Category Archives: Activities

Rumah Virtual

Saya memutuskan membuat Rumah Virtual baru ini didasari oleh kegelisahan lantaran belum memanfaatkan ilmu Biologi, studi yang saya tempuh cukup lama hingga Alhamdulillah lulus. Saya sempat ingin melupakan mimpi saya untuk menjadi peneliti ataupun analis Biologi, karena sejak lulus saya langsung bekerja di bidang jurnalistik, dilanjutkan dengan pekerjaan yang intinya menyusun kata dan tanda baca. Sejak mahasiswa semester awal, ketertarikan saya pada dunia tulis sepertinya lebih besar ketimbang dunia penelitian Biologi.

Usai lulus, beberapa kali saya mencari kesempatan bekerja di bidang Biologi, namun Tuhan selalu membukakan jalan lain. Rasanya tidak perlu ditulis di sini tentang upaya saya meraih peluang kerja sesuai latar belakang studi. Mungkin saya belum beruntung? Atau keberuntungan saya memang di bidang lain? Tugas saya sebagai manusia adalah berikhtiar dan berdoa, lalu pada akhirnya Tuhan yang menentukan jalan. Apapun jalan yang Allah berikan kepada saya selama ini, bisa saya maknai sebagai anugrah. Alhamdulillah.

Maka, di Rumah Virtual baru inilah saya coba menyajikan dominasi nuansa Biologi, menuliskan sejumlah hal dari kacamata Biologi. Isu-isu biologi terapan (applied biology) yang saya tulis dengan gaya saya sendiri dan tema yang bebas saya pilih. Tema lain yang saya temui dalam perjalanan pun sesekali saya bagi di sini. Sejumlah tulisan diambil dari catatan lama di blog saya yang lain. Sebenarnya ini lebih sebagai dokumentasi pribadi untuk tempat saya belajar dan evaluasi diri. Selamat membaca, semoga berkenan.

Depok, Juni 2012
Luv
Laeliyaa

Masalah-Masalah Rumah Tangga

Sekian kali dicurhati masalah rumah tangga oleh beberapa teman. Aku berbagi di sini tentu tak akan menyebut nama. Kucatat agar menjadi pelajaran buatku atau siapapun yang membaca. Aku coba melihat secara objektif dari kacamata luar.

Seringkali kita melihat sebuah rumah tangga tampak semua baik-baik saja. Suami suka posting foto anak dan istrinya yang bahagia di media sosial. Padahal, saat bersamaan, istri curhat rumah tangganya sedang dilanda penuh masalah. Kita hanya bisa melihat kulitnya hingga salah satu cerita kedalamannya.
Kucatat beberapa masalah di antaranya;

Pertama, perselingkuhan suami. Penyebabnya:
1. Suami bertemu cinta lama yang belum selesai. Dulu, suami putus sama mantan karena dipaksa orangtua. Masalah mereka belum selesai. Ketika dalam pernikahan istri harus terpisah kota untuk menempuh pendidikan lagi, suami bertemu mantan yang masih satu kota, perselingkuhan itu terjadi. Mantannya seorang janda. Parahnya, perselingkuhan itu sampai membuat si mantan hamil.
Pesan moral: Berjauhan dengan istri, seringkali mendorong lelaki mencari pelampiasan kebutuhan seksnya. Jadi, seandainya si suami memang tak sanggup menjaga diri, suami istri seharusnya selalu bersama. Ketika terpaksa harus pindah untuk sekolah lagi, salah satu harus ikut.

Ini barangkali terkesan bias. Tapi pada kenyataannya demikian, perempuan umumnya lebih bisa menahan/mengelola kebutuhan biologisnya ketimbang lelaki.

Pesan moral kedua: Sebelum menikah, pastikan perkara-perkara masa lalu terkait mantan harus sudah selesai.

2. Selingkuh dengan teman yang lebih menarik dan pintar.
Saat pernikahan sudah melewati 5 tahun pertama, si istri yang tak berkarier sibuk mengurus anak-anak. Si istri, dulu lulus kuliah belum sempat kerja atau meniti karier, saat masuk rumah tangga tidak punya ketrampilan khusus, sehingga tak tahu harus meningkatkan skill apa atau membangun pergaulan mulai dari mana. Bertahun berkubang di rumah dan masalah anak-anak. Suami merasa istrinya tak bisa mengimbangi intelektualitasnya dan tak menarik lagi, sehingga mencari teman curhat yang setara di luar. Atau, barangkali si suami bukan bermaksud selingkuh, hanya ingin ngobrol dengan teman yang nyambung, sedangkan si istri terlalu mudah curiga karena kurang paham pergaulan kerja di luar sana.
Pesan moral: Untuk suami mustinya menyadari bahwa istri tak bisa berkarier karena dulu lebih memilih menikah dengannya dan sibuk mengurus anak-anaknya. Mendidik dan mengembangkan kepribadian istri mustinya jadi tanggungjawab si suami juga.
Untuk istri, biarpun jadi ibu rumah tangga, harus punya skill yang positif dan tetap update pengetahuan.

