Tanya Soal Cinta, Embuh Jawabannya

“Kondisi begini menghantuiku bahwa hubungan yang dijalin dimana salah satu sebetulnya mengharapkan orang lain tidak akan sukses. Malah akan menyakiti salah satunya,” curhat seorang teman yang pernikahannya harus berakhir dengan perceraian. Intinya saat mereka menikah, dalam keadaan salah satu mengharapkan seorang yang lain. Sorry for hear that.

“Efeknya pada sikap, tidak ada keseriusan dalam memperjuangkan komitmen berumah tangga. Makanya aku hati-hati banget, menurutku hubungan harus start dari nol nol,” lanjutnya.

Baiklah. Sepertinya memang penting digarisbawahi bahwa komitmen pernikahan sebaiknya dibangun dalam keadaan tidak menyimpan sisa cinta dengan sebelumnya. Selain itu, komitmen mustinya dibangun dengan rasa cinta yang setara.

Aku jadi bertanya-tanya, kenapa tidak semua orang mendapatkan karunia cinta sejati yang indah? Padahal setiap orang memimpikannya.

Konon setiap mahluk di dunia ini ada pasangannya. Apakah mereka yang pernikahannya gagal itu sebab keliru membaca pertanda? Apakah sebenarnya alam memberi isyarat tentang pasangan sejati tiap mahluk, hanya saja seringkali keliru memilih? Atau bagaimana?

Embuh. Aku juga tak tahu jawabannya. Jika cinta sejati bisa ditemukan, aku sedang mencarinya. Aku sedang menyimak dengan seksama pada setiap pertanda.

Tadinya kupikir cinta sejati itu ketika dua orang saling cocok dalam segala hal. Sepertinya aku keliru. Tak ada dua orang yang selalu cocok dalam segala hal, ada saatnya pasti akan menemukan perbedaan. Sampai di mana ambang batas toleran terhadap perbedaan itu akan menentukan berhasil tidaknya sebuah hubungan.
Seringkali ketidakcocokan pada suatu hal sepertinya justru bisa memperkuat hubungan. Dari ketidakcocokan dalam melihat suatu hal, bisa saling memahami karakter dasar masing-masing dan belajar mengelola konflik.
Kesimpulanku yang pertama, ketika dalam ketidakcocokan bisa tetap menjaga hubungan, di situlah kita akan tahu batas toleransi terhadap pasangan. Jika tiap-tiap perbedaan masih bisa dikompromikan, menurutku itu salah satu tanda hubungan akan berhasil.

Kesimpulanku yang kedua, hubungan itu juga akan berhasil jika dibangun dengan rasa cinta yang setara. Seringkali lelaki yang konon mahluk penakluk, suka ngejar berlebihan. Setelah mendapatkan cinta perempuan, kadang malah menyia-nyiakan. Berarti itu tipikal lelaki yang hanya ingin mengejar, tidak ingin merawat cinta. Nggak semua lelaki begitu. Makanya kalau ada lelaki yang terlalu mengejar, waspadalah.πŸ˜€ Atau lebih baik si perempuan saja yang ngejar? Nah, ini katanya bisa bikin si lelaki jadi kurang menjaga komitmen karena mudah mendapatkan cinta perempuan tanpa benar-benar berjuang. Jadi, sebaiknya bagaimana? Mungkin sebaiknya saling menaklukan sampai cinta keduanya menjadi setara.

Apa betul begitu? Embuh.

Catatan: soal bagaimana menemukan cinta sejati jangan percaya padaku, aku sendiri belum menemukannya. Haha.

Terus ngapain aku nulis ini? Sekali lagi, embuh.

Suatu Tempat, 21 Januari 2015.

2 Comments

Filed under Conservation

2 responses to “Tanya Soal Cinta, Embuh Jawabannya

  1. Tulisan yang menarik, terima kasih telah berbagi. Persepsi orang memang berbeda-beda dalam membedah cinta dan kegalauan. Kebetulan tadi pagi saya baru menulis artikel serupa, kalau berminat silakan langsung baca di Kunci Jawaban Soal Cinta ya.. salam kenal.πŸ™‚

    • Terima kasih Lex dePraxis, salam kenal juga. Barusan saya baca tulisan Anda, sangat menarik. Ternyata soal cinta bisa dinalar secara rinci ya. Terima kasih juga telah berbagi.πŸ™‚ Di web Kelascinta bisa curhat nggak? Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s