Monthly Archives: October 2015

Harapan dan Kegelisahan

teks sumpah pemuda

Sumber gambar 1: tidak diketahui

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ini saya juga ingin menulis sesuatu yang menjadi harapan dan kegelisahan pribadi sebagai pemudi harapan bangsa. Syalala. Sebelum jauh menulis ini itu, saya ingin mengingatkan diri sendiri isi sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yaitu (gambar 1.):

Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia

Bertanah air Indoneisa artinya juga menjaga tanah dan air di nusantara. Mengelola dengan baik untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan menjaga kelestarinnya.

Harapan. Tanah Indonesia yang subuh, lahan yang luas, hutan yang banyak, flora dan fauna yang beragam, kaya tambang mineral, logam, dan minyak yang melimpah, semua ada di negeri kita tercinta. Ini bisa menjadi modal yang superbesar untuk memakmurkan Indonesia.

Yang menggelisahkan. Kurangnya sumber daya manusia yang handal dalam pengelolaan sumber daya alam. Peraturan atau undang-undang yang ada belum bisa merawat semangat petani dan belum mampu melindungi hutan. Kebijakan kemudahan impor yang disalahgunakan, hanya menguntungkan pihak tertentu, merugikan rakyat banyak.

Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

Menurut KBBI, bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Harapan.  Indonesia kaya budaya, bisa dalam bentuk rumah adat, busana adat, bahasa lokal, nilai-nilai kearifan lokal, tarian, dll bisa sebagai modal yang besar bangsa ini memiliki nilai yang tinggi. Modal yang besar ini bisa dimanfaatkan sebagai jalan atau inspirasi untuk memakmurkan rakyat dan menjadi Indonesia yang berwibawa.

Yang menggelisahkan. Pertama, makin banyak orang yang merenovasi rumah adatnya dengan rumah masa kini yang tidak memiliki kekhasan jati diri bangsa. Kalau kelak semua bangunan serupa, itu tidak lagi istimewa. Orang pergi ke Roma dan Bali karena di antaranya ada bangunan khasnya kan? Semakin banyak orang yang tidak lagi mengenal dan mengenakan baju adat daerahnya. Bahkan, kadang atas nama agama Islam, melarang orang mengenakan kebaya, bersanggul, dan menari.

Menjunjung Bahasa Persatuan Indonesia

Harapan. Biarpun negeri ini pernah dijajah Belanda ratusan tahun dan Jepang, tetap memiliki bahasa resmi tersendiri yang berasal dari bahasa nusantara ini, yaitu bahasa Indonesia. Kita patut bangga atasnya. Banyaknya jumlah bahasa lokal di sepanjang nusantara, konon berjumlah tak kurang dari 700, kini hampir semua penduduknya mampu berbahasa Indonesia tanpa kehilangan bahasa asal daerahnya. Para anak muda yang semangat belajar bahasa asing, tetap bisa berbahasa Indonesia.

Yang menggelisahkan. Di era reformasi yang tidak lagi ada tantangan berarti dan era digital yang mendorong setiap orang jadi pusat bumi, tak dipungkiri negeri ini melahirkan banyak pemuda pemudi alay yang berbahasa alay, tidak/kurang memahami tata bahasa sendiri. Sudah begitu, tidak ada upaya diri sendiri untuk membenahinya. Bahkan, banyak media yang bahasanya berantakan, padahal tulisan wartawan dan penulis bisa menjadi ujung tombak kokohnya bahasa. Tata bahasa yang keliru oleh wartawan bisa diduplikasi terus-menerus sampai kemudian menjadi salah kaprah. Contohnya kata “acuh” yang artinya “peduli”, berasal dari “acuh tak acuh” (peduli dan tak peduli). Namun, belakangan seringkali digunakan dalam kalimat yang tidak tepat sehingga orang banyak yang menganggap “acuh” itu berarti “tak peduli”.

Demikian yang saya harapkan dan saya gelisahkan tentang negara ini pada level yang lebih luas. Untuk yang lebih khusus, saya sedang mempelajari tentang keragaman religius dan  tentang membangun perdamaian. Ini aktual untuk kondisi Indonesia yang belakangan banyak dilanda isu perselisihan inter dan antar-agama hingga menimbulkan bentrokan. Kristen mayoritas di Papua membakar masjid milik muslim minoritas. Muslim yang mayoritas di Aceh membakar sejumlah gereja milik minoritas. Di media sosial gencar disebarkan kebencian terhadap syiah, ahmadiyah, dll hanya karena beda ideologi. Ini menyebabkan sekelompok syiah di Madura diusir dari tanahnya. Masjid Ahmadiyah di Cikeusik disegel oleh muslim lain dan ada yang dibunuh karena dianggap sesat. Generasi muda di bawah ajaran-ajaran tertentu terkait agama, kehilangan rasa nasionalisme. Banyak PR di negeri ini.

belajar teks teks Islam and Others

Teks-teks ini tentang “Islam, Keragaman Religius, dan Mambangun Perdamaian” yang sedang saya jalani melalui kursus online. Selain tema yang menantang, juga berbahasa Inggris. Banyak kata dan idiom yang masih asing buat saya sehingga bolak balik buka kamus. Selalu ada tugas menulis dalam bahasa Inggris dalam menganalisis teks. 🙂

Saya terdorong mempelajari hal tersebut karena itu begitu mengusik hati. Ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini? Dan apa yang bisa saya lakukan? Dari kesibukan yang sedang saya jalani belakangan ini, setidaknya membantu saya menganalisis masalah perselisihan dalam agama, kemudian belajar membuat langkah praktis untuk mengatasinya. Sebuah rahmat, saya mendapatkan kesempatan ini. Dan pada akhirnya sebagai salah satu pemudi Indonesia, saya kali ini pun tidak bisa bersumpah apa-apa, hanya bisa melakukan sebaik-baiknya semampu saya dan semoga semangat ini terus terjaga. Jika ini belum bisa memberikan kontribusi langsung pada negara, untuk sementara setidaknya ini berguna membantu saya berjuang melawan kebodohan diri sendiri.

Peringatan sumpah pemuda ini bisa menjadi momen untuk menyalakan semangat agar makin berkobar. Jika pemuda tahun 1928 memiliki semangat juang tinggi untuk merdeka, kita di tahun 2015 ini juga bisa memiliki semangat juang tinggi untuk belajar dan membangun. Dengan semangat yang tinggi, segala kegelisahan pasti bisa teratasi—baik kegelisahan bangsa maupun kegelisahan diri sendri. Merdeka!

Laeliya,

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Apakah Pertemuan Fransiskus Assisi dan Sultan al-Malik Bisa Sebagai Model Hubungan Kristen-Islam Era Modern?

Berikut ini adalah tugas ketiga, yaitu menganalisis teks 17 halaman tentang pertemuan antara seorang Kristiani dari Italia—Fransiscus Assisi dan seorang Sultan Muslim dari Mesir—al-Malik-al-Kamil dalam perspektif teologis. Kemudian mengaitkan apakah  pertemuan antara Fransikus dan Sultan al-Malik dapat menjadi contoh untuk kehidupan modern hubungan antara Kristiani dan Muslim.

Di tengah konflik Perang Salib Kelima, pada tahun 1219 seorang Kristen dari Italia, Fransiskus dari Assisi memilih jalan damai. Dia datang ke Islam Sultan al-Malik-al-Kamil di Mesir tanpa senjata. Sultan al-Malik juga luar biasa, ia menyambut Francis secara damai. Sultan memiliki banyak alasan untuk menghentikan Fransiskus yang akan memberitakan imannya, tapi Sultan bersedia mendengarkan khotbah dan membolehkan dia untuk diskusi beberapa hari. Pertemuan tersebut meninggalkan semangat yang mendalam. Panggilan reguler salat dari muazin di istana Sultan ditafsirkan oleh Fransiskus sebagai pengagungan manusia kepada Allah. Fransiskus juga mengamati cara doa ritual Muslim dan mengartikan sebagai rasa hormat yang mendalam kepada Allah, Allah yang dia puja. Pertemuannya dengan Islam telah menuntunnya kepada cakrawala baru pandangan religiusnya.

Selanjutnya bisa mengubah Francis yang awalnya jijik dengan penderita kusta, kemudian ia memeluk seorang penderita kusta karena menyadari bahwa Allah mengirim dia di antara mereka, sebagai penghormatan kepada setiap ciptaan. Sampai akhir hidupnya, Fransiskus mendorong Kristen dan Muslim untuk meninggalkan perang dan membangun kerendahan hati dan kedamaian. Untuk konteks kehidupan modern, Francis bisa menginspirasi orang-orang Kristen dalam dialog antaragama. Sultan al-Malik juga bisa menjadi model bagi umat Islam untuk menghormati kekudusan Kristen. Pertemuan bisa menjadi pola untuk hubungan Kristen-Muslim. Pertemuan itu menyisakan nilai terbaik bahwa dialog dan saling hormati dalam  iman pada dua pihak yang bertikai dapat menjadi jalan keluar untuk mencapai rekonsiliasi dan perdamaian.

Modul dalam bahasa Inggris dan tugas pun ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi yang kuunggah di sini versi Indonesia. Karena alamat blogku ini terbuka dan pernah dibagi di forum teman-teman peserta lain, yang dari negara-negara Arab. Kalau mengunggah dalam bahasa Inggris, nanti mereka bisa baca, haha. Oh ya tulisan dibatasi 250 kata. Pembatasan jumlah kata ini bisa berarti dua hal. Pertama, ini bagus karena menantang bagaimana menulis ringkas tetapi bernas. Kedua, penjelasan yang terlalu singkat juga bisa mengurangi nilai yang sebenarnya lebih luas atau kehilangan benang merah yang mungkin penting. Tapi nggak papa, tiap penulisan 250 kata itu sudah tepat! 🙂

Untuk diketahui, Fransiskus ini adalah pendiri Ordo Fransiskan, salah satu denominasi dalam Katholik. Menjadi inspirator para OFM untuk menjalin kerjasama yang baik dengan lembaga atau sekolah Islam, romo OFM di Indonesia pun melakukannya di era modern ini.

Salam,

Laeliya

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Meme Jelang Hari Santri

Hari Santri EditMeme ini banyak beredar menjelang Hari Santri Nasional, 22 Oktober. Tulisan Arab ini semacam parodi lucu-lucuan ngaji Kitab Kuning. Santri, khususnya dari pesantren NU, identik dengan ngaji kitab kuning, kitab berbahasa Arab, umumnya ditulis oleh ulama dari Timur Tengah, yang diterjemahkan ke bahasa Jawa, tetapi ditulis dengan Arab pegon.

Agar meme ini tidak hanya dimengerti oleh para santri, perlu diterjemahkan. Ini kurang lebih artinya begini.
Gambar 1. Baabul Fisbuuqati (Bab yang menerangkan masalah Facebook). Walaa tufasbiquu fii kulli auqaatikum (Dan janganlah terlalu sibuk Fesbukan di setiap waktu Anda semua).
Gambar 2. Baabul Wasafi (Bab yang menerangkan masalah WhatsApp). “Alaikum bilwasafi (Wajib untuk Anda semua memakai WhatsApp). Fainnahu khairun minal Fasbuuqi (karena sesungguhnya lebih bagus dari Facebook).

Tentu saja itu tak ada di kitab manapun, mungkin hanya ada di buku diary santri zaman sekarang. 🙂

Kembali ke Hari Santri. Entah kenapa perlu diperingati secara khusus. Kekhususan ini dikhawatirkan bisa menimbulkan kesenjangan bagi yang lain. Misal, bagi kaum abangan, bagi muslim non-santri, bagi murid yang menimba ilmu di yayasan agama non-Islam, dsb.
Bagaimanapun ini sudah telanjur ditetapkan dan wajar jika ada pihak-pihak yang menolaknya.

Ini tantangan buat santri bagaimana pengalamannya belajar Islam secara mendalam di pesantren bisa menjadi rahmat untuk bangsa. Belakangan, negara kita sedang rawan dilanda konflik yang disebabkan oleh para penganut agama yang bersikap fanatik, intoleran, radikal, dan bahkan meneror. Ini tantangan bagi para santri bagaimana menerjemahkan nilai-nilai luhur agama untuk membangun dan menjaga keutuhan Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.

Seperti kita diketahui, hari Santri nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015 guna menunaikan janjinya saat kampanye pemilihan presiden 2014. Penentuan tanggal tersebut dilatari oleh peristiwa resolusi jihad ulama Indonesia masa lalu untuk melawan penjajah Belanda.

Sumber gambar: tidak diketahui.

‪#‎Diary‬ (mantan) santri 🙂
Laeliya
Jakarta, 21 Oktober 2015.

3 Comments

Filed under Activities, Diversity and Peace

Renungan Diri di Hari Santri

santri 1992Gambar ini sekitar tahun 1992, saya bersama teman-teman santri di Pondok Pesantren Manba’ul Hisan, Mirit, Kebumen. Pesantren berbasis NU. Foto ini diambil saat saya kelas 3 SD, usai syukuran Khataman Juz Amma Bil Ghoib (syukuran atas keberhasilan kami menghafal Alquran juz 30). Saat itu di Indonesia belum banyak sekolah khusus/pondok anak-anak yang khusus belajar Alquran, belum marak seperti sekarang. Saat di pesantren, kami ngaji mengenakan baju kurung panjang. Sementara saat sekolah formal kami membaur dengan masyarakat setempat di SD Negeri, berseragam merah putih dengan atasan lengan pendek dan rok/celana selutut, sama layaknya murid-murid lainnya di luar pesantren. Kami santri cilik muslim dan kami tetap anak-anak Indonesia yang setiap Senin upacara bendera dan tidak dilarang memakai pakaian adat nusantara. 🙂

Selanjutnya apa yang terjadi dengan anak-anak yang sekolah Islam masa sekarang?

Sekarang semakin banyak anak-anak Indonesia yang disekolahkan di sekolah berlabel Islam, banyak orang tua berharap anak mereka hafal Alquran. Entah kenapa banyak orang tua muslim yang menganggap hafalan Alquran sebagai sesuatu yang sangat penting. Mungkin juga karena didukung oleh ajaran tentang keutamaan hafalan Alquran, seperti mendapatkan surga tertinggi, terbebas dari api neraka, dan mendapat syafa’at di Hari Kiamat. Jika alasan-alasan itu yang menjadi dasar, itu tidak menerjemahkan Islam menjadi rahmat di bumi ini. Selain itu, hafal Alquran akan dianggap hebat sehingga membuat orangtua bangga. Kemudian orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mengajarinya hafalan Alquran. Dan terkadang itu menjadi alasan utama sampai tidak memperhatikan aspek-aspek lain terkait pendidikan Islam di dalamnya.  Kalau sudah dididik di sekolah Islam atau pesantren dianggap lebih baik.  Perlu diketahui, sekolah berlabel Islam tidak serta merta pesantren, tetapi ada juga yang disebut pesantren. Dulu pesantren di Indonesia yang dominan hanya dua, yaitu NU dan Muhammadiyah, kini pesantren-pesantren baru muncul dengan berbagai aliran. Soal aliran-aliran ini penting untuk diperhatikan. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjamur di mana-mana.

Belajar Islam sejak dini bisa jadi kebaikan apabila mampu mendidik seseorang menjadi berakhlak luhur. Namun, jika belajar Islam dengan ajaran tafsir-tafsir sempit bisa membuat seseorang menjadi intoleran. Oleh karena itu, orang tua tetap perlu memantau kurikulumnya. Tak sedikit ditemukan SDIT sekarang yang melarang murid hormat bendera dengan alasan upacara tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW. Anak-anak dilarang memakai busana dan asesoris adat seperti kebaya dan sanggul dalam karnaval agustusan dengan alasan pakaian dianggap tidak syar’i. Anak-anak tidak mengenal lagu-lagu perjuangan bangsa sendiri seperti “Maju Tak Gentar”, tetapi lebih mengenal lagu-lagu perjuangan Palestina. Bahkan, ada juga SDIT yang melarang muridnya belanja di toko milik non-muslim karena dianggap menghidupi orang kafir. Ini ajaran yang sungguh berbahaya, melahirkan generasi yang kehilangan jati diri bangsa, intoleran, dan tidak siap menghadapi perbedaan.

Menurut peneliti yang investigasi masalah ini, sekolah-sekolah itu disusupi ajaran Wahabi, salah satu gerakan trans-nasional. Ajaran yang gemar melabeli bid’ah, sesat, dan kafir pada yang berbeda. Ajaran yang seolah ingin memurnikan Islam, tetapi sesungguhnya sedang mengikis nasionalisme generasi muda Indonesia. Tentu saja gerakan trans-nasional ini memiliki agenda politik kekuasaan di baliknya, yang sering tidak disadari oleh para penganut di level akar rumput.

Soal hafalan Alquran, beberapa waktu lalu seorang ulama menyentil di Youtube. Beliau menyampaikan yang intinya bahwa hafal Alquran tidak akan berarti apa-apa jika tidak paham makna atau tidak memberi arti bagi kehidupan, jadi tidak perlu diraya-rayakan. Beliau menceritakan seringkali menemukan anak-anak yang didorong-dorong hafal Alquran berlomba-lomba menjadi imam salat tarawih untuk menampilkan hafalannya, kemudian saling sibuk menghitung bayaran menjadi imam salat di masjid ini dan itu. Jika tidak dikembalikan pada hakikat pendidikan, hafalan Alquran pun bisa tergelincir dari tujuan utamanya. Menurut saya, pada dasarnya “menghafal” itu “mengingat”, seperti halnya mengingat rumus-rumus Fisika, mengingat unsur-unsur Kimia, dan mengingat 16 tensis bahasa Inggris. Bukan suatu prestasi superhebat yang bermanfaat untuk umat, jadi tidak perlu dipuji berlebihan. Kemampuan menghafal Alquran ibarat kendaraan, alat yang bisa mengantarkan seseorang lebih mudah memahami Alquran, ayat per ayat, kata per kata, dan menggali maknanya. Bisa juga hanya menjadi pajangan mewah di garasi yang tidak berguna apa-apa.

Pesantren bisa melahirkan santri seperti Gus Dur, Kyai Musthofa Bisri, Buya Hamka, dan Buya Syafi’i Maarif. Sosok-sosok yang punya pengaruh dalam mempromosikan Islam Nusantara dengan wajah damai. Namun tak dipungkiri, pesantren juga bisa melahirkan santri macam Amrozi, Imam Samudra, dkk yang intoleran terhadap yang berbeda dan menyebarkan paham terorisme atas nama memerangi kekafiran.

reuni santri 2005Gambar ini sekitar tahun 2005, santri cilik angkatan saya reuni, sowan pada guru kami, Kyai Abdul Mufti, pendiri pondok pesantren anak-anak Manba’ul Hisan. Saat itu kami sudah mahasiswa dan masing-masing membawa pengalaman menempuh SMP dan SMA di pesantren yang tidak sama. Kami kembali sebentar ke pondok masa SD dengan perfoma dan ideologi yang beda-beda. Bagaimanapun, nilai-nilai yang kami pelajari di pesantren turut mewarnai perjalanan ke depan dan mengantarkan kami pada jalan yang bisa jadi berlainan. Namun, selagi tetap menjaga silaturrahim yang baik, perbedaan tidak akan menjadi sumber perpecahan.

Pada peringatan Hari Santri Nasional ini mungkin bisa menjadi pengingat bahwa menjadi santri di negeri ini berarti musti mampu menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Bangsa dengan penduduk yang berbeda-beda dalam suku, agama, dan kepercayaan. Orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di sekolah/pondok berlabel Islam musti jeli memilih dan memastikan sekolah tersebut benar-benar mengajarkan nilai-nilai luhur agama dan menjadi rahmat bagi semesta.

Seperti kita diketahui, Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015 guna menunaikan janjinya saat kampanye pemilihan presiden 2014. Penentuan tanggal tersebut dilatari oleh peristiwa resolusi jihad ulama Indonesia masa lalu melawan penjajahan Belanda.

Sumber gambar: koleksi pribadi milik Nur Laeliyatul Masruroh. Gambar 1 dipotret oleh Lik Joko Sukandar, Gambar 2 oleh Abdullah Faqih.

Laeliya,

Jakarta, 22 Oktober 2015.

NB: Tidak diizinkan mengambil/posting ulang gambar tanpa izin penulis atau tanpa menyebut sumber. Tidak diizinkan juga menyalahgunakan gambar untuk informasi yang tidak benar. Terima kasih.

