Teman Spesial

“L, apa kabar? Aku sudah sampai Jakarta kemarin dan akan kembali ke Amerika 1 April. Aku merasa harus menghargaimu sebagai seorang teman yang sangat baik selama ini yang ingin bertemu aku. Jika ingin bertemu tuk makan siang bareng dekat kantormu, aku siap ke sana,” pesan itu kuterima di messenger. Aku cukup kaget mendapatkan pesan darinya seperti itu karena dari berbagai peristiwa percakapan kami di media sosial, aku sempat berpikir lelaki itu tak akan mau menyengaja bertemu denganku.
“Aku tinggal di daerah Tanjung Mas Raya. Pasti dekat ke daerah Depok kan. Jauhpun akan kujabanin kok. Makasih,” lanjutnya. Dari nada kalimatnya dia benar-benar mau ketemu aku. Baiklah.
Dulu aku memang pernah bilang ingin bertemu untuk meluruskan salah paham. Terlalu sering kami berdebat di media sosial, baik debat di lingkup umum, di ruang grup yang terbatas, maupun di area privat seperti di messenger dan WhatsApp. Kami banyak berdebat soal agama kemudian menjadi soal apa saja. Sebenarnya banyak nilai yang kami pahami sama, terutama nilai-nilai kemanusiaan. Namun, ada beberapa nilai moral yang saling bertentangan. Yang menurutku sesuatu haram dilakukan, baginya tidak apa-apa. Dan, kadang perselisihan kecil menjadi debat panjang.
Dia adik angkatanku, beda fakultas, dan usia kami sebaya. Buatku dia teman spesial, bukan teman biasa, karena dia orang yang paling banyak mendebatku, tapi sejauh ini bisa berakhir dengan tetap menjaga hubungan baik. Kadang aku merasa dia dekat, kadang merasa dia jauh sekali. Jauh dan dekat ini terkait dengan nilai-nilai yang kami pahami. Untuk banyak hal, dia sangat peka terhadap hal-hal kecil yang mengusik kemanusiaan. Dari sisi itu aku bisa melihat jiwanya yang lembut. Namun, untuk beberapa hal lain, kami sangat berbeda pandangan. Dan kalau telanjur mendebatkan sesuatu, kadang tidak selesai dalam seminggu.
Sisi baiknya ketika berhasil melewati perselisihan sulit, sebagai teman, kami jadi bisa lebih saling memahami perbedaan. Pengalamanku berdebat nggak cuma sama dia, tapi sejauh ini dia yang paling beda.
Saat dia mendebat soal eksistensi Tuhan, dia terus menerus mengejarku dengan berbagai pertanyaan. Lalu, ketika aku memang tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, dia merespon, “terus kenapa kamu masih shalat?” Itu salah satu debat yang bikin kami salah paham. Aku merasa pertanyaan itu dengan nada mengejek, dia mengejekku yang tetap sembahyang meski tidak bisa membuktikan adanya Tuhan. Padahal mungkin maksud yang sebenarnya tidak demikian.
Kedua, ketika dia mendebat terkait Bunda Maria/Maryam, dia menyampaikan Maria tidak mungkin hamil dan melahirkan tanpa melakukan persetubuhan. Lalu dengan cara lain dia ingin bilang Alquran yang mengatakan Maria perawan dari sentuhan lelaki itu diragukan kebenarannya. Dan lagi-lagi perdebatan berakhir dengan pertanyaan dan pernyataan yang menurutku dia tidak menghargai imanku. “Mengapa kamu masih saja percaya Alquran?” responnya padaku.
