Monthly Archives: January 2017

Million Years Ago

Sudah hari ke-17 di bulan Januari. Detik bergulir cepat sekali. Lagu di komputerku masih sama sejak tanggal pertama, “Million Years Ago”. Lagu ini digubah dan dinyanyikan oleh Adele. Namun, konon sangat mirip dengan lagunya Ahmet Kaya yang berjudul Acilara Tutunmak, penyanyi dari Turki. Ahmet menciptakan lagu ini jauh lebih duluan. Jadi, Adele dianggap plagiat. Mau googling kapan tahun pastinya lagu Ahmet diciptakan kok malas. Haha.

Aku tahu lagu ini berawal dari percakapan dengan seseorang di Turki. Lalu, ini menjadi lagu kebangsaanku di bulan ini. :p

Ini versi Ahmet Kaya:

Ini versi Acoustic cover oleh Emir

Ini versi Violin Cover. Awas lirikan masnya! Haha.

Ini liriknya:

I only wanted to have fun
Learning to fly…
Learning to run…
I let my heart decide the way
When I was young…
Deep down I must have always known
That is would be inevitable
To earn my stripes I’d have to pay!
And bear my soul

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who can’t stand the reflection that they see
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor

I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother; I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago
When I walk around all of the streets
Where I grew up and found my feet
They can’t look me in the eye
It’s like they’re scared of me
I try to think of things to say
Like a joke or a memory
But they don’t recognize me now
In the light of day…

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who never became who they thought they’d be
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother, I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago

A million years ago!

Leave a comment

Filed under Conservation

Berteman Saja

Sekian waktu lalu seorang temanku D (perempuan), menghubungiku lewat Messenger. Dia ngajak menggosip. Eh. Maksudku cerita nggambleh ini itu. Mempererat pertemanan.

Kami seumuran dan sama-sama belum menikah. Obrolan tak lepas dari soal pernikahan. D sudah punya pacar dan sedang dalam persiapan pernikahan. Sedangkan aku? Masih sama seperti tahun lalu, jomblo. Hiks. Haha. Tapi kusampaikan pada temanku, “aku rencana nikah tahun ini (2017). Tapi mbuh karo sopo.” 😀

“Nek semeleh mbuh kr sapa ki biasanya mak bedunduk mencungul dewe,” respon D. Amiin.

“Tenang aja Lel. Tar ga diduga pasti muncul orangnya. Siapa dia? A****. Ehhhh.” lanjut D menyebut sebuah nama. D ini suka meledekku agar berjodoh sama A. Ini bercanda saja karena dia tahu kalalu aku dan A selalu bertengkar dan sering salah paham. Kalau sampai kelak aku akhirnya menikah dengan A, D adalah orang pertama yang akan ngakak dan memberi selamat sekeras mungkin. Hihi.

A itu memang temanku, bagiku teman kesayangan, tapi bukan untuk dijadikan calon suami. Cara pandang dan ideologi kami banyak bertentangan. Ini bisa merepotkan di masa mendatang.

Contoh saja. Kalau kelak punya anak, aku akan mengajari anak-anakku salat, sedangkan A tidak. Kenapa tidak? Karena bagi A salat tidak ada gunanya.

Aku tahu gunanya salat itu untuk berdialog dengan Tuhan dan menenangkan diri. Juga untuk menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar.

Lalu A akan membantah, apakah berdialog dengan Tuhan harus dengan salat? Apakah menenangkan diri harus dengan salat? Kujawab tidak harus. Kalau dijawab “harus”, akan ditanya lagi kenapa harus. Gitu terus sampai kiamat.

Selanjutnya akan didebat apakah salat pasti menjauhkan dari perbuatan keji? Kenapa ada orang salat tapi tetap berbuat keji? Gitu terus sampai bumi bulat berubah jadi datar. Eh.

A itu sebenarnya sosok yang baik, kritis, banyak tanya, cuma aku juga bisa lelah dengan pertanyaan-pertanyaannya. Belakangan perdebatan kami sudah semakin mereda. Pertanyaan-pertanyaan teologis begitu bagiku sudah selesai. Bagi A sepertinya dia belum selesai.