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Kursus Online ‘Islam, Keragaman, dan Membangun Perdamaian’

Ini hari pertama saya kursus online tentang “Islam, Keragaman, dan Membangun Perdamaian”. Kursus ini difasilitasi oleh sebuah lembaga antaragama di Timur Tengah. Kursus ini akan berlangsung selama 4 sesi. Sesi I akan berlangsung selama 6 minggu. Tujuan kursus Sesi I ini adalah membuka refleksi antara muslim, agama dan budaya lain. Ketiga hal itu akan dipelajari melalui 3 perspektif.

1. Perspektif Sejarah, meliputi pertemuan/perjumpaan (encounters), polemik, dan bentrokan (clashes).
2. Perspektif Geopolitik, akan mengupas soal identitas, keragaman (diversity), dan asimilasi.
3. Perspektif Teologis, akan mempertanyakan bagaimana Islam mempersepsikan agama-agama lain, dan pengalaman religius lainnya.

Kursus ini adalah beasiswa, diperoleh dengan mendaftar sebuah “Call for Application” yang salah satu syaratnya menuliskan 4 esai pendek, per esai berjumlah 300-500 kata dalam bahasa Inggris.

Kursus ini untuk 30 orang, (sepertinya ditawarkan) untuk negara-negara Islam atau mayoritas penduduknya Islam. Peserta tidak harus beragama Islam, tetapi diutamakan yang paham dunia Islam. Di formulir pendaftarannya juga ditanya soal kemampuan bahasa Arab, yang opsinya hanya Intermediate dan Advance. Saat daftar, kemampuan bahasa Arab saya Basic. Sempat ragu mendaftar karena keterbatasan bahasa Arab saya. Di websitenya video pengantarnya juga pakai bahasa Arab, tetapi ada subtitle Inggris. Ketika saya terpilih, tentu saja sangat bersyukur.

Di antara 30 orang ini, sejauh yang saya tahu, saya satu-satunya dari Indonesia. Setelah mendapatkan surat penerimaan dan menandatangi surat komitmen, lalu mengirimnya via email, diberi password untuk membuka sebuah web khusus. Web tempat materi diunggah dan mengisi profil berupa nama, asal negara, foto, dll.

Di sana ada materi yang akan dipelajari selama 6 minggu ke depan. Juga ada kuis perdana. Tujuh pertanyaan dengan durasi 10 menit. Kuis perdana ini memiliki tenggat waktu 3 hari. Dalam perjanjiannya, kami harus meluangkan waktu minimal 6 jam seminggu untuk kursus ini.

Setelah membuka halaman web sebagai pengguna dengan password, nampak profil peserta lain. Sebagian peserta adalah kandidat PhD, selebihnya aktivis perdamaian dan jurnalis. Mereka dari negara-negara di Timur Tengah. Di antaranya Irak, Palestina, Maroko, Tunisia, Yordania, Lebanon, Yaman, Mesir, dan Mauritania.

Kursus dibimbing oleh 3 Profesor dari sejumlah negara, satu staf untuk masalah teknis, dan seorang fasilitator atau manager program. Fasilitatornya seorang penulis ternama sekaligus jurnalis dari Palestina. (Untuk sementara, dengan berbagai alasan, nama-nama mereka tidak saya disebutkan di sini, mungkin lain kali).

Dalam kursus ini, juga perlu menyertakan alamat FB, twitter, blog, dan Skype. Dan berkomitmen untuk menuliskan hal-hal yang mempromosikan perdamaian. Ini sebuah tantangan besar buat saya. Selain materinya yang “wow”, juga menantang saya untuk lebih aktif menulis dalam bahasa Inggris. “Wow” dalam arti lumayan berat, tetapi sangat menarik. Para peserta lainnya memiliki latar belakang pendidikan tinggi terkait Studi Islam dan/atau Perdamaian, sedangkan saya berbekal ngaji di pesantren dan pengalaman di lembaga dakwah. Bahasa Inggris mereka juga sepertinya superfasih. Sepertinya saya butuh belajar lebih keras dari lainnya. Tapi tak mengapa, saya anggap ini sebagai pemanasan untuk mempersiapkan studi lagi. Semoga semua berjalan lancar, efisien, efektif, dan bermanfaat. Tidak hanya untuk diri saya sendiri, tetapi semoga kelak ada yang bisa bagi dan menjadi rahmat untuk semesta ini. Amiin.

Jakarta, 15 Oktober 2015.

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace