Masalah-Masalah Rumah Tangga

Sekian kali dicurhati masalah rumah tangga oleh beberapa teman. Aku berbagi di sini tentu tak akan menyebut nama. Kucatat agar menjadi pelajaran buatku atau siapapun yang membaca. Aku coba melihat secara objektif dari kacamata luar.

Seringkali kita melihat sebuah rumah tangga tampak semua baik-baik saja. Suami suka posting foto anak dan istrinya yang bahagia di media sosial. Padahal, saat bersamaan, istri curhat rumah tangganya sedang dilanda penuh masalah. Kita hanya bisa melihat kulitnya hingga salah satu cerita kedalamannya.
Kucatat beberapa masalah di antaranya;

Pertama, perselingkuhan suami. Penyebabnya:
1. Suami bertemu cinta lama yang belum selesai. Dulu, suami putus sama mantan karena dipaksa orangtua. Masalah mereka belum selesai. Ketika dalam pernikahan istri harus terpisah kota untuk menempuh pendidikan lagi, suami bertemu mantan yang masih satu kota, perselingkuhan itu terjadi. Mantannya seorang janda. Parahnya, perselingkuhan itu sampai membuat si mantan hamil.
Pesan moral: Berjauhan dengan istri, seringkali mendorong lelaki mencari pelampiasan kebutuhan seksnya. Jadi, seandainya si suami memang tak sanggup menjaga diri, suami istri seharusnya selalu bersama. Ketika terpaksa harus pindah untuk sekolah lagi, salah satu harus ikut.

Ini barangkali terkesan bias. Tapi pada kenyataannya demikian, perempuan umumnya lebih bisa menahan/mengelola kebutuhan biologisnya ketimbang lelaki.

Pesan moral kedua: Sebelum menikah, pastikan perkara-perkara masa lalu terkait mantan harus sudah selesai.

2. Selingkuh dengan teman yang lebih menarik dan pintar.
Saat pernikahan sudah melewati 5 tahun pertama, si istri yang tak berkarier sibuk mengurus anak-anak. Si istri, dulu lulus kuliah belum sempat kerja atau meniti karier, saat masuk rumah tangga tidak punya ketrampilan khusus, sehingga tak tahu harus meningkatkan skill apa atau membangun pergaulan mulai dari mana. Bertahun berkubang di rumah dan masalah anak-anak. Suami merasa istrinya tak bisa mengimbangi intelektualitasnya dan tak menarik lagi, sehingga mencari teman curhat yang setara di luar. Atau, barangkali si suami bukan bermaksud selingkuh, hanya ingin ngobrol dengan teman yang nyambung, sedangkan si istri terlalu mudah curiga karena kurang paham pergaulan kerja di luar sana.
Pesan moral: Untuk suami mustinya menyadari bahwa istri tak bisa berkarier karena dulu lebih memilih menikah dengannya dan sibuk mengurus anak-anaknya. Mendidik dan mengembangkan kepribadian istri mustinya jadi tanggungjawab si suami juga.
Untuk istri, biarpun jadi ibu rumah tangga, harus punya skill yang positif dan tetap update pengetahuan.

Kedua, masalah ekonomi.
1. Istri Berharap Lebih
Ini sering terjadi karena sebelum menikah tidak ada pembicaraan masalah gaji. Istri kurang menyadari bahwa si suami gajinya tidak setinggi yang dia bayangkan. Perempuan itu berbeda-beda. Banyak yang baru merasa eksis kalau baju, sepatu, dan tasnya bagus dan berkelas. Sehingga ketika si suami tak mampu memenuhi gaya hidupnya, rumah tangga goyah. Sedangkan si istri tak memungkinkan kerja yang berpenghasilan tinggi.

Tapi, ada juga perempuan yang menganggap baju, tas, sepatu, dan materi-materi lainnya bukan alat untuk eksis. Selagi suami sudah maksimal giat bekerja, sekecil apapun gajinya, istri bisa menerima dan mengelola dengan baik.

Mungkin ini bukan persoalan salah dan benar, hanya gaya hidup yang berbeda bisa jadi sumber masalah.
Pesan Moral: Pastikan cari pasangan yang gaya hidupnya sesuai dengan kita. Tidak harus sama, tetapi yang bisa saling memenuhi. Kadang ada lelaki yang gajinya tinggi, tapi gaya hidupnya sederhana. Dia tentu bisa memenuhi gaya hidup istrinya yang berkelas tinggi. Kadang ada juga suami yang merasa puas bisa memenuhi gaya hidup istri. Kadang ada juga istri yang terbiasa dengan gaya hidup berkelas, tetapi mau menyesuaikan dengan suaminya yang sederhana.

Ketika gaya hidup tak sesuai, sedangkan pernikahan itu telanjur terjadi dan ingin mempertahankannya, jalan keluarnya saling memahami dan menerima.

2. Suami Nggak/Kurang Bertanggungjawab
Ini kadang terjadi si suami ketika terkena pemutusan kerja di perusahaannya tidak sanggup bangkit. Dia terbiasa dengan kerja mudah dan mengandalkan warisan orang tuanya. Ketika dilanda masalah ekonomi, tak tahan banting, dan kurang gigih berusaha. Saat kehilangan pekerjaan, malah santai menikmati gaji istri tanpa berupaya keras mencari nafkah. Beberapa perempuan bertahan dengan rumah tangga seperti itu karena alasan cinta, tapi akhirnya bercerai juga.
Pesan Moral: cari lelaki yang bekerja gigih. Mungkin bukan soal berapa banyaknya gaji, tapi seberapa gigih dia berupaya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Beberapa temanku yang dilanda masalah ini bilang, seandainya suaminya hanya memberi sejuta atau sekian ratus ribu saja sebulan, itu sudah bentuk tanggungjawab dan dihargai. Masalahnya si suami sama sekali nggak memberi, tapi terus-menerus memakai uang hasil kerja istri, terpaksa rumah tangga harus diakhiri.

Ada beberapa lagi masalah, tapi itu saja dulu. Ini catatan untukku, untuk tetap optimis menguatkan niat membangun rumah tangga. Masalah apapun mustinya bisa diatasi kalau kita bisa mengurai, kemudian melihat secara jernih mencari solusi. Mungkin tidak mudah, tapi kalau kita optimis, itu akan jadi energi positif untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Depok, 16 Februari 2017

Advertisements

Leave a comment

Filed under Activities

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s