Meski begitu, aku patut berterima kasih atas kehadiran A dalam perjalananku. Bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hariku dengan semangat tertentu, dengan perdebatan, diskusi, curhat, dan berbagi. Semoga pertemanan aku dan A selalu terjaga baik seterusnya. Amiin. ❤

Depok, 17 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Cari Pasangan Haruskah Seagama?

Sekian waktu lalu seorang teman bertanya apakah aku membuka kemungkinan menikah beda agama? Ini pertanyaan menarik.

Pada dasarnya selama ini dalam memilih jodoh aku tidak membatasi harus sesama muslim. Sebagai muslim, aku menganut tafsir boleh menikah beda agama. Dalam Islam memang ada perbedaan penafsiran terkait boleh tidaknya menikah beda agama. Ada ulama yang berpendapat tidak boleh menikah beda agama, mutlak harus sesama muslim. Ada pendapat yang membolehkan dengan syarat perempuannya ahli kitab, misal si perempuan Katholik taat. Dan, ada yang membolehkan menikah beda agama, meskipun si lelakinya nonmuslim. Ketiganya memiliki dasar syariat masing-masing. Aku tidak ingin berdebat soal itu.

Aku pribadi membuka hati untuk siapapun yang bisa saling jatuh cinta tanpa membatasi agamanya. Bahkan, untuk yang tidak beragama, atheis, agnostik, atau bahkan Deis.

Aku pernah membuka hati pada seorang lelaki beda agama, seorang protestan. Konsekuensinya, ada nilai-nilai yang harus disampaikan apakah bisa mencapai kesepakatan yang sama. Misal, seandainya kami menikah, tidak ada masakan babi dan wine di rumah, apakah dia bersedia? Seandainya dalam sebuah perjalanan bersama, aku akan sering meminta berhenti untuk salat, apakah dia bisa memahami tanpa keberatan? Saatnya berpuasa Ramadhan atau sunnah, apakah dia bisa sepenuhnya mendukung? Intinya apakah dia bisa menerima segala hal caraku beragama? Sepertinya dia bisa menerima. Begitu juga aku bisa menerima caranya menjalankan agamanya.

Tapi hubungan kami tidak bisa lanjut karena ada nilai-nilai dasar yang tidak ketemu. Soal itu, aku tidak bisa membaginya di sini. Yang jelas bukan karena agamanya beda denganku. Kami jauh lebih baik bersahabat saja. Itu kami sadari bersama. Jadi, perpisahan itu kami terima dengan lapang dada. 🙂

Aku juga pernah coba membuka hati pada orang yang tak beragama. Tadinya dia muslim. Dia memiliki poin kebaikan di mataku karena sensitif terhadap penderitaan orang lain dan dia juga berprestasi. Dan tentu saja baik padaku. Tapi, ada prinsip-prinsip hidupnya yang aku tidak sepaham, tidak bisa kusebutkan di sini. Selain itu, aku tidak bisa menerima dia yang di mataku kurang matang dalam mengkritik Islam dan mengkritik orang beriman. Ia mungkin mengalami kekecewaan terhadap perilaku orang-orang beriman. Aku juga sebenarnya banyak kecewa dengan muslim bigot. Tapi aku tak kehilangan kepercayaan pada indahnya pesan-pesan mulia dalam Islam.

Dia memang menghargai aku yang salat, puasa, percaya Alquran, dll. Tapi di sisi lain, dia menganggap bodoh orang yang mempercayai Nabi Muhammad, Yesus, Quran, Injil, dll. Intinya dia menganggap bodoh orang beriman. Aku melihat ini bisa menjadi masalah besar nantinya. Tapi mungkin seiring waktu ia terus belajar, ia akan makin matang dalam mengekspresikan kritikannya pada orang beriman. Aku tidak berharap dia menjadi beriman, tak beragama pun tak apa-apa.

Agama memang salah satu jalan orang mencari sumber kebaikan. Tapi untuk menjadi orang baik, menurutku orang tidak harus menganut agama. Banyak orang di luar sana tak beragama mampu menghayati semesta dengan baik, bisa bermanfaat untuk sesama. Nilai-nilai moral bisa digali dengan nurani, rasa, dan pikiran rasional. Tidak melalu dari agama.

Kalau kemudian aku tak lagi membuka hati untuknya karena ada cara pandang prinsipil yang sangat berbeda. Intinya bukan karena dia tak menganut beragama, tapi cara pandangnya terhadap nilai-nilai tertentu yang menurutku bikin nggak nyaman. Oh ya, yang dimaksud membuka hati tidak berarti pacaran, tetapi proses mengenal lebih dalam.