Kedua, masalah ekonomi.
1. Istri Berharap Lebih
Ini sering terjadi karena sebelum menikah tidak ada pembicaraan masalah gaji. Istri kurang menyadari bahwa si suami gajinya tidak setinggi yang dia bayangkan. Perempuan itu berbeda-beda. Banyak yang baru merasa eksis kalau baju, sepatu, dan tasnya bagus dan berkelas. Sehingga ketika si suami tak mampu memenuhi gaya hidupnya, rumah tangga goyah. Sedangkan si istri tak memungkinkan kerja yang berpenghasilan tinggi.

Tapi, ada juga perempuan yang menganggap baju, tas, sepatu, dan materi-materi lainnya bukan alat untuk eksis. Selagi suami sudah maksimal giat bekerja, sekecil apapun gajinya, istri bisa menerima dan mengelola dengan baik.

Mungkin ini bukan persoalan salah dan benar, hanya gaya hidup yang berbeda bisa jadi sumber masalah.
Pesan Moral: Pastikan cari pasangan yang gaya hidupnya sesuai dengan kita. Tidak harus sama, tetapi yang bisa saling memenuhi. Kadang ada lelaki yang gajinya tinggi, tapi gaya hidupnya sederhana. Dia tentu bisa memenuhi gaya hidup istrinya yang berkelas tinggi. Kadang ada juga suami yang merasa puas bisa memenuhi gaya hidup istri. Kadang ada juga istri yang terbiasa dengan gaya hidup berkelas, tetapi mau menyesuaikan dengan suaminya yang sederhana.

Ketika gaya hidup tak sesuai, sedangkan pernikahan itu telanjur terjadi dan ingin mempertahankannya, jalan keluarnya saling memahami dan menerima.

2. Suami Nggak/Kurang Bertanggungjawab
Ini kadang terjadi si suami ketika terkena pemutusan kerja di perusahaannya tidak sanggup bangkit. Dia terbiasa dengan kerja mudah dan mengandalkan warisan orang tuanya. Ketika dilanda masalah ekonomi, tak tahan banting, dan kurang gigih berusaha. Saat kehilangan pekerjaan, malah santai menikmati gaji istri tanpa berupaya keras mencari nafkah. Beberapa perempuan bertahan dengan rumah tangga seperti itu karena alasan cinta, tapi akhirnya bercerai juga.
Pesan Moral: cari lelaki yang bekerja gigih. Mungkin bukan soal berapa banyaknya gaji, tapi seberapa gigih dia berupaya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Beberapa temanku yang dilanda masalah ini bilang, seandainya suaminya hanya memberi sejuta atau sekian ratus ribu saja sebulan, itu sudah bentuk tanggungjawab dan dihargai. Masalahnya si suami sama sekali nggak memberi, tapi terus-menerus memakai uang hasil kerja istri, terpaksa rumah tangga harus diakhiri.

Ada beberapa lagi masalah, tapi itu saja dulu. Ini catatan untukku, untuk tetap optimis menguatkan niat membangun rumah tangga. Masalah apapun mustinya bisa diatasi kalau kita bisa mengurai, kemudian melihat secara jernih mencari solusi. Mungkin tidak mudah, tapi kalau kita optimis, itu akan jadi energi positif untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Depok, 16 Februari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Ke Sana Ke Mari

Aku tak pernah serepot ini, hatiku ke sana ke mari. Tapi tak perlu khawatir tentangku, aku telah terlatih patah hati. Semua akan baik-baik saja. Cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri. Aku akan memilih yang paling sungguh-sungguh memperjuangkan cintanya padaku.

Depok, 09 Februari 2017

 

Leave a comment

Filed under Activities

Berteman Saja

Sekian waktu lalu seorang temanku D (perempuan), menghubungiku lewat Messenger. Dia ngajak menggosip. Eh. Maksudku cerita nggambleh ini itu. Mempererat pertemanan.

Kami seumuran dan sama-sama belum menikah. Obrolan tak lepas dari soal pernikahan. D sudah punya pacar dan sedang dalam persiapan pernikahan. Sedangkan aku? Masih sama seperti tahun lalu, jomblo. Hiks. Haha. Tapi kusampaikan pada temanku, “aku rencana nikah tahun ini (2017). Tapi mbuh karo sopo.” 😀

“Nek semeleh mbuh kr sapa ki biasanya mak bedunduk mencungul dewe,” respon D. Amiin.

“Tenang aja Lel. Tar ga diduga pasti muncul orangnya. Siapa dia? A****. Ehhhh.” lanjut D menyebut sebuah nama. D ini suka meledekku agar berjodoh sama A. Ini bercanda saja karena dia tahu kalalu aku dan A selalu bertengkar dan sering salah paham. Kalau sampai kelak aku akhirnya menikah dengan A, D adalah orang pertama yang akan ngakak dan memberi selamat sekeras mungkin. Hihi.

A itu memang temanku, bagiku teman kesayangan, tapi bukan untuk dijadikan calon suami. Cara pandang dan ideologi kami banyak bertentangan. Ini bisa merepotkan di masa mendatang.

Contoh saja. Kalau kelak punya anak, aku akan mengajari anak-anakku salat, sedangkan A tidak. Kenapa tidak? Karena bagi A salat tidak ada gunanya.

Aku tahu gunanya salat itu untuk berdialog dengan Tuhan dan menenangkan diri. Juga untuk menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar.

Lalu A akan membantah, apakah berdialog dengan Tuhan harus dengan salat? Apakah menenangkan diri harus dengan salat? Kujawab tidak harus. Kalau dijawab “harus”, akan ditanya lagi kenapa harus. Gitu terus sampai kiamat.

Selanjutnya akan didebat apakah salat pasti menjauhkan dari perbuatan keji? Kenapa ada orang salat tapi tetap berbuat keji? Gitu terus sampai bumi bulat berubah jadi datar. Eh.

A itu sebenarnya sosok yang baik, kritis, banyak tanya, cuma aku juga bisa lelah dengan pertanyaan-pertanyaannya. Belakangan perdebatan kami sudah semakin mereda. Pertanyaan-pertanyaan teologis begitu bagiku sudah selesai. Bagi A sepertinya dia belum selesai.

Meski begitu, aku patut berterima kasih atas kehadiran A dalam perjalananku. Bagaimanapun dia pernah mengisi hari-hariku dengan semangat tertentu, dengan perdebatan, diskusi, curhat, dan berbagi. Semoga pertemanan aku dan A selalu terjaga baik seterusnya. Amiin. ❤

Depok, 17 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Cari Pasangan Haruskah Seagama?

Sekian waktu lalu seorang teman bertanya apakah aku membuka kemungkinan menikah beda agama? Ini pertanyaan menarik.

Pada dasarnya selama ini dalam memilih jodoh aku tidak membatasi harus sesama muslim. Sebagai muslim, aku menganut tafsir boleh menikah beda agama. Dalam Islam memang ada perbedaan penafsiran terkait boleh tidaknya menikah beda agama. Ada ulama yang berpendapat tidak boleh menikah beda agama, mutlak harus sesama muslim. Ada pendapat yang membolehkan dengan syarat perempuannya ahli kitab, misal si perempuan Katholik taat. Dan, ada yang membolehkan menikah beda agama, meskipun si lelakinya nonmuslim. Ketiganya memiliki dasar syariat masing-masing. Aku tidak ingin berdebat soal itu.

Aku pribadi membuka hati untuk siapapun yang bisa saling jatuh cinta tanpa membatasi agamanya. Bahkan, untuk yang tidak beragama, atheis, agnostik, atau bahkan Deis.

Aku pernah membuka hati pada seorang lelaki beda agama, seorang protestan. Konsekuensinya, ada nilai-nilai yang harus disampaikan apakah bisa mencapai kesepakatan yang sama. Misal, seandainya kami menikah, tidak ada masakan babi dan wine di rumah, apakah dia bersedia? Seandainya dalam sebuah perjalanan bersama, aku akan sering meminta berhenti untuk salat, apakah dia bisa memahami tanpa keberatan? Saatnya berpuasa Ramadhan atau sunnah, apakah dia bisa sepenuhnya mendukung? Intinya apakah dia bisa menerima segala hal caraku beragama? Sepertinya dia bisa menerima. Begitu juga aku bisa menerima caranya menjalankan agamanya.