Padahal dalam melihat iman, kami sepaham bahwa seseorang mengimani sesuatu tidak selalu butuh bukti. Seseorang yang mengimani Quran sebagai firman Allah, tidak perlu bukti bahwa sosok yang ditemui Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu adalah malaikat Jilbril. Di lain waktu, dia mempertanyakan eksistensi Nabi Musa, juga soal berbagai tindakan Nabi Muhammad yang dianggap janggal. Untuk beberapa hal, aku berdebat berangkat dari iman, sedangkan dia dari pikiran skeptis, karena itulah sering berujung tidak nyambung. Aku tidak menganggap diriku yang berdebat berangkat dari iman itu lebih baik dari dia, sama sekali tidak. Orang skeptis yang kembali dari keraguannya justru biasanya menjadi lebih yakin. Dia berhak mempertanyakan sesuatu perihal iman dan agama. Padahal aku merasa termasuk orang yang tidak mudah “sami’na waatho’na”, aku banyak mempertanyakan dogma-dogma agama dan hukum-hukum Islam. Orang sepertiku bertemu dan berdebat dengan orang macam dia pun masih banyak bertentangan. Aku coba memahami yang dia pikirkan dan rasakan terkait iman agar setiap perdebatan tidak menimbulkan perselisihan mendalam.
Ada hal yang paling kuingat awal debat hingga terjadi salah paham. Saat itu aku pikir biar nggak makin ruwet, aku ingin mengurai masalah. Aku mau telepon dia lewat Skype karena kupikir ketika menyimak penjelasan orang dengan mendengarkan intonasi suaranya langsung, akan lebih memahami maksud yang sebenarnya. Aku izin lebih dulu kalau aku mau menelepon dia. Dia malah mengatakan bahwa aku agresif karena berinisiatif menelepon cowok duluan. Waduuuh, kok gitu responnya? Itu salah paham pertama yang menurutku sangat menjengkelkan, bagiku lumayan fatal. Seringkali kemudian aku menjadi merasa perlu berhati-hati menyampaikan sesuatu padanya, agar tidak salah paham lagi.
Selanjutnya sudah tak terhitung lagi apa saja yang kami debatkan. Kadang aku berpikir dia sengaja tak berhenti mendebatku sebelum bikin aku jengkel. Kami berinteraksi bukan sebatas berdebat, tapi juga belajar memahami sesuatu, berbagi apa yang dia lihat di sekitarnya dan aku berbagi apa yang kulihat di sekitarku. Banyak temannya yang temanku juga, kami kuliah di universitas yang sama. Kami pernah beredar di sejumlah lingkungan yang sama, memiliki ikatan sejarah dalam ruang dan waktu yang sama, tapi sebelumnya tak pernah jumpa. Kami punya latar belakang menekuni bidang yang juga sama. Banyak hal darinya aku belajar, begitu juga sebaliknya. Sampai kemudian aku berkesimpulan dia pada dasarnya anak baik dan punya jiwa yang halus. Selanjutnya ketika dia bilang mau ketemu, aku merasa tak khawatir, seperti apapun sosok dan karakternya.
Dalam banyak hal, dia memang berbeda dengan orang pada umumnya. Tapi aku nggak kaget sih, karena sudah sering ketemu orang aneh setengah gila. Haha. Selagi keunikannya tidak mengganggu, tak masalah buatku.
Saat mau janjian ketemuan, dia memberitahuku akan naik angkutan umum dari Jakarta Selatan ke Depok dan bilang butuh wifi. Kusebut nama restoran Gula Merah di mall Margocity yang kukira ada internetnya. Di sana rencananya kami akan jumpa.
“L, aku di Tous les Jour. Di Gula Merah gak ada wifi, adanya rendang🙂,” tulisnya untukku lewat WhatsApp. Dari kalimatnya bisa ditebak orangnya kayak apa, dia kadang suka bercanda.
Aku naik Gojek menuju Margocity. Menuju tempat dia berada, lantai dua depan tangga, toko roti yang ada kursi-kursi untuk ngopi.
Sosoknya mudah kutemukan, saat kali pertama tatapan, kami saling panggil nama dan melambaikan tangan. Lalu salaman dan tempel pipi kiri kanan. Hanya pada orang tertentu aku demikian. Serasa ketemu sahabat lama. Aku tidak merasa asing.
