Apakah Pertemuan Fransiskus Assisi dan Sultan al-Malik Bisa Sebagai Model Hubungan Kristen-Islam Era Modern?

Berikut ini adalah tugas ketiga, yaitu menganalisis teks 17 halaman tentang pertemuan antara seorang Kristiani dari Italia—Fransiscus Assisi dan seorang Sultan Muslim dari Mesir—al-Malik-al-Kamil dalam perspektif teologis. Kemudian mengaitkan apakah  pertemuan antara Fransikus dan Sultan al-Malik dapat menjadi contoh untuk kehidupan modern hubungan antara Kristiani dan Muslim.

Di tengah konflik Perang Salib Kelima, pada tahun 1219 seorang Kristen dari Italia, Fransiskus dari Assisi memilih jalan damai. Dia datang ke Islam Sultan al-Malik-al-Kamil di Mesir tanpa senjata. Sultan al-Malik juga luar biasa, ia menyambut Francis secara damai. Sultan memiliki banyak alasan untuk menghentikan Fransiskus yang akan memberitakan imannya, tapi Sultan bersedia mendengarkan khotbah dan membolehkan dia untuk diskusi beberapa hari. Pertemuan tersebut meninggalkan semangat yang mendalam. Panggilan reguler salat dari muazin di istana Sultan ditafsirkan oleh Fransiskus sebagai pengagungan manusia kepada Allah. Fransiskus juga mengamati cara doa ritual Muslim dan mengartikan sebagai rasa hormat yang mendalam kepada Allah, Allah yang dia puja. Pertemuannya dengan Islam telah menuntunnya kepada cakrawala baru pandangan religiusnya.

Selanjutnya bisa mengubah Francis yang awalnya jijik dengan penderita kusta, kemudian ia memeluk seorang penderita kusta karena menyadari bahwa Allah mengirim dia di antara mereka, sebagai penghormatan kepada setiap ciptaan. Sampai akhir hidupnya, Fransiskus mendorong Kristen dan Muslim untuk meninggalkan perang dan membangun kerendahan hati dan kedamaian. Untuk konteks kehidupan modern, Francis bisa menginspirasi orang-orang Kristen dalam dialog antaragama. Sultan al-Malik juga bisa menjadi model bagi umat Islam untuk menghormati kekudusan Kristen. Pertemuan bisa menjadi pola untuk hubungan Kristen-Muslim. Pertemuan itu menyisakan nilai terbaik bahwa dialog dan saling hormati dalam  iman pada dua pihak yang bertikai dapat menjadi jalan keluar untuk mencapai rekonsiliasi dan perdamaian.

Modul dalam bahasa Inggris dan tugas pun ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi yang kuunggah di sini versi Indonesia. Karena alamat blogku ini terbuka dan pernah dibagi di forum teman-teman peserta lain, yang dari negara-negara Arab. Kalau mengunggah dalam bahasa Inggris, nanti mereka bisa baca, haha. Oh ya tulisan dibatasi 250 kata. Pembatasan jumlah kata ini bisa berarti dua hal. Pertama, ini bagus karena menantang bagaimana menulis ringkas tetapi bernas. Kedua, penjelasan yang terlalu singkat juga bisa mengurangi nilai yang sebenarnya lebih luas atau kehilangan benang merah yang mungkin penting. Tapi nggak papa, tiap penulisan 250 kata itu sudah tepat!🙂

Untuk diketahui, Fransiskus ini adalah pendiri Ordo Fransiskan, salah satu denominasi dalam Katholik. Menjadi inspirator para OFM untuk menjalin kerjasama yang baik dengan lembaga atau sekolah Islam, romo OFM di Indonesia pun melakukannya di era modern ini.

Salam,

Laeliya

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s