Tapi hubungan kami tidak bisa lanjut karena ada nilai-nilai dasar yang tidak ketemu. Soal itu, aku tidak bisa membaginya di sini. Yang jelas bukan karena agamanya beda denganku. Kami jauh lebih baik bersahabat saja. Itu kami sadari bersama. Jadi, perpisahan itu kami terima dengan lapang dada. 🙂

Aku juga pernah coba membuka hati pada orang yang tak beragama. Tadinya dia muslim. Dia memiliki poin kebaikan di mataku karena sensitif terhadap penderitaan orang lain dan dia juga berprestasi. Dan tentu saja baik padaku. Tapi, ada prinsip-prinsip hidupnya yang aku tidak sepaham, tidak bisa kusebutkan di sini. Selain itu, aku tidak bisa menerima dia yang di mataku kurang matang dalam mengkritik Islam dan mengkritik orang beriman. Ia mungkin mengalami kekecewaan terhadap perilaku orang-orang beriman. Aku juga sebenarnya banyak kecewa dengan muslim bigot. Tapi aku tak kehilangan kepercayaan pada indahnya pesan-pesan mulia dalam Islam.

Dia memang menghargai aku yang salat, puasa, percaya Alquran, dll. Tapi di sisi lain, dia menganggap bodoh orang yang mempercayai Nabi Muhammad, Yesus, Quran, Injil, dll. Intinya dia menganggap bodoh orang beriman. Aku melihat ini bisa menjadi masalah besar nantinya. Tapi mungkin seiring waktu ia terus belajar, ia akan makin matang dalam mengekspresikan kritikannya pada orang beriman. Aku tidak berharap dia menjadi beriman, tak beragama pun tak apa-apa.

Agama memang salah satu jalan orang mencari sumber kebaikan. Tapi untuk menjadi orang baik, menurutku orang tidak harus menganut agama. Banyak orang di luar sana tak beragama mampu menghayati semesta dengan baik, bisa bermanfaat untuk sesama. Nilai-nilai moral bisa digali dengan nurani, rasa, dan pikiran rasional. Tidak melalu dari agama.

Kalau kemudian aku tak lagi membuka hati untuknya karena ada cara pandang prinsipil yang sangat berbeda. Intinya bukan karena dia tak menganut beragama, tapi cara pandangnya terhadap nilai-nilai tertentu yang menurutku bikin nggak nyaman. Oh ya, yang dimaksud membuka hati tidak berarti pacaran, tetapi proses mengenal lebih dalam.

Tapi bagiku pribadi, agama sangat penting untuk diriku sendiri, juga penting untuk anakku kelak. Aku sudah merasakan langsung kebaikan nilai-nilai agama. Yang membuatku lebih bernyawa dalam memaknai hidup.

Pada akhirnya, aku berpendapat bahwa aku akan memilih pasangan yang bisa menghargai cara pandangku, prinsip hidupku, dan caraku beragama. Begitu juga sebaliknya. Memilih pasangan sesama muslim, menurutku lebih baik. Tapi, tetap ada catatan muslim yang seperti apa.

Aku tidak suka muslim fanatik. Tidak suka muslim yang suka kepedean menceramahi dan menasehati orang atas agama. Tidak suka muslim yang suka menuding kelompok lain sesat, fasik, dan kafir. Tidak suka muslim yang beragama secara dangkal.

Aku suka muslim yang berpikiran terbuka, progresif, dan memegang prinsip-prinsip kebaikan dan kemanusiaan. Intinya mencari pasangan yang bisa saling nyaman menjalani hidup bersama. Dan, keuntungan lain memilih pasangan sesama muslim adalah dia akan lebih mudah diterima di keluarga besarku. 🙂

Oh ya, aku pernah menulis di catatan Facebook soal apakah ada kemungkinan menikah beda agama. Seandainya di dunia ini hanya tersisa dua lelaki single, yaitu Choky Sitohang yang Kristiani dan Ustad Solmed yang Muslim, aku memilih menikah dengan Choky. Hihi. Tapi nggak mungkin kan di dunia ini tinggal tersisa dua lelaki saja?

Demikian pandanganku tentang memilih pasangan kaitannya dengan agama. 🙂

Depok, 12 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Energi Baru

Belakangan kurasakan energi baru, dari teman yang kukenal di Facebook. Ini energi nyata. Dunia maya kini bagian dari dunia nyata sebab kita berbagi kenyataan di sana.

Berteman dengannya di Facebook sudah sekian tahun, tapi entah kenapa baru kusadari kehadirannya belakangan. Mungkin karena selama ini postingannya jarang muncul di beranda, jadi kami seperti baru kenal saja. Meski begitu, dia tak benar-benar asing bagiku. Banyak temannya temanku juga. Lingkarannya lingkaranku juga. Jadi, lebih mudah untuk saling membuka diri.