“Kamu trendy sekali, L” komentarnya terhadapku. Aku tidak menjawab apa-apa soal pakaianku. Biasanya kalau mau ke kampus UI aku memang pakai baju rapi. Sangat rapi. Celana jeans panjang hitam dan kemeja ungu yang kukancing rapi. Sepatu boot cokelat kesukaanku. Juga syal tebal warna hitam. Siang itu selain makan siang sama dia mall, aku rencana ke percetakan, lalu ke UI. Aku pakai baju sangat rapi juga karena untuk antisipasi, karena aku tidak tahu dia datang pakai kostum seperti apa. Ternyata dia pakai kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Hihihi. Mengingat riwayatnya yang unik aku nggak kaget dengan penampilannya, bahkan andaipun dia muncul di mall cuma pakai kaos singlet atau kain rasta, aku pun nggak kaget. Bhuahaha. Teringat saat masa kuliah di Jogja dulu, di area kampus bagian Timur, di area fakultas ilmu sosial terutama Sastra dan Filsafat, ada peringatan, “piyama dilarang masuk”. Saking kebangetan uniknya mahasiswa UGM kampus bagian Timur, mungkin sudah biasa ada mahasiswa pakai piyama beredar di kampus. Kalau di kampus bagian Barat, di area fakultas Sains dan Teknik, cukup ditulis “kaos oblong dilarang masuk”. Aku jadi mikir, mungkin dia saat mahasiswa termasuk yang pernah ke kampus pakai piyama. Ups, nuduh.
Di meja toko roti, dia menawarkan roti yang sedang dia makan. Juga, menawarkan minumannya. “Kamu juga boleh minum ini kalau kamu mau,” katanya. Aku suka peristiwa itu karena serasa bertemu kawan lama. Aku ambil sedikit rotinya. Aku tanya minuman yang dia pesan apa? Memastikan kalau minuman itu tidak mengandung wine. Kadang di luar sana orang mengganggapku Islam liberal dengan nada negatif, padahal minum wine setetes pun, aku tidak pernah.
Lalu dia cerita soal aktivitas dukungannya terhadap LGBT di Jogja yang mendapatkan semacam ancaman. Kami juga ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, termasuk soal buku. Aku senang dan bersyukur dalam percakapan itu, ngobrol langsung memang jauh lebih baik daripada komunikasi lewat tulisan. Kalau ingin menyanggah atau mendebat bisa lihat ekspresinya dan mendengar intonasinya langsung. Jadi bisa lebih mengerti maksudnya dan mengurangi salah paham.
Usai dari mall, kami ke percetakan Cano di Jl. Margonda. Benar-benar jalan kaki. Lumayan terik, aku tak masalah. Aku malah mengkhawatirkan dia yang capai karena baru menempuh perjalanan jauh. Sebelumnya dia menempuh perjalanan dari Jogja ke luar Jawa sekian hari, terus ke Jakarta, untuk kemudian ke Amerika. Padat jadwalnya. Tapi dia bilang gpp. Kami mampir ke warung Lele Lela, aku yang minta karena ingin beli teh Tarik dan air mineral. Sekalian aku shalat dhuhur.
Dari tas kain putih, dia mengeluarkan buku yang katanya isinya mengecewakan, tidak seperti yang dia harapkan, buku itu ditawarkan buatku. Kalau dia kecewa dengan buku itu kenapa dikasih aku, ini sih namanya memindahkan kekecewaan. Hehe. Tapi tak apa-apa, kalau baginya mengecewakan, bagiku belum tentu. Bagaimana pun aku berterima kasih buku berjudul “Ibn Rusyd” kini jadi milikku.
Selanjutnya kami ke percetakan untuk mengambil bukuku. Aku perlu menandatangi buku-buku karyaku sebelum wrapping. Tandatangan itu permintaan pembaca yang pesan. Sambil menunggu proses wrapping, aku dan dia makan di Mang Kabayan. Kami makan jamur dan kangkung. Dia mengambilkan nasi ke piringku.
