sekali lagi, aku mau jadi penulis seperti apa? Sekarang kemampuanku di bidang penulisan terasa sedang mentok, ingin meningkatkan keterampilan dan mendapatkan pengetahuan secara sistematis, ingin sekolah! Yang jelas tahun ini harus bikin perubahan yang signifikan. Tolong beri aku mantra dan kaca mata kuda biar lebih fokus total di satu jalan.🙂

#curhat
Suatu Tempat, 21 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle, Writing&Journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s