Bermula dari sekian potong percapakan, mengantarkan aku pada ruang-ruang buah pikirannya. Membaca perjalanan, catatan, dan karyanya memang inspiratif. Dia sungguh-sungguh dalam menekuni literasi. Kemudian dari situ dia meraih pencapaian-pencapain sangat berharga. Ini membangunkan kesadaranku agar sungguh-sungguh lebih menekuni hal-hal yang kusuka. Aku belakangan merasa sedang berjalan lambat, bahkan kadang berasa berjalan di tempat. Aku bukannya tak mampu lagi melaju, tapi aku sedang terbelenggu kemalasanku. Maka kedatangan energi baru bagiku itu sesuatu. Ini berarti membaharui.

Selain itu, secara ideologi, dia seorang muslim progresif dan berpikiran terbuka. Cocoklah dengan ideologiku. Yuhu! Energi ini akan bertumbuh lagi menjadi apa, aku tidak tahu pasti. Aku senang sekaligus khawatir. Senang karena energi ini menghidupkan harapan, khawatir karena aku bisa jatuh hati lalu berakhir patah lagi. Eh, kejauhan ya mikirnya.

Kutuliskan pikiranku di sini sebagai caraku menghargai bahwa kehadiran energi kebaikan sekecil apapun itu sungguh berarti.

Depok, 12 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Perpisahan di Bandara Beirut

Sekian bulan belakangan jarang nulis di sini, aku lebih banyak curhat di Facebook. Menulis apa yang kita alami, pikirkan, dan rasakan membantu mengabadikan kenangan dan mengubah energi negatif menjadi positif. Karena itu rencanaku ke depan akan lebih sering hadir mengisi halaman ini.

Abadikan Kenangan

Di sini dan di Facebook tentu berbeda, salah satunya di sini tidak banyak yang berkomentar. Bukan berarti aku tak suka dikomentari, hanya saja kadang aku ingin lebih sunyi.

Saat membuka kembali tulisan masa lalu, kurasa aku perlu berterima kasih pada diri sendiri yang telah mengikat kenangan, jika hanya disimpan dalam pikiran kelak satu persatu akan retak. Di sisi lain, juga menertawai kekonyolan-kekonyolan caraku mengekpresikan pikiran.

Barusan aku membuka tulisan tahun lalu di fitur “Note” di Facebook. Curhatku yang pernah naksir salah satu teman di program Libanon. Ya ampun, ingat itu antara haru, lucu, dan (agak) malu. 🙂 Tapi, aku hargai perjalanan sejarahku sendiri. Aku menghargai perasaan-perasaanku yang pernah hadir untuk siapapun. Juga, perasaan-perasaan mereka yang pernah hadir untukku.

Saat menengok hatiku kali ini, aku sudah tak naksir dia lagi. Kok bisa perasaan itu menghilang? Aku yang mematikannya sendiri. Aku tidak menghidupkan perasaanku padanya lagi karena aku tahu itu seperti angan yang kejauhan. Aku mungkin cuma kagum dan naksir, tapi tak ingin memiliki. Tepatnya, tak sanggup memiliki. Aku dan dia jauh terpisah sekian samudera. Lagipula, selama ini dia tak tahu isi hatiku. Haha. Jika boleh berangan, aku ingin menikah dengan orang Indonesia saja. Dan, yang lebih mendasar adalah  kehidupan yang bahagia dan bisa dekat dengan keluarga. Syalalalah. 😀

Aku percaya setiap kehadiran adalah pertanda dari alam agar mengambil pelajaran. Perkenalanku dengan teman-teman lelaki dari Timur Tengah setidaknya mengubah persepsiku tentang lelaki Arab. Yang kutemui jauh lebih baik dari yang kusangka sebelumnya.

Meskipun ada satu orang yang menurutku centil (pernah menggodaku hingga bikin nggak nyaman–tak akan kusebut nama), tapi selebihnya tidak begitu. Aku bisa merasakan kebaikan yang tulus dari kebanyakan mereka, berasa seperti saudara.

Salah satu lelaki tulus itu adalah seorang teman dari Kuwait. Saat kali pertama lihat foto di kelas online, wajahnya terkesan kurang bersahabat. Tapi saat ketemu langsung, aura kebaikan dan ketulusan terpancar. Dia juga jauh lebih ganteng dari fotonya. Kuingat dia yang salatnya paling tepat waktu. Dengan senang hati dia membagi catatan bahasa Inggrisnya denganku. Sedangkan teman lain mencatat dalam bahasa Arab. Dari kebaikannya saat itu entah kenapa aku menilai inilah keindahan Islam.

Dia bukan orang yang kutaksir. Aku menganggapnya seperti saudara. Aku ingat percakapan kami saat mau naik bus ketika tour ke Tyre. Dia cerita pernah ke Jakarta dan suatu saat akan berkunjung ke Jakarta lagi.
“Of course I will come to Jakarta again. Now, I have family in Jakarta,” kata dia berbalut senyum.
“Oh good, you have family in Jakarta,” responku bernada senang juga.
“You. I mean, now we are family,” jawabnya sambil tertawa. Aaah iya kita kan saudara. Saat itu seingatku usai makan siang di Saida.

