Monthly Archives: August 2017

Time Will Tell

Saat menyimpan catatan lama di FB nemu tulisan 6 tahun lalu. Apa yang kurasakan dulu masih sama dengan hari ini, hanya sekarang lebih relaks.:)

Berikut tulisannya:

2011, Time Will Tell

Judulnya terlalu indah, kayak lagu apa gitu ya, padahal intinya cuma mau curhat. Tapi bukankah lagu juga isinya cuma curhat kan? :p

Saya sering dihantui pertanyaan siapakah soulmate kita? Sebagian orang yang belum menemukan pasangan jiwa, mungkin sama seperti saya, sulit menjawabnya. Akhir-akhir ini saya bertanya pada diri sendiri serius soal ini. Sampai-sampai sekian waktu lalu ini tubuh saya abruk lantaran memikirkan ini. Huahaha dueerrr, segitunya sih Lael?!

Saya seringkali berpikir memiliki banyak keberuntungan dalam perjalanan hidup ini, kecuali soal jodoh. Bagi teman-teman pada umumnya, mungkin tidak pernah tahu apakah saya sedang dekat dengan seseorang atau tidak. Apakah saya sedang menjalin hubungan atau sedang patah hati. Atau kalau yang sering membaca catatan saya utuh, mungkin sedikit menyimpulkan. Kadang saya menulis prosa yang sungguh mewakili perasaan saya, tapi lain waktu saya menulis prosa hanya berdasar pengandaian saya dalam keadaan itu, kadang saya mewakili teman yang curhat. Bisa dibilang, orang tak bisa menyimpulkan keadaan saya sebenarnya dalam banyak potongan.

Seperti perempuan pada umumnya, saya juga mencurahkan hati alias curhat sama sahabat-sahabat tertentu. Pada sahabat ini saya cerita satu hal, sama sahabat lainnya saya cerita hal lainnya. Tegantung karakter sahabat itu, kadang saya hanya perlu didengarkan, kadang saya perlu pendapat, kadang saya perlu penguatan. Jadilah sebenarnya saya seperti nya tidak punya rahasia soal cinta. Bagian barat bisa melihat saya utuh dari barat, bagian selatan melihat saya utuh dari sudut selatan, begitu juga bagian timur dan utara. Namun secara satu-satu sepertinya tidak ada yang benar-benar mengerti apa sesungguhnya terjadi di kedalaman hati ini. Seringkali Tuhan menitipkan kegalauan hanya menjadi rahasia mahluk yang bersangkutan denganNya saja.

Kembali ke perihal soulmate. Membahas soal soulmate, tentu saja selalu terkait perihal cinta. Apa itu cinta? Kini saya sungguh sedang tidak tahu pasti apa itu cinta. Mungkin ketika kita punya energi besar untuk melakukan suatu hal demi seseorang, itu salah satu ciri-ciri cinta. Sesuatu yang membuat kita bermenung di depan kaca dan entah dari mana hadirnya perasaan istimewa mengingat sesosok nama, mungkin itu juga cinta. Atau ketika seseorang menyapa, membuat hati berbunga-bunga, mungkin itu juga cinta. Saya mencoba mendefinisikan dengan serius setelah menengok perjalanan lalu dan mengihitung berapa kali pernah mengalami perasaan yang seperti itu. Hingga seorang sahabat berpendapat, love is marriage. Dan itu sepertinya definisi paling masuk akal, cinta yang sebenarnya dan bertanggungjawab adalah cinta dalam ikatan pernikahan. Kalau begitu, yang saya rasakan selama ini bukan apa-apa, bukan cinta sejati, itu hanya cinta monyet. 😀

Sejak dulu saya pikir, datangnya perasaan cinta itu anugrah, ketika sesuatu tumbuh di hati, saya pikir itu sinyal Tuhan menunjukkan jodoh saya. Karena itu saat saya suka seseorang, apapun yang terjadi, saya coba pertahankan. Dan nyatanya? Semua beakhir bubar. Sejumlah nama pernah hadir istimewa di hati saya dan kini saya yakin mereka bukanlah soulmate saya. Kenapa? Sebagian diantara mereka telah menemukan pasangannya, lebih memilih perempuan lain ketimbang saya. Sebagian mungkin sedang penjajakan dengan yang lain. Intinya, mereka bukan bagian istimewa lagi di hidup saya kini. Yang teristimewa adalah yang sedang terjadi kini. Tapi bukan berarti saya menyesali mendefinisikan istimewa itu di masa lalu, semua seperti mata pelajaran yang sudah usai. Ganti mata kuliah berikutnya. Tentu saja ada hikmah di balik pertemuan-pertemuan itu. Pertemuan itu mungkin memang rencana Tuhan untuk mengajari kita sesuatu. Pertemuan-pertemuan itu pada akhirnya menunjukan bukan jodoh yang tepat. Atau entahlah mengapa pertemuan itu terjadi. Konon laki-laki baik akan bertemu dengan perempuan baik. Apakah dia atau saya tidak baik, hingga harus bubar? Seseorang itu bisa jadi memiliki pribadi baik, saya juga merasa orang baik-baik, hanya saja dua kebaikan itu tidak tepat bila disatukan alias tidak berjodoh. Ya sudahlah diikhlaskan Lel.

Saya kadang merasa sangat nelangsa mengingat pertanyaan diri, mengapa ya saya belum juga menemukan jodoh ? Bahkan kadang merasa malu jika ingat berganti-ganti cinta. Tahun sekian jatuh cinta sama seseorang, tahun berikutnya ganti, tahun berikutnya ganti lagi. Mungkin ada orang yang bangga pernah menjalin sekian kali relation, tapi sejujurnya saya malah nelangsa, saya tidak pernah meniati berganti-ganti seperti itu. Dan sejujurnya saya tidak pernah benar-benar pacaran seperti orang pada umumnya, mungkin yang terjadi yang sudah-sudah hanya semacam jalinan perkenalan untuk menuju proses serius, eh itu juga namanya pacaran bukan? Hampir-hampir saat saya punya teman istimewa, lidah saya sulit untuk bilang, hei itu pacar saya. Atau ketika semua berlalu, barulah mungkin saya baru bilang bilang oh ya itu mantan kekasih saya.

Saya ini produk negeri dongeng. Yang sejak kecil berpikir, sekali menemukan pangeran, dialah cinta terakhir selamanya. Itulah yang membuat saya merasa malu ketika berganti cinta. Saya pikir saya hanya akan jatuh cinta atau menyukai seseorang sekali seumur hidup. Jaman SMP, jaman belum ada HP dan jejaring sosial seperti saat ini, yang namanya cinta diungkapkan lewat surat. Saat itu saya tinggal di asrama pesantren, beberapa surat pernah saya terima, saat itu saya mungkin troble maker untuk hal lain, tapi tidak berani untuk melanggar aturan pesantren soal larangan pacaran. Surat cinta yang isinya saling balas bisa sebagai bukti kami bermain-main. Pesantren punya aturan main sendiri ketika santri ketahuan surat-suratan apalagi sampai melakukan janjian pertemuan. Seingat saya, saya tidak pernah membalas surat, setiap terima surat saya bakar di belakang koperasi. Haha. Tapi, saya juga pernah diam-diam mengirim suat kepada adik kelas yang saya suka berisi sepotong puisi dan tidak berbalas. Huahaha jaman SMP saya sudah suka brondong. Mungkin itu cinta monyet saya yang pertama, yang berani saya ungkapkan. Pernah sih pas SD suka kakak kelas, suka hanya dalam hati. Hanya suka memandang ketika dia di pintu kelas. Selebihnya cuma senyum dalam hati, lihat rumahnya saja deg-degan. Lagi-lagi, cinta anak monyet.

Saat SMA, saya pernah juga suka teman satu sekolah, tapi suka hanya dalam hati. Tidak berpikir untuk pacaran. Hanya menemukan dia baik dan menyapa saja, saya sudah bahagia, dan saya menyimpan perasaan itu rapat, berusaha agar yang bersangkutan tidak perlu tahu. Saya merasa saat itu, saya belum saatnya pacaran, atau karena sering bergaul dengan teman aktifis Rohis, saya lebih nyaman memilih seperti mereka, tidak ada kamus pacaran. Saya fokus belajar karena khawatir tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu ibu sigle fighter, aku khawatir orangtua tidak bisa membiayai andai saya kuliah di swasta, jadi saya 100% fokus belajar.

Ketika kuliah, saya selalu terngiang pesan guru SMA kalau mencari pasangan jangan satu profesi. Jadi, saat itu hampir saya tidak memperhitungkan teman-teman sefakultas saya untuk jadi pasangan saya kelak. Tapi prinsip itu saya ubah, ketika di akhir kuliah dan setelah lulus. Saya pikir mungkin dengan berpikir begitu menghalangi jodoh saya, saya pernah curhat pada salah satu teman laki-laki sesama kuliah fakultas Biologi. Kok aku nggak pernah ditembak sama anak Biologi ya? Temanku malah bilang, ya sudah Lel, bagaimana kalau kita pacaran? Mungkin dia iseng ngomong seperti itu, atau saat itu sepertinya dia sedang baru patah hati. Saya sempat berpikir, apa iya ya baiknya sama dia saja. Kalau sama sahabat sudah jelas kita sayang dia ya, tapi ya itu sayangnya lain, teman platonis. Huaa, saya malah jadi aneh sendiri. Akhirnya kami tetap bersahabat dan berharap terus bersahabat. Lain waktu saya juga akhirnya pernah terlintas suka sama sahabat Biologi yang lain, tentu saja karena saat itu dia single. Kalau saya tahu seseorang sudah punya pasangan, saya paling anti untuk mengganggu. Karena saya tahu rasanya, ketika sedang menjalin relation dengan seseorang, ada orang ketiga yang nggak tahu diri masuk, itu rasanya menyakitkan.

Lalu hari ini, apa yang sedang saya alami dengan hari ini? Saya sedang coba membangun hubungan dengan seseorang lantaran dijodohkan teman. Hah? Jaman begini masih ada acara jodoh menjodohkan? Iya betul. Ceritanya panjang, tidak akan saya paparkan kali ini. Jika boleh meminta kepada Allah, saya berharap sungguh ini yang terakhir. Amin. Dan sejujurnya saat ini bisa dibilang kondisi terbaik hati saya dibanding keadaan yang sudah-sudah.

Lelaki seperti apakah yang saya cari? Saya juga bingung kalau diminta menyebutkan kriteria. Saya berpatokan gini, Nabi tauladan saya, Muhammad SAW pernah ditanya apakah itu beragama ya Rasulullah? Beliau menjawab, beragama adalah ahlak yang baik. Beliau menerima pertanyaan yang sama hingga tiga kali dan beliau menjawab dengan kalimat yang sama hingga tiga kali. Dalam Islam, saya diajarkan untuk memilih pasangan dengan mengutamakan agama. Lalu orang beragama itu yang seperti apa? Seperti yang diungkap Nabi, yang berahlak baik, dan ini sangat luas maknanya. Orang yang nampak rajin salat, yang pengetahuan agamanya luas, atau yang sangat fasih melafal dalil, menurut saya bukanlah jaminan dia agamanya lebih baik dari yang lain. Jadi, ukuran ahlak baik itu seperti apa? Pada akhirnya saya pegang pesan nabi, mintalah fatwa pada hatimu, pada jiwamu. Kebaikan adalah sesuatu yang mendatangkan ketentraman, sedangkan keburukan akan membuat jiwa gelisah. Qolbun atau hatilah yang mampu memilah itu.
Jadi, pada akhirnya kriteria seperti apa seharusnya ketika kita memilih jodoh? Menurut saya, setiap manusia, sekali lagi, setiap manusia, bukan hanya muslim saja, berhak menemukan kebenaran dan diberi kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk memahami kebaikan.

Di atas semua akhirnya sampailah pada kata saling cocok. Kalau sudah saling cocok, kita akan menemukan ketentraman, dan disitulah sepertinya akan lebih mudah hadirnya cinta. Jadi, apakah saya mencintainya? Perlukan saya jawab sekarang? Hoho. Coba mungkin nanti saya perlu tanya dia, apakah dia merasa saya mencintainya. Lalu, apakah dia mencintai saya? Perlukah jawaban itu saat ini? Sejujurnya di hati yang terdalam, saya perlu tahu. Tapi saya juga paham semua perlu proses. Kami terpisah jarak ribuan mil, semua akan terjawab oleh waktu. Mungkin dia bisa menjawab ketika menemukan catatan ini. Namun sayangnya dia bukan tipe yang suka baca catatan begini, dia tipikal pembaca rumus dan angka-angka, mungkin tak akan menemukan. Ya sudahlah sabar Lel, time will tell. ^_^

Jakarta, 23 Mei 2011

Advertisements

Leave a comment

Filed under Conservation

Gak Bisa Tidur 44 Jam

Ini rekor terlama aku terjaga. Bukan karena banyak pekerjaan, melainkan karena habis banyak baca dan anehnya nggak ngantuk sama sekali. Badanku lemas sampai tangan agak kiri tremor, tapi uniknya justru pikiran tenang dan sama sekali gak pusing. Cuma nggak bisa dibohongi kalau ada kecemasan kecil, cemas tapi nggak ngantuk.