Tapi bagiku pribadi, agama sangat penting untuk diriku sendiri, juga penting untuk anakku kelak. Aku sudah merasakan langsung kebaikan nilai-nilai agama. Yang membuatku lebih bernyawa dalam memaknai hidup.

Pada akhirnya, aku berpendapat bahwa aku akan memilih pasangan yang bisa menghargai cara pandangku, prinsip hidupku, dan caraku beragama. Begitu juga sebaliknya. Memilih pasangan sesama muslim, menurutku lebih baik. Tapi, tetap ada catatan muslim yang seperti apa.

Aku tidak suka muslim fanatik. Tidak suka muslim yang suka kepedean menceramahi dan menasehati orang atas agama. Tidak suka muslim yang suka menuding kelompok lain sesat, fasik, dan kafir. Tidak suka muslim yang beragama secara dangkal.

Aku suka muslim yang berpikiran terbuka, progresif, dan memegang prinsip-prinsip kebaikan dan kemanusiaan. Intinya mencari pasangan yang bisa saling nyaman menjalani hidup bersama. Dan, keuntungan lain memilih pasangan sesama muslim adalah dia akan lebih mudah diterima di keluarga besarku. 🙂

Oh ya, aku pernah menulis di catatan Facebook soal apakah ada kemungkinan menikah beda agama. Seandainya di dunia ini hanya tersisa dua lelaki single, yaitu Choky Sitohang yang Kristiani dan Ustad Solmed yang Muslim, aku memilih menikah dengan Choky. Hihi. Tapi nggak mungkin kan di dunia ini tinggal tersisa dua lelaki saja?

Demikian pandanganku tentang memilih pasangan kaitannya dengan agama. 🙂

Depok, 12 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Energi Baru

Belakangan kurasakan energi baru, dari teman yang kukenal di Facebook. Ini energi nyata. Dunia maya kini bagian dari dunia nyata sebab kita berbagi kenyataan di sana.

Berteman dengannya di Facebook sudah sekian tahun, tapi entah kenapa baru kusadari kehadirannya belakangan. Mungkin karena selama ini postingannya jarang muncul di beranda, jadi kami seperti baru kenal saja. Meski begitu, dia tak benar-benar asing bagiku. Banyak temannya temanku juga. Lingkarannya lingkaranku juga. Jadi, lebih mudah untuk saling membuka diri.

Bermula dari sekian potong percapakan, mengantarkan aku pada ruang-ruang buah pikirannya. Membaca perjalanan, catatan, dan karyanya memang inspiratif. Dia sungguh-sungguh dalam menekuni literasi. Kemudian dari situ dia meraih pencapaian-pencapain sangat berharga. Ini membangunkan kesadaranku agar sungguh-sungguh lebih menekuni hal-hal yang kusuka. Aku belakangan merasa sedang berjalan lambat, bahkan kadang berasa berjalan di tempat. Aku bukannya tak mampu lagi melaju, tapi aku sedang terbelenggu kemalasanku. Maka kedatangan energi baru bagiku itu sesuatu. Ini berarti membaharui.

Selain itu, secara ideologi, dia seorang muslim progresif dan berpikiran terbuka. Cocoklah dengan ideologiku. Yuhu! Energi ini akan bertumbuh lagi menjadi apa, aku tidak tahu pasti. Aku senang sekaligus khawatir. Senang karena energi ini menghidupkan harapan, khawatir karena aku bisa jatuh hati lalu berakhir patah lagi. Eh, kejauhan ya mikirnya.

Kutuliskan pikiranku di sini sebagai caraku menghargai bahwa kehadiran energi kebaikan sekecil apapun itu sungguh berarti.

Depok, 12 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Perpisahan di Bandara Beirut

Sekian bulan belakangan jarang nulis di sini, aku lebih banyak curhat di Facebook. Menulis apa yang kita alami, pikirkan, dan rasakan membantu mengabadikan kenangan dan mengubah energi negatif menjadi positif. Karena itu rencanaku ke depan akan lebih sering hadir mengisi halaman ini.

Abadikan Kenangan

Di sini dan di Facebook tentu berbeda, salah satunya di sini tidak banyak yang berkomentar. Bukan berarti aku tak suka dikomentari, hanya saja kadang aku ingin lebih sunyi.

Saat membuka kembali tulisan masa lalu, kurasa aku perlu berterima kasih pada diri sendiri yang telah mengikat kenangan, jika hanya disimpan dalam pikiran kelak satu persatu akan retak. Di sisi lain, juga menertawai kekonyolan-kekonyolan caraku mengekpresikan pikiran.

Barusan aku membuka tulisan tahun lalu di fitur “Note” di Facebook. Curhatku yang pernah naksir salah satu teman di program Libanon. Ya ampun, ingat itu antara haru, lucu, dan (agak) malu. 🙂 Tapi, aku hargai perjalanan sejarahku sendiri. Aku menghargai perasaan-perasaanku yang pernah hadir untuk siapapun. Juga, perasaan-perasaan mereka yang pernah hadir untukku.

Saat menengok hatiku kali ini, aku sudah tak naksir dia lagi. Kok bisa perasaan itu menghilang? Aku yang mematikannya sendiri. Aku tidak menghidupkan perasaanku padanya lagi karena aku tahu itu seperti angan yang kejauhan. Aku mungkin cuma kagum dan naksir, tapi tak ingin memiliki. Tepatnya, tak sanggup memiliki. Aku dan dia jauh terpisah sekian samudera. Lagipula, selama ini dia tak tahu isi hatiku. Haha. Jika boleh berangan, aku ingin menikah dengan orang Indonesia saja. Dan, yang lebih mendasar adalah  kehidupan yang bahagia dan bisa dekat dengan keluarga. Syalalalah. 😀

Aku percaya setiap kehadiran adalah pertanda dari alam agar mengambil pelajaran. Perkenalanku dengan teman-teman lelaki dari Timur Tengah setidaknya mengubah persepsiku tentang lelaki Arab. Yang kutemui jauh lebih baik dari yang kusangka sebelumnya.

Meskipun ada satu orang yang menurutku centil (pernah menggodaku hingga bikin nggak nyaman–tak akan kusebut nama), tapi selebihnya tidak begitu. Aku bisa merasakan kebaikan yang tulus dari kebanyakan mereka, berasa seperti saudara.

Salah satu lelaki tulus itu adalah seorang teman dari Kuwait. Saat kali pertama lihat foto di kelas online, wajahnya terkesan kurang bersahabat. Tapi saat ketemu langsung, aura kebaikan dan ketulusan terpancar. Dia juga jauh lebih ganteng dari fotonya. Kuingat dia yang salatnya paling tepat waktu. Dengan senang hati dia membagi catatan bahasa Inggrisnya denganku. Sedangkan teman lain mencatat dalam bahasa Arab. Dari kebaikannya saat itu entah kenapa aku menilai inilah keindahan Islam.

Dia bukan orang yang kutaksir. Aku menganggapnya seperti saudara. Aku ingat percakapan kami saat mau naik bus ketika tour ke Tyre. Dia cerita pernah ke Jakarta dan suatu saat akan berkunjung ke Jakarta lagi.
“Of course I will come to Jakarta again. Now, I have family in Jakarta,” kata dia berbalut senyum.
“Oh good, you have family in Jakarta,” responku bernada senang juga.
“You. I mean, now we are family,” jawabnya sambil tertawa. Aaah iya kita kan saudara. Saat itu seingatku usai makan siang di Saida.

Saatnya pulang, dari hotel Alhamra ke bandara Alhariri di Beirut aku satu taksi dengan Sana, perempuan berdarah Mesir. Sana selama ini tinggal di Amerika untuk studi, tapi kali ini balik ke Uni Emirat Arab (UEA) ke rumah saudara. Saat menunggu di Bandara Beirut, di belakang kami muncul Badr, lelaki kece dari Kuwait tadi.

Mas Kuwait menawari kami berdua ke kafe dulu, dia bilang akan nraktir. Aku nggak bisa karena aku khawatir ketinggalan pesawat, aku ingin segera boarding. Aku khawatir karena sebelumnya di bandara aku diperiksa lebih lama dari penumpang lainnya. Sebab wajahku bukan Arab. Hiks.

Sana satu pesawat denganku ke Dubai, sedangkan Mas Kuwait beda jam penerbangan. Mbak Mesir meyakinkan aku kalau pesawat masih lama meskipun boarding sudah dibuka. Tapi aku tetap khawatir, aku nggak mau ingin ada masalah di negara orang, ingin cepat-cepat melewati pemeriksaan keamanan bandara dengan tenang. Akhirnya Mbak Mesir mengikutiku dan kami terpaksa nggak jadi nongkrong di kafe bareng Mas Kuwait. Ternyata tidak ada pemeriksaan tambahan buatku. Aku jadi merasa bersalah sama Sana karena kami menunggu lama di ruang tunggu boarding. Aku meminta maaf padanya, dia bilang tak mengapa.

Oh ya, sebelum masuk pintu boarding, saat mau berpisah, kami tempel pipi kanan kiri dan peluk persahabatan dengan Mas Kuwait. Lalu kami selfie bertiga sebelum benar-benar berpisah. Di situlah rasa persaudaraan (sesama muslim) begitu terasa. Entah kapan lagi bisa bertemu. Mas Kuwait terbang ke Amerika untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Harvard. Mbak Mesir ke UEA ke rumah kerabatnya. Sedangkan aku kembali ke tanah air.

Berinteraksi dengan mereka banyak kisah-kisah kecil yang terekam di ingatan merasakan indahnya persaudaraan dalam Islam. Mereka anak-anak muda Muda yang berpikir liberal dan memperjuangkan perdamaian masyarakat dan dunia. Dalam satu dua hal kami memang berbeda pendapat, tapi secara keseluruhan niat kami sama, membangun perdamaian dan melawan ektremis kekerasan. Dari 30 peserta, muslim dari berbagai madzab dan 3 nonmuslim. Kami semua belajar memahami kembali teks Alquran dan hadits untuk dasar membangun perdamaian. Di balik carut marut wajah Islam, aku senantiasa percaya bahwa Islam yang sejati adalah yang membawa rahmat atau kasih sayang untuk semua umat manusia.

Merekatkan kenangan satu tahun lalu.
Depok, 11 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace, Lifestyle

2017 Ingin Menikah

Ini barangkali sangat personal. Tapi tidak apa-apa kubagi di tempat terbuka ini. Barangkali ada yang senasib denganku. Kamu tak sendiri.

Sudah tak terhitung lagi orang bertanya kapan aku akan menikah. Usiaku memang sudah kelewatan sih. Maksudnya? Sudah lewat 30. Andai pertanyaan itu bisa kupecahkan pakai persamaan matematika, sudah bisa kujawab secara akurat. Aku suka Matematika! Haha.

Sudah lewat usia 30 kok belum menikah juga. Kenapa? Yang pasti karena belum menemukan seseorang yang tepat. Aku TIDAK trauma lantaran cinta. Tidak sama sekali. Aku jatuh cinta berulangkali dan patah hati berulangkali. Dan, tidak kapok berharap jatuh cinta lagi untuk kemudian ingin menjalani sebuah pernikahan dengan bahagia, senantiasa dan selamanya. Syalalalah.

Mungkin Allah akan memberiku amanah menikah tepat ketika aku sudah siap punya anak. Jiwa manusia itu kompleks, apalagi ketika dibedah dari pribadi ke pribadi. Secara teori, manusia secara umum ingin melanjutkan keturunan. Namun, tidak setiap manusia mempunyai keinginan yang sama. Aku juga ingin punya keturunan, tapi tidak ingin cepat-cepat. Seandainya aku dulu menikah di usia 27, belum tentu aku siap langsung punya anak. Secara fisik barangkali siap. Secara psikis belum tentu.

Melahirkan anak adalah tanggungjawab besar untuk mendidik, menghidupi, dan memastikan keselamatan dan kebahagiaannya. Seringkali aku berpikir keras, apakah kelak ketika menjadi ibu, aku sanggup menjadi ibu yang baik? Aku memiliki Panic Attack (Anxiety Disorder) yang sejak sekian tahun belakangan kulawan dengan berbagai cara.

Aku bisa memahami adanya para ibu yang mengidap Baby Blues. Mereka usai melahirkan takut berlebihan tak sanggup merawat, takut menyakiti bayi sendiri, dan seperti tidak terkoneksi dengan si buah hati. Jangan salahkan mereka karena itu ada faktor kerja hormonal yang berpengaruh. Aku pernah dalam fase takut membayangkan kelak punya bayi. Takut menyakiti, takut tak sanggup membersamai. Mungkin seperti yang dirasakan para ibu yang terkena Baby Blues. Padahal, aku belum juga nikah. Hihi. Dan, seandainya punya suami bagaimana caranya menyampaikan menunda momongan. Itu pernah berputar-putar di kepalaku.

Seiring waktu kecemasan itu berangsur hilang. Alhamdulillah. Kalau dalam agama disebutkan bahwa manusia akan sedikit diuji dengan berbagai hal seperti ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, barangkali ini ujianku dalam bentuk ketakutan. Ketakutan itu ada dalam pikiran, tapi itu nyata kurasakan.

Islam membawa kabar gembira untuk manusia agar ketika diuji, melewatinya dengan salat dan sabar. Aku tidak bisa menilai sendiri apakah aku telah melewati ini semua dengan sabar? Aku pernah dalam fase terkena Panic Attack yang sangat mengganggu dan merasakan karunia paling berharga dalam hidupku adalah bisa sembuh dari ini. Kini menurutku alhamdulillah telah bisa mengatasi.

Hikmahnya adalah aku menjadi lebih menghargai keberanian-keberanian diri hingga level terkecil. Keberanian sendiri pergi ke luar kota misalnya. Bepergian sendirian bagi kebanyakan orang mungkin hal yang sangat biasa saja. Namun, bagi pengidap Panic Attack sepertiku, bisa menempuhnya adalah pencapaian luar biasa. Jangankan keluar kota, sanggup keluar pergi ke warung dekat rumah saja, itu bagiku karunia. Karena ketika Panic Attack menyerang, aku merasa tidak sanggup kemana-mana. Melawan kecemasan yang bersarang di pikiran seperti melawan monster jahat. Aku kalau mau pergi jauh sendirian kadang-kadang demam dulu. Ini sepertinya respon tubuh terhadap kecemasan yang timbul.

Hei, tapi aku sanggup bepergian sendirian ke Lebanon akhir 2015. Ini seperti mimpi sekaligus bukti bahwa tekad yang kuat sanggup melawan hambatan apapun. Tapi, sebelum berangkat aku demam 10 hari. Ups! Bolak balik ke dokter, cek darah alhamdulillah tak ada penyakit gawat, tapi tetap demam. Aku sampai nyari asuransi kesehatan khusus untuk Lebanon. Karena Lebanon termasuk wilayah rawan konflik, tidak ada asuransi Indonesia yang menyediakan. Atau, aku yang nggak nemu? Sudah cari-cari sana sini dengan berbagai bantuan, tak kutemukan. Akhirnya kusampaikan ke lembaga pemberi beasiswa di Beirut kalau aku butuh asuransi kesehatan selama di sana. Mereka meminta surat keterangan dari dokter dan hasil tes laboratorium. Tidak ada sakit spesifik, “hanya” sel darah putihku sedang turun drastis karena radang tenggorokan. Itulah kenapa aku demam.  Sebelumnya lembaga tidak menyediakan asuransi, tapi karena kasusku ini akhirnya mereka memberikan asuransi kesehatan kepada semua peserta. Syukurlah. Saat mau pergi sendirian ke Aceh, aku juga demam. Pfff! Aku tak sanggup menempuh perjalanan hidup ini sendirian. Huohuohuo.

Kalau sekarang, aku jauh sudah siap. Siap bepergian, siap menikah, dan siap punya anak. Meskipun aku juga sadar bahwa amanah anak adalah kuasa Tuhan. Biarpun seseorang sudah siap belum tentu Tuhan memberi segera. Tapi setidaknya kesiapanku ini adalah pencapaian positif yang kumiliki. Selamat tinggal Panic Attack, tugasmu mengujiku sudah tunai, pergilah selamanya, mohon dengan sangat jangan kembali.

Itu saja dulu. Aku telah berpanjang lebar, padahal sejatinya aku cuma sedang mengetuk pintu Tuhan agar jodohku datang. Seorang yang tepat dan terbaik untukku. Seorang yang membawa ketentraman, yang selalu menyatu denganku, dan penuh kasih sayang. Senantiasa dan selamanya. Pun semoga aku demikian untuknya. Amiin.

Selamat tahun baru.

Dari Jomblo Bahagia. :p

Depok, 2 Januari 2017

2 Comments

Filed under Conservation