Saatnya pulang, dari hotel Alhamra ke bandara Alhariri di Beirut aku satu taksi dengan Sana, perempuan berdarah Mesir. Sana selama ini tinggal di Amerika untuk studi, tapi kali ini balik ke Uni Emirat Arab (UEA) ke rumah saudara. Saat menunggu di Bandara Beirut, di belakang kami muncul Badr, lelaki kece dari Kuwait tadi.

Mas Kuwait menawari kami berdua ke kafe dulu, dia bilang akan nraktir. Aku nggak bisa karena aku khawatir ketinggalan pesawat, aku ingin segera boarding. Aku khawatir karena sebelumnya di bandara aku diperiksa lebih lama dari penumpang lainnya. Sebab wajahku bukan Arab. Hiks.

Sana satu pesawat denganku ke Dubai, sedangkan Mas Kuwait beda jam penerbangan. Mbak Mesir meyakinkan aku kalau pesawat masih lama meskipun boarding sudah dibuka. Tapi aku tetap khawatir, aku nggak mau ingin ada masalah di negara orang, ingin cepat-cepat melewati pemeriksaan keamanan bandara dengan tenang. Akhirnya Mbak Mesir mengikutiku dan kami terpaksa nggak jadi nongkrong di kafe bareng Mas Kuwait. Ternyata tidak ada pemeriksaan tambahan buatku. Aku jadi merasa bersalah sama Sana karena kami menunggu lama di ruang tunggu boarding. Aku meminta maaf padanya, dia bilang tak mengapa.

Oh ya, sebelum masuk pintu boarding, saat mau berpisah, kami tempel pipi kanan kiri dan peluk persahabatan dengan Mas Kuwait. Lalu kami selfie bertiga sebelum benar-benar berpisah. Di situlah rasa persaudaraan (sesama muslim) begitu terasa. Entah kapan lagi bisa bertemu. Mas Kuwait terbang ke Amerika untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Harvard. Mbak Mesir ke UEA ke rumah kerabatnya. Sedangkan aku kembali ke tanah air.

Berinteraksi dengan mereka banyak kisah-kisah kecil yang terekam di ingatan merasakan indahnya persaudaraan dalam Islam. Mereka anak-anak muda Muda yang berpikir liberal dan memperjuangkan perdamaian masyarakat dan dunia. Dalam satu dua hal kami memang berbeda pendapat, tapi secara keseluruhan niat kami sama, membangun perdamaian dan melawan ektremis kekerasan. Dari 30 peserta, muslim dari berbagai madzab dan 3 nonmuslim. Kami semua belajar memahami kembali teks Alquran dan hadits untuk dasar membangun perdamaian. Di balik carut marut wajah Islam, aku senantiasa percaya bahwa Islam yang sejati adalah yang membawa rahmat atau kasih sayang untuk semua umat manusia.

Merekatkan kenangan satu tahun lalu.
Depok, 11 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace, Lifestyle

Silakan Bercadar, Berjilbab, atau Cukup Berpakaian Sopan

Belakangan ini di Indonesia semakin hari semakin banyak orang Islam yang menuntut semua muslimah wajib berjilbab. Tuntutan ini bisa dilihat dari sindiran, dorongan terus menerus, komentar-komentar yang menyudutkan muslimah tak berjilbab, hingga campur tangan mengatur jilbab di institusi umum. Akibat tuntutan tersebut banyak perempuan yang kemudian menjadi tidak nyaman. Saya sebagai warga negara Indonesia yang berhak mengekspresikan keyakinan tertarik untuk menuliskan hal ini.

Tuntutan masyarakat agar semua muslimah berjilbab muncul karena kebanyakan umat Islam di Indonesia mengetahui hukum jilbab hanya satu, yaitu wajib menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Banyak yang menganggap itu sebagai satu-satunya kebenaran aturan berpakaian dalam Islam dan tidak/kurang menghargai pandangan lain soal jilbab. Ketika kemudian menemukan berbagai pandangan soal jilbab, banyak yang kaget dan menolak. Oleh karena itu pengetahuan bermacam pandangan ulama terkait hukum jilbab perlu untuk terus sosialisasikan agar mencapai pemahaman yang sama, yaitu saling paham menghargai pilihan setiap orang.

Pandangan hukum jilbab wajib selama kurang lebih 15 tahun ini memang terus menerus didengungkan, hingga setiap orang semacam menjadi pendakwah yang harus menyampaikan. Bahkan, ada yang ingin memasukkan jilbab dalam peraturan negara dan mengawasinya. Ditambah lagi berseliweran di media sosial hadits tentang perempuan yang tidak pakai jilbab akan dibakar di neraka 70.000 tahun dan berdosa pula ayahnya, bapaknya, saudara lelakinya, dan suaminya.

Apakah hadist ancaman semacam itu benar? Entahlah. Perlu diketahui, hadits ditulis ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat berdasarkan ingatan si ini dan si itu yang disampaikan pada si anu. Ada hadits yang dianggap shahih, kurang shahih, dhoif, hingga yang diada-adakan dibuat untuk kepentingan politis. Biarpun dinilai shahih, redaksionalnya juga kemungkinan besar ada yang tidak sama persis perkataan Nabi. Bisa saja ada satu dua kata yang hilang, terganti, atau mengalami distorsi. Berbeda dengan Al-quran yang saat ayat turun, menurut sejarah, langsung ditulis di daun-daun lontar, tulang hewan, pelepah korma, dll. Serta diabadikan dalam hafalan banyak muslim saat itu hingga kini.

Kembali soal jilbab. Dalam diskusi di grup-grup media sosial terkait jilbab sekian kali ditemukan masih banyak orang Islam, baik wanita maupun pria, yang memaksakan muslimah wajib berjilbab. Seseorang meyakini hukum jilbab wajib tentu saja boleh. Namun, bisa menjadi bermasalah ketika dia menuntut semua muslimah harus meyakini sama seperti yang dia imani. Juga bisa menjadi bermasalah ketika lelaki muslim atas nama agama memaksa atau menuntut saudara perempuannya, ibunya, anak perempuannya, dan istrinya berjilbab karena khawatir ancaman neraka.

Terkait batasan aurat wanita dalam Islam, biasanya yang menjadi rujukan adalah Al-Quran Annur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Juga sejumlah hadits yang menerangkan atau menguatkan hal itu.

Ulama berbeda-beda pendapat tentang batasan aurat perempuan. Ada yang berpandangan bahwa muslimah wajib menutup seluruh tubuh tanpa kecuali, wajib menutup seluruh tubuh kecuali mata kiri, wajib menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dan wajib menutup aurat dengan batas kesopanan sesuai adat setempat.

  1. Wajib menutup seluruh tubuh tanpa kecuali

Pandangan ini mendasarkan pada Al-ahzab ayat 59 yang berbunyi, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke (seluruh) tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.”

Dalam surat itu tidak menyebut batasan aurat perempuan secara jelas, hanya menyebut  “jalabihinna” yang diartikan “menutup seluruh tubuh”. Namun, ada yang mengartikan “menutup tubuh”, bukan “seluruh”.

  1. Wajib menutup seluruh tubuh kecuali mata kiri

Muhammad bin Sirin berkata, “Aku bertanya kepada Abidah As-Salmani tentang firman Allah dalam Al-ahzab 59, “يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ” maka ia menutup wajah dan kepalanya, serta hanya memperlihatkan mata kirinya.

  1. Wajib menutup seluruh kecuali telapak tangan dan wajah

Pendapat poin ke-3 di atas berdasarkan hadits, “Wahai Asma’, wanita yang sudah haid harus menutupi seluruh tubuhnya, kecuali ini dan ini.” (HR. Abu Dawud). Itu redaksional aslinya. Kata “ini dan ini” ada yang menafsir Nabi Muhammad menunjuk kepala dan lengan tangan. Ada yang menafsir menunjuk wajah dan telapak tangan. Pendapat terakhir itulah yang kini paling banyak digunakan.

Bagi ulama yang berpandangan hukum cadar wajib, hadits itu bisa batal oleh hukum yang lebih tinggi yaitu Alquran, Al-azhab 59 yang menyebut seluruh tubuh, tanpa kecuali. Bagi ulama yang berpandangan batasan aurat perempuan lebih longgar, rambut bukanlah aurat layaknya dada wanita yang penting untuk ditutup.

  1. Wajib menutup aurat dengan batas kesopanan sesuai budaya setempat

Ini berdasarkan Annur ayat 31 yang berbunyi, “… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain  ke dadanya…”

Kata “perhiasan” ditafsir sebagai aurat. Kalimat “yang (biasa) nampak darinya”  ditafsir sebagai bagian tubuh yang biasa tampak sesuai kebudayaan setempat. Batasan ini memang menjadi sangat relatif. Ada penekanan “menutup kain ke dadanya” sebagai reaksi atas keadaan saat itu masih banyak wanita gurun pasir yang berjalan di tempat umum tidak menutup payudara, sehingga ada perintah itu. Alquran menyebut perintah menutup dada, tetapi tidak menyebut perintah rambut kepala.

Empat pandangan di atas ringkasan dari bermacam pandangan batasan aurat perempuan dalam Islam. Kalau semua pandangan diurai satu persatu akan banyak sekali. Dalam Al-quran banyak ditemukan kata “hendaklah”, kata itu ada yang menafsir sebagai bentuk perintah wajib, sunnah, atau dibaca sesuai konteks. Jika ada yang berpandangan bahwa jilbab ataupun kerudung sebagai anjuran atau sunnah, atau sebagai bentuk kehati-hatian itu pun tidak salah.

Terkait hukum cadar, itu pun berbeda-beda. Ada yang berpandangan sunnah. Ada yang berpandangan wajib menutup wajah bila terbukanya muka dikhawatirkan mengundah fitnah. Menimbulkan fitnah itu maksudnya bagaimana pun “debatable” dan tidak akan dibahas di sini.

Di tulisan ini juga tidak akan membandingkan mana pendapat yang dianggap paling benar ataupun pendapat yang dianggap salah. Semua pendapat memiliki dasar masing-masing yang dianggap benar.

Muslimah pada dasarnya punya pilihan bebas berpakaian sesuai kehendaknya, sesuai dengan iman yang diyakininya. Boleh bercadar, berjilbab, ataupun tidak berjilbab. Semua punya hak yang sama untuk mengekspresikan keyakinannya. Dan gaya pakaian tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan seseorang.  Yang semakin tertutup tidak berarti imannya lebih baik, yang semakin terbuka juga tidak berarti lebih buruk. Jika ingin menilai kualitas agama seseorang, silakan menilai bagaimana caranya dia memperlakukan orang lain. Bukan pada pakaiannya.

Kembali ke awal terkait dengan banyak orang Islam Indonesia yang kini mulai menuntut agar semua muslimah berjilbab, menjadi perlu lebih detail untuk dijelaskan pandangan ulama yang tidak mewajibkan jilbab. Ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi agar yang meyakini wajib jilbab membuka jilbab. Keyakinan tidak bisa dipaksakan. Kalau kemudian ada yang membuka jilbabnya karena tulisan ini, itu artinya pada dasarnya memang dia tidak meyakini jilbab wajib.  Dan itu tidak papa. Itu bagian dari perjalanan spiritualnya. Tak seorang pun berhak mengintimidasi seseorang yang melepaskan jilbabnya. Begitu juga sebaliknya, tak seorang pun berhak mengintimidasi seseorang atas pilihannya berjilbab ataupun bercadar. Namun, untuk saling kritik tentu saja boleh.

Pertama, salah satu ulama Islam Timur Tengah yang berpandangan jilbab tidak wajib adalah Al-Asymawi.

Dalam buku “Kritik Atas Jilbab” (2003), Muhammad Sa’id Al-Asymawi menyatakan bahwa jibab itu tak wajib. Al-Asymawi berpendapat hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab atau hijâb itu adalah hadist Ahad yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Bila jilbab itu wajib dipakai perempuan, dampaknya akan besar. Seperti kutipannya, “Ungkapan bahwa rambut perempuan adalah aurat karena merupakan mahkota mereka. Setelah itu, nantinya akan diikuti dengan pernyataan bahwa mukanya, yang merupakan singgasana, juga aurat. Suara yang merupakan kekuasaannya, juga aurat; tubuh yang merupakan kerajaannya, juga aurat. Akhirnya, perempuan serba-aurat.” Implikasinya, perempuan tak bisa melakukan aktivitas apa-apa sebagai manusia yang diciptakan Allah karena serba aurat.

Ulama Mesir tersebut mengurai bahwa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.

Kedua, Pandangan Quraish Shihab. Berdasarkan berbagai tulisan Quraish Shihab terkait pakaian muslimah, sejauh yang saya pahami, Quraish Shihab memaparkan berbagai pandangan ulama terkait batasan aurat perempuan dan tidak menilai mana pandangan yang paling benar atau pandangan yang salah. Menurutnya, ulama yang berpandangan jilbab tidak wajib memiliki dasar memadai sehingga kita tidak boleh menilai muslimah yang tak berjilbab tidak sesuai syari’at. Begitu juga yang berpandangan bahwa hukum cadar wajib, memiliki dasar yang memadai sehingga tidak perlu menilai muslimah bercadar telah berlebihan dalam berpakaian. Ulama berbeda-beda pendapat dan Quraish Shihab membebaskan pembaca/umat untuk memilih sesuai keyakinannya.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Laeliya,

Jakarta, 06 November 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace