Category Archives: Conservation

Million Years Ago

Sudah hari ke-17 di bulan Januari. Detik bergulir cepat sekali. Lagu di komputerku masih sama sejak tanggal pertama, “Million Years Ago”. Lagu ini digubah dan dinyanyikan oleh Adele. Namun, konon sangat mirip dengan lagunya Ahmet Kaya yang berjudul Acilara Tutunmak, penyanyi dari Turki. Ahmet menciptakan lagu ini jauh lebih duluan. Jadi, Adele dianggap plagiat. Mau googling kapan tahun pastinya lagu Ahmet diciptakan kok malas. Haha.

Aku tahu lagu ini berawal dari percakapan dengan seseorang di Turki. Lalu, ini menjadi lagu kebangsaanku di bulan ini. :p

Ini versi Ahmet Kaya:

Ini versi Acoustic cover oleh Emir

Ini versi Violin Cover. Awas lirikan masnya! Haha.

Ini liriknya:

I only wanted to have fun
Learning to fly…
Learning to run…
I let my heart decide the way
When I was young…
Deep down I must have always known
That is would be inevitable
To earn my stripes I’d have to pay!
And bear my soul

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who can’t stand the reflection that they see
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor

I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother; I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago
When I walk around all of the streets
Where I grew up and found my feet
They can’t look me in the eye
It’s like they’re scared of me
I try to think of things to say
Like a joke or a memory
But they don’t recognize me now
In the light of day…

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who never became who they thought they’d be
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother, I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago

A million years ago!

Leave a comment

Filed under Conservation

2017 Ingin Menikah

Ini barangkali sangat personal. Tapi tidak apa-apa kubagi di tempat terbuka ini. Barangkali ada yang senasib denganku. Kamu tak sendiri.

Sudah tak terhitung lagi orang bertanya kapan aku akan menikah. Usiaku memang sudah kelewatan sih. Maksudnya? Sudah lewat 30. Andai pertanyaan itu bisa kupecahkan pakai persamaan matematika, sudah bisa kujawab secara akurat. Aku suka Matematika! Haha.

Sudah lewat usia 30 kok belum menikah juga. Kenapa? Yang pasti karena belum menemukan seseorang yang tepat. Aku TIDAK trauma lantaran cinta. Tidak sama sekali. Aku jatuh cinta berulangkali dan patah hati berulangkali. Dan, tidak kapok berharap jatuh cinta lagi untuk kemudian ingin menjalani sebuah pernikahan dengan bahagia, senantiasa dan selamanya. Syalalalah.

Mungkin Allah akan memberiku amanah menikah tepat ketika aku sudah siap punya anak. Jiwa manusia itu kompleks, apalagi ketika dibedah dari pribadi ke pribadi. Secara teori, manusia secara umum ingin melanjutkan keturunan. Namun, tidak setiap manusia mempunyai keinginan yang sama. Aku juga ingin punya keturunan, tapi tidak ingin cepat-cepat. Seandainya aku dulu menikah di usia 27, belum tentu aku siap langsung punya anak. Secara fisik barangkali siap. Secara psikis belum tentu.

Melahirkan anak adalah tanggungjawab besar untuk mendidik, menghidupi, dan memastikan keselamatan dan kebahagiaannya. Seringkali aku berpikir keras, apakah kelak ketika menjadi ibu, aku sanggup menjadi ibu yang baik? Aku memiliki Panic Attack (Anxiety Disorder) yang sejak sekian tahun belakangan kulawan dengan berbagai cara.

Aku bisa memahami adanya para ibu yang mengidap Baby Blues. Mereka usai melahirkan takut berlebihan tak sanggup merawat, takut menyakiti bayi sendiri, dan seperti tidak terkoneksi dengan si buah hati. Jangan salahkan mereka karena itu ada faktor kerja hormonal yang berpengaruh. Aku pernah dalam fase takut membayangkan kelak punya bayi. Takut menyakiti, takut tak sanggup membersamai. Mungkin seperti yang dirasakan para ibu yang terkena Baby Blues. Padahal, aku belum juga nikah. Hihi. Dan, seandainya punya suami bagaimana caranya menyampaikan menunda momongan. Itu pernah berputar-putar di kepalaku.

Seiring waktu kecemasan itu berangsur hilang. Alhamdulillah. Kalau dalam agama disebutkan bahwa manusia akan sedikit diuji dengan berbagai hal seperti ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, barangkali ini ujianku dalam bentuk ketakutan. Ketakutan itu ada dalam pikiran, tapi itu nyata kurasakan.

Islam membawa kabar gembira untuk manusia agar ketika diuji, melewatinya dengan salat dan sabar. Aku tidak bisa menilai sendiri apakah aku telah melewati ini semua dengan sabar? Aku pernah dalam fase terkena Panic Attack yang sangat mengganggu dan merasakan karunia paling berharga dalam hidupku adalah bisa sembuh dari ini. Kini menurutku alhamdulillah telah bisa mengatasi.

