Category Archives: Conservation

Sepatu-Sepatu Sneaker-ku

Terinspirasi dari Presiden Joko Widodo yang suka baju putih, celana jeans biru atau celana kain hitam, dan sepatu sneaker, aku juga jadi suka barang-barang tersebut. Tapi, kali ini aku mau bahas sepatu dulu, khususnya sneaker yang lagi sering kupakai.

1. Adidas: Cloudfoam (Cf) Refine Adapt, hitam. Ukuran 36,7 Euro; 22,5 cm, 4 UK; 5,5 US.

Ini ringan banget, lentur, dan nyaman. Ada bagian karet yang menyelimuti punggung kaki berkesan lebih sporty. Sepatu Adidas

Beli harga Rp. 800.000 di Planet Sport Margocity Mall. Produk ini keluar 4 warna; hitam, putih, biru muda, dan krem, didesain khusus perempuan. Saat di display hanya ada hitam dan putih. Aku pilih hitam. Kenapa? Suka aja. Oh ya, di bagian jaring-jaring agak khawatir mudah sobek, tapi ternyata kuat. Produk Adidas terjamin kualitasnya. Untuk dipakai menempuh komuter sekian kali keinjak, tetap oke.

Kupikir orang di lingkaranku belum ada yang pakai ini, tapi pas naik komuter pernah ketemu cewek yang duduk di depanku pakai produk persis sama, miliknya warna putih. Kami duduk berhadapan, kembar sepatunya, cuma beda warna. Elaaah.

Sekarang di toko online ada yang diskon, bisa dapat harga Rp. 620 ribu. Di web resmi Adidas Indonesia, tetap 800 ribu. Aku beli saat harganya normal, hiks. Gpp, wong duitku turah-turah. Haha. Nggaya. Yang penting ini dibeli pakai uang hasil kerja keras sendiri.

Belakangan alhamdulillah lagi longgar buat fashion dan tetap nabung buat traveling. Tadinya kan nabung buat beli laptop tertentu yang harganya nganu, tapi ternyata ada laptop yang lebih menarik dengan harga lebih rendah, jadi uang turah-turah. Huehehe. Kalau buat infaq, amal, dan sadaqah tidak perlu dipamerkan yak. Ups.

Menurutku, beli gudget tidak perlu ngincer yang harga selangit karena gawai cepat update, mudah bosan, dan sering ganti. Laptop atau HP dipakai 3 tahun, pasti ingin ganti. Beli sesuai kebutuhan saja. Lagian aku pakai laptop hanya untuk ngetik dan ngedit poto sederhana, serta software-software ringan untuk kerja, nggak perlu spesifikasi tinggi. Tapi, kalau mau beli mahal juga gpp sih, wong duit hasil kerja sendiri. Mahal atau murah relatif ding, tergantung kemampuan. Hehe. Eh, malah bahas laptop, kembali ke sepatu.

2. Hush Puppies: Chazy Dayo in Pure White Leather. Ukuran 36 Euro; 22,5 cm; 3 UK; 5W USA.

Panjang amat namanya. Produk desain ini sepertinya hanya keluar warna putih. Ringan dan nyaman. Pas banget di kaki, enak buat jalan. Bagian lidah belakang mudah kotor, tapi gpp. Bagiku kotor dikit semacam itu malah berasa lebih berkarakter karena agak belel itu penanda telah menempuh jalanan tangguh dalam hujan, panas, dan debu. Eaaa.  IMG_20190328_080324

Beli harga Rp. 1.119.000 di gerai Hush Puppies Margocity Mall saat ada diskon 30% hanya beberapa hari. Harga asalnya Rp. 1.599.000.

Sebenarnya awalnya ke Hush Puppies mau beli hoodie yang pernah kuincer. Tapi sudah nggak ada, jadi malah beli sepatu saja. Aku mah orangnya gitu, kadang niatnya cari apa, belinya apa. Haha. Nggak selalu lah. Kebetulan lagi pingin sepatu kasual putih. Memang mudah kotor, tapi karena suka, jadi membersihkannya pun dengan bahagia. Halaaah.

3. Nike: Nike Air Max Dia, warna merah jambu. Ukuran 36,5 Euro; 23 cm; 3,5 UK.

Empuk, ringan, nyaman, hak 3 cm. Lumayan bikin badanku yang mungil jadi lebih tinggi. Haha. IMG_20190325_174607Model ini ladies only, keluar beragam warna, dengan komposisi warna yang oke banget. Selancar IG pakai kata kunci tagar #nikeairmaxdia muncul kece-kece. Release produk paling awal kayaknya di Berlin Januari 2019.

Beli harga Rp. 1. 649.000 di gerai The Althlete’s Foot, Grand Indonesia Mall. Lagi nggak diskon. Gpp, uangku lagi turah-turah. Widiiih. Maksudku, lagi ingin memberi hadiah buat diri sendiri biar lebih semangat bekerja. Huehue.

Saat itu di gerai hanya ada hitam dan pink, padahal ada warna yang lebih kece di IG, yang garis bagian bawah warna oranye. Itu mantep banget. Tapi, kalau di Jakarta bisa didapat di mana, aku nggak tahu. Jadi pilih pink. Sebelumnya memang kepikiran cari sneaker pink, baru ini nemu yang cocok.

Baiklah, sebut tiga merk cukup ya, nggak enak kalau kebanyakan. Wakaka. Kebetulan kok produk luar semua. Jadi malu sama Pak Jokowi. Beliau saja dengan bangga pakai sneakers produk lokal yang harganya di bawah sejuta. Beliau pernah pakai sneaker Brodo pas naik moge. Brodo itu brand lokal yang produknya keren, tapi sepertinya khusus buat cowok. Ukuran terkecil 39. Nggak available buat kakiku. Pak Jokowi juga pakai sepatu lokal merk NAH sampai 3 warna: putih, hitam, dan merah dengan harga berkisar 500an ribu rupiah. Kualitasnya nggak kalah bagus dengan produk internasional.

Aku rakyat jelata biasa, kelas pekerja dan pemikir di ibukota, pakai sepatu lebih mahal dari yang dipakai presiden. Ckck. Haha. Aku yakin banyak anak milenial kayak aku. Tentu saja tidak masalah. Namanya selera tak bisa dipaksa. Uang hasil jerih payah sendiri tentu saja bebas dibelanjakan apa saja. Aku cuma mau bilang, Presidenku memang sosok luar biasa: sederhana, rendah hati dan inspiratif. Pak Jokowi sadar, apapun fashion yang dipakai beliau akan mendadak laris di pasaran. Karena itu, belakangan ia memakai fashion yang bisa memperkuat produk lokal. Seperti sepatu dan jaket. Tepuk tangan! Baiklah, lain waktu aku akan pakai sepatu produk lokal bermutu baik dan membuat review.

Kuningan Jakarta, 28 Maret 2019.

Leave a comment

Filed under Conservation

Gak Bisa Tidur 44 Jam

Ini rekor terlama aku terjaga. Bukan karena banyak pekerjaan, melainkan karena habis banyak baca dan anehnya nggak ngantuk sama sekali. Badanku lemas sampai tangan agak kiri tremor, tapi uniknya justru pikiran tenang dan sama sekali gak pusing. Cuma nggak bisa dibohongi kalau ada kecemasan kecil, cemas tapi nggak ngantuk.

Apa Yang Bisa Kulakukan?
Aku hubungi sahabat keadaan ini untuk berbagi aku mungkin insomnia. Memastikan aku punya teman bicara, ada ketenangan tersendiri. Aku tiduran dan merem, sambil mendengarkan musik instrumen seperti Relaxing Sleeping Music. Kedua kaki kunaikkan maksimal ke tembok biar lelah. Kalau dinaikan tanggung, aku bisa tertidur sampai pagi dengan kaki di atas. Meski nggak selalu, lebih sering tidurku nggak pindah posisi, nggak gerak sampai pagi. 🙂

Benar saja, setelah dinaikkan tinggi, kakiku lelah dan sekilas ngantuk. Ngantuknya aneh, langsung mimpi yang mengagetkan. Semacam tindihan. Jadi malah terteror. Aku baca-baca doa untuk tenang. Lalu, tertidur sampai pukul 5.15 pagi.

Apa yang membuat aku terjaga? Mungkin karena aku terngiang-ngiang usai baca blog seseorang. Aku baca semua tulisannya di blog tentang depresi. Aku baca pelan-pelan, baik-baik, dan ikut merasakan beragam emosi di sana.

Kenapa tertarik baca semuanya?
Kalau aku betah menyimak tulisan panjang seseorang, itu artinya tulisannya memang menarik. Ia curhat secara terstruktur tentang sesuatu yang “menyeramkan”. Kisahnya ingin bunuh diri saat studi di negeri orang, lalu diulangi saat kembali ke tanah air. Tapi beruntungnya, ia gagal. Satu kunci yang perlu diingat, ia terselamatkan karena saat pikiran itu datang, ia mencari teman bicara.

Kondisi batin seorang yang sedang mengalami depresi itu biasanya sensitif. Dia bisa menceritakan dengan runtut dan merespon sekelilingnya dengan rapi, elegan, dan rendah hati. Tak ada amukan ataupun sinis melihat hidup. Ia bahkan, menawarkan kepada siapa saja yang depresi dengan tangan terbuka untuk bisa menjadi teman berbagi. Sejatinya ia memiliki hati yang hangat. Semoga Tuhan memberkarti.

Dia depresi dan berpikir bunuh diri justru setelah baru saja wisuda master dari salah satu universitas di Eropa. Dengan segala pencapaian yang diraih, ia sendiri mengakui tak bisa menghentikan rasa depresinya.

Depresi memang kompleks dan bisa menyerang siapa saja. Sementara itu, tidak semua orang yang dilanda depresi mau terbuka, lebih suka menyimpan sendiri karena khawatir stigma negatif.

Mereka khawatir karena kebanyakan masyarakat kita memang belum sensitif masalah ini. Padahal mereka butuh dimengerti. Kita mustinya bisa berempati atau menguatkan, minimal tidak menghakimi. 

Aku barangkali terlalu menjiwai, terngiang-ngiang yang dia ceritakan sampai nggak bisa tidur. Bukan cuma kisahnya, juga komentar-komentar pembacanya yang juga berbagi tentang keadaan depresi mereka masing-masing. Semua seperti berlarian keras di kepalaku. Aku jadi makin mengenal diriku, untuk hal-hal tertentu yang sangat menyedot perhatian bisa “terpengaruh”. Hal lain, seperti usai nonton film hantu, sebulan nggak bisa tidur sendiri. Untung dulu di kos banyak teman, tiap hari keliling kamar, tidur kamar teman atau minta teman tidur kamarku. Gitu terus sampai sebulan. 🙂

Setelah tulisannya bikin aku terjaga 44 jam, apakah kemudian aku menjadi takut padanya? Sama sekali tidak. Aku malah berencana ingin bertemu dengannya untuk ngobrol. Ia di Jakarta dan kemungkinan besar bisa jumpa.

Kembali soal tulisannya yang berkisah pengalaman empirisnya mau bunuh diri. Aku menyimak beragam perasaannya dan analisisnya karena tertarik mengenai kesehatan masyarakat. Aku pernah memakai sepatu yang serupa, bukan perkara ingin bunuh diri sih, melainkan soal tidak bisa mengendalikan kecemasan karena aku pernah Panic Attack. Seperti tersedot ke lorong gelisah dan warna dunia seperti tak menarik lagi.

Dari uraiannya aku menjadi lebih memahami lagi kompleksnya jiwa manusia dan pada akhirnya lebih mengenal diri sendiri.Menambah pengetahuan bagaimana mengambil sikap untuk diri dan orang yang menderita depresi. ❤

Depok, 14 Agustus 2017 dini hari 00:57

Leave a comment

Filed under Conservation

Million Years Ago

Sudah hari ke-17 di bulan Januari. Detik bergulir cepat sekali. Lagu di komputerku masih sama sejak tanggal pertama, “Million Years Ago”. Lagu ini digubah dan dinyanyikan oleh Adele. Namun, konon sangat mirip dengan lagunya Ahmet Kaya yang berjudul Acilara Tutunmak, penyanyi dari Turki. Ahmet menciptakan lagu ini jauh lebih duluan. Jadi, Adele dianggap plagiat. Mau googling kapan tahun pastinya lagu Ahmet diciptakan kok malas. Haha.

Aku tahu lagu ini berawal dari percakapan dengan seseorang di Turki. Lalu, ini menjadi lagu kebangsaanku di bulan ini. :p

Ini versi Ahmet Kaya:

Ini versi Acoustic cover oleh Emir

Ini versi Violin Cover. Awas lirikan masnya! Haha.

Ini liriknya:

I only wanted to have fun
Learning to fly…
Learning to run…
I let my heart decide the way
When I was young…
Deep down I must have always known
That is would be inevitable
To earn my stripes I’d have to pay!
And bear my soul

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who can’t stand the reflection that they see
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor

I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother; I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago
When I walk around all of the streets
Where I grew up and found my feet
They can’t look me in the eye
It’s like they’re scared of me
I try to think of things to say
Like a joke or a memory
But they don’t recognize me now
In the light of day…

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who never became who they thought they’d be
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother, I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago

A million years ago!

Leave a comment

Filed under Conservation

2017 Ingin Menikah

Ini barangkali sangat personal. Tapi tidak apa-apa kubagi di tempat terbuka ini. Barangkali ada yang senasib denganku. Kamu tak sendiri.

Sudah tak terhitung lagi orang bertanya kapan aku akan menikah. Usiaku memang sudah kelewatan sih. Maksudnya? Sudah lewat 30. Andai pertanyaan itu bisa kupecahkan pakai persamaan matematika, sudah bisa kujawab secara akurat. Aku suka Matematika! Haha.

Sudah lewat usia 30 kok belum menikah juga. Kenapa? Yang pasti karena belum menemukan seseorang yang tepat. Aku TIDAK trauma lantaran cinta. Tidak sama sekali. Aku jatuh cinta berulangkali dan patah hati berulangkali. Dan, tidak kapok berharap jatuh cinta lagi untuk kemudian ingin menjalani sebuah pernikahan dengan bahagia, senantiasa dan selamanya. Syalalalah.

Mungkin Allah akan memberiku amanah menikah tepat ketika aku sudah siap punya anak. Jiwa manusia itu kompleks, apalagi ketika dibedah dari pribadi ke pribadi. Secara teori, manusia secara umum ingin melanjutkan keturunan. Namun, tidak setiap manusia mempunyai keinginan yang sama. Aku juga ingin punya keturunan, tapi tidak ingin cepat-cepat. Seandainya aku dulu menikah di usia 27, belum tentu aku siap langsung punya anak. Secara fisik barangkali siap. Secara psikis belum tentu.

Melahirkan anak adalah tanggungjawab besar untuk mendidik, menghidupi, dan memastikan keselamatan dan kebahagiaannya. Seringkali aku berpikir keras, apakah kelak ketika menjadi ibu, aku sanggup menjadi ibu yang baik? Aku memiliki Panic Attack (Anxiety Disorder) yang sejak sekian tahun belakangan kulawan dengan berbagai cara.

Aku bisa memahami adanya para ibu yang mengidap Baby Blues. Mereka usai melahirkan takut berlebihan tak sanggup merawat, takut menyakiti bayi sendiri, dan seperti tidak terkoneksi dengan si buah hati. Jangan salahkan mereka karena itu ada faktor kerja hormonal yang berpengaruh. Aku pernah dalam fase takut membayangkan kelak punya bayi. Takut menyakiti, takut tak sanggup membersamai. Mungkin seperti yang dirasakan para ibu yang terkena Baby Blues. Padahal, aku belum juga nikah. Hihi. Dan, seandainya punya suami bagaimana caranya menyampaikan menunda momongan. Itu pernah berputar-putar di kepalaku.

Seiring waktu kecemasan itu berangsur hilang. Alhamdulillah. Kalau dalam agama disebutkan bahwa manusia akan sedikit diuji dengan berbagai hal seperti ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, barangkali ini ujianku dalam bentuk ketakutan. Ketakutan itu ada dalam pikiran, tapi itu nyata kurasakan.

Islam membawa kabar gembira untuk manusia agar ketika diuji, melewatinya dengan salat dan sabar. Aku tidak bisa menilai sendiri apakah aku telah melewati ini semua dengan sabar? Aku pernah dalam fase terkena Panic Attack yang sangat mengganggu dan merasakan karunia paling berharga dalam hidupku adalah bisa sembuh dari ini. Kini menurutku alhamdulillah telah bisa mengatasi.

Hikmahnya adalah aku menjadi lebih menghargai keberanian-keberanian diri hingga level terkecil. Keberanian sendiri pergi ke luar kota misalnya. Bepergian sendirian bagi kebanyakan orang mungkin hal yang sangat biasa saja. Namun, bagi pengidap Panic Attack sepertiku, bisa menempuhnya adalah pencapaian luar biasa. Jangankan keluar kota, sanggup keluar pergi ke warung dekat rumah saja, itu bagiku karunia. Karena ketika Panic Attack menyerang, aku merasa tidak sanggup kemana-mana. Melawan kecemasan yang bersarang di pikiran seperti melawan monster jahat. Aku kalau mau pergi jauh sendirian kadang-kadang demam dulu. Ini sepertinya respon tubuh terhadap kecemasan yang timbul.

Hei, tapi aku sanggup bepergian sendirian ke Lebanon akhir 2015. Ini seperti mimpi sekaligus bukti bahwa tekad yang kuat sanggup melawan hambatan apapun. Tapi, sebelum berangkat aku demam 10 hari. Ups! Bolak balik ke dokter, cek darah alhamdulillah tak ada penyakit gawat, tapi tetap demam. Aku sampai nyari asuransi kesehatan khusus untuk Lebanon. Karena Lebanon termasuk wilayah rawan konflik, tidak ada asuransi Indonesia yang menyediakan. Atau, aku yang nggak nemu? Sudah cari-cari sana sini dengan berbagai bantuan, tak kutemukan. Akhirnya kusampaikan ke lembaga pemberi beasiswa di Beirut kalau aku butuh asuransi kesehatan selama di sana. Mereka meminta surat keterangan dari dokter dan hasil tes laboratorium. Tidak ada sakit spesifik, “hanya” sel darah putihku sedang turun drastis karena radang tenggorokan. Itulah kenapa aku demam.  Sebelumnya lembaga tidak menyediakan asuransi, tapi karena kasusku ini akhirnya mereka memberikan asuransi kesehatan kepada semua peserta. Syukurlah. Saat mau pergi sendirian ke Aceh, aku juga demam. Pfff! Aku tak sanggup menempuh perjalanan hidup ini sendirian. Huohuohuo.

Kalau sekarang, aku jauh sudah siap. Siap bepergian, siap menikah, dan siap punya anak. Meskipun aku juga sadar bahwa amanah anak adalah kuasa Tuhan. Biarpun seseorang sudah siap belum tentu Tuhan memberi segera. Tapi setidaknya kesiapanku ini adalah pencapaian positif yang kumiliki. Selamat tinggal Panic Attack, tugasmu mengujiku sudah tunai, pergilah selamanya, mohon dengan sangat jangan kembali.

Itu saja dulu. Aku telah berpanjang lebar, padahal sejatinya aku cuma sedang mengetuk pintu Tuhan agar jodohku datang. Seorang yang tepat dan terbaik untukku. Seorang yang membawa ketentraman, yang selalu menyatu denganku, dan penuh kasih sayang. Senantiasa dan selamanya. Pun semoga aku demikian untuknya. Amiin.

Selamat tahun baru.

Dari Jomblo Bahagia. :p

Depok, 2 Januari 2017

2 Comments

Filed under Conservation

Hidup ini Piknik, Selamanya Piknik

foto 1.jpg“Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi”. Kali pertama membaca judulnya, saya berpikir, apa ini nggak terbalik? Yang fana bukankah kita? Sedangkan yang abadi bukankah waktu? Kita dalam pengertian saya-dan-Anda-sebagai-raga adalah fana. Raga ini hanya sementara, kita dulu pernah tiada dan nanti akan mati. Sedangkan waktu tidak diketahui awal dan akhirnya, dia abadi.

Atau judul itu satire? Saya nggak tahu pasti. Sebagai penonton yang tidak terlibat dalam proses pembuatan karya ini, tafsiran saya bisa berbeda dengan yang sejatinya ingin disampaikan sutradara dan pemainnya. Namun, menafsir karya seni tidak berlaku salah dan benar, tidak memiliki alat ukur dengan variabel tetap yang tidak bergerak. Jadi, inilah tafsir saya atas karya ini.

“Teater tubuhnya berhenti dulu, ini realis,” ucap salah satu pemain di tengah pertunjukan. Selama ini Teater Garasi memang dikenal sering menampilkan pertunjukan gaya akting nonrealis. Orang-orang menyebutnya teater tubuh. Pertunjukan kali ini campuran realis dan nonrealis. Buat saya, akting gaya realis bisa membantu memahami dengan lebih jelas isi cerita, yang kemudian menjadi bekal untuk menafsir beragam kosa gerak nonrealis.

Pertunjukan ini tentang sebuah keluarga, ibu, bapak, dan tiga anak dengan segala hasratnya. Rosna jadi TKW di Hongkong, hamil entah dengan siapa, dan saat kembali ingin jadi artis sinetron. Rasid (MN Qomaruddin) jual sawah untuk jihad ke Arab, kata ibu (Erythrina Baskoro). “Afganistan!” Rasid mengoreksi. Bagi ibu, Afganistan sama saja, Arab. Anak ketiga adalah Husain, suka adzan, suaranya jelek, dan sedeng. Si bapak seorang penembak burung dan si ibu menderita karena berbagai ulah keluarganya. Lebaran adalah satu peristiwa yang mempertemukan kehangatan mereka dalam satu meja. Saling cerita dan mendengarkan keluhan. Termasuk keluhan Rosna yang memberitahu rendang di meja dimakan kucing.

Ini satu potret keluarga hari ini. Sosok-sosok dengan caranya sendiri-sendiri ingin menuntaskan hasrat-hasrat tersembunyi. “PKI fuck, PKI fuck!” Rasid benci PKI dan benci Haji Ahmad. Haji Ahmad disebutkan sebagai pengagum Gus Dur, tokoh agama setempat yang memberikan nama untuk si Husain. Rasid seolah mewakili kebanyakan mereka yang berhasrat jihad dengan kekerasan, memimpikan khilafah, ingin mati syahid dalam pertempuran di Timur Tengah, dan tidak sejalan dengan pengikut Gus Dur yang mengusung penghormatan pada pluralitas.

Cerita ini juga memotret jalanan ibukota ketika Rosna ingin mewujudkan cita-citanya sebagai artis sinetron. “Jakarta adalah tempat bertemunya cewek urban dan cowok urban,” ucap sopir angkot. Gerrr. Tawa penontoh pecah. Sejumlah aktor memainkan lebih dari satu karakter. SepertiGunawan Maryanto memainkan sebagai bapak di dalam potret keluarga dan sebagai sopir angkot dalam potret kisah lain. Di sisi lain, satu karakter dimainkan oleh lebih dari satu aktor. Contohnya, karakter Rosna diperankan oleh dua aktor, Rosna yang menjalani hidupnya oleh Arsita Iswardhani dan Rosna dalam kisah “Petualangan Rosna” oleh Sri Qadariatin. Sopir angkot yang menonton kisah Rosna, mengapresiasinya dengan mengaitkan romantisme masa lalu. Mengingatkan tentang ibunya yang mengagumi Sri Devi dan neneknya yang PKI. “Blablabla…bagus Banget. Mungkin neneknya PKI juga,” komentar sopir. Tawa penonton memecahkan keheningan lagi.

Menariknya pertunjukan ini adalah mengajak penonton berpikir, menafsir, dan tak lupa menghibur. Sekian kali kita dibuat tertawa, setelah jidat mengkerut bertanya-tanya ini maksudnya apa.

Bagaimana kalau hasrat-hasrat itu hanyalah kegilaan di alam pikiran? Hal-hal yang mencekam dan menghibur itu barangkali hanya ada dalam pikiran si sedeng, Husain. “Anak saya Rosna tidak hamil, menikah dengan teman kerjanya di Hongkong,” jelas ibu menjelang akhir cerita. Rasid tidak jual tanah, tapi belajar ke Afganistan. Husain suka adzan, suaranya bagus, tidak gila. “Rendangnya tidak dimakan kucing,” jerit Rosna. Kehangatan di meja makan itu tidak lagi ada. Sosok-sosok itu menjadi beku, menyimak monolog Husain yang mengaku tidak sekolah tapi bisa sampai ke bulan. Benar kata mereka, hidup ini piknik, selamanya piknik.

Kehidupan dengan segala hasratnya adalah menghangatkan. Kehangatan itu tidak selamanya, waktunya terbatas, fana. Sedangkan kita sebagai kisah akan abadi.

Karya pertunjukan ini dipentaskan di FIB, Universitas Indonesia, 26 Juli 2016 dan di Goethe-Institute Jakarta, 30-31 Juli 2016. Sutradara Yudi Ahmad Tajudin.

Nur Laeliyatul Masruroh
Depok, 31 Juli 2016.

Leave a comment

Filed under Conservation, Theatre

2016: Baik

Ini tulisan pertamaku di tahun 2016. Lama nggak nulis di sini karena males mindah tulisan ke sini. Selain itu, karena tidak ingin terlalu banyak berbagi biarpun itu cerita kebahagiaan. Padahal seringkali menuliskan isi pikiran konon bisa menajamkan ingatan dan merekatkan kembali kenangan yang kelak mungkin akan retak. Tapi belakangan aku banyak menyimpan saja. Kalaupun ditulis tidak di tempat umum seperti ini. 🙂

Tahun 2016 ini aku ingin ganti lensa kacamata, dalam arti literal dan arti konotasinya. 🙂 Ingin beli kacamata baru kalau ada rezeki, tapi yang lama sebenarnya masih bagus, cuma sedikit longgar. Kacamata terakhir dibeliin kantor seharga Rp.800.000, itu sudah lengkap dengan pelindung radiasi komputer dan pelindung sinar matahari. Kalau di bawah terik mentari bisa menggelap sendiri. Kalau beli sendiri seharga itu kayaknya nanti dulu, ada yang perlu diprioritaskan lebih dulu. Untuk ganti lensa kacamata dalam arti yang lain, yaitu ingin mengubah cara pandang terhadap hal-hal tertentu.

Tahun 2016 semoga ada kejutan anugerah yang menyenangkan. Sebenarnya hal yang paling kubutuhkan sekarang adalah meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Baca sejumlah jurnal sosial rasanya sudah mual-mual, bolak-balik buka kamus dan kadang dahi masih berkenyit. Apalagi nulisnya, hanya menulis 500 kata bisa seharian karena mempelajari bahannya bisa berjam-jam. Eh, bukannya itu secara tidak langsung sedang menaikkan kemampuan berbahasa Inggris ya? Semoga demikian. Kalau bisa sih bisa mencapai skor IELTS 8! Haha, jangan nanggung-nanggung.

Tahun 2016 semoga bisa mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan dengan lebih baik, terus lebih baik, dan lebih baik. Mengelola jiwa dan raga dengan lebih baik juga. Dengan demikian, rizki juga akan mengikuti datang dengan lebih baik. Rizki materi maupun non-materi. Termasuk rezeki jodoh yang baik. Amiin. 🙂

Sudah gitu aja, ini sudah kebanyakan curhat. 🙂

Saat menulis ini sedang adzan magrib, dan doaku sore ini adalah PASTI sanggup menyelesaikan tugas-tugas the course malam ini dengan baik. 🙂

#Segera kembali ke jurnal.

 

 

Leave a comment

Filed under Conservation

Harapan dan Kegelisahan

teks sumpah pemuda

Sumber gambar 1: tidak diketahui

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ini saya juga ingin menulis sesuatu yang menjadi harapan dan kegelisahan pribadi sebagai pemudi harapan bangsa. Syalala. Sebelum jauh menulis ini itu, saya ingin mengingatkan diri sendiri isi sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yaitu (gambar 1.):

Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia

Bertanah air Indoneisa artinya juga menjaga tanah dan air di nusantara. Mengelola dengan baik untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan menjaga kelestarinnya.

Harapan. Tanah Indonesia yang subuh, lahan yang luas, hutan yang banyak, flora dan fauna yang beragam, kaya tambang mineral, logam, dan minyak yang melimpah, semua ada di negeri kita tercinta. Ini bisa menjadi modal yang superbesar untuk memakmurkan Indonesia.

Yang menggelisahkan. Kurangnya sumber daya manusia yang handal dalam pengelolaan sumber daya alam. Peraturan atau undang-undang yang ada belum bisa merawat semangat petani dan belum mampu melindungi hutan. Kebijakan kemudahan impor yang disalahgunakan, hanya menguntungkan pihak tertentu, merugikan rakyat banyak.

Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

Menurut KBBI, bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Harapan.  Indonesia kaya budaya, bisa dalam bentuk rumah adat, busana adat, bahasa lokal, nilai-nilai kearifan lokal, tarian, dll bisa sebagai modal yang besar bangsa ini memiliki nilai yang tinggi. Modal yang besar ini bisa dimanfaatkan sebagai jalan atau inspirasi untuk memakmurkan rakyat dan menjadi Indonesia yang berwibawa.

Yang menggelisahkan. Pertama, makin banyak orang yang merenovasi rumah adatnya dengan rumah masa kini yang tidak memiliki kekhasan jati diri bangsa. Kalau kelak semua bangunan serupa, itu tidak lagi istimewa. Orang pergi ke Roma dan Bali karena di antaranya ada bangunan khasnya kan? Semakin banyak orang yang tidak lagi mengenal dan mengenakan baju adat daerahnya. Bahkan, kadang atas nama agama Islam, melarang orang mengenakan kebaya, bersanggul, dan menari.

Menjunjung Bahasa Persatuan Indonesia

Harapan. Biarpun negeri ini pernah dijajah Belanda ratusan tahun dan Jepang, tetap memiliki bahasa resmi tersendiri yang berasal dari bahasa nusantara ini, yaitu bahasa Indonesia. Kita patut bangga atasnya. Banyaknya jumlah bahasa lokal di sepanjang nusantara, konon berjumlah tak kurang dari 700, kini hampir semua penduduknya mampu berbahasa Indonesia tanpa kehilangan bahasa asal daerahnya. Para anak muda yang semangat belajar bahasa asing, tetap bisa berbahasa Indonesia.

Yang menggelisahkan. Di era reformasi yang tidak lagi ada tantangan berarti dan era digital yang mendorong setiap orang jadi pusat bumi, tak dipungkiri negeri ini melahirkan banyak pemuda pemudi alay yang berbahasa alay, tidak/kurang memahami tata bahasa sendiri. Sudah begitu, tidak ada upaya diri sendiri untuk membenahinya. Bahkan, banyak media yang bahasanya berantakan, padahal tulisan wartawan dan penulis bisa menjadi ujung tombak kokohnya bahasa. Tata bahasa yang keliru oleh wartawan bisa diduplikasi terus-menerus sampai kemudian menjadi salah kaprah. Contohnya kata “acuh” yang artinya “peduli”, berasal dari “acuh tak acuh” (peduli dan tak peduli). Namun, belakangan seringkali digunakan dalam kalimat yang tidak tepat sehingga orang banyak yang menganggap “acuh” itu berarti “tak peduli”.

Demikian yang saya harapkan dan saya gelisahkan tentang negara ini pada level yang lebih luas. Untuk yang lebih khusus, saya sedang mempelajari tentang keragaman religius dan  tentang membangun perdamaian. Ini aktual untuk kondisi Indonesia yang belakangan banyak dilanda isu perselisihan inter dan antar-agama hingga menimbulkan bentrokan. Kristen mayoritas di Papua membakar masjid milik muslim minoritas. Muslim yang mayoritas di Aceh membakar sejumlah gereja milik minoritas. Di media sosial gencar disebarkan kebencian terhadap syiah, ahmadiyah, dll hanya karena beda ideologi. Ini menyebabkan sekelompok syiah di Madura diusir dari tanahnya. Masjid Ahmadiyah di Cikeusik disegel oleh muslim lain dan ada yang dibunuh karena dianggap sesat. Generasi muda di bawah ajaran-ajaran tertentu terkait agama, kehilangan rasa nasionalisme. Banyak PR di negeri ini.

belajar teks teks Islam and Others

Teks-teks ini tentang “Islam, Keragaman Religius, dan Mambangun Perdamaian” yang sedang saya jalani melalui kursus online. Selain tema yang menantang, juga berbahasa Inggris. Banyak kata dan idiom yang masih asing buat saya sehingga bolak balik buka kamus. Selalu ada tugas menulis dalam bahasa Inggris dalam menganalisis teks. 🙂

Saya terdorong mempelajari hal tersebut karena itu begitu mengusik hati. Ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini? Dan apa yang bisa saya lakukan? Dari kesibukan yang sedang saya jalani belakangan ini, setidaknya membantu saya menganalisis masalah perselisihan dalam agama, kemudian belajar membuat langkah praktis untuk mengatasinya. Sebuah rahmat, saya mendapatkan kesempatan ini. Dan pada akhirnya sebagai salah satu pemudi Indonesia, saya kali ini pun tidak bisa bersumpah apa-apa, hanya bisa melakukan sebaik-baiknya semampu saya dan semoga semangat ini terus terjaga. Jika ini belum bisa memberikan kontribusi langsung pada negara, untuk sementara setidaknya ini berguna membantu saya berjuang melawan kebodohan diri sendiri.

Peringatan sumpah pemuda ini bisa menjadi momen untuk menyalakan semangat agar makin berkobar. Jika pemuda tahun 1928 memiliki semangat juang tinggi untuk merdeka, kita di tahun 2015 ini juga bisa memiliki semangat juang tinggi untuk belajar dan membangun. Dengan semangat yang tinggi, segala kegelisahan pasti bisa teratasi—baik kegelisahan bangsa maupun kegelisahan diri sendri. Merdeka!

Laeliya,

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Conservation