Category Archives: Conservation

Time Will Tell

Saat menyimpan catatan lama di FB nemu tulisan 6 tahun lalu. Apa yang kurasakan dulu masih sama dengan hari ini, hanya sekarang lebih relaks.:)

Berikut tulisannya:

2011, Time Will Tell

Judulnya terlalu indah, kayak lagu apa gitu ya, padahal intinya cuma mau curhat. Tapi bukankah lagu juga isinya cuma curhat kan? :p

Saya sering dihantui pertanyaan siapakah soulmate kita? Sebagian orang yang belum menemukan pasangan jiwa, mungkin sama seperti saya, sulit menjawabnya. Akhir-akhir ini saya bertanya pada diri sendiri serius soal ini. Sampai-sampai sekian waktu lalu ini tubuh saya abruk lantaran memikirkan ini. Huahaha dueerrr, segitunya sih Lael?!

Saya seringkali berpikir memiliki banyak keberuntungan dalam perjalanan hidup ini, kecuali soal jodoh. Bagi teman-teman pada umumnya, mungkin tidak pernah tahu apakah saya sedang dekat dengan seseorang atau tidak. Apakah saya sedang menjalin hubungan atau sedang patah hati. Atau kalau yang sering membaca catatan saya utuh, mungkin sedikit menyimpulkan. Kadang saya menulis prosa yang sungguh mewakili perasaan saya, tapi lain waktu saya menulis prosa hanya berdasar pengandaian saya dalam keadaan itu, kadang saya mewakili teman yang curhat. Bisa dibilang, orang tak bisa menyimpulkan keadaan saya sebenarnya dalam banyak potongan.

Seperti perempuan pada umumnya, saya juga mencurahkan hati alias curhat sama sahabat-sahabat tertentu. Pada sahabat ini saya cerita satu hal, sama sahabat lainnya saya cerita hal lainnya. Tegantung karakter sahabat itu, kadang saya hanya perlu didengarkan, kadang saya perlu pendapat, kadang saya perlu penguatan. Jadilah sebenarnya saya seperti nya tidak punya rahasia soal cinta. Bagian barat bisa melihat saya utuh dari barat, bagian selatan melihat saya utuh dari sudut selatan, begitu juga bagian timur dan utara. Namun secara satu-satu sepertinya tidak ada yang benar-benar mengerti apa sesungguhnya terjadi di kedalaman hati ini. Seringkali Tuhan menitipkan kegalauan hanya menjadi rahasia mahluk yang bersangkutan denganNya saja.

Kembali ke perihal soulmate. Membahas soal soulmate, tentu saja selalu terkait perihal cinta. Apa itu cinta? Kini saya sungguh sedang tidak tahu pasti apa itu cinta. Mungkin ketika kita punya energi besar untuk melakukan suatu hal demi seseorang, itu salah satu ciri-ciri cinta. Sesuatu yang membuat kita bermenung di depan kaca dan entah dari mana hadirnya perasaan istimewa mengingat sesosok nama, mungkin itu juga cinta. Atau ketika seseorang menyapa, membuat hati berbunga-bunga, mungkin itu juga cinta. Saya mencoba mendefinisikan dengan serius setelah menengok perjalanan lalu dan mengihitung berapa kali pernah mengalami perasaan yang seperti itu. Hingga seorang sahabat berpendapat, love is marriage. Dan itu sepertinya definisi paling masuk akal, cinta yang sebenarnya dan bertanggungjawab adalah cinta dalam ikatan pernikahan. Kalau begitu, yang saya rasakan selama ini bukan apa-apa, bukan cinta sejati, itu hanya cinta monyet. ๐Ÿ˜€

Sejak dulu saya pikir, datangnya perasaan cinta itu anugrah, ketika sesuatu tumbuh di hati, saya pikir itu sinyal Tuhan menunjukkan jodoh saya. Karena itu saat saya suka seseorang, apapun yang terjadi, saya coba pertahankan. Dan nyatanya? Semua beakhir bubar. Sejumlah nama pernah hadir istimewa di hati saya dan kini saya yakin mereka bukanlah soulmate saya. Kenapa? Sebagian diantara mereka telah menemukan pasangannya, lebih memilih perempuan lain ketimbang saya. Sebagian mungkin sedang penjajakan dengan yang lain. Intinya, mereka bukan bagian istimewa lagi di hidup saya kini. Yang teristimewa adalah yang sedang terjadi kini. Tapi bukan berarti saya menyesali mendefinisikan istimewa itu di masa lalu, semua seperti mata pelajaran yang sudah usai. Ganti mata kuliah berikutnya. Tentu saja ada hikmah di balik pertemuan-pertemuan itu. Pertemuan itu mungkin memang rencana Tuhan untuk mengajari kita sesuatu. Pertemuan-pertemuan itu pada akhirnya menunjukan bukan jodoh yang tepat. Atau entahlah mengapa pertemuan itu terjadi. Konon laki-laki baik akan bertemu dengan perempuan baik. Apakah dia atau saya tidak baik, hingga harus bubar? Seseorang itu bisa jadi memiliki pribadi baik, saya juga merasa orang baik-baik, hanya saja dua kebaikan itu tidak tepat bila disatukan alias tidak berjodoh. Ya sudahlah diikhlaskan Lel.

Saya kadang merasa sangat nelangsa mengingat pertanyaan diri, mengapa ya saya belum juga menemukan jodoh ? Bahkan kadang merasa malu jika ingat berganti-ganti cinta. Tahun sekian jatuh cinta sama seseorang, tahun berikutnya ganti, tahun berikutnya ganti lagi. Mungkin ada orang yang bangga pernah menjalin sekian kali relation, tapi sejujurnya saya malah nelangsa, saya tidak pernah meniati berganti-ganti seperti itu. Dan sejujurnya saya tidak pernah benar-benar pacaran seperti orang pada umumnya, mungkin yang terjadi yang sudah-sudah hanya semacam jalinan perkenalan untuk menuju proses serius, eh itu juga namanya pacaran bukan? Hampir-hampir saat saya punya teman istimewa, lidah saya sulit untuk bilang, hei itu pacar saya. Atau ketika semua berlalu, barulah mungkin saya baru bilang bilang oh ya itu mantan kekasih saya.