Hikmahnya adalah aku menjadi lebih menghargai keberanian-keberanian diri hingga level terkecil. Keberanian sendiri pergi ke luar kota misalnya. Bepergian sendirian bagi kebanyakan orang mungkin hal yang sangat biasa saja. Namun, bagi pengidap Panic Attack sepertiku, bisa menempuhnya adalah pencapaian luar biasa. Jangankan keluar kota, sanggup keluar pergi ke warung dekat rumah saja, itu bagiku karunia. Karena ketika Panic Attack menyerang, aku merasa tidak sanggup kemana-mana. Melawan kecemasan yang bersarang di pikiran seperti melawan monster jahat. Aku kalau mau pergi jauh sendirian kadang-kadang demam dulu. Ini sepertinya respon tubuh terhadap kecemasan yang timbul.

Hei, tapi aku sanggup bepergian sendirian ke Lebanon akhir 2015. Ini seperti mimpi sekaligus bukti bahwa tekad yang kuat sanggup melawan hambatan apapun. Tapi, sebelum berangkat aku demam 10 hari. Ups! Bolak balik ke dokter, cek darah alhamdulillah tak ada penyakit gawat, tapi tetap demam. Aku sampai nyari asuransi kesehatan khusus untuk Lebanon. Karena Lebanon termasuk wilayah rawan konflik, tidak ada asuransi Indonesia yang menyediakan. Atau, aku yang nggak nemu? Sudah cari-cari sana sini dengan berbagai bantuan, tak kutemukan. Akhirnya kusampaikan ke lembaga pemberi beasiswa di Beirut kalau aku butuh asuransi kesehatan selama di sana. Mereka meminta surat keterangan dari dokter dan hasil tes laboratorium. Tidak ada sakit spesifik, “hanya” sel darah putihku sedang turun drastis karena radang tenggorokan. Itulah kenapa aku demam.  Sebelumnya lembaga tidak menyediakan asuransi, tapi karena kasusku ini akhirnya mereka memberikan asuransi kesehatan kepada semua peserta. Syukurlah. Saat mau pergi sendirian ke Aceh, aku juga demam. Pfff! Aku tak sanggup menempuh perjalanan hidup ini sendirian. Huohuohuo.

Kalau sekarang, aku jauh sudah siap. Siap bepergian, siap menikah, dan siap punya anak. Meskipun aku juga sadar bahwa amanah anak adalah kuasa Tuhan. Biarpun seseorang sudah siap belum tentu Tuhan memberi segera. Tapi setidaknya kesiapanku ini adalah pencapaian positif yang kumiliki. Selamat tinggal Panic Attack, tugasmu mengujiku sudah tunai, pergilah selamanya, mohon dengan sangat jangan kembali.

Itu saja dulu. Aku telah berpanjang lebar, padahal sejatinya aku cuma sedang mengetuk pintu Tuhan agar jodohku datang. Seorang yang tepat dan terbaik untukku. Seorang yang membawa ketentraman, yang selalu menyatu denganku, dan penuh kasih sayang. Senantiasa dan selamanya. Pun semoga aku demikian untuknya. Amiin.

Selamat tahun baru.

Dari Jomblo Bahagia. :p

Depok, 2 Januari 2017

2 Comments

Filed under Conservation

Hidup ini Piknik, Selamanya Piknik

foto 1.jpg“Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi”. Kali pertama membaca judulnya, saya berpikir, apa ini nggak terbalik? Yang fana bukankah kita? Sedangkan yang abadi bukankah waktu? Kita dalam pengertian saya-dan-Anda-sebagai-raga adalah fana. Raga ini hanya sementara, kita dulu pernah tiada dan nanti akan mati. Sedangkan waktu tidak diketahui awal dan akhirnya, dia abadi.

Atau judul itu satire? Saya nggak tahu pasti. Sebagai penonton yang tidak terlibat dalam proses pembuatan karya ini, tafsiran saya bisa berbeda dengan yang sejatinya ingin disampaikan sutradara dan pemainnya. Namun, menafsir karya seni tidak berlaku salah dan benar, tidak memiliki alat ukur dengan variabel tetap yang tidak bergerak. Jadi, inilah tafsir saya atas karya ini.

“Teater tubuhnya berhenti dulu, ini realis,” ucap salah satu pemain di tengah pertunjukan. Selama ini Teater Garasi memang dikenal sering menampilkan pertunjukan gaya akting nonrealis. Orang-orang menyebutnya teater tubuh. Pertunjukan kali ini campuran realis dan nonrealis. Buat saya, akting gaya realis bisa membantu memahami dengan lebih jelas isi cerita, yang kemudian menjadi bekal untuk menafsir beragam kosa gerak nonrealis.

Pertunjukan ini tentang sebuah keluarga, ibu, bapak, dan tiga anak dengan segala hasratnya. Rosna jadi TKW di Hongkong, hamil entah dengan siapa, dan saat kembali ingin jadi artis sinetron. Rasid (MN Qomaruddin) jual sawah untuk jihad ke Arab, kata ibu (Erythrina Baskoro). “Afganistan!” Rasid mengoreksi. Bagi ibu, Afganistan sama saja, Arab. Anak ketiga adalah Husain, suka adzan, suaranya jelek, dan sedeng. Si bapak seorang penembak burung dan si ibu menderita karena berbagai ulah keluarganya. Lebaran adalah satu peristiwa yang mempertemukan kehangatan mereka dalam satu meja. Saling cerita dan mendengarkan keluhan. Termasuk keluhan Rosna yang memberitahu rendang di meja dimakan kucing.

Ini satu potret keluarga hari ini. Sosok-sosok dengan caranya sendiri-sendiri ingin menuntaskan hasrat-hasrat tersembunyi. “PKI fuck, PKI fuck!” Rasid benci PKI dan benci Haji Ahmad. Haji Ahmad disebutkan sebagai pengagum Gus Dur, tokoh agama setempat yang memberikan nama untuk si Husain. Rasid seolah mewakili kebanyakan mereka yang berhasrat jihad dengan kekerasan, memimpikan khilafah, ingin mati syahid dalam pertempuran di Timur Tengah, dan tidak sejalan dengan pengikut Gus Dur yang mengusung penghormatan pada pluralitas.

Cerita ini juga memotret jalanan ibukota ketika Rosna ingin mewujudkan cita-citanya sebagai artis sinetron. “Jakarta adalah tempat bertemunya cewek urban dan cowok urban,” ucap sopir angkot. Gerrr. Tawa penontoh pecah. Sejumlah aktor memainkan lebih dari satu karakter. SepertiGunawan Maryanto memainkan sebagai bapak di dalam potret keluarga dan sebagai sopir angkot dalam potret kisah lain. Di sisi lain, satu karakter dimainkan oleh lebih dari satu aktor. Contohnya, karakter Rosna diperankan oleh dua aktor, Rosna yang menjalani hidupnya oleh Arsita Iswardhani dan Rosna dalam kisah “Petualangan Rosna” oleh Sri Qadariatin. Sopir angkot yang menonton kisah Rosna, mengapresiasinya dengan mengaitkan romantisme masa lalu. Mengingatkan tentang ibunya yang mengagumi Sri Devi dan neneknya yang PKI. “Blablabla…bagus Banget. Mungkin neneknya PKI juga,” komentar sopir. Tawa penonton memecahkan keheningan lagi.

Menariknya pertunjukan ini adalah mengajak penonton berpikir, menafsir, dan tak lupa menghibur. Sekian kali kita dibuat tertawa, setelah jidat mengkerut bertanya-tanya ini maksudnya apa.

Bagaimana kalau hasrat-hasrat itu hanyalah kegilaan di alam pikiran? Hal-hal yang mencekam dan menghibur itu barangkali hanya ada dalam pikiran si sedeng, Husain. “Anak saya Rosna tidak hamil, menikah dengan teman kerjanya di Hongkong,” jelas ibu menjelang akhir cerita. Rasid tidak jual tanah, tapi belajar ke Afganistan. Husain suka adzan, suaranya bagus, tidak gila. “Rendangnya tidak dimakan kucing,” jerit Rosna. Kehangatan di meja makan itu tidak lagi ada. Sosok-sosok itu menjadi beku, menyimak monolog Husain yang mengaku tidak sekolah tapi bisa sampai ke bulan. Benar kata mereka, hidup ini piknik, selamanya piknik.

Kehidupan dengan segala hasratnya adalah menghangatkan. Kehangatan itu tidak selamanya, waktunya terbatas, fana. Sedangkan kita sebagai kisah akan abadi.

Karya pertunjukan ini dipentaskan di FIB, Universitas Indonesia, 26 Juli 2016 dan di Goethe-Institute Jakarta, 30-31 Juli 2016. Sutradara Yudi Ahmad Tajudin.

Nur Laeliyatul Masruroh
Depok, 31 Juli 2016.

Leave a comment

Filed under Conservation, Theatre

Teman Spesial

“L, apa kabar? Aku sudah sampai Jakarta kemarin dan akan kembali ke Amerika 1 April. Aku merasa harus menghargaimu sebagai seorang teman yang sangat baik selama ini yang ingin bertemu aku. Jika ingin bertemu tuk makan siang bareng dekat kantormu, aku siap ke sana,” pesan itu kuterima di messenger. Aku cukup kaget mendapatkan pesan darinya seperti itu karena dari berbagai peristiwa percakapan kami di media sosial, aku sempat berpikir lelaki itu tak akan mau menyengaja bertemu denganku.
“Aku tinggal di daerah Tanjung Mas Raya. Pasti dekat ke daerah Depok kan. Jauhpun akan kujabanin kok. Makasih,” lanjutnya. Dari nada kalimatnya dia benar-benar mau ketemu aku. Baiklah.
Dulu aku memang pernah bilang ingin bertemu untuk meluruskan salah paham. Terlalu sering kami berdebat di media sosial, baik debat di lingkup umum, di ruang grup yang terbatas, maupun di area privat seperti di messenger dan WhatsApp. Kami banyak berdebat soal agama kemudian menjadi soal apa saja. Sebenarnya banyak nilai yang kami pahami sama, terutama nilai-nilai kemanusiaan. Namun, ada beberapa nilai moral yang saling bertentangan. Yang menurutku sesuatu haram dilakukan, baginya tidak apa-apa. Dan, kadang perselisihan kecil menjadi debat panjang.
Dia adik angkatanku, beda fakultas, dan usia kami sebaya. Buatku dia teman spesial, bukan teman biasa, karena dia orang yang paling banyak mendebatku, tapi sejauh ini bisa berakhir dengan tetap menjaga hubungan baik. Kadang aku merasa dia dekat, kadang merasa dia jauh sekali. Jauh dan dekat ini terkait dengan nilai-nilai yang kami pahami. Untuk banyak hal, dia sangat peka terhadap hal-hal kecil yang mengusik kemanusiaan. Dari sisi itu aku bisa melihat jiwanya yang lembut. Namun, untuk beberapa hal lain, kami sangat berbeda pandangan. Dan kalau telanjur mendebatkan sesuatu, kadang tidak selesai dalam seminggu.
Sisi baiknya ketika berhasil melewati perselisihan sulit, sebagai teman, kami jadi bisa lebih saling memahami perbedaan. Pengalamanku berdebat nggak cuma sama dia, tapi sejauh ini dia yang paling beda.
Saat dia mendebat soal eksistensi Tuhan, dia terus menerus mengejarku dengan berbagai pertanyaan. Lalu, ketika aku memang tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, dia merespon, “terus kenapa kamu masih shalat?” Itu salah satu debat yang bikin kami salah paham. Aku merasa pertanyaan itu dengan nada mengejek, dia mengejekku yang tetap sembahyang meski tidak bisa membuktikan adanya Tuhan. Padahal mungkin maksud yang sebenarnya tidak demikian.
Kedua, ketika dia mendebat terkait Bunda Maria/Maryam, dia menyampaikan Maria tidak mungkin hamil dan melahirkan tanpa melakukan persetubuhan. Lalu dengan cara lain dia ingin bilang Alquran yang mengatakan Maria perawan dari sentuhan lelaki itu diragukan kebenarannya. Dan lagi-lagi perdebatan berakhir dengan pertanyaan dan pernyataan yang menurutku dia tidak menghargai imanku. “Mengapa kamu masih saja percaya Alquran?” responnya padaku.
Padahal dalam melihat iman, kami sepaham bahwa seseorang mengimani sesuatu tidak selalu butuh bukti. Seseorang yang mengimani Quran sebagai firman Allah, tidak perlu bukti bahwa sosok yang ditemui Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu adalah malaikat Jilbril. Di lain waktu, dia mempertanyakan eksistensi Nabi Musa, juga soal berbagai tindakan Nabi Muhammad yang dianggap janggal. Untuk beberapa hal, aku berdebat berangkat dari iman, sedangkan dia dari pikiran skeptis, karena itulah sering berujung tidak nyambung. Aku tidak menganggap diriku yang berdebat berangkat dari iman itu lebih baik dari dia, sama sekali tidak. Orang skeptis yang kembali dari keraguannya justru biasanya menjadi lebih yakin. Dia berhak mempertanyakan sesuatu perihal iman dan agama. Padahal aku merasa termasuk orang yang tidak mudah “sami’na waatho’na”, aku banyak mempertanyakan dogma-dogma agama dan hukum-hukum Islam. Orang sepertiku bertemu dan berdebat dengan orang macam dia pun masih banyak bertentangan. Aku coba memahami yang dia pikirkan dan rasakan terkait iman agar setiap perdebatan tidak menimbulkan perselisihan mendalam.
Ada hal yang paling kuingat awal debat hingga terjadi salah paham. Saat itu aku pikir biar nggak makin ruwet, aku ingin mengurai masalah. Aku mau telepon dia lewat Skype karena kupikir ketika menyimak penjelasan orang dengan mendengarkan intonasi suaranya langsung, akan lebih memahami maksud yang sebenarnya. Aku izin lebih dulu kalau aku mau menelepon dia. Dia malah mengatakan bahwa aku agresif karena berinisiatif menelepon cowok duluan. Waduuuh, kok gitu responnya? Itu salah paham pertama yang menurutku sangat menjengkelkan, bagiku lumayan fatal. Seringkali kemudian aku menjadi merasa perlu berhati-hati menyampaikan sesuatu padanya, agar tidak salah paham lagi.
Selanjutnya sudah tak terhitung lagi apa saja yang kami debatkan. Kadang aku berpikir dia sengaja tak berhenti mendebatku sebelum bikin aku jengkel. Kami berinteraksi bukan sebatas berdebat, tapi juga belajar memahami sesuatu, berbagi apa yang dia lihat di sekitarnya dan aku berbagi apa yang kulihat di sekitarku. Banyak temannya yang temanku juga, kami kuliah di universitas yang sama. Kami pernah beredar di sejumlah lingkungan yang sama, memiliki ikatan sejarah dalam ruang dan waktu yang sama, tapi sebelumnya tak pernah jumpa. Kami punya latar belakang menekuni bidang yang juga sama. Banyak hal darinya aku belajar, begitu juga sebaliknya. Sampai kemudian aku berkesimpulan dia pada dasarnya anak baik dan punya jiwa yang halus. Selanjutnya ketika dia bilang mau ketemu, aku merasa tak khawatir, seperti apapun sosok dan karakternya.
Dalam banyak hal, dia memang berbeda dengan orang pada umumnya. Tapi aku nggak kaget sih, karena sudah sering ketemu orang aneh setengah gila. Haha. Selagi keunikannya tidak mengganggu, tak masalah buatku.
Saat mau janjian ketemuan, dia memberitahuku akan naik angkutan umum dari Jakarta Selatan ke Depok dan bilang butuh wifi. Kusebut nama restoran Gula Merah di mall Margocity yang kukira ada internetnya. Di sana rencananya kami akan jumpa.
“L, aku di Tous les Jour. Di Gula Merah gak ada wifi, adanya rendang :),” tulisnya untukku lewat WhatsApp. Dari kalimatnya bisa ditebak orangnya kayak apa, dia kadang suka bercanda.
Aku naik Gojek menuju Margocity. Menuju tempat dia berada, lantai dua depan tangga, toko roti yang ada kursi-kursi untuk ngopi.
Sosoknya mudah kutemukan, saat kali pertama tatapan, kami saling panggil nama dan melambaikan tangan. Lalu salaman dan tempel pipi kiri kanan. Hanya pada orang tertentu aku demikian. Serasa ketemu sahabat lama. Aku tidak merasa asing.
