Menyimak Seks, Islam, dan Cinta dalam Prosa

Judul buku: Sex. Islam. Love

Penulis: Muhammad Anta Kusuma

Penerbit: independen

Tahun terbit: 2014

Jumlah halaman: 92

No. ISBN: 9786021638347

buku anta

“Sex. Islam. Love” merupakan buku kumpulan 17 cerpen dan prosa ditulis oleh Muhammad Anta Kusuma. Pada suatu kesempatan, penulis mengaku cerita-cerita di buku ini berdasarkan pengalaman hidupnya dan sebagian fiktif. Judul buku diambil dari salah satu cerpen. Bisa dikatakan ketiga hal itu—seks, Islam, dan cinta, mewakili tema keseluruhan cerita.

Cerpen judul “Sex. Islam. Love” bercerita tentang lelaki dan perempuan yang bertemu di kedai susu hingga kemudian terlibat hubungan mendalam. Cerita ini berlatar kota Jogja. Si perempuan, mahasiswi UGM, yang mengoleksi karya-karya Irsyad Manji itu mengaku kabur ke Kota Pelajar usai lulus SMA. Ayahnya seorang pemimpin ormas agama yang sering berlaku dan berkata kasar pada ibunya, hingga membuat perempuan itu tak tahan. Si lelaki diceritakan sedang salat, tetapi pikirannya mengingat-ingat pertemuan dan kebersamaan dengan si perempuan. Termasuk ketika bermalam di kosnya dan bercinta. Kekecewaan si perempuan menyaksikan cara ayahnya beragama mempengaruhi keputusannya dalam hidup. “Mas, aku ingin hidup denganmu, bukan dengan Islam,” ungkapnya pada si lelaki.

Kisah-kisah dalam buku ini tidak lepas dari perkara seks, Islam, dan cinta. Seks di sini muncul dalam berbagai bentuk. Dituturkan dengan bahasa yang menurut saya tidak vulgar dan tidak bertele-tele. Namun, tetap tidak untuk konsumsi remaja. Seks yang terjadi atas kesepakatan, seks atas nama cinta, seks yang dipaksakan (perkosaan), dan seks yang konsekuensinya tidak disepakati. Untuk bentuk seks yang terakhir seperti dalam cerpen berjudul “Yohana” dan “Setan”, perempuan dan lelaki melakukan seks dalam hubungan cinta. Namun, ketika si perempuan hamil, si lelaki lari tak bertanggungjawab atas konsekuensi perbuatannya. Terkait Islam, sejumlah kisah di buku ini mempertanyakan nilai-nilai agama yang selama ini dianggap sudah mapan. Selanjutnya tentang cinta. Dalam buku ini, cinta dinarasikan beragam bentuknya; cinta antara lelaki dan perempuan, cinta sesama jenis, serta cinta antara anak dan orangtua.

Sejumlah cerita memiliki akhir mengejutkan. Setiap kali memulai cerita baru, saya menunggu-nunggu kejutan apalagi yang akan dibuat Anta. Beberapa cerita yang lain mengangkat hal-hal biasa, seperti tentang pertemuan dengan orang asing di pesawat dan pertemuan di rumah makan. Bila saya betah membacanya, itu karena Anta punya sudut pandang yang berbeda. Penulis buku ini memiliki latar belakang sebagai jurnalis, aktor, dan lulusan Filsafat UGM.

Buku di tangan saya ini cetakan ke-4 terbit Desember 2014. Tiap kali cetak, buku tampil dengan sampul yang berbeda. Sampul buku yang saya baca bergambar minimalis, sosok berjilbab dengan wajah bentuk hati. Warna hitam dan putih. Judul buku tidak tertera dalam kover. Cerita-cerita dalam buku ini ditulis lebih pendek daripada cerpen pada umumnya. Anta pernah mengatakan, dia sengaja tidak mengikuti penulisan kaidah lama.

Cerita di buku ini menampilkan latar di berbagai tempat, di antaranya Jogja, Kalimantan, Amerika, Belanda, dan Jepang. Ada satu prosa yang ditulis dengan format dialog pendek dan pernah dipentaskan oleh Teater Gadjah Mada saat awal peluncuran buku, Mei 2014. Semua cerita disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan menurut saya termasuk bacaan ringan. Mengenai latar dan perasaan tokoh dinarasikan secara lugas, efisien, dan tidak cengeng.

Secara keseluruhan saya suka cara Anta bercerita. Hanya saja untuk beberapa bagian, antarparagraf satu dan yang lain kadang kehilangan benang merahnya. Seperti ada satu kalimat yang hilang. Sepertinya Anta berusaha membangun kalimat seefisien mungkin. Di satu sisi ini bagus karena menghindari mubazir dan tidak menjelas-jelaskan pada pembaca. Namun, di sisi lain perpindahan dari satu paragraf ke paragraf lain kadang jadi seperti belok mendadak tanpa menyalakan lampu sein. Tapi mungkin justru itulah gaya khas Anta. Selain itu, hal yang bagi saya mengganjal adalah entah kenapa Anta menggunakan judul berbahasa Inggris dengan tiga kata yang dipisahkan oleh titik. Bukan frasa, bukan kalimat.

Terlepas dari kekurangannya, secara keseluruhan buku ini sangat menarik, baik isi cerita maupun penulisannya. Sekali lagi, selamat buat Anta. Ditunggu karya-karya berikutnya.😉

Suatu Tempat, 28 Januari 2015

Nur Laeliyatul Masruroh

4 Comments

Filed under Writing&Journalism

4 responses to “Menyimak Seks, Islam, dan Cinta dalam Prosa

  1. Anta

    Terima kasih banyak.

  2. OracLEE

    Kejujuran bertutur dalam dalam bingkai kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s