Apa Yang Bisa Kulakukan?
Aku hubungi sahabat keadaan ini untuk berbagi aku mungkin insomnia. Memastikan aku punya teman bicara, ada ketenangan tersendiri. Aku tiduran dan merem, sambil mendengarkan musik instrumen seperti Relaxing Sleeping Music. Kedua kaki kunaikkan maksimal ke tembok biar lelah. Kalau dinaikan tanggung, aku bisa tertidur sampai pagi dengan kaki di atas. Meski nggak selalu, lebih sering tidurku nggak pindah posisi, nggak gerak sampai pagi. 🙂

Benar saja, setelah dinaikkan tinggi, kakiku lelah dan sekilas ngantuk. Ngantuknya aneh, langsung mimpi yang mengagetkan. Semacam tindihan. Jadi malah terteror. Aku baca-baca doa untuk tenang. Lalu, tertidur sampai pukul 5.15 pagi.

Apa yang membuat aku terjaga? Mungkin karena aku terngiang-ngiang usai baca blog seseorang. Aku baca semua tulisannya di blog tentang depresi. Aku baca pelan-pelan, baik-baik, dan ikut merasakan beragam emosi di sana.

Kenapa tertarik baca semuanya?
Kalau aku betah menyimak tulisan panjang seseorang, itu artinya tulisannya memang menarik. Ia curhat secara terstruktur tentang sesuatu yang “menyeramkan”. Kisahnya ingin bunuh diri saat studi di negeri orang, lalu diulangi saat kembali ke tanah air. Tapi beruntungnya, ia gagal. Satu kunci yang perlu diingat, ia terselamatkan karena saat pikiran itu datang, ia mencari teman bicara.

Kondisi batin seorang yang sedang mengalami depresi itu biasanya sensitif. Dia bisa menceritakan dengan runtut dan merespon sekelilingnya dengan rapi, elegan, dan rendah hati. Tak ada amukan ataupun sinis melihat hidup. Ia bahkan, menawarkan kepada siapa saja yang depresi dengan tangan terbuka untuk bisa menjadi teman berbagi. Sejatinya ia memiliki hati yang hangat. Semoga Tuhan memberkarti.

Dia depresi dan berpikir bunuh diri justru setelah baru saja wisuda master dari salah satu universitas di Eropa. Dengan segala pencapaian yang diraih, ia sendiri mengakui tak bisa menghentikan rasa depresinya.

Depresi memang kompleks dan bisa menyerang siapa saja. Sementara itu, tidak semua orang yang dilanda depresi mau terbuka, lebih suka menyimpan sendiri karena khawatir stigma negatif.

Mereka khawatir karena kebanyakan masyarakat kita memang belum sensitif masalah ini. Padahal mereka butuh dimengerti. Kita mustinya bisa berempati atau menguatkan, minimal tidak menghakimi. 

Aku barangkali terlalu menjiwai, terngiang-ngiang yang dia ceritakan sampai nggak bisa tidur. Bukan cuma kisahnya, juga komentar-komentar pembacanya yang juga berbagi tentang keadaan depresi mereka masing-masing. Semua seperti berlarian keras di kepalaku. Aku jadi makin mengenal diriku, untuk hal-hal tertentu yang sangat menyedot perhatian bisa “terpengaruh”. Hal lain, seperti usai nonton film hantu, sebulan nggak bisa tidur sendiri. Untung dulu di kos banyak teman, tiap hari keliling kamar, tidur kamar teman atau minta teman tidur kamarku. Gitu terus sampai sebulan. 🙂

Setelah tulisannya bikin aku terjaga 44 jam, apakah kemudian aku menjadi takut padanya? Sama sekali tidak. Aku malah berencana ingin bertemu dengannya untuk ngobrol. Ia di Jakarta dan kemungkinan besar bisa jumpa.

Kembali soal tulisannya yang berkisah pengalaman empirisnya mau bunuh diri. Aku menyimak beragam perasaannya dan analisisnya karena tertarik mengenai kesehatan masyarakat. Aku pernah memakai sepatu yang serupa, bukan perkara ingin bunuh diri sih, melainkan soal tidak bisa mengendalikan kecemasan karena aku pernah Panic Attack. Seperti tersedot ke lorong gelisah dan warna dunia seperti tak menarik lagi.

Dari uraiannya aku menjadi lebih memahami lagi kompleksnya jiwa manusia dan pada akhirnya lebih mengenal diri sendiri.Menambah pengetahuan bagaimana mengambil sikap untuk diri dan orang yang menderita depresi. ❤

Depok, 14 Agustus 2017 dini hari 00:57

Leave a comment

Filed under Conservation