2017 Ingin Menikah

Ini barangkali sangat personal. Tapi tidak apa-apa kubagi di tempat terbuka ini. Barangkali ada yang senasib denganku. Kamu tak sendiri.

Sudah tak terhitung lagi orang bertanya kapan aku akan menikah. Usiaku memang sudah kelewatan sih. Maksudnya? Sudah lewat 30. Andai pertanyaan itu bisa kupecahkan pakai persamaan matematika, sudah bisa kujawab secara akurat. Aku suka Matematika! Haha.

Sudah lewat usia 30 kok belum menikah juga. Kenapa? Yang pasti karena belum menemukan seseorang yang tepat. Aku TIDAK trauma lantaran cinta. Tidak sama sekali. Aku jatuh cinta berulangkali dan patah hati berulangkali. Dan, tidak kapok berharap jatuh cinta lagi untuk kemudian ingin menjalani sebuah pernikahan dengan bahagia, senantiasa dan selamanya. Syalalalah.

Mungkin Allah akan memberiku amanah menikah tepat ketika aku sudah siap punya anak. Jiwa manusia itu kompleks, apalagi ketika dibedah dari pribadi ke pribadi. Secara teori, manusia secara umum ingin melanjutkan keturunan. Namun, tidak setiap manusia mempunyai keinginan yang sama. Aku juga ingin punya keturunan, tapi tidak ingin cepat-cepat. Seandainya aku dulu menikah di usia 27, belum tentu aku siap langsung punya anak. Secara fisik barangkali siap. Secara psikis belum tentu.

Melahirkan anak adalah tanggungjawab besar untuk mendidik, menghidupi, dan memastikan keselamatan dan kebahagiaannya. Seringkali aku berpikir keras, apakah kelak ketika menjadi ibu, aku sanggup menjadi ibu yang baik? Aku memiliki Panic Attack (Anxiety Disorder) yang sejak sekian tahun belakangan kulawan dengan berbagai cara.

Aku bisa memahami adanya para ibu yang mengidap Baby Blues. Mereka usai melahirkan takut berlebihan tak sanggup merawat, takut menyakiti bayi sendiri, dan seperti tidak terkoneksi dengan si buah hati. Jangan salahkan mereka karena itu ada faktor kerja hormonal yang berpengaruh. Aku pernah dalam fase takut membayangkan kelak punya bayi. Takut menyakiti, takut tak sanggup membersamai. Mungkin seperti yang dirasakan para ibu yang terkena Baby Blues. Padahal, aku belum juga nikah. Hihi. Dan, seandainya punya suami bagaimana caranya menyampaikan menunda momongan. Itu pernah berputar-putar di kepalaku.

Seiring waktu kecemasan itu berangsur hilang. Alhamdulillah. Kalau dalam agama disebutkan bahwa manusia akan sedikit diuji dengan berbagai hal seperti ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, barangkali ini ujianku dalam bentuk ketakutan. Ketakutan itu ada dalam pikiran, tapi itu nyata kurasakan.

Islam membawa kabar gembira untuk manusia agar ketika diuji, melewatinya dengan salat dan sabar. Aku tidak bisa menilai sendiri apakah aku telah melewati ini semua dengan sabar? Aku pernah dalam fase terkena Panic Attack yang sangat mengganggu dan merasakan karunia paling berharga dalam hidupku adalah bisa sembuh dari ini. Kini menurutku alhamdulillah telah bisa mengatasi.

Hikmahnya adalah aku menjadi lebih menghargai keberanian-keberanian diri hingga level terkecil. Keberanian sendiri pergi ke luar kota misalnya. Bepergian sendirian bagi kebanyakan orang mungkin hal yang sangat biasa saja. Namun, bagi pengidap Panic Attack sepertiku, bisa menempuhnya adalah pencapaian luar biasa. Jangankan keluar kota, sanggup keluar pergi ke warung dekat rumah saja, itu bagiku karunia. Karena ketika Panic Attack menyerang, aku merasa tidak sanggup kemana-mana. Melawan kecemasan yang bersarang di pikiran seperti melawan monster jahat. Aku kalau mau pergi jauh sendirian kadang-kadang demam dulu. Ini sepertinya respon tubuh terhadap kecemasan yang timbul.

Hei, tapi aku sanggup bepergian sendirian ke Lebanon akhir 2015. Ini seperti mimpi sekaligus bukti bahwa tekad yang kuat sanggup melawan hambatan apapun. Tapi, sebelum berangkat aku demam 10 hari. Ups! Bolak balik ke dokter, cek darah alhamdulillah tak ada penyakit gawat, tapi tetap demam. Aku sampai nyari asuransi kesehatan khusus untuk Lebanon. Karena Lebanon termasuk wilayah rawan konflik, tidak ada asuransi Indonesia yang menyediakan. Atau, aku yang nggak nemu? Sudah cari-cari sana sini dengan berbagai bantuan, tak kutemukan. Akhirnya kusampaikan ke lembaga pemberi beasiswa di Beirut kalau aku butuh asuransi kesehatan selama di sana. Mereka meminta surat keterangan dari dokter dan hasil tes laboratorium. Tidak ada sakit spesifik, “hanya” sel darah putihku sedang turun drastis karena radang tenggorokan. Itulah kenapa aku demam.  Sebelumnya lembaga tidak menyediakan asuransi, tapi karena kasusku ini akhirnya mereka memberikan asuransi kesehatan kepada semua peserta. Syukurlah. Saat mau pergi sendirian ke Aceh, aku juga demam. Pfff! Aku tak sanggup menempuh perjalanan hidup ini sendirian. Huohuohuo.

Kalau sekarang, aku jauh sudah siap. Siap bepergian, siap menikah, dan siap punya anak. Meskipun aku juga sadar bahwa amanah anak adalah kuasa Tuhan. Biarpun seseorang sudah siap belum tentu Tuhan memberi segera. Tapi setidaknya kesiapanku ini adalah pencapaian positif yang kumiliki. Selamat tinggal Panic Attack, tugasmu mengujiku sudah tunai, pergilah selamanya, mohon dengan sangat jangan kembali.

Itu saja dulu. Aku telah berpanjang lebar, padahal sejatinya aku cuma sedang mengetuk pintu Tuhan agar jodohku datang. Seorang yang tepat dan terbaik untukku. Seorang yang membawa ketentraman, yang selalu menyatu denganku, dan penuh kasih sayang. Senantiasa dan selamanya. Pun semoga aku demikian untuknya. Amiin.

Selamat tahun baru.

Dari Jomblo Bahagia. :p

Depok, 2 Januari 2017

Advertisements

2 Comments

Filed under Conservation

2 responses to “2017 Ingin Menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s