Cari Pasangan Haruskah Seagama?

Sekian waktu lalu seorang teman bertanya apakah aku membuka kemungkinan menikah beda agama? Ini pertanyaan menarik.

Pada dasarnya selama ini dalam memilih jodoh aku tidak membatasi harus sesama muslim. Sebagai muslim, aku menganut tafsir boleh menikah beda agama. Dalam Islam memang ada perbedaan penafsiran terkait boleh tidaknya menikah beda agama. Ada ulama yang berpendapat tidak boleh menikah beda agama, mutlak harus sesama muslim. Ada pendapat yang membolehkan dengan syarat perempuannya ahli kitab, misal si perempuan Katholik taat. Dan, ada yang membolehkan menikah beda agama, meskipun si lelakinya nonmuslim. Ketiganya memiliki dasar syariat masing-masing. Aku tidak ingin berdebat soal itu.

Aku pribadi membuka hati untuk siapapun yang bisa saling jatuh cinta tanpa membatasi agamanya. Bahkan, untuk yang tidak beragama, atheis, agnostik, atau bahkan Deis.

Aku pernah membuka hati pada seorang lelaki beda agama, seorang protestan. Konsekuensinya, ada nilai-nilai yang harus disampaikan apakah bisa mencapai kesepakatan yang sama. Misal, seandainya kami menikah, tidak ada masakan babi dan wine di rumah, apakah dia bersedia? Seandainya dalam sebuah perjalanan bersama, aku akan sering meminta berhenti untuk salat, apakah dia bisa memahami tanpa keberatan? Saatnya berpuasa Ramadhan atau sunnah, apakah dia bisa sepenuhnya mendukung? Intinya apakah dia bisa menerima segala hal caraku beragama? Sepertinya dia bisa menerima. Begitu juga aku bisa menerima caranya menjalankan agamanya.

Tapi hubungan kami tidak bisa lanjut karena ada nilai-nilai dasar yang tidak ketemu. Soal itu, aku tidak bisa membaginya di sini. Yang jelas bukan karena agamanya beda denganku. Kami jauh lebih baik bersahabat saja. Itu kami sadari bersama. Jadi, perpisahan itu kami terima dengan lapang dada. 🙂

Aku juga pernah coba membuka hati pada orang yang tak beragama. Tadinya dia muslim. Dia memiliki poin kebaikan di mataku karena sensitif terhadap penderitaan orang lain dan dia juga berprestasi. Dan tentu saja baik padaku. Tapi, ada prinsip-prinsip hidupnya yang aku tidak sepaham, tidak bisa kusebutkan di sini. Selain itu, aku tidak bisa menerima dia yang di mataku kurang matang dalam mengkritik Islam dan mengkritik orang beriman. Ia mungkin mengalami kekecewaan terhadap perilaku orang-orang beriman. Aku juga sebenarnya banyak kecewa dengan muslim bigot. Tapi aku tak kehilangan kepercayaan pada indahnya pesan-pesan mulia dalam Islam.

Dia memang menghargai aku yang salat, puasa, percaya Alquran, dll. Tapi di sisi lain, dia menganggap bodoh orang yang mempercayai Nabi Muhammad, Yesus, Quran, Injil, dll. Intinya dia menganggap bodoh orang beriman. Aku melihat ini bisa menjadi masalah besar nantinya. Tapi mungkin seiring waktu ia terus belajar, ia akan makin matang dalam mengekspresikan kritikannya pada orang beriman. Aku tidak berharap dia menjadi beriman, tak beragama pun tak apa-apa.

Agama memang salah satu jalan orang mencari sumber kebaikan. Tapi untuk menjadi orang baik, menurutku orang tidak harus menganut agama. Banyak orang di luar sana tak beragama mampu menghayati semesta dengan baik, bisa bermanfaat untuk sesama. Nilai-nilai moral bisa digali dengan nurani, rasa, dan pikiran rasional. Tidak melalu dari agama.

Kalau kemudian aku tak lagi membuka hati untuknya karena ada cara pandang prinsipil yang sangat berbeda. Intinya bukan karena dia tak menganut beragama, tapi cara pandangnya terhadap nilai-nilai tertentu yang menurutku bikin nggak nyaman. Oh ya, yang dimaksud membuka hati tidak berarti pacaran, tetapi proses mengenal lebih dalam.

Tapi bagiku pribadi, agama sangat penting untuk diriku sendiri, juga penting untuk anakku kelak. Aku sudah merasakan langsung kebaikan nilai-nilai agama. Yang membuatku lebih bernyawa dalam memaknai hidup.

Pada akhirnya, aku berpendapat bahwa aku akan memilih pasangan yang bisa menghargai cara pandangku, prinsip hidupku, dan caraku beragama. Begitu juga sebaliknya. Memilih pasangan sesama muslim, menurutku lebih baik. Tapi, tetap ada catatan muslim yang seperti apa.

Aku tidak suka muslim fanatik. Tidak suka muslim yang suka kepedean menceramahi dan menasehati orang atas agama. Tidak suka muslim yang suka menuding kelompok lain sesat, fasik, dan kafir. Tidak suka muslim yang beragama secara dangkal.

Aku suka muslim yang berpikiran terbuka, progresif, dan memegang prinsip-prinsip kebaikan dan kemanusiaan. Intinya mencari pasangan yang bisa saling nyaman menjalani hidup bersama. Dan, keuntungan lain memilih pasangan sesama muslim adalah dia akan lebih mudah diterima di keluarga besarku. 🙂

Oh ya, aku pernah menulis di catatan Facebook soal apakah ada kemungkinan menikah beda agama. Seandainya di dunia ini hanya tersisa dua lelaki single, yaitu Choky Sitohang yang Kristiani dan Ustad Solmed yang Muslim, aku memilih menikah dengan Choky. Hihi. Tapi nggak mungkin kan di dunia ini tinggal tersisa dua lelaki saja?

Demikian pandanganku tentang memilih pasangan kaitannya dengan agama. 🙂

Depok, 12 Januari 2017

Advertisements

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s