Berteman Saja

Sekian waktu lalu seorang temanku D (perempuan), menghubungiku lewat Messenger. Dia ngajak menggosip. Eh. Maksudku cerita nggambleh ini itu. Mempererat pertemanan.

Kami seumuran dan sama-sama belum menikah. Obrolan tak lepas dari soal pernikahan. D sudah punya pacar dan sedang dalam persiapan pernikahan. Sedangkan aku? Masih sama seperti tahun lalu, jomblo. Hiks. Haha. Tapi kusampaikan pada temanku, “aku rencana nikah tahun ini (2017). Tapi mbuh karo sopo.” 😀

“Nek semeleh mbuh kr sapa ki biasanya mak bedunduk mencungul dewe,” respon D. Amiin.

“Tenang aja Lel. Tar ga diduga pasti muncul orangnya. Siapa dia? A****. Ehhhh.” lanjut D menyebut sebuah nama. D ini suka meledekku agar berjodoh sama A. Ini bercanda saja karena dia tahu kalalu aku dan A selalu bertengkar dan sering salah paham. Kalau sampai kelak aku akhirnya menikah dengan A, D adalah orang pertama yang akan ngakak dan memberi selamat sekeras mungkin. Hihi.

A itu memang temanku, bagiku teman kesayangan, tapi bukan untuk dijadikan calon suami. Cara pandang dan ideologi kami banyak bertentangan. Ini bisa merepotkan di masa mendatang.

Contoh saja. Kalau kelak punya anak, aku akan mengajari anak-anakku salat, sedangkan A tidak. Kenapa tidak? Karena bagi A salat tidak ada gunanya.

Aku tahu gunanya salat itu untuk berdialog dengan Tuhan dan menenangkan diri. Juga untuk menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar.

Lalu A akan membantah, apakah berdialog dengan Tuhan harus dengan salat? Apakah menenangkan diri harus dengan salat? Kujawab tidak harus. Kalau dijawab “harus”, akan ditanya lagi kenapa harus. Gitu terus sampai kiamat.

Selanjutnya akan didebat apakah salat pasti menjauhkan dari perbuatan keji? Kenapa ada orang salat tapi tetap berbuat keji? Gitu terus sampai bumi bulat berubah jadi datar. Eh.

A itu sebenarnya sosok yang baik, kritis, banyak tanya, cuma aku juga bisa lelah dengan pertanyaan-pertanyaannya. Belakangan perdebatan kami sudah semakin mereda. Pertanyaan-pertanyaan teologis begitu bagiku sudah selesai. Bagi A sepertinya dia belum selesai.

Meski begitu, aku patut berterima kasih atas kehadiran A dalam perjalananku. Bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hariku dengan semangat tertentu, dengan perdebatan, diskusi, curhat, dan berbagi. Semoga pertemanan aku dan A selalu terjaga baik seterusnya. Amiin. ❤

Depok, 17 Januari 2017

Advertisements

Leave a comment

Filed under Activities

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s