Harapan dan Kegelisahan

teks sumpah pemuda

Sumber gambar 1: tidak diketahui

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ini saya juga ingin menulis sesuatu yang menjadi harapan dan kegelisahan pribadi sebagai pemudi harapan bangsa. Syalala. Sebelum jauh menulis ini itu, saya ingin mengingatkan diri sendiri isi sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yaitu (gambar 1.):

Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia

Bertanah air Indoneisa artinya juga menjaga tanah dan air di nusantara. Mengelola dengan baik untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan menjaga kelestarinnya.

Harapan. Tanah Indonesia yang subuh, lahan yang luas, hutan yang banyak, flora dan fauna yang beragam, kaya tambang mineral, logam, dan minyak yang melimpah, semua ada di negeri kita tercinta. Ini bisa menjadi modal yang superbesar untuk memakmurkan Indonesia.

Yang menggelisahkan. Kurangnya sumber daya manusia yang handal dalam pengelolaan sumber daya alam. Peraturan atau undang-undang yang ada belum bisa merawat semangat petani dan belum mampu melindungi hutan. Kebijakan kemudahan impor yang disalahgunakan, hanya menguntungkan pihak tertentu, merugikan rakyat banyak.

Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

Menurut KBBI, bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Harapan.  Indonesia kaya budaya, bisa dalam bentuk rumah adat, busana adat, bahasa lokal, nilai-nilai kearifan lokal, tarian, dll bisa sebagai modal yang besar bangsa ini memiliki nilai yang tinggi. Modal yang besar ini bisa dimanfaatkan sebagai jalan atau inspirasi untuk memakmurkan rakyat dan menjadi Indonesia yang berwibawa.

Yang menggelisahkan. Pertama, makin banyak orang yang merenovasi rumah adatnya dengan rumah masa kini yang tidak memiliki kekhasan jati diri bangsa. Kalau kelak semua bangunan serupa, itu tidak lagi istimewa. Orang pergi ke Roma dan Bali karena di antaranya ada bangunan khasnya kan? Semakin banyak orang yang tidak lagi mengenal dan mengenakan baju adat daerahnya. Bahkan, kadang atas nama agama Islam, melarang orang mengenakan kebaya, bersanggul, dan menari.

Menjunjung Bahasa Persatuan Indonesia

Harapan. Biarpun negeri ini pernah dijajah Belanda ratusan tahun dan Jepang, tetap memiliki bahasa resmi tersendiri yang berasal dari bahasa nusantara ini, yaitu bahasa Indonesia. Kita patut bangga atasnya. Banyaknya jumlah bahasa lokal di sepanjang nusantara, konon berjumlah tak kurang dari 700, kini hampir semua penduduknya mampu berbahasa Indonesia tanpa kehilangan bahasa asal daerahnya. Para anak muda yang semangat belajar bahasa asing, tetap bisa berbahasa Indonesia.

Yang menggelisahkan. Di era reformasi yang tidak lagi ada tantangan berarti dan era digital yang mendorong setiap orang jadi pusat bumi, tak dipungkiri negeri ini melahirkan banyak pemuda pemudi alay yang berbahasa alay, tidak/kurang memahami tata bahasa sendiri. Sudah begitu, tidak ada upaya diri sendiri untuk membenahinya. Bahkan, banyak media yang bahasanya berantakan, padahal tulisan wartawan dan penulis bisa menjadi ujung tombak kokohnya bahasa. Tata bahasa yang keliru oleh wartawan bisa diduplikasi terus-menerus sampai kemudian menjadi salah kaprah. Contohnya kata “acuh” yang artinya “peduli”, berasal dari “acuh tak acuh” (peduli dan tak peduli). Namun, belakangan seringkali digunakan dalam kalimat yang tidak tepat sehingga orang banyak yang menganggap “acuh” itu berarti “tak peduli”.

Demikian yang saya harapkan dan saya gelisahkan tentang negara ini pada level yang lebih luas. Untuk yang lebih khusus, saya sedang mempelajari tentang keragaman religius dan  tentang membangun perdamaian. Ini aktual untuk kondisi Indonesia yang belakangan banyak dilanda isu perselisihan inter dan antar-agama hingga menimbulkan bentrokan. Kristen mayoritas di Papua membakar masjid milik muslim minoritas. Muslim yang mayoritas di Aceh membakar sejumlah gereja milik minoritas. Di media sosial gencar disebarkan kebencian terhadap syiah, ahmadiyah, dll hanya karena beda ideologi. Ini menyebabkan sekelompok syiah di Madura diusir dari tanahnya. Masjid Ahmadiyah di Cikeusik disegel oleh muslim lain dan ada yang dibunuh karena dianggap sesat. Generasi muda di bawah ajaran-ajaran tertentu terkait agama, kehilangan rasa nasionalisme. Banyak PR di negeri ini.

belajar teks teks Islam and Others

Teks-teks ini tentang “Islam, Keragaman Religius, dan Mambangun Perdamaian” yang sedang saya jalani melalui kursus online. Selain tema yang menantang, juga berbahasa Inggris. Banyak kata dan idiom yang masih asing buat saya sehingga bolak balik buka kamus. Selalu ada tugas menulis dalam bahasa Inggris dalam menganalisis teks.🙂

Saya terdorong mempelajari hal tersebut karena itu begitu mengusik hati. Ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini? Dan apa yang bisa saya lakukan? Dari kesibukan yang sedang saya jalani belakangan ini, setidaknya membantu saya menganalisis masalah perselisihan dalam agama, kemudian belajar membuat langkah praktis untuk mengatasinya. Sebuah rahmat, saya mendapatkan kesempatan ini. Dan pada akhirnya sebagai salah satu pemudi Indonesia, saya kali ini pun tidak bisa bersumpah apa-apa, hanya bisa melakukan sebaik-baiknya semampu saya dan semoga semangat ini terus terjaga. Jika ini belum bisa memberikan kontribusi langsung pada negara, untuk sementara setidaknya ini berguna membantu saya berjuang melawan kebodohan diri sendiri.

Peringatan sumpah pemuda ini bisa menjadi momen untuk menyalakan semangat agar makin berkobar. Jika pemuda tahun 1928 memiliki semangat juang tinggi untuk merdeka, kita di tahun 2015 ini juga bisa memiliki semangat juang tinggi untuk belajar dan membangun. Dengan semangat yang tinggi, segala kegelisahan pasti bisa teratasi—baik kegelisahan bangsa maupun kegelisahan diri sendri. Merdeka!

Laeliya,

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s