Di meja yang luas dengan iringan musik Sunda yang halus, kami ngobrol banyak soal bukuku dan bukunya. Dia menilai tokoh di bukuku terlalu suci, tidak ada kisah bercinta di dalamnya. Menurutnya pembaca umumnya ingin lebih dari itu. Aku mempertahankan argumenku, memang ada nilai yang ingin kusampaikan di buku itu. Termasuk soal batasan dalam pacaran. Mohon pelan-pelan membaca paragraf ini. Di luar sana, penulis biasanya memotret cerita dari sisi ekstrem berlawanan, sisi pertama menyampaikan pacaran itu tegas dilarang, sisi ekstrem lainnya memotret tentang bercinta di luar pernikahan itu biasa. Aku memotret di sisi tengah bahwa punya pacar itu tak mengapa, asalkan tidak mendekati zina. Bagi dia, kisahku yang seperti itu menjadi datar. Tapi itulah potret yang ingin kusampaikan. Di sinilah keuntungan menerbitkan secara independen, kita bebas mengekspresikan nilai apapun tanpa terikat kemauan pasar.
Matahari terus merangkak, menjelang sore. Sepertinya tak cukup waktu ke UI karena aku punya agenda kursus menulis mulai pukul 7 malam. Menuju tempat kursus butuh minimal 2,5 jam.
Setelah makan dan ambil buku lagi, kami naik angkot ke Stasiun Universitas Pancasila. Lalu jalan lagi untuk mencari toko sepatu. Sejak di mall, dia memang sudah bilang akan beli sepatu di daerah ini. Dapat rekomendasi dari orang di mall. Kami hanya menemukan satu toko dan tidak menemukan sepatu yang cocok. Bagiku itu salah satu jalan-jalan yang berkesan. Panic Attacks-ku kadang kambuh kalau sedang jalan kaki jauh, saat itu juga muncul pada level rendah dan bisa teratasi dengan baik tanpa dia tahu. Bersamanya aku bisa ngobrol tanpa putus, fokus dengan isi obrolan dapat membantuku menekan kecemasan. Terakhir aku merasakan Panic Attack saat menapaki trotoar panjang di Kota Tyre, Libanon. Saat Panic Attacks menyerangku di tepi jalan, untungnya pas aku ganti ngobrol dengan teman dari Yaman. Teman yang saat itu bahasa Inggrisnya jelas di telingaku dan aku bisa fokus menyimak ceritanya tentang pergerakan di Timur Tengah. Jika kecemasanku naik, aku akan berhenti dan duduk sebentar. Kadang tanpa perlu memberitahu teman jalanku.
Kembali ke cerita awal. Kami ke Stasiun lagi naik kereta yang sama. Dia hendak turun di St Sudirman, ada janji dengan teman. Sedangkan aku menuju Kebayoran Lama untuk kursus menulis.
Di dalam kereta, di depan tempat duduk kami, seorang perempuan tertimpuk botol minuman dari tempat tas di dekat atap. Perempuan itu membenamkan kepala menahan sakit dan dua temannya menenangkannya. Lalu, penumpang berambut panjang itu membuka tasnya, kirain mau ambil minyak kayu putih atau semacamnya. Ternyata ambil kaca dan lipstik, lalu memakainya sambil jongkok. Kulihat teman lelakiku merekam mereka.🙂
Di dalam kereta kami ngobrol soal beasiswa sekolah, aku agak pusing lihat kerumunan. Kami sempat selfie sebelum dia turun. Lalu saatnya kami harus berpisah. “Kamu hati-hati di Amerika ya,” bisikku dalam salam perpisahan. Aku ingin ngobrol lebih lama, tapi waktu tidak memungkinkan, dia harus turun. Saat dia mencapai pintu kereta, kujulurkan tanganku, dia meraih tanganku sampai akhirnya dia benar-benar turun. Sudah kayak adegan film India saja. Ha-ha. Harap maklum, kami berdua (mantan) aktor.
Kuberharap kami kelak berjumpa lagi. Namun, dia baru saja berangkat ke benua lain dan entah kapan akan kembali. Akan kukirimkan DOA kebaikan untuknya meskipun dia (mungkin) tak percaya pada kekuatan doa.
Depok, 4 April 2016

Leave a comment

Filed under Conservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s