Monthly Archives: August 2015

Kontemplasi

Orang-orang berdebat tentang Tuhan itu ada atau tidak ada. Agama itu buatan manusia atau buatan siapa. Para nabi itu benar mendapatkan wahyu ata hanya merasa. Akhirat itu ada atau tidak. Surga dan neraka itu ada atau tiada. Jika ada, apakah seperti yang tergambar dalam kitab-kitab (yang dianggap) suci atau hanya metafora. Dan aku pernah ada di dalam perdebatan itu. Perdebatan macam itu mungkin perlu atau mungkin juga tidak perlu. Perlu bagi yang membutuhkan. Beriman dan tidak beriman urusan personal. Setiap orang punya sejarah dan perjalanan batin yang berbeda, jalan yang dipilihpun kemudian berda-beda.

Dan aku lebih senang dan tenang jika percaya Tuhan itu ada dan dia berfirman dengan beragam tanda. Mendidik manusia dengan berbagai cara. Quran yang sampai di tanganku mungkin bagian dari caraNya mengenalkan diri padaku. Pada manusia-manusia lain mungkin Dia menyentuh dengan cara berbeda. Jika Dia Maha Adil, tidak mungkin memberi jalan pilih-pilih kasih. Dia yang menurunkan manusia ke bumi, tidak mungkin Dia menginginkan manusia agar sengsara di dunia. Mata manusia mungkin melihat setiap manusia diberi paket kelahiran yang berbeda-beda, tapi bisa jadi di mata Tuhan paket tersebut bernilai sama. Kenyataannya, kebahagiaan hakiki itu tidak ditentukan oleh harta benda turunan, cantik/ganteng turunan, pintar turunan, dan semacamnya yang dibawa sejak kelahiran.

Jadi lupa mau nulis apa tadi. Cuma mau menyimpan ayat-ayat ini untuk penguat diri. Diambil dari status Tika di Facebook.

And do not kill yourselves. Surely, God is Most Merciful to you. (Quran 4:29)
And do not throw yourselves in destruction.(Quran 2:195)
And whoever oppresses (commits injustice) among you, We will make him taste a great punishment. (Quran 25:19)
But those who believe and do deeds of righteousness, We shall admit them to the Gardens under which rivers flow (i.e., in Paradise), to dwell therein forever. [It is] the promise of God, [which is] truth, and whose words can be truer than those of God. (Quran 4:122)
So verily, with hardship, there is ease. (Quran 94:5)

 Aku percaya meyakini nilai-nilai dalam agama bisa membuat orang bahagia, lebih kuat, lebih baik, dan lebih menikmati hidup. Mungkin tidak untuk semua orang, tapi setidaknya untukku. Dan aku tak ingin berdebat soal itu.
Depok, Agustus 2015.
Advertisements

Leave a comment

Filed under Conservation

Boncengan

Ada seorang teman lulusan studi agama dari sebuah universitas di Mekah. Saat berkumpul dengan teman-teman, dia jarang sekali bicara. Hanya seperlunya. Di luar sana, dia juga sering diundang ceramah di mimbar. Dia berjenggot dan bercelana kain. Tanpa tahu latar belakangnya, sosoknya langsung menyiratkan tipikal ikhwan aktivis dakwah kampus. Membuatku nggak berani menyodorkan tangan untuk salaman duluan. Dan dia sudah beristri.

Suatu kali dia harus mengantar sesuatu ke tempat kerjaku. Dia baru kali pertama ke sana dan bingung arah masuk gangnya. Aku menawarkan diri untuk menjemputnya di jalan besar. Aku jemput jalan kaki sekitar 100 meter. Ternyata menuju jalan raya cuaca panas sekali, sementara aku tak bawa topi atau payung. Kepalaku sedikit kunang-kunang terkena terik matahari. Sampai akhirnya menemukan dia. Padanya aku tak cerita kalau keadaanku sedang tak enak badan.

Setelah ngobrol sebentar, kami hendak menuju ke kantorku. Dia bawa motor. Saat itu awalnya aku tetap jalan kaki dan tidak berani minta bonceng. Kalau minta bonceng aku khawatir ditolak, soalnya ingat teman kampus dulu, ada teman yang minta tolong bonceng ikhwan malah dipinjamin motornya atau dicarikan teman perempuan. Kepalaku yang kepanasan masih terasa kunang-kunang, seandainya harus mengendarai motor sendiri pun aku nggak sanggup.

Aku tetap jalan tanpa bicara, kepala pusing serasa nyaris pingsan. Dalam sunyi aku membatin, kalau dia tidak menawariku boncengan, sungguh belajar agama jauh-jauh di Mekah itu nggak ada gunanya. Tidak rahmatan lil ‘alamin. Dan aku mungkin akan kurang percaya dengan isi ceramahnya. Namun, bila dia menawariku boncengan, aku akan menyimak jika suatu saat menemukan dia ceramah. Tiba-tiba dia muncul di sampingku menawari boncengan. Ah, syukurlah.

Aku paham ada teman-teman lelaki muslim di luar sana yang menolak boncengan dengan teman perempuan (bukan muhrim) atas nama agama karena konon mereka khawatir menimbulkan fitnah. Tapi mungkin mereka perlu melihat konteks keadaannya seperti apa. Seandainya temanku tidak menawari boncengan mungkin aku sudah pingsan di jalan.

(Terjadi pada awal tahun 2014)

Depok, Agustus 2015

Leave a comment

Filed under Conservation