Saya ini produk negeri dongeng. Yang sejak kecil berpikir, sekali menemukan pangeran, dialah cinta terakhir selamanya. Itulah yang membuat saya merasa malu ketika berganti cinta. Saya pikir saya hanya akan jatuh cinta atau menyukai seseorang sekali seumur hidup. Jaman SMP, jaman belum ada HP dan jejaring sosial seperti saat ini, yang namanya cinta diungkapkan lewat surat. Saat itu saya tinggal di asrama pesantren, beberapa surat pernah saya terima, saat itu saya mungkin troble maker untuk hal lain, tapi tidak berani untuk melanggar aturan pesantren soal larangan pacaran. Surat cinta yang isinya saling balas bisa sebagai bukti kami bermain-main. Pesantren punya aturan main sendiri ketika santri ketahuan surat-suratan apalagi sampai melakukan janjian pertemuan. Seingat saya, saya tidak pernah membalas surat, setiap terima surat saya bakar di belakang koperasi. Haha. Tapi, saya juga pernah diam-diam mengirim suat kepada adik kelas yang saya suka berisi sepotong puisi dan tidak berbalas. Huahaha jaman SMP saya sudah suka brondong. Mungkin itu cinta monyet saya yang pertama, yang berani saya ungkapkan. Pernah sih pas SD suka kakak kelas, suka hanya dalam hati. Hanya suka memandang ketika dia di pintu kelas. Selebihnya cuma senyum dalam hati, lihat rumahnya saja deg-degan. Lagi-lagi, cinta anak monyet.

Saat SMA, saya pernah juga suka teman satu sekolah, tapi suka hanya dalam hati. Tidak berpikir untuk pacaran. Hanya menemukan dia baik dan menyapa saja, saya sudah bahagia, dan saya menyimpan perasaan itu rapat, berusaha agar yang bersangkutan tidak perlu tahu. Saya merasa saat itu, saya belum saatnya pacaran, atau karena sering bergaul dengan teman aktifis Rohis, saya lebih nyaman memilih seperti mereka, tidak ada kamus pacaran. Saya fokus belajar karena khawatir tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu ibu sigle fighter, aku khawatir orangtua tidak bisa membiayai andai saya kuliah di swasta, jadi saya 100% fokus belajar.

Ketika kuliah, saya selalu terngiang pesan guru SMA kalau mencari pasangan jangan satu profesi. Jadi, saat itu hampir saya tidak memperhitungkan teman-teman sefakultas saya untuk jadi pasangan saya kelak. Tapi prinsip itu saya ubah, ketika di akhir kuliah dan setelah lulus. Saya pikir mungkin dengan berpikir begitu menghalangi jodoh saya, saya pernah curhat pada salah satu teman laki-laki sesama kuliah fakultas Biologi. Kok aku nggak pernah ditembak sama anak Biologi ya? Temanku malah bilang, ya sudah Lel, bagaimana kalau kita pacaran? Mungkin dia iseng ngomong seperti itu, atau saat itu sepertinya dia sedang baru patah hati. Saya sempat berpikir, apa iya ya baiknya sama dia saja. Kalau sama sahabat sudah jelas kita sayang dia ya, tapi ya itu sayangnya lain, teman platonis. Huaa, saya malah jadi aneh sendiri. Akhirnya kami tetap bersahabat dan berharap terus bersahabat. Lain waktu saya juga akhirnya pernah terlintas suka sama sahabat Biologi yang lain, tentu saja karena saat itu dia single. Kalau saya tahu seseorang sudah punya pasangan, saya paling anti untuk mengganggu. Karena saya tahu rasanya, ketika sedang menjalin relation dengan seseorang, ada orang ketiga yang nggak tahu diri masuk, itu rasanya menyakitkan.

Lalu hari ini, apa yang sedang saya alami dengan hari ini? Saya sedang coba membangun hubungan dengan seseorang lantaran dijodohkan teman. Hah? Jaman begini masih ada acara jodoh menjodohkan? Iya betul. Ceritanya panjang, tidak akan saya paparkan kali ini. Jika boleh meminta kepada Allah, saya berharap sungguh ini yang terakhir. Amin. Dan sejujurnya saat ini bisa dibilang kondisi terbaik hati saya dibanding keadaan yang sudah-sudah.

Lelaki seperti apakah yang saya cari? Saya juga bingung kalau diminta menyebutkan kriteria. Saya berpatokan gini, Nabi tauladan saya, Muhammad SAW pernah ditanya apakah itu beragama ya Rasulullah? Beliau menjawab, beragama adalah ahlak yang baik. Beliau menerima pertanyaan yang sama hingga tiga kali dan beliau menjawab dengan kalimat yang sama hingga tiga kali. Dalam Islam, saya diajarkan untuk memilih pasangan dengan mengutamakan agama. Lalu orang beragama itu yang seperti apa? Seperti yang diungkap Nabi, yang berahlak baik, dan ini sangat luas maknanya. Orang yang nampak rajin salat, yang pengetahuan agamanya luas, atau yang sangat fasih melafal dalil, menurut saya bukanlah jaminan dia agamanya lebih baik dari yang lain. Jadi, ukuran ahlak baik itu seperti apa? Pada akhirnya saya pegang pesan nabi, mintalah fatwa pada hatimu, pada jiwamu. Kebaikan adalah sesuatu yang mendatangkan ketentraman, sedangkan keburukan akan membuat jiwa gelisah. Qolbun atau hatilah yang mampu memilah itu.
Jadi, pada akhirnya kriteria seperti apa seharusnya ketika kita memilih jodoh? Menurut saya, setiap manusia, sekali lagi, setiap manusia, bukan hanya muslim saja, berhak menemukan kebenaran dan diberi kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk memahami kebaikan.

Di atas semua akhirnya sampailah pada kata saling cocok. Kalau sudah saling cocok, kita akan menemukan ketentraman, dan disitulah sepertinya akan lebih mudah hadirnya cinta. Jadi, apakah saya mencintainya? Perlukan saya jawab sekarang? Hoho. Coba mungkin nanti saya perlu tanya dia, apakah dia merasa saya mencintainya. Lalu, apakah dia mencintai saya? Perlukah jawaban itu saat ini? Sejujurnya di hati yang terdalam, saya perlu tahu. Tapi saya juga paham semua perlu proses. Kami terpisah jarak ribuan mil, semua akan terjawab oleh waktu. Mungkin dia bisa menjawab ketika menemukan catatan ini. Namun sayangnya dia bukan tipe yang suka baca catatan begini, dia tipikal pembaca rumus dan angka-angka, mungkin tak akan menemukan. Ya sudahlah sabar Lel, time will tell. ^_^

Jakarta, 23 Mei 2011

Advertisements

Leave a comment

Filed under Conservation

Gak Bisa Tidur 44 Jam

Ini rekor terlama aku terjaga. Bukan karena banyak pekerjaan, melainkan karena habis banyak baca dan anehnya nggak ngantuk sama sekali. Badanku lemas sampai tangan agak kiri tremor, tapi uniknya justru pikiran tenang dan sama sekali gak pusing. Cuma nggak bisa dibohongi kalau ada kecemasan kecil, cemas tapi nggak ngantuk.

Apa Yang Bisa Kulakukan?
Aku hubungi sahabat keadaan ini untuk berbagi aku mungkin insomnia. Memastikan aku punya teman bicara, ada ketenangan tersendiri. Aku tiduran dan merem, sambil mendengarkan musik instrumen seperti Relaxing Sleeping Music. Kedua kaki kunaikkan maksimal ke tembok biar lelah. Kalau dinaikan tanggung, aku bisa tertidur sampai pagi dengan kaki di atas. Meski nggak selalu, lebih sering tidurku nggak pindah posisi, nggak gerak sampai pagi. ๐Ÿ™‚

Benar saja, setelah dinaikkan tinggi, kakiku lelah dan sekilas ngantuk. Ngantuknya aneh, langsung mimpi yang mengagetkan. Semacam tindihan. Jadi malah terteror. Aku baca-baca doa untuk tenang. Lalu, tertidur sampai pukul 5.15 pagi.

Apa yang membuat aku terjaga? Mungkin karena aku terngiang-ngiang usai baca blog seseorang. Aku baca semua tulisannya di blog tentang depresi. Aku baca pelan-pelan, baik-baik, dan ikut merasakan beragam emosi di sana.

Kenapa tertarik baca semuanya?
Kalau aku betah menyimak tulisan panjang seseorang, itu artinya tulisannya memang menarik. Ia curhat secara terstruktur tentang sesuatu yang “menyeramkan”. Kisahnya ingin bunuh diri saat studi di negeri orang, lalu diulangi saat kembali ke tanah air. Tapi beruntungnya, ia gagal. Satu kunci yang perlu diingat, ia terselamatkan karena saat pikiran itu datang, ia mencari teman bicara.

Kondisi batin seorang yang sedang mengalami depresi itu biasanya sensitif. Dia bisa menceritakan dengan runtut dan merespon sekelilingnya dengan rapi, elegan, dan rendah hati. Tak ada amukan ataupun sinis melihat hidup. Ia bahkan, menawarkan kepada siapa saja yang depresi dengan tangan terbuka untuk bisa menjadi teman berbagi. Sejatinya ia memiliki hati yang hangat. Semoga Tuhan memberkarti.

Dia depresi dan berpikir bunuh diri justru setelah baru saja wisuda master dari salah satu universitas di Eropa. Dengan segala pencapaian yang diraih, ia sendiri mengakui tak bisa menghentikan rasa depresinya.

Depresi memang kompleks dan bisa menyerang siapa saja.ย Sementara itu, tidak semua orang yang dilanda depresi mau terbuka, lebih suka menyimpan sendiri karena khawatir stigma negatif.

Mereka khawatir karena kebanyakan masyarakat kita memang belum sensitif masalah ini. Padahal mereka butuh dimengerti. Kita mustinya bisa berempati atau menguatkan, minimal tidak menghakimi.ย 

Aku barangkali terlalu menjiwai, terngiang-ngiang yang dia ceritakan sampai nggak bisa tidur. Bukan cuma kisahnya, juga komentar-komentar pembacanya yang juga berbagi tentang keadaan depresi mereka masing-masing. Semua seperti berlarian keras di kepalaku. Aku jadi makin mengenal diriku, untuk hal-hal tertentu yang sangat menyedot perhatian bisa “terpengaruh”. Hal lain, seperti usai nonton film hantu, sebulan nggak bisa tidur sendiri. Untung dulu di kos banyak teman, tiap hari keliling kamar, tidur kamar teman atau minta teman tidur kamarku. Gitu terus sampai sebulan. ๐Ÿ™‚

Setelah tulisannya bikin aku terjaga 44 jam, apakah kemudian aku menjadi takut padanya? Sama sekali tidak. Aku malah berencana ingin bertemu dengannya untuk ngobrol. Ia di Jakarta dan kemungkinan besar bisa jumpa.

Kembali soal tulisannya yang berkisah pengalaman empirisnya mau bunuh diri. Aku menyimak beragam perasaannya dan analisisnya karena tertarik mengenai kesehatan masyarakat. Aku pernah memakai sepatu yang serupa, bukan perkara ingin bunuh diri sih, melainkan soal tidak bisa mengendalikan kecemasan karena aku pernah Panic Attack. Seperti tersedot ke lorong gelisah dan warna dunia seperti tak menarik lagi.

Dari uraiannya aku menjadi lebih memahami lagi kompleksnya jiwa manusia dan pada akhirnya lebih mengenal diri sendiri.Menambah pengetahuan bagaimana mengambil sikap untuk diri dan orang yang menderita depresi. โค

Depok, 14 Agustus 2017 dini hari 00:57

Leave a comment

Filed under Conservation

Million Years Ago

Sudah hari ke-17 di bulan Januari. Detik bergulir cepat sekali. Lagu di komputerku masih sama sejak tanggal pertama, “Million Years Ago”. Lagu ini digubah dan dinyanyikan oleh Adele. Namun, konon sangat mirip dengan lagunya Ahmet Kaya yang berjudul Acilara Tutunmak, penyanyi dari Turki. Ahmet menciptakan lagu ini jauh lebih duluan. Jadi, Adele dianggap plagiat. Mau googling kapan tahun pastinya lagu Ahmet diciptakan kok malas. Haha.

Aku tahu lagu ini berawal dari percakapan dengan seseorang di Turki. Lalu, ini menjadi lagu kebangsaanku di bulan ini. :p

Ini versi Ahmet Kaya:

Ini versi Acoustic cover oleh Emir

Ini versi Violin Cover. Awas lirikan masnya! Haha.

Ini liriknya:

I only wanted to have fun
Learning to fly…
Learning to run…
I let my heart decide the way
When I was young…
Deep down I must have always known
That is would be inevitable
To earn my stripes I’d have to pay!
And bear my soul

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who can’t stand the reflection that they see
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor

I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother; I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago
When I walk around all of the streets
Where I grew up and found my feet
They can’t look me in the eye
It’s like they’re scared of me
I try to think of things to say
Like a joke or a memory
But they don’t recognize me now
In the light of day…

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who never became who they thought they’d be
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother, I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago

A million years ago!

Leave a comment

Filed under Conservation

2017 Ingin Menikah

Ini barangkali sangat personal. Tapi tidak apa-apa kubagi di tempat terbuka ini. Barangkali ada yang senasib denganku. Kamu tak sendiri.

Sudah tak terhitung lagi orang bertanya kapan aku akan menikah. Usiaku memang sudah kelewatan sih. Maksudnya? Sudah lewat 30. Andai pertanyaan itu bisa kupecahkan pakai persamaan matematika, sudah bisa kujawab secara akurat. Aku suka Matematika! Haha.

Sudah lewat usia 30 kok belum menikah juga. Kenapa? Yang pasti karena belum menemukan seseorang yang tepat. Aku TIDAK trauma lantaran cinta. Tidak sama sekali. Aku jatuh cinta berulangkali dan patah hati berulangkali. Dan, tidak kapok berharap jatuh cinta lagi untuk kemudian ingin menjalani sebuah pernikahan dengan bahagia, senantiasa dan selamanya. Syalalalah.

Mungkin Allah akan memberiku amanah menikah tepat ketika aku sudah siap punya anak. Jiwa manusia itu kompleks, apalagi ketika dibedah dari pribadi ke pribadi. Secara teori, manusia secara umum ingin melanjutkan keturunan. Namun, tidak setiap manusia mempunyai keinginan yang sama. Aku juga ingin punya keturunan, tapi tidak ingin cepat-cepat. Seandainya aku dulu menikah di usia 27, belum tentu aku siap langsung punya anak. Secara fisik barangkali siap. Secara psikis belum tentu.

Melahirkan anak adalah tanggungjawab besar untuk mendidik, menghidupi, dan memastikan keselamatan dan kebahagiaannya. Seringkali aku berpikir keras, apakah kelak ketika menjadi ibu, aku sanggup menjadi ibu yang baik? Aku memiliki Panic Attack (Anxiety Disorder) yang sejak sekian tahun belakangan kulawan dengan berbagai cara.

Aku bisa memahami adanya para ibu yang mengidap Baby Blues. Mereka usai melahirkan takut berlebihan tak sanggup merawat, takut menyakiti bayi sendiri, dan seperti tidak terkoneksi dengan si buah hati. Jangan salahkan mereka karena itu ada faktor kerja hormonal yang berpengaruh. Aku pernah dalam fase takut membayangkan kelak punya bayi. Takut menyakiti, takut tak sanggup membersamai. Mungkin seperti yang dirasakan para ibu yang terkena Baby Blues. Padahal, aku belum juga nikah. Hihi. Dan, seandainya punya suami bagaimana caranya menyampaikan menunda momongan. Itu pernah berputar-putar di kepalaku.

Seiring waktu kecemasan itu berangsur hilang. Alhamdulillah. Kalau dalam agama disebutkan bahwa manusia akan sedikit diuji dengan berbagai hal seperti ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, barangkali ini ujianku dalam bentuk ketakutan. Ketakutan itu ada dalam pikiran, tapi itu nyata kurasakan.

Islam membawa kabar gembira untuk manusia agar ketika diuji, melewatinya dengan salat dan sabar. Aku tidak bisa menilai sendiri apakah aku telah melewati ini semua dengan sabar? Aku pernah dalam fase terkena Panic Attack yang sangat mengganggu dan merasakan karunia paling berharga dalam hidupku adalah bisa sembuh dari ini. Kini menurutku alhamdulillah telah bisa mengatasi.

Hikmahnya adalah aku menjadi lebih menghargai keberanian-keberanian diri hingga level terkecil. Keberanian sendiri pergi ke luar kota misalnya. Bepergian sendirian bagi kebanyakan orang mungkin hal yang sangat biasa saja. Namun, bagi pengidap Panic Attack sepertiku, bisa menempuhnya adalah pencapaian luar biasa. Jangankan keluar kota, sanggup keluar pergi ke warung dekat rumah saja, itu bagiku karunia. Karena ketika Panic Attack menyerang, aku merasa tidak sanggup kemana-mana. Melawan kecemasan yang bersarang di pikiran seperti melawan monster jahat. Aku kalau mau pergi jauh sendirian kadang-kadang demam dulu. Ini sepertinya respon tubuh terhadap kecemasan yang timbul.

Hei, tapi aku sanggup bepergian sendirian ke Lebanon akhir 2015. Ini seperti mimpi sekaligus bukti bahwa tekad yang kuat sanggup melawan hambatan apapun. Tapi, sebelum berangkat aku demam 10 hari. Ups! Bolak balik ke dokter, cek darah alhamdulillah tak ada penyakit gawat, tapi tetap demam. Aku sampai nyari asuransi kesehatan khusus untuk Lebanon. Karena Lebanon termasuk wilayah rawan konflik, tidak ada asuransi Indonesia yang menyediakan. Atau, aku yang nggak nemu? Sudah cari-cari sana sini dengan berbagai bantuan, tak kutemukan. Akhirnya kusampaikan ke lembaga pemberi beasiswa di Beirut kalau aku butuh asuransi kesehatan selama di sana. Mereka meminta surat keterangan dari dokter dan hasil tes laboratorium. Tidak ada sakit spesifik, “hanya” sel darah putihku sedang turun drastis karena radang tenggorokan. Itulah kenapa aku demam. ย Sebelumnya lembaga tidak menyediakan asuransi, tapi karena kasusku ini akhirnya mereka memberikan asuransi kesehatan kepada semua peserta. Syukurlah. Saat mau pergi sendirian ke Aceh, aku juga demam. Pfff! Aku tak sanggup menempuh perjalanan hidup ini sendirian. Huohuohuo.

Kalau sekarang, aku jauh sudah siap. Siap bepergian, siap menikah, dan siap punya anak. Meskipun aku juga sadar bahwa amanah anak adalah kuasa Tuhan. Biarpun seseorang sudah siap belum tentu Tuhan memberi segera. Tapi setidaknya kesiapanku ini adalah pencapaian positif yang kumiliki. Selamat tinggal Panic Attack, tugasmu mengujiku sudah tunai, pergilah selamanya, mohon dengan sangat jangan kembali.

Itu saja dulu. Aku telah berpanjang lebar, padahal sejatinya aku cuma sedang mengetuk pintu Tuhan agar jodohku datang. Seorang yang tepat dan terbaik untukku. Seorang yang membawa ketentraman, yang selalu menyatu denganku, dan penuh kasih sayang. Senantiasa dan selamanya. Pun semoga aku demikian untuknya. Amiin.

Selamat tahun baru.

Dari Jomblo Bahagia. :p

Depok, 2 Januari 2017

2 Comments

Filed under Conservation

Hidup ini Piknik, Selamanya Piknik

foto 1.jpg“Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi”. Kali pertama membaca judulnya, saya berpikir, apa ini nggak terbalik? Yang fana bukankah kita? Sedangkan yang abadi bukankah waktu? Kita dalam pengertian saya-dan-Anda-sebagai-raga adalah fana. Raga ini hanya sementara, kita dulu pernah tiada dan nanti akan mati. Sedangkan waktu tidak diketahui awal dan akhirnya, dia abadi.

Atau judul itu satire? Saya nggak tahu pasti. Sebagai penonton yang tidak terlibat dalam proses pembuatan karya ini, tafsiran saya bisa berbeda dengan yang sejatinya ingin disampaikan sutradara dan pemainnya. Namun, menafsir karya seni tidak berlaku salah dan benar, tidak memiliki alat ukur dengan variabel tetap yang tidak bergerak. Jadi, inilah tafsir saya atas karya ini.

“Teater tubuhnya berhenti dulu, ini realis,” ucap salah satu pemain di tengah pertunjukan. Selama ini Teater Garasi memang dikenal sering menampilkan pertunjukan gaya akting nonrealis. Orang-orang menyebutnya teater tubuh. Pertunjukan kali ini campuran realis dan nonrealis. Buat saya, akting gaya realis bisa membantu memahami dengan lebih jelas isi cerita, yang kemudian menjadi bekal untuk menafsir beragam kosa gerak nonrealis.

Pertunjukan ini tentang sebuah keluarga, ibu, bapak, dan tiga anak dengan segala hasratnya. Rosna jadi TKW di Hongkong, hamil entah dengan siapa, dan saat kembali ingin jadi artis sinetron. Rasid (MN Qomaruddin) jual sawah untuk jihad ke Arab, kata ibu (Erythrina Baskoro). “Afganistan!” Rasid mengoreksi. Bagi ibu, Afganistan sama saja, Arab. Anak ketiga adalah Husain, suka adzan, suaranya jelek, dan sedeng. Si bapak seorang penembak burung dan si ibu menderita karena berbagai ulah keluarganya. Lebaran adalah satu peristiwa yang mempertemukan kehangatan mereka dalam satu meja. Saling cerita dan mendengarkan keluhan. Termasuk keluhan Rosna yang memberitahu rendang di meja dimakan kucing.

Ini satu potret keluarga hari ini. Sosok-sosok dengan caranya sendiri-sendiri ingin menuntaskan hasrat-hasrat tersembunyi. “PKI fuck, PKI fuck!” Rasid benci PKI dan benci Haji Ahmad. Haji Ahmad disebutkan sebagai pengagum Gus Dur, tokoh agama setempat yang memberikan nama untuk si Husain. Rasid seolah mewakili kebanyakan mereka yang berhasrat jihad dengan kekerasan, memimpikan khilafah, ingin mati syahid dalam pertempuran di Timur Tengah, dan tidak sejalan dengan pengikut Gus Dur yang mengusung penghormatan pada pluralitas.

Cerita ini juga memotret jalanan ibukota ketika Rosna ingin mewujudkan cita-citanya sebagai artis sinetron. “Jakarta adalah tempat bertemunya cewek urban dan cowok urban,” ucap sopir angkot. Gerrr. Tawa penontoh pecah. Sejumlah aktor memainkan lebih dari satu karakter. SepertiGunawan Maryanto memainkan sebagai bapak di dalam potret keluarga dan sebagai sopir angkot dalam potret kisah lain. Di sisi lain, satu karakter dimainkan oleh lebih dari satu aktor. Contohnya, karakter Rosna diperankan oleh dua aktor, Rosna yang menjalani hidupnya oleh Arsita Iswardhani dan Rosna dalam kisah “Petualangan Rosna” oleh Sri Qadariatin. Sopir angkot yang menonton kisah Rosna, mengapresiasinya dengan mengaitkan romantisme masa lalu. Mengingatkan tentang ibunya yang mengagumi Sri Devi dan neneknya yang PKI. “Blablabla…bagus Banget. Mungkin neneknya PKI juga,” komentar sopir. Tawa penonton memecahkan keheningan lagi.

Menariknya pertunjukan ini adalah mengajak penonton berpikir, menafsir, dan tak lupa menghibur. Sekian kali kita dibuat tertawa, setelah jidat mengkerut bertanya-tanya ini maksudnya apa.

Bagaimana kalau hasrat-hasrat itu hanyalah kegilaan di alam pikiran? Hal-hal yang mencekam dan menghibur itu barangkali hanya ada dalam pikiran si sedeng, Husain. “Anak saya Rosna tidak hamil, menikah dengan teman kerjanya di Hongkong,” jelas ibu menjelang akhir cerita. Rasid tidak jual tanah, tapi belajar ke Afganistan. Husain suka adzan, suaranya bagus, tidak gila. “Rendangnya tidak dimakan kucing,” jerit Rosna. Kehangatan di meja makan itu tidak lagi ada. Sosok-sosok itu menjadi beku, menyimak monolog Husain yang mengaku tidak sekolah tapi bisa sampai ke bulan. Benar kata mereka, hidup ini piknik, selamanya piknik.

Kehidupan dengan segala hasratnya adalah menghangatkan. Kehangatan itu tidak selamanya, waktunya terbatas, fana. Sedangkan kita sebagai kisah akan abadi.

Karya pertunjukan ini dipentaskan di FIB, Universitas Indonesia, 26 Juli 2016 dan di Goethe-Institute Jakarta, 30-31 Juli 2016. Sutradara Yudi Ahmad Tajudin.

Nur Laeliyatul Masruroh
Depok, 31 Juli 2016.

Leave a comment

Filed under Conservation, Theatre

Teman Spesial

“L, apa kabar? Aku sudah sampai Jakarta kemarin dan akan kembali ke Amerika 1 April. Aku merasa harus menghargaimu sebagai seorang teman yang sangat baik selama ini yang ingin bertemu aku. Jika ingin bertemu tuk makan siang bareng dekat kantormu, aku siap ke sana,” pesan itu kuterima di messenger. Aku cukup kaget mendapatkan pesan darinya seperti itu karena dari berbagai peristiwa percakapan kami di media sosial, aku sempat berpikir lelaki itu tak akan mau menyengaja bertemu denganku.
“Aku tinggal di daerah Tanjung Mas Raya. Pasti dekat ke daerah Depok kan. Jauhpun akan kujabanin kok. Makasih,” lanjutnya. Dari nada kalimatnya dia benar-benar mau ketemu aku. Baiklah.
Dulu aku memang pernah bilang ingin bertemu untuk meluruskan salah paham. Terlalu sering kami berdebat di media sosial, baik debat di lingkup umum, di ruang grup yang terbatas, maupun di area privat seperti di messenger dan WhatsApp. Kami banyak berdebat soal agama kemudian menjadi soal apa saja. Sebenarnya banyak nilai yang kami pahami sama, terutama nilai-nilai kemanusiaan. Namun, ada beberapa nilai moral yang saling bertentangan. Yang menurutku sesuatu haram dilakukan, baginya tidak apa-apa. Dan, kadang perselisihan kecil menjadi debat panjang.
Dia adik angkatanku, beda fakultas, dan usia kami sebaya. Buatku dia teman spesial, bukan teman biasa, karena dia orang yang paling banyak mendebatku, tapi sejauh ini bisa berakhir dengan tetap menjaga hubungan baik. Kadang aku merasa dia dekat, kadang merasa dia jauh sekali. Jauh dan dekat ini terkait dengan nilai-nilai yang kami pahami. Untuk banyak hal, dia sangat peka terhadap hal-hal kecil yang mengusik kemanusiaan. Dari sisi itu aku bisa melihat jiwanya yang lembut. Namun, untuk beberapa hal lain, kami sangat berbeda pandangan. Dan kalau telanjur mendebatkan sesuatu, kadang tidak selesai dalam seminggu.
Sisi baiknya ketika berhasil melewati perselisihan sulit, sebagai teman, kami jadi bisa lebih saling memahami perbedaan. Pengalamanku berdebat nggak cuma sama dia, tapi sejauh ini dia yang paling beda.
Saat dia mendebat soal eksistensi Tuhan, dia terus menerus mengejarku dengan berbagai pertanyaan. Lalu, ketika aku memang tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, dia merespon, “terus kenapa kamu masih shalat?” Itu salah satu debat yang bikin kami salah paham. Aku merasa pertanyaan itu dengan nada mengejek, dia mengejekku yang tetap sembahyang meski tidak bisa membuktikan adanya Tuhan. Padahal mungkin maksud yang sebenarnya tidak demikian.
Kedua, ketika dia mendebat terkait Bunda Maria/Maryam, dia menyampaikan Maria tidak mungkin hamil dan melahirkan tanpa melakukan persetubuhan. Lalu dengan cara lain dia ingin bilang Alquran yang mengatakan Maria perawan dari sentuhan lelaki itu diragukan kebenarannya. Dan lagi-lagi perdebatan berakhir dengan pertanyaan dan pernyataan yang menurutku dia tidak menghargai imanku. “Mengapa kamu masih saja percaya Alquran?” responnya padaku.
Padahal dalam melihat iman, kami sepaham bahwa seseorang mengimani sesuatu tidak selalu butuh bukti. Seseorang yang mengimani Quran sebagai firman Allah, tidak perlu bukti bahwa sosok yang ditemui Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu adalah malaikat Jilbril. Di lain waktu, dia mempertanyakan eksistensi Nabi Musa, juga soal berbagai tindakan Nabi Muhammad yang dianggap janggal. Untuk beberapa hal, aku berdebat berangkat dari iman, sedangkan dia dari pikiran skeptis, karena itulah sering berujung tidak nyambung. Aku tidak menganggap diriku yang berdebat berangkat dari iman itu lebih baik dari dia, sama sekali tidak. Orang skeptis yang kembali dari keraguannya justru biasanya menjadi lebih yakin. Dia berhak mempertanyakan sesuatu perihal iman dan agama. Padahal aku merasa termasuk orang yang tidak mudah “sami’na waatho’na”, aku banyak mempertanyakan dogma-dogma agama dan hukum-hukum Islam. Orang sepertiku bertemu dan berdebat dengan orang macam dia pun masih banyak bertentangan. Aku coba memahami yang dia pikirkan dan rasakan terkait iman agar setiap perdebatan tidak menimbulkan perselisihan mendalam.
Ada hal yang paling kuingat awal debat hingga terjadi salah paham. Saat itu aku pikir biar nggak makin ruwet, aku ingin mengurai masalah. Aku mau telepon dia lewat Skype karena kupikir ketika menyimak penjelasan orang dengan mendengarkan intonasi suaranya langsung, akan lebih memahami maksud yang sebenarnya. Aku izin lebih dulu kalau aku mau menelepon dia. Dia malah mengatakan bahwa aku agresif karena berinisiatif menelepon cowok duluan. Waduuuh, kok gitu responnya? Itu salah paham pertama yang menurutku sangat menjengkelkan, bagiku lumayan fatal. Seringkali kemudian aku menjadi merasa perlu berhati-hati menyampaikan sesuatu padanya, agar tidak salah paham lagi.
Selanjutnya sudah tak terhitung lagi apa saja yang kami debatkan. Kadang aku berpikir dia sengaja tak berhenti mendebatku sebelum bikin aku jengkel. Kami berinteraksi bukan sebatas berdebat, tapi juga belajar memahami sesuatu, berbagi apa yang dia lihat di sekitarnya dan aku berbagi apa yang kulihat di sekitarku. Banyak temannya yang temanku juga, kami kuliah di universitas yang sama. Kami pernah beredar di sejumlah lingkungan yang sama, memiliki ikatan sejarah dalam ruang dan waktu yang sama, tapi sebelumnya tak pernah jumpa. Kami punya latar belakang menekuni bidang yang juga sama. Banyak hal darinya aku belajar, begitu juga sebaliknya. Sampai kemudian aku berkesimpulan dia pada dasarnya anak baik dan punya jiwa yang halus. Selanjutnya ketika dia bilang mau ketemu, aku merasa tak khawatir, seperti apapun sosok dan karakternya.
Dalam banyak hal, dia memang berbeda dengan orang pada umumnya. Tapi aku nggak kaget sih, karena sudah sering ketemu orang aneh setengah gila. Haha. Selagi keunikannya tidak mengganggu, tak masalah buatku.
Saat mau janjian ketemuan, dia memberitahuku akan naik angkutan umum dari Jakarta Selatan ke Depok dan bilang butuh wifi. Kusebut nama restoran Gula Merah di mall Margocity yang kukira ada internetnya. Di sana rencananya kami akan jumpa.
“L, aku di Tous les Jour. Di Gula Merah gak ada wifi, adanya rendang :),” tulisnya untukku lewat WhatsApp. Dari kalimatnya bisa ditebak orangnya kayak apa, dia kadang suka bercanda.
Aku naik Gojek menuju Margocity. Menuju tempat dia berada, lantai dua depan tangga, toko roti yang ada kursi-kursi untuk ngopi.
Sosoknya mudah kutemukan, saat kali pertama tatapan, kami saling panggil nama dan melambaikan tangan. Lalu salaman dan tempel pipi kiri kanan. Hanya pada orang tertentu aku demikian. Serasa ketemu sahabat lama. Aku tidak merasa asing.
“Kamu trendy sekali, L” komentarnya terhadapku. Aku tidak menjawab apa-apa soal pakaianku. Biasanya kalau mau ke kampus UI aku memang pakai baju rapi. Sangat rapi. Celana jeans panjang hitam dan kemeja ungu yang kukancing rapi. Sepatu boot cokelat kesukaanku. Juga syal tebal warna hitam. Siang itu selain makan siang sama dia mall, aku rencana ke percetakan, lalu ke UI. Aku pakai baju sangat rapi juga karena untuk antisipasi, karena aku tidak tahu dia datang pakai kostum seperti apa. Ternyata dia pakai kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Hihihi. Mengingat riwayatnya yang unik aku nggak kaget dengan penampilannya, bahkan andaipun dia muncul di mall cuma pakai kaos singlet atau kain rasta, aku pun nggak kaget. Bhuahaha. Teringat saat masa kuliah di Jogja dulu, di area kampus bagian Timur, di area fakultas ilmu sosial terutama Sastra dan Filsafat, ada peringatan, “piyama dilarang masuk”. Saking kebangetan uniknya mahasiswa UGM kampus bagian Timur, mungkin sudah biasa ada mahasiswa pakai piyama beredar di kampus. Kalau di kampus bagian Barat, di area fakultas Sains dan Teknik, cukup ditulis “kaos oblong dilarang masuk”. Aku jadi mikir, mungkin dia saat mahasiswa termasuk yang pernah ke kampus pakai piyama. Ups, nuduh.
Di meja toko roti, dia menawarkan roti yang sedang dia makan. Juga, menawarkan minumannya. “Kamu juga boleh minum ini kalau kamu mau,” katanya. Aku suka peristiwa itu karena serasa bertemu kawan lama. Aku ambil sedikit rotinya. Aku tanya minuman yang dia pesan apa? Memastikan kalau minuman itu tidak mengandung wine. Kadang di luar sana orang mengganggapku Islam liberal dengan nada negatif, padahal minum wine setetes pun, aku tidak pernah.
Lalu dia cerita soal aktivitas dukungannya terhadap LGBT di Jogja yang mendapatkan semacam ancaman. Kami juga ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, termasuk soal buku. Aku senang dan bersyukur dalam percakapan itu, ngobrol langsung memang jauh lebih baik daripada komunikasi lewat tulisan. Kalau ingin menyanggah atau mendebat bisa lihat ekspresinya dan mendengar intonasinya langsung. Jadi bisa lebih mengerti maksudnya dan mengurangi salah paham.
Usai dari mall, kami ke percetakan Cano di Jl. Margonda. Benar-benar jalan kaki. Lumayan terik, aku tak masalah. Aku malah mengkhawatirkan dia yang capai karena baru menempuh perjalanan jauh. Sebelumnya dia menempuh perjalanan dari Jogja ke luar Jawa sekian hari, terus ke Jakarta, untuk kemudian ke Amerika. Padat jadwalnya. Tapi dia bilang gpp. Kami mampir ke warung Lele Lela, aku yang minta karena ingin beli teh Tarik dan air mineral. Sekalian aku shalat dhuhur.
Dari tas kain putih, dia mengeluarkan buku yang katanya isinya mengecewakan, tidak seperti yang dia harapkan, buku itu ditawarkan buatku. Kalau dia kecewa dengan buku itu kenapa dikasih aku, ini sih namanya memindahkan kekecewaan. Hehe. Tapi tak apa-apa, kalau baginya mengecewakan, bagiku belum tentu. Bagaimana pun aku berterima kasih buku berjudul “Ibn Rusyd” kini jadi milikku.
Selanjutnya kami ke percetakan untuk mengambil bukuku. Aku perlu menandatangi buku-buku karyaku sebelum wrapping. Tandatangan itu permintaan pembaca yang pesan. Sambil menunggu proses wrapping, aku dan dia makan di Mang Kabayan. Kami makan jamur dan kangkung. Dia mengambilkan nasi ke piringku.
Di meja yang luas dengan iringan musik Sunda yang halus, kami ngobrol banyak soal bukuku dan bukunya. Dia menilai tokoh di bukuku terlalu suci, tidak ada kisah bercinta di dalamnya. Menurutnya pembaca umumnya ingin lebih dari itu. Aku mempertahankan argumenku, memang ada nilai yang ingin kusampaikan di buku itu. Termasuk soal batasan dalam pacaran. Mohon pelan-pelan membaca paragraf ini. Di luar sana, penulis biasanya memotret cerita dari sisi ekstrem berlawanan, sisi pertama menyampaikan pacaran itu tegas dilarang, sisi ekstrem lainnya memotret tentang bercinta di luar pernikahan itu biasa. Aku memotret di sisi tengah bahwa punya pacar itu tak mengapa, asalkan tidak mendekati zina. Bagi dia, kisahku yang seperti itu menjadi datar. Tapi itulah potret yang ingin kusampaikan. Di sinilah keuntungan menerbitkan secara independen, kita bebas mengekspresikan nilai apapun tanpa terikat kemauan pasar.
Matahari terus merangkak, menjelang sore. Sepertinya tak cukup waktu ke UI karena aku punya agenda kursus menulis mulai pukul 7 malam. Menuju tempat kursus butuh minimal 2,5 jam.
Setelah makan dan ambil buku lagi, kami naik angkot ke Stasiun Universitas Pancasila. Lalu jalan lagi untuk mencari toko sepatu. Sejak di mall, dia memang sudah bilang akan beli sepatu di daerah ini. Dapat rekomendasi dari orang di mall. Kami hanya menemukan satu toko dan tidak menemukan sepatu yang cocok. Bagiku itu salah satu jalan-jalan yang berkesan. Panic Attacks-ku kadang kambuh kalau sedang jalan kaki jauh, saat itu juga muncul pada level rendah dan bisa teratasi dengan baik tanpa dia tahu. Bersamanya aku bisa ngobrol tanpa putus, fokus dengan isi obrolan dapat membantuku menekan kecemasan. Terakhir aku merasakan Panic Attack saat menapaki trotoar panjang di Kota Tyre, Libanon. Saat Panic Attacks menyerangku di tepi jalan, untungnya pas aku ganti ngobrol dengan teman dari Yaman. Teman yang saat itu bahasa Inggrisnya jelas di telingaku dan aku bisa fokus menyimak ceritanya tentang pergerakan di Timur Tengah. Jika kecemasanku naik, aku akan berhenti dan duduk sebentar. Kadang tanpa perlu memberitahu teman jalanku.
Kembali ke cerita awal. Kami ke Stasiun lagi naik kereta yang sama. Dia hendak turun di St Sudirman, ada janji dengan teman. Sedangkan aku menuju Kebayoran Lama untuk kursus menulis.
Di dalam kereta, di depan tempat duduk kami, seorang perempuan tertimpuk botol minuman dari tempat tas di dekat atap. Perempuan itu membenamkan kepala menahan sakit dan dua temannya menenangkannya. Lalu, penumpang berambut panjang itu membuka tasnya, kirain mau ambil minyak kayu putih atau semacamnya. Ternyata ambil kaca dan lipstik, lalu memakainya sambil jongkok. Kulihat teman lelakiku merekam mereka. ๐Ÿ™‚
Di dalam kereta kami ngobrol soal beasiswa sekolah, aku agak pusing lihat kerumunan. Kami sempat selfie sebelum dia turun. Lalu saatnya kami harus berpisah. “Kamu hati-hati di Amerika ya,” bisikku dalam salam perpisahan. Aku ingin ngobrol lebih lama, tapi waktu tidak memungkinkan, dia harus turun. Saat dia mencapai pintu kereta, kujulurkan tanganku, dia meraih tanganku sampai akhirnya dia benar-benar turun. Sudah kayak adegan film India saja. Ha-ha. Harap maklum, kami berdua (mantan) aktor.
Kuberharap kami kelak berjumpa lagi. Namun, dia baru saja berangkat ke benua lain dan entah kapan akan kembali. Akan kukirimkan DOA kebaikan untuknya meskipun dia (mungkin) tak percaya pada kekuatan doa.
Depok, 4 April 2016

Leave a comment

Filed under Conservation

2016: Baik

Ini tulisan pertamaku di tahun 2016. Lama nggak nulis di sini karena males mindah tulisan ke sini. Selain itu, karena tidak ingin terlalu banyak berbagi biarpun itu cerita kebahagiaan. Padahal seringkali menuliskan isi pikiran konon bisa menajamkan ingatan dan merekatkan kembali kenangan yang kelak mungkin akan retak. Tapi belakangan aku banyak menyimpan saja. Kalaupun ditulis tidak di tempat umum seperti ini. ๐Ÿ™‚

Tahun 2016 ini aku ingin ganti lensa kacamata, dalam arti literal dan arti konotasinya. ๐Ÿ™‚ Ingin beli kacamata baru kalau ada rezeki, tapi yang lama sebenarnya masih bagus, cuma sedikit longgar. Kacamata terakhir dibeliin kantor seharga Rp.800.000, itu sudah lengkap dengan pelindung radiasi komputer dan pelindung sinar matahari. Kalau di bawah terik mentari bisa menggelap sendiri. Kalau beli sendiri seharga itu kayaknya nanti dulu, ada yang perlu diprioritaskan lebih dulu. Untuk ganti lensa kacamata dalam arti yang lain, yaitu ingin mengubah cara pandang terhadap hal-hal tertentu.

Tahun 2016 semoga ada kejutan anugerah yang menyenangkan. Sebenarnya hal yang paling kubutuhkan sekarang adalah meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Baca sejumlah jurnal sosial rasanya sudah mual-mual, bolak-balik buka kamus dan kadang dahi masih berkenyit. Apalagi nulisnya, hanya menulis 500 kata bisa seharian karena mempelajari bahannya bisa berjam-jam. Eh, bukannya itu secara tidak langsung sedang menaikkan kemampuan berbahasa Inggris ya? Semoga demikian. Kalau bisa sih bisa mencapai skor IELTS 8! Haha, jangan nanggung-nanggung.

Tahun 2016 semoga bisa mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan dengan lebih baik, terus lebih baik, dan lebih baik. Mengelola jiwa dan raga dengan lebih baik juga. Dengan demikian, rizki juga akan mengikuti datang dengan lebih baik. Rizki materi maupun non-materi. Termasuk rezeki jodoh yang baik. Amiin. ๐Ÿ™‚

Sudah gitu aja, ini sudah kebanyakan curhat. ๐Ÿ™‚

Saat menulis ini sedang adzan magrib, dan doaku sore ini adalah PASTI sanggup menyelesaikan tugas-tugas the course malam ini dengan baik. ๐Ÿ™‚

#Segera kembali ke jurnal.

 

 

Leave a comment

Filed under Conservation