“Kamu trendy sekali, L” komentarnya terhadapku. Aku tidak menjawab apa-apa soal pakaianku. Biasanya kalau mau ke kampus UI aku memang pakai baju rapi. Sangat rapi. Celana jeans panjang hitam dan kemeja ungu yang kukancing rapi. Sepatu boot cokelat kesukaanku. Juga syal tebal warna hitam. Siang itu selain makan siang sama dia mall, aku rencana ke percetakan, lalu ke UI. Aku pakai baju sangat rapi juga karena untuk antisipasi, karena aku tidak tahu dia datang pakai kostum seperti apa. Ternyata dia pakai kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Hihihi. Mengingat riwayatnya yang unik aku nggak kaget dengan penampilannya, bahkan andaipun dia muncul di mall cuma pakai kaos singlet atau kain rasta, aku pun nggak kaget. Bhuahaha. Teringat saat masa kuliah di Jogja dulu, di area kampus bagian Timur, di area fakultas ilmu sosial terutama Sastra dan Filsafat, ada peringatan, “piyama dilarang masuk”. Saking kebangetan uniknya mahasiswa UGM kampus bagian Timur, mungkin sudah biasa ada mahasiswa pakai piyama beredar di kampus. Kalau di kampus bagian Barat, di area fakultas Sains dan Teknik, cukup ditulis “kaos oblong dilarang masuk”. Aku jadi mikir, mungkin dia saat mahasiswa termasuk yang pernah ke kampus pakai piyama. Ups, nuduh.
Di meja toko roti, dia menawarkan roti yang sedang dia makan. Juga, menawarkan minumannya. “Kamu juga boleh minum ini kalau kamu mau,” katanya. Aku suka peristiwa itu karena serasa bertemu kawan lama. Aku ambil sedikit rotinya. Aku tanya minuman yang dia pesan apa? Memastikan kalau minuman itu tidak mengandung wine. Kadang di luar sana orang mengganggapku Islam liberal dengan nada negatif, padahal minum wine setetes pun, aku tidak pernah.
Lalu dia cerita soal aktivitas dukungannya terhadap LGBT di Jogja yang mendapatkan semacam ancaman. Kami juga ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, termasuk soal buku. Aku senang dan bersyukur dalam percakapan itu, ngobrol langsung memang jauh lebih baik daripada komunikasi lewat tulisan. Kalau ingin menyanggah atau mendebat bisa lihat ekspresinya dan mendengar intonasinya langsung. Jadi bisa lebih mengerti maksudnya dan mengurangi salah paham.
Usai dari mall, kami ke percetakan Cano di Jl. Margonda. Benar-benar jalan kaki. Lumayan terik, aku tak masalah. Aku malah mengkhawatirkan dia yang capai karena baru menempuh perjalanan jauh. Sebelumnya dia menempuh perjalanan dari Jogja ke luar Jawa sekian hari, terus ke Jakarta, untuk kemudian ke Amerika. Padat jadwalnya. Tapi dia bilang gpp. Kami mampir ke warung Lele Lela, aku yang minta karena ingin beli teh Tarik dan air mineral. Sekalian aku shalat dhuhur.
Dari tas kain putih, dia mengeluarkan buku yang katanya isinya mengecewakan, tidak seperti yang dia harapkan, buku itu ditawarkan buatku. Kalau dia kecewa dengan buku itu kenapa dikasih aku, ini sih namanya memindahkan kekecewaan. Hehe. Tapi tak apa-apa, kalau baginya mengecewakan, bagiku belum tentu. Bagaimana pun aku berterima kasih buku berjudul “Ibn Rusyd” kini jadi milikku.
Selanjutnya kami ke percetakan untuk mengambil bukuku. Aku perlu menandatangi buku-buku karyaku sebelum wrapping. Tandatangan itu permintaan pembaca yang pesan. Sambil menunggu proses wrapping, aku dan dia makan di Mang Kabayan. Kami makan jamur dan kangkung. Dia mengambilkan nasi ke piringku.
Di meja yang luas dengan iringan musik Sunda yang halus, kami ngobrol banyak soal bukuku dan bukunya. Dia menilai tokoh di bukuku terlalu suci, tidak ada kisah bercinta di dalamnya. Menurutnya pembaca umumnya ingin lebih dari itu. Aku mempertahankan argumenku, memang ada nilai yang ingin kusampaikan di buku itu. Termasuk soal batasan dalam pacaran. Mohon pelan-pelan membaca paragraf ini. Di luar sana, penulis biasanya memotret cerita dari sisi ekstrem berlawanan, sisi pertama menyampaikan pacaran itu tegas dilarang, sisi ekstrem lainnya memotret tentang bercinta di luar pernikahan itu biasa. Aku memotret di sisi tengah bahwa punya pacar itu tak mengapa, asalkan tidak mendekati zina. Bagi dia, kisahku yang seperti itu menjadi datar. Tapi itulah potret yang ingin kusampaikan. Di sinilah keuntungan menerbitkan secara independen, kita bebas mengekspresikan nilai apapun tanpa terikat kemauan pasar.
Matahari terus merangkak, menjelang sore. Sepertinya tak cukup waktu ke UI karena aku punya agenda kursus menulis mulai pukul 7 malam. Menuju tempat kursus butuh minimal 2,5 jam.
Setelah makan dan ambil buku lagi, kami naik angkot ke Stasiun Universitas Pancasila. Lalu jalan lagi untuk mencari toko sepatu. Sejak di mall, dia memang sudah bilang akan beli sepatu di daerah ini. Dapat rekomendasi dari orang di mall. Kami hanya menemukan satu toko dan tidak menemukan sepatu yang cocok. Bagiku itu salah satu jalan-jalan yang berkesan. Panic Attacks-ku kadang kambuh kalau sedang jalan kaki jauh, saat itu juga muncul pada level rendah dan bisa teratasi dengan baik tanpa dia tahu. Bersamanya aku bisa ngobrol tanpa putus, fokus dengan isi obrolan dapat membantuku menekan kecemasan. Terakhir aku merasakan Panic Attack saat menapaki trotoar panjang di Kota Tyre, Libanon. Saat Panic Attacks menyerangku di tepi jalan, untungnya pas aku ganti ngobrol dengan teman dari Yaman. Teman yang saat itu bahasa Inggrisnya jelas di telingaku dan aku bisa fokus menyimak ceritanya tentang pergerakan di Timur Tengah. Jika kecemasanku naik, aku akan berhenti dan duduk sebentar. Kadang tanpa perlu memberitahu teman jalanku.
Kembali ke cerita awal. Kami ke Stasiun lagi naik kereta yang sama. Dia hendak turun di St Sudirman, ada janji dengan teman. Sedangkan aku menuju Kebayoran Lama untuk kursus menulis.
Di dalam kereta, di depan tempat duduk kami, seorang perempuan tertimpuk botol minuman dari tempat tas di dekat atap. Perempuan itu membenamkan kepala menahan sakit dan dua temannya menenangkannya. Lalu, penumpang berambut panjang itu membuka tasnya, kirain mau ambil minyak kayu putih atau semacamnya. Ternyata ambil kaca dan lipstik, lalu memakainya sambil jongkok. Kulihat teman lelakiku merekam mereka. 🙂
Di dalam kereta kami ngobrol soal beasiswa sekolah, aku agak pusing lihat kerumunan. Kami sempat selfie sebelum dia turun. Lalu saatnya kami harus berpisah. “Kamu hati-hati di Amerika ya,” bisikku dalam salam perpisahan. Aku ingin ngobrol lebih lama, tapi waktu tidak memungkinkan, dia harus turun. Saat dia mencapai pintu kereta, kujulurkan tanganku, dia meraih tanganku sampai akhirnya dia benar-benar turun. Sudah kayak adegan film India saja. Ha-ha. Harap maklum, kami berdua (mantan) aktor.
Kuberharap kami kelak berjumpa lagi. Namun, dia baru saja berangkat ke benua lain dan entah kapan akan kembali. Akan kukirimkan DOA kebaikan untuknya meskipun dia (mungkin) tak percaya pada kekuatan doa.
Depok, 4 April 2016

Leave a comment

Filed under Conservation

2016: Baik

Ini tulisan pertamaku di tahun 2016. Lama nggak nulis di sini karena males mindah tulisan ke sini. Selain itu, karena tidak ingin terlalu banyak berbagi biarpun itu cerita kebahagiaan. Padahal seringkali menuliskan isi pikiran konon bisa menajamkan ingatan dan merekatkan kembali kenangan yang kelak mungkin akan retak. Tapi belakangan aku banyak menyimpan saja. Kalaupun ditulis tidak di tempat umum seperti ini. 🙂

Tahun 2016 ini aku ingin ganti lensa kacamata, dalam arti literal dan arti konotasinya. 🙂 Ingin beli kacamata baru kalau ada rezeki, tapi yang lama sebenarnya masih bagus, cuma sedikit longgar. Kacamata terakhir dibeliin kantor seharga Rp.800.000, itu sudah lengkap dengan pelindung radiasi komputer dan pelindung sinar matahari. Kalau di bawah terik mentari bisa menggelap sendiri. Kalau beli sendiri seharga itu kayaknya nanti dulu, ada yang perlu diprioritaskan lebih dulu. Untuk ganti lensa kacamata dalam arti yang lain, yaitu ingin mengubah cara pandang terhadap hal-hal tertentu.

Tahun 2016 semoga ada kejutan anugerah yang menyenangkan. Sebenarnya hal yang paling kubutuhkan sekarang adalah meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Baca sejumlah jurnal sosial rasanya sudah mual-mual, bolak-balik buka kamus dan kadang dahi masih berkenyit. Apalagi nulisnya, hanya menulis 500 kata bisa seharian karena mempelajari bahannya bisa berjam-jam. Eh, bukannya itu secara tidak langsung sedang menaikkan kemampuan berbahasa Inggris ya? Semoga demikian. Kalau bisa sih bisa mencapai skor IELTS 8! Haha, jangan nanggung-nanggung.

Tahun 2016 semoga bisa mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan dengan lebih baik, terus lebih baik, dan lebih baik. Mengelola jiwa dan raga dengan lebih baik juga. Dengan demikian, rizki juga akan mengikuti datang dengan lebih baik. Rizki materi maupun non-materi. Termasuk rezeki jodoh yang baik. Amiin. 🙂

Sudah gitu aja, ini sudah kebanyakan curhat. 🙂

Saat menulis ini sedang adzan magrib, dan doaku sore ini adalah PASTI sanggup menyelesaikan tugas-tugas the course malam ini dengan baik. 🙂

#Segera kembali ke jurnal.

 

 

Leave a comment

Filed under Conservation

Harapan dan Kegelisahan

teks sumpah pemuda

Sumber gambar 1: tidak diketahui

Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ini saya juga ingin menulis sesuatu yang menjadi harapan dan kegelisahan pribadi sebagai pemudi harapan bangsa. Syalala. Sebelum jauh menulis ini itu, saya ingin mengingatkan diri sendiri isi sumpah pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, yaitu (gambar 1.):

Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia

Bertanah air Indoneisa artinya juga menjaga tanah dan air di nusantara. Mengelola dengan baik untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan menjaga kelestarinnya.

Harapan. Tanah Indonesia yang subuh, lahan yang luas, hutan yang banyak, flora dan fauna yang beragam, kaya tambang mineral, logam, dan minyak yang melimpah, semua ada di negeri kita tercinta. Ini bisa menjadi modal yang superbesar untuk memakmurkan Indonesia.

Yang menggelisahkan. Kurangnya sumber daya manusia yang handal dalam pengelolaan sumber daya alam. Peraturan atau undang-undang yang ada belum bisa merawat semangat petani dan belum mampu melindungi hutan. Kebijakan kemudahan impor yang disalahgunakan, hanya menguntungkan pihak tertentu, merugikan rakyat banyak.

Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia

Menurut KBBI, bangsa adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Harapan.  Indonesia kaya budaya, bisa dalam bentuk rumah adat, busana adat, bahasa lokal, nilai-nilai kearifan lokal, tarian, dll bisa sebagai modal yang besar bangsa ini memiliki nilai yang tinggi. Modal yang besar ini bisa dimanfaatkan sebagai jalan atau inspirasi untuk memakmurkan rakyat dan menjadi Indonesia yang berwibawa.

Yang menggelisahkan. Pertama, makin banyak orang yang merenovasi rumah adatnya dengan rumah masa kini yang tidak memiliki kekhasan jati diri bangsa. Kalau kelak semua bangunan serupa, itu tidak lagi istimewa. Orang pergi ke Roma dan Bali karena di antaranya ada bangunan khasnya kan? Semakin banyak orang yang tidak lagi mengenal dan mengenakan baju adat daerahnya. Bahkan, kadang atas nama agama Islam, melarang orang mengenakan kebaya, bersanggul, dan menari.

Menjunjung Bahasa Persatuan Indonesia

Harapan. Biarpun negeri ini pernah dijajah Belanda ratusan tahun dan Jepang, tetap memiliki bahasa resmi tersendiri yang berasal dari bahasa nusantara ini, yaitu bahasa Indonesia. Kita patut bangga atasnya. Banyaknya jumlah bahasa lokal di sepanjang nusantara, konon berjumlah tak kurang dari 700, kini hampir semua penduduknya mampu berbahasa Indonesia tanpa kehilangan bahasa asal daerahnya. Para anak muda yang semangat belajar bahasa asing, tetap bisa berbahasa Indonesia.

Yang menggelisahkan. Di era reformasi yang tidak lagi ada tantangan berarti dan era digital yang mendorong setiap orang jadi pusat bumi, tak dipungkiri negeri ini melahirkan banyak pemuda pemudi alay yang berbahasa alay, tidak/kurang memahami tata bahasa sendiri. Sudah begitu, tidak ada upaya diri sendiri untuk membenahinya. Bahkan, banyak media yang bahasanya berantakan, padahal tulisan wartawan dan penulis bisa menjadi ujung tombak kokohnya bahasa. Tata bahasa yang keliru oleh wartawan bisa diduplikasi terus-menerus sampai kemudian menjadi salah kaprah. Contohnya kata “acuh” yang artinya “peduli”, berasal dari “acuh tak acuh” (peduli dan tak peduli). Namun, belakangan seringkali digunakan dalam kalimat yang tidak tepat sehingga orang banyak yang menganggap “acuh” itu berarti “tak peduli”.

Demikian yang saya harapkan dan saya gelisahkan tentang negara ini pada level yang lebih luas. Untuk yang lebih khusus, saya sedang mempelajari tentang keragaman religius dan  tentang membangun perdamaian. Ini aktual untuk kondisi Indonesia yang belakangan banyak dilanda isu perselisihan inter dan antar-agama hingga menimbulkan bentrokan. Kristen mayoritas di Papua membakar masjid milik muslim minoritas. Muslim yang mayoritas di Aceh membakar sejumlah gereja milik minoritas. Di media sosial gencar disebarkan kebencian terhadap syiah, ahmadiyah, dll hanya karena beda ideologi. Ini menyebabkan sekelompok syiah di Madura diusir dari tanahnya. Masjid Ahmadiyah di Cikeusik disegel oleh muslim lain dan ada yang dibunuh karena dianggap sesat. Generasi muda di bawah ajaran-ajaran tertentu terkait agama, kehilangan rasa nasionalisme. Banyak PR di negeri ini.

belajar teks teks Islam and Others

Teks-teks ini tentang “Islam, Keragaman Religius, dan Mambangun Perdamaian” yang sedang saya jalani melalui kursus online. Selain tema yang menantang, juga berbahasa Inggris. Banyak kata dan idiom yang masih asing buat saya sehingga bolak balik buka kamus. Selalu ada tugas menulis dalam bahasa Inggris dalam menganalisis teks. 🙂

Saya terdorong mempelajari hal tersebut karena itu begitu mengusik hati. Ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini? Dan apa yang bisa saya lakukan? Dari kesibukan yang sedang saya jalani belakangan ini, setidaknya membantu saya menganalisis masalah perselisihan dalam agama, kemudian belajar membuat langkah praktis untuk mengatasinya. Sebuah rahmat, saya mendapatkan kesempatan ini. Dan pada akhirnya sebagai salah satu pemudi Indonesia, saya kali ini pun tidak bisa bersumpah apa-apa, hanya bisa melakukan sebaik-baiknya semampu saya dan semoga semangat ini terus terjaga. Jika ini belum bisa memberikan kontribusi langsung pada negara, untuk sementara setidaknya ini berguna membantu saya berjuang melawan kebodohan diri sendiri.

Peringatan sumpah pemuda ini bisa menjadi momen untuk menyalakan semangat agar makin berkobar. Jika pemuda tahun 1928 memiliki semangat juang tinggi untuk merdeka, kita di tahun 2015 ini juga bisa memiliki semangat juang tinggi untuk belajar dan membangun. Dengan semangat yang tinggi, segala kegelisahan pasti bisa teratasi—baik kegelisahan bangsa maupun kegelisahan diri sendri. Merdeka!

Laeliya,

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Conservation

Kontemplasi

Orang-orang berdebat tentang Tuhan itu ada atau tidak ada. Agama itu buatan manusia atau buatan siapa. Para nabi itu benar mendapatkan wahyu ata hanya merasa. Akhirat itu ada atau tidak. Surga dan neraka itu ada atau tiada. Jika ada, apakah seperti yang tergambar dalam kitab-kitab (yang dianggap) suci atau hanya metafora. Dan aku pernah ada di dalam perdebatan itu. Perdebatan macam itu mungkin perlu atau mungkin juga tidak perlu. Perlu bagi yang membutuhkan. Beriman dan tidak beriman urusan personal. Setiap orang punya sejarah dan perjalanan batin yang berbeda, jalan yang dipilihpun kemudian berda-beda.

Dan aku lebih senang dan tenang jika percaya Tuhan itu ada dan dia berfirman dengan beragam tanda. Mendidik manusia dengan berbagai cara. Quran yang sampai di tanganku mungkin bagian dari caraNya mengenalkan diri padaku. Pada manusia-manusia lain mungkin Dia menyentuh dengan cara berbeda. Jika Dia Maha Adil, tidak mungkin memberi jalan pilih-pilih kasih. Dia yang menurunkan manusia ke bumi, tidak mungkin Dia menginginkan manusia agar sengsara di dunia. Mata manusia mungkin melihat setiap manusia diberi paket kelahiran yang berbeda-beda, tapi bisa jadi di mata Tuhan paket tersebut bernilai sama. Kenyataannya, kebahagiaan hakiki itu tidak ditentukan oleh harta benda turunan, cantik/ganteng turunan, pintar turunan, dan semacamnya yang dibawa sejak kelahiran.

Jadi lupa mau nulis apa tadi. Cuma mau menyimpan ayat-ayat ini untuk penguat diri. Diambil dari status Tika di Facebook.

And do not kill yourselves. Surely, God is Most Merciful to you. (Quran 4:29)
And do not throw yourselves in destruction.(Quran 2:195)
And whoever oppresses (commits injustice) among you, We will make him taste a great punishment. (Quran 25:19)
But those who believe and do deeds of righteousness, We shall admit them to the Gardens under which rivers flow (i.e., in Paradise), to dwell therein forever. [It is] the promise of God, [which is] truth, and whose words can be truer than those of God. (Quran 4:122)
So verily, with hardship, there is ease. (Quran 94:5)

 Aku percaya meyakini nilai-nilai dalam agama bisa membuat orang bahagia, lebih kuat, lebih baik, dan lebih menikmati hidup. Mungkin tidak untuk semua orang, tapi setidaknya untukku. Dan aku tak ingin berdebat soal itu.
Depok, Agustus 2015.

Leave a comment

Filed under Conservation