Category Archives: Diversity and Peace Building

Politik dan Sastra di Turki

Malam Minggu ini ceritanya aku gabung menyimak diskusi tentang “Politik dan Sastra di Turki” yang diselenggarakan oleh media Turkish Spirit lewat Hangouts Google dan streaming di YouTube.

Ini tema menarik buatku. Karena terkait satu wilayah di Timur Tengah. Kalau membahas Tunisia atau Lebanon pun aku akan menyimak. Selain juga, sambil refreshing dari aktivitas menyuntingan naskah dan mengisi malam Mingguku yang jomblo kelabu. Wkwk. Nggak kelabu ding, mengisi malam Minggu diskusi online gini keren tahu. Haha. Membela diri. Udah ah, kembali soal Turki.

Tadi aku menyimak sambil mencatat, bikin notula. Ini catatan yang berhasil kurangkum. Belum diolah.

Pembicara pertama, Hadza siapa gitu (nanti kucari nama lengkapnya), dia bicara soal politik Turki. Lalu, ada Bernando J. Sujibto yang berbagi perkara sastra di Turki.

Politik di Turki
1. Banyak orang Indonesia tidak paham Turki, banyak dibohongi informasi tak tepat.

Bagaimana Indonesia memandang Turki? Indonesia sering memandang Turki sebagai negara Islam yang menjalankan syariat Islam. Beredar di media sosial, blog, bahkan di khotbah Jumat. Turki sejak awal dirikan sudah sebagai negara sekuler, demokratis, dan sosial. Negara yang dijalankan ada pemisahan kekuasaan yang jelas antara legislatif, yudikatif, dan eskekutif. Tidak dikendalikan oleh ulama. Yang berlaku adalah hukum konstitusi berdasarkan sistem Perancis.

2. Ada anggapan Turki tak aman. Sering dirundung masalah sehingga nggak aman ditinggali.

Turki memiliki sebuah konteks yang berbeda. Turki memang sedang menghadapi masalah di perbatasan. Tapi sehari-hari orang masih hidup normal. Secara keamanan kurang stabil, tetapi kalau paham konteks yang terjadi di Turki dan bagaimana pemerintah menanggulanginya masih berjalan efektif. Dan masyarakat masih stabil.

3. Tentang pendirinya, yaitu Attaturk.

Attaturk memang figur kontroversial, tidak hanya di Indonesia, juga di Turki. Perannya cukup besar dalam revolusi Turki. Di sini masih ditemukan gambar-gambar dan patung-patungnya di Turki. Kenapa Attaturk masih dihormati dan ada gelombang Islam yang kuat, memang ada upaya pemerintah untuk propaganda sosok Attaturk. Attaturk dijadikan sebagai teladan untuk menjadi orang Turki yang ideal. Anak SD belajar mulai dikenalkan dengan karakter Attaturk.

Orang Indonesia masih menganggap buruk, Attaturk memiliki kebijakan keras sekulerisme. Sebenarnya Attaturk mencoba menerjemahkan lagi Islam dalam konteks Turki. Ketika Attaturk sedang membangun Turki sesuai dengan kondisi zaman. Saat itu masih percaya takhayul dan khurafat. Terlalu banyak percaya takdir dan kurang usaha. Itu menjadi refleksi Attaturk. Maka dia mengambil dasar sekulerisme. Mencoba memisahkan agama dan pemerintah. Agar orang tulus menjalankan agama, bukan dengan politik.

Attaturk mencoba membuat pemerintahan. Pada masa Attaaturk, orang masih salat dan baca Quran dengan cara berbeda. Misal, kalau zaman Attaturk orang lebih banyak baca Quran dengan bahasa Turki, memahami karya-karya agama dengan bahasa Turki. Attaturk mencoba mengubah agama Arab dengan bahasa Turki. Juga dengan menerbitkan buku berbahasa Turki. Kemudian dianggap berlebihan ketika membuat kebijakan azan dan salat pakai bahasa Turki. Akhirnya tahun 1950 tentang sekulerisme melunak.

Orang Asia Indonesia sering menganggap Attaturk meninggal tidak diterima bumi dan bukan dalam keadaan Islam. Oleh sejarawan di Turki, Attaturk masih dianggap muslim, meskipun disalatkan oleh sedikit. Jasadnya dipajang di museum sekian tahun, jasadnya dihadapkan ke arah Ka’bah.

4. Kebangkitan Islam di Turki.

Sejarahnya panjang dan sekarang masih berlanjut. Sejarah sangat kompleks sampai Turki menjadi negara yang menerapkan syariah. Menjadi negara yang memajukan Islam dan ekonomi Islam.

Bagaimana Turki bangkit sebagai sebuah negara yang membawa identitas Islam? Karena sudah memiliki modal itu ketika berperan sebagai Kesultanan Usmani. Itu semacam tersimpan dan dibangkitkan lagi. Banyak orang dari berbagai jamaah, saat itu sekulerisme sudah nggak begitu kuat. Adanya bentuk pelayanan ulama kepada masyarakat. Ini kemudian Turki secara domestik dan pendidikan membaik. Ini memungkinkan orang Turki mempelajari lebih baik lagi tentang Islam. Semakin banyak modal yang dimiliki umat Islam dan ulama, partai-partai Islam lebih maju lagi. Kombinasi kerjasama antara pengusaha dan ulama berperan dalam bangkitnya Islam. Sejak itu terus maju.

Tanya jawab:
Jawaban Hadza,
Terkait perubahan sistem pemerintahan di Turki. Tidak semua setuju dengan sistem presidensial, diubah dari parlemen. Karena akan melanggengkan sistem yang tidak sehat. Ini akan membatasi orang Turki melakukan koreksi terhadap penguasa. Manakah sistem yang cocok, parlementer atau presidensial, perdebatan menarik. Ini diserahkan ke orang Turki. Dengan ini, orang Turki akan mempelajari politik dengan lebih baru, terutama agar tidak tersentralisasi oleh satu orang.

Terkait penerapan syariat, misalnya tentang aktivitas kerja kurang memperhatikan waktu salat. Namun belakangan, kebanyakan universitas di Turki, dosen mulai menjadwalkan kuliah menyesuaikan waktu salat.

Mengenai daerah perbatasan, ada pengamanan intensif, relatif aman, misal di daerah Urfah. Di beberapa daerah lain, seperti Hakkari tidak aman. Meskipun dibangun dinding pembatas antara Turki dan Suriah, tapi belum dipastikan aman.

Terkait bagaimana pemerintah memperlakukan sekte-sekte Islam.
Jawaban Hadza: pelarangan jamaah Gullen atas alasan politik.

Menurut BJ, selain Islam, agama lain tidak dianggap resmi. Kayak kementerian agama hanya untuk Islam. Seperti Yahudi tidak berkembang. Tetapi segala kepercayaan dilindungi. Untuk sekte-sekte khusus, underground. Pemahaman Islam di Turki sangat tertutup. Di luar Ankara secara jelas bisa ditemukan, dengan tegas menolak sempalan-sempalan yang dianggap sesat.

Sastra di Turki

Hadza: Sastra di Turki banyak terkait dengan politiknya. Banyak sastrawan merefleksikan politik Turki. Pada masa sastra awal Turki modern dan era berdirinya Republik Turki, ada nama-nama seperti Khaled Khadifar (gimana cara nulisnya? Googling namanya gak nemu profilnya. Atau aku salah dengar/penulisan namanya ya?), seorang wanita yang bukunya menginspirasi Soekarno.

BJ: Terkait salah satu penulis Turki Orhan Pamuk. Pamuk itu artinya kapas, putih. Dia imigran kulit putih, keluarga kaya, pemikirannya sangat Eropa. Pemikirannya dalam kalangan kelas menengah. Sebenarnya Pamuk tidak benar-benar dibenci. Setelah dia menyebut nenek moyang Turki, Ottoman membunuh atau melakukan genosida. Orhan Pamuk salah satu yang menyebut itu. Dari situ muncul kebencian. Pamuk tidak bisa dikatakan sebagai novelis yang bernafas Turki. Pemikirannya kebarat-baratan

Pamuk sekarang mulai diterima. 2005-2010 masa kelam Pamuk, banyak ancaman bunuh. Meskipun demikian, dilindungi negara. Dia dikasih bodyguard oleh negara. 2006 mendapat hadiah Nobel Sastra.

Tuduhan kenapa orang Turