Jilbab Syar’i

Oleh Nur Laeliyatul Masruroh
Sore itu aku masuk ke toko jilbab di Depok Town Square. Mau cari pasmina buat syal untuk dibawa ke Timur Tengah. Patung manekin berhidung mancung pakai mukena pink ngejreng berenda biru itu menarik perhatianku. Kusentuh kainnya sepertinya adem. “Mukena yang kayak gini tapi warna lain dan nggak pakai renda ada Mbak?” tanyaku pada penjaga toko. Renda di kain itu menurutku seperti renda yang biasa dipakai untuk pemanis underwear. Rasanya gimana itu kalau salat pakai seperti itu. “Ini bukan mukena, Mbak,” jelas penjualnya. “Oh pantesan rendanya kayak renda underwear. Baju dalam?” Aku memastikan. “Bukan. Ini jilbab syar’i,” balasnya. Hah? Belum selesai kagetku, tiba-tiba ada pengunjung lain datang pakai ‘mukena’ serupa, warna pink juga, dengan tambahan kain pink tua di kepalanya dan asesoris bros pita memanjang di bagian kanan.
“Kayak gini lho Mbak, ini namanya jilbab syar’i,” jelas penjaga toko menunjuk wanita berjilbab pink ngejreng lebar itu. Sepertinya aku musti banyak beristigfar, karena dalam hati saat itu aku tak berhenti mengkritik baju itu, ya ampun baju warna ngejreng dengan renda underwear kayak gitu menarik perhatian semua orang. Bukan hanya menarik perhatian mata orang, tapi mungkin juga menarik kupu-kupu dan burung-burung ingin hinggap bersarang, kok disebut syar’i?
Baiklah, atas nama hak asazi, siapapun boleh mendefinisikan pakaian syar’i dengan caranya sendiri-sendiri🙂
Syar’i artinya sesuai syariat. Syariat bisa berbeda-beda, tergantung mengikuti tafsir siapa. Bagiku, berpakaian sopan tanpa jilbab pun sudah syar’i, tapi bagi yang lain belum tentu. Bagi orang lain, menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, jilbab kecil ataupun lebar sudah syar’i, bagi ulama yang berpendapat cadar wajib, itu belumlah syar’i. Bagi orang tertentu, berjilbab lebar bunga-bunga, warna menyala, berenda underwear, sudah dianggap syar’i, bagi ulama yang berpendapat jilbab untuk meredam perhatian, seperti itu belumlah cukup syar’i.
Kalau aku pribadi lebih sepakat dengan pendapat bahwa pakaian tertutup itu untuk meredam perhatian. Semakin tertutup seharusnya semakin bersahaja. Semakin tertutup mustinya semakin mengurangi asesoris kecantikan. Tapi siapapun boleh berpendapat beda, tidak harus sepakat denganku.
Lebih dari itu, aku senang perempuan Indonesia merdeka memilih pakaian apapun yang disuka. Tertutup ataupun terbuka dan bisa mengekspresikan identitas diri sepenuhnya. Di Arab Saudi sana, pakaian perempuan diatur oleh budaya, dilegitimasi agama, harus lebar-lebar, bahkan kadang musti hitam dan bercadar.
Aku ingin berterima kasih, tapi entah pada siapa, tentang ini semua. Tentang kemerdekaan perempuan Indonesia menentukan sendiri pakaiannya.
Saat akan berangkat ke Beirut, aku sengaja membawa beberapa tutup kepala, jilbab, dan pasmina. Selain karena musim dingin, panitia juga memberitahu sebelumnya bahwa di tempat-tempat tertentu perempuan harus menutup kepala, disarankan bawa headscarf.
Saat turun dari pesawat di Beirut, suhu 15 derajat. Aku tidak melepas tutup kepalaku karena kupingku kedinginan. Begitu sampai hotel, seorang panitia menyambutku di depan pintu taksi. Dia mengucapkan selamat datang dan bilang aku sudah ditunggu Doktor N. Kadang-kadang kami menyebut mentor kami dengan gelar di depannya. Juga beberapa peserta yang sudah PhD dipanggil doktor. Tidak harus, boleh panggil nama.
Aku bilang akan check in kamar dulu sebelum ketemu siapapun. Karena aku baru menempuh perjalanan pesawat 15 jam dan belum mandi. Usai mandi dan menata isi koper di kamar, kubuka jendela kaca yang sekaligus pintu hotel, memastikan suhu di luar ruangan sedingin apa. Di kamar, AC tersetting hangat entah berapa derajat. Di HPku suhu kota menunjukkan 12 Celcius. Ternyata di luar cukup dingin, kupingku sepertinya tak sanggup dibiarkan terbuka. Akhirnya aku pakai tutup kepala untuk keluar.
Saat bertemu Doktor N, dia memelukku 3x sebagai salam khas Libanon. Doktor N adalah perempuan terpelajar, cerdas, cantik, berprestasi, dan baik hati. Beliau doktor teologi Islam. Padanya kami belajar interpretasi Alquran di kelas online sebelumnya. Mengikuti forumnya aku musti senantiasa siap menyediakan Alquran tiga bahasa. Indonesia, Inggris, dan Arab. Buat lainnya cukup dua bahasa. Tugas-tugas analisis teologis Alquran darinya menurutku sangat menarik dan menantang.
Pada awal pertemuan itu, dia tanya padaku bukankah aku tidak pakai jilbab. Kujawab, ya aku tak berjilbab, tapi di sini aku akan menutup kepala. Dia balas, di sini kamu tidak harus menutup kepala, kamu boleh membukanya. “Suhu di sini sangat dingin. Di Indonesia aku terbiasa di suhu 30 derajat, di sini 12 derajat, aku perlu menutup kuping,” jelasku. “Ah ya, kalau itu masuk akal.”
Peserta perempuan didominasi tidak berjilbab. Kami bebas berpakaian dengan batasan sopan. Beberapa peserta juga tanya soal jilbab padaku, juga ada yang tanya soal agamaku–menutup kepala tidak lantas otomatis Muslim. Kujawab, aku muslim dan berkeyakinan jilbab tidak wajib. Terus malah ada yang menanggapi, siapa yang menganggap itu wajib? Kujelaskan, muslim mayoritas di Indonesia berkeyakinan jilbab/ menutup kepala bagi perempuan itu wajib. Malah ada yang kaget dengan penjelasanku karena kebanyakan mengira Indonesia itu contoh ideal kehidupan muslim sebab perempuan bebas berjilbab dan bebas tidak berjilbab, dan tidak ada otoritas yang mewajibkan. Betul, di sini tidak ada otoritas yang mewajibkan, kecuali Aceh. Terkait wajib itu maksudku soal keyakinan, bukan urusan otoritas tertentu.
Menurut beberapa dari mereka, teman-teman dari Timur Tengah yang kebetulan berbagi soal ini, “jilbab itu pilihan bukan kewajiban dan Islam seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, melainkan lebih kepada akhlak.” Aku sepakat dengan itu.
Kembali ke soal jilbab ‘mukena’ pink ngejreng di atas. Yang dikatakan temanku soal Indonesia sebagai contoh ideal buat muslimah mengekspeasikan pakaian itu mungkin ada benarnya. Di Indonesia belakangan ini muncul beraneka model jilbab, sangat kaya pilihan. Bahkan konon Indonesia sebagai pusat mode hijab dunia. Mulai yang sederhana, elegan, rumit, hingga yang norak, semua orang bebas mengklaim itu sebagai identitas muslimah, bahkan bebas mengklaim itu syar’i. Keragaman yang mungkin tidak/belum ditemukan di Timur Tengah. Yang barangkali perlu dikritisi adalah jika menganggap pilihannya sendiri sebagai satu-satunya yang syar’i.
Ini juga pengingat untuk diriku sendiri yang kadang masih sulit memahami jilbab-lebar-ngejreng-renda-underwear dianggap jilbab syar’i. Astaghfirullah. Udah gitu aja sih.🙂
12 Januari 2016

Leave a comment

Filed under activites, Diversity and Peace, Diversity and Peace Building

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s