Apakah Menikah Harus Seiman?

((( Peringatan: ini curhatan, bukan ceramah, jadi jangan jadikan rujukan ya!πŸ™‚ )))

Judul di atas bentuk pertanyaan. Itu artinya, saya tidak sedang menyimpulkan pendapat saya dalam judul. Jadi, bisa “harus seiman” atau bisa juga “tak harus seiman”.

Sekian waktu lalu seorang teman ngotot tidak setuju memilih pemimpin beda agama. Ini awalnya dalam konteks membicarakan pemimpin sebuah wilayah, seperti gubernur DKI yang dijabat Ahok dan lurah Menteng yang dijabat Susan. Keduanya oleh sebagian orang dianggap kafir. Temanku bersikukuh yang disebut “kafir” adalah beda agama. Setahu saya, Nabi Muhammad dalam sebuah hadits, mengingatkan keras agar umatnya tidak gegabah menuding sesat (fasiq) dan kafir pada orang lain. Karena jika menurut Allah orang yang dituding itu tak kafir dan tak sesat, maka tuduhan itu akan kembali pada si penuding.

Istilah “kafir” tidak boleh sembarangan dilekatkan pada seseorang. Kafir memiliki makna luas. Dalam konteks bermasyarakat, “kafir” bisa berarti orang yang banyak berbuat kedzaliman. Muslim atau bukan, kalau dia sering berlaku dzalim kemungkinan bisa masuk kategori kafir.

Teman saya berpendapat kira-kira begini, “pemimpin apapun itu haruslah Islam. Kalau kamu mencari calon suami pasti harus muslim juga kan?” Lah kok malah dia jadi membahas calon suami? Baiklah, karena dia menyebut demikian akhirnya kemudian tulisan ini berjudul terkait iman calon pasangan.

Sebelum menjawab, saya coba jujur dengan yang saya yakini. Saya termasuk yang mendukung pernikahan beda agama. Artinya, kalau ada teman mau menikah beda agama, tetap saya dukung. Ulama Islam berbeda pendapat dalam hal ini. Ada yang melarang keras pernikahan beda agama, ada yang mengizinkan dengan ketentuan lelaki muslim dan perempuan ahli kitab, ada yang membolehkan walaupun si perempuan bukan ahli kitab, dan ada yang mengizinkan perempuan Islam menikahi nonmuslim.

Saya tidak akan membahas dalil. Untuk berbagai alasan, sebenarnya saya tidak suka menarik dalil-dalil hukum begitu saja. Apalagi untuk perkara yang sensitif. Dalam tradisi kajian Islam jenis liqo’ di kampus saya (mungkin juga sejumlah kampus lain), mengutip dalil sepertinya hal yang sangat biasa, meskipun ilmu agama masih cetek. Dalam tradisi pesantren, untuk menyitir dalil sangatlah hati-hati karena perkata bisa dimaknai berbeda. Musti paham betul konteks dan maknawinya.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad pernah menikahkan putrinya, Ruqoyyah, dengan seorang yang disebut-sebut sebagai musyrik, yakni Utbah putra Abu Lahab. Ngerti kan peringai Abu Lahab kayak apa? Orang yang paling memusuhi Nabi Muhammad dan Islam.

Mereka menikah sebelum kenabian. Setelah Islam turun, walaupun Utbah tidak masuk Islam, mereka tidak dinikahkan ulang dan Nabi tidak meminta mereka bercerai. Meskipun akhirnya keduanya cerai, itu bukan lantaran campur tangan Nabi, melainkan atas pengaruh Abu Lahab.

Itu artinya, Nabi tetap merestui pernikahan mereka. Bukankah Nabi sendiri juga pernah menikahi seorang perempuan beragama Yahudi? Kalau yang disebut Islam adalah dimulai turunnya Alquran, itu berarti saat Nabi berusia 40 tahun. Sebelum itu Nabi beragama apa? Nabi menikahi Khadijah saat Nabi berusia 25 tahun. Saat itu khadijah juga agamanya apa? Mereka menikah dengan cara apa? Tentu saja dengan cara adat Arab saat itu yang kemudian diadopsi menjadi tradisi Islam.

Kalau ada ulama Islam berpendapat membolehkan pernikahan beda agama, baik yang Islam si perempuan maupun lelaki, tentu memiliki dasar yang tidak sembarangan. Tapi kalau Anda sependapat dengan ulama yang melarang pernikahan beda agama, itu juga boleh.

Jadi bagaimana, apakah saya akan memilih calon pasangan harus Islam?

Sebelum saya jawab, akan saya urai lagi soal pesan Nabi Muhammad tentang memilih pasangan agar mengutamakan “agamanya”. Nah, “agama” juga luas maknanya. Seorang Sahabat Nabi pernah bertanya, “apa itu beragama wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “akhlak yang baik”. Dia bertanya 3x dan Nabi membalas dengan jawaban yang sama 3x pula.

Kalau memilih pasangan dengan mengutamakan akhlak (attitude) yang baik, tentu saja masuk akal. Menurut saya, orang berakhlak baik itu adalah orang yang memiliki sikap dan rasa kemanusiaan yang baik. Yang menghargai dan menghormati kehidupan. Apapun agama formalnya, atau malah tak harus beragama formal.

Masalahnya, bagaimanakah ukuran pasti seseorang itu berakhlak baik untuk dijadikan pasangan? Nah, ini agak ribet juga. Tapi lagi-lagi mengingat pesan Nabi ketika kita bingung memutuskan sesuatu, “mintalah fatwa pada hatimu”.

Jadi, apakah saya akan memilih calon pasangan harus Islam? Saya akan lihat dulu orangnya, lalu akan meminta fatwa pada hati sendiri.

Namun, seandainya di dunia ini hanya tersisa dua lelaki single, yaitu Ustad Solmed yang muslim dan Choky Sitohang yang nonmuslim, hati saya berfatwa: saya memilih Choky!πŸ™‚

Depok, 06 Februari 2015

Leave a comment

Filed under activites, Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s