Mencicip Roman “Layar Terkembang”

Sekian waktu lalu aku baru baca roman “Layar Terkembang” karya Sutan Takdir Alisyahbana. Terbitan pertama tahun 1935. Seting waktu dan tempat pun sekitar tahun itu. Bahasanya unik. Tidak ada kata mobil, tetapi auto. Memanggil seorang lelaki yang baru dikenal dengan kata “Tuan”. Padahal lelaki itu berusia 20an. Jadi ingat film-film zaman dulu juga begitu, zaman Rano Karno muda. Sekarang tentu tak ada lagi yang memanggil seperti itu, kenapa dan sejak kapan panggilan itu hilang? Entahlah. Bayangkan, kamu hidup pada tahun 2015 kenalan sama cowok asing di kereta, memanggilnya dengan sebutan “Tuan”. Kapan-kapan silakan dicoba, apa reaksi yang kamu terima.

layar-terkembangDulu aku pernah bertanya-tanya kenapa sih orang perlu menulis novel? Saat baca roman ini jadi punya tambahan jawaban. Membaca kisah ini seperti diajak memasuki lorong waktu zaman itu tanpa merasa berat sedang baca buku sejarah. Ada nama-nama sekolah, jalan, dan tempat masa itu yang berasal dari bahasa Belanda. Ditemukan istilah-istilah yang berbeda dengan masa kini. Contoh dalam percakapan ada sebutan “suz” untuk memanggil seorang perempuan. Sejenak merasakan menjadi perempuan zaman sebelum kemerdekaan.

Cara Takdir bertutur menggambarkan karakter tokoh benar-benar berbeda dengan penulis-penulis lain yang pernah kubaca. Itu mungkin bahasa terindah pada masanya. Lugas, tidak cengeng, dan tidak berlebihan. Enak pilihan katanya, hanya saja beberapa kalimat terlalu panjang. Akan tetapi, Takdir banyak memenggalnya dengan koma sehingga tetap bisa dinikmati tanpa harus megap-megap kehabisan nafas saat membacanya.

Roman ini bercerita tentang dua perempuan yang memperjuangkan emansipasi. Kedua perempuan ini memiliki karakter berbeda. Tuti yang tak mudah heran, merasa segala sesuatu diperoleh atas upaya sendiri, dan sadar dia bisa melakukan sesuatu karena kecerdasannya. Lalu Maria, mudah memuji pada hal-hal yang membuatnya takjub– termasuk memuji indahnya warna tubuh-tubuh ikan, digambarkan ekspresif dan ceria. Seandainya Maria hidup di masa kini, mungkin tipikal cewek yang suka upload foto apa saja yang dilihatnya ke media sosial dan suka selfie. Ups, hayo mirip siapa? Seperti kamu?🙂

Kedua wanita itu aktivis organisasi. Sepertinya masa itu peran perempuan di area publik masih menjadi satu impian yang harus diperjuangkan. Berbeda jauh dengan masa kini, perempuan Indonesia sekarang bisa menjadi apa saja, asalkan memiliki kemauan. Eh, masa sih? Oh ya, di masa sekarang pun masih ada sekelompok umat yang tidak mengizinkan perempuan jadi pemimpin masyarakat. Mereka kecil jumlahnya, tapi suaranya bisa mengeras atas nama agama. Contohnya Lurah Susan, perempuan, beragama minoritas pula, memimpin kelurahan Menteng, diprotes sana sini. Untung ada Jokowi. Eh, plis… bisa nggak sih kalau tak perlu nyebut nama Jokowi. Masih ada yang belum ikhlas dia jadi presiden, tahu!

Oh ya, di buku itu tidak ditemukan kata perempuan, tetapi menyebut dengan kata gadis. Saat itu mungkin kata “perempuan” masih bermakna negatif. Sebelum tahun tertentu, kata “wanita” dianggap bernilai lebih tinggi daripada “perempuan”. Menjadi sama maknanya, sejauh yang kutahu, setelah salah satu guru besar UGM mempopulerkan kata “perempuan” bermakna netral, entah tahun berapa.

Buku prosa ini terbitan Balai Pustaka, pernah menjadi bacaan wajib untuk sekolah menengah pertama dan atas. Entah sekarang masih jadi bacaan wajib atau tidak. Menurutku penting dibaca, mencicipi cita rasa cerita generasi lama.

Suatu Tempat, 23 Januari 2015.

Leave a comment

Filed under Book I Read, Writing&Journalism

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s