Boncengan

Ada seorang teman lulusan studi agama dari sebuah universitas di Mekah. Saat berkumpul dengan teman-teman, dia jarang sekali bicara. Hanya seperlunya. Di luar sana, dia juga sering diundang ceramah di mimbar. Dia berjenggot dan bercelana kain. Tanpa tahu latar belakangnya, sosoknya langsung menyiratkan tipikal ikhwan aktivis dakwah kampus. Membuatku nggak berani menyodorkan tangan untuk salaman duluan. Dan dia sudah beristri.

Suatu kali dia harus mengantar sesuatu ke tempat kerjaku. Dia baru kali pertama ke sana dan bingung arah masuk gangnya. Aku menawarkan diri untuk menjemputnya di jalan besar. Aku jemput jalan kaki sekitar 100 meter. Ternyata menuju jalan raya cuaca panas sekali, sementara aku tak bawa topi atau payung. Kepalaku sedikit kunang-kunang terkena terik matahari. Sampai akhirnya menemukan dia. Padanya aku tak cerita kalau keadaanku sedang tak enak badan.

Setelah ngobrol sebentar, kami hendak menuju ke kantorku. Dia bawa motor. Saat itu awalnya aku tetap jalan kaki dan tidak berani minta bonceng. Kalau minta bonceng aku khawatir ditolak, soalnya ingat teman kampus dulu, ada teman yang minta tolong bonceng ikhwan malah dipinjamin motornya atau dicarikan teman perempuan. Kepalaku yang kepanasan masih terasa kunang-kunang, seandainya harus mengendarai motor sendiri pun aku nggak sanggup.

Aku tetap jalan tanpa bicara, kepala pusing serasa nyaris pingsan. Dalam sunyi aku membatin, kalau dia tidak menawariku boncengan, sungguh belajar agama jauh-jauh di Mekah itu nggak ada gunanya. Tidak rahmatan lil ‘alamin. Dan aku mungkin akan kurang percaya dengan isi ceramahnya. Namun, bila dia menawariku boncengan, aku akan menyimak jika suatu saat menemukan dia ceramah. Tiba-tiba dia muncul di sampingku menawari boncengan. Ah, syukurlah.

Aku paham ada teman-teman lelaki muslim di luar sana yang menolak boncengan dengan teman perempuan (bukan muhrim) atas nama agama karena konon mereka khawatir menimbulkan fitnah. Tapi mungkin mereka perlu melihat konteks keadaannya seperti apa. Seandainya temanku tidak menawari boncengan mungkin aku sudah pingsan di jalan.

(Terjadi pada awal tahun 2014)

Depok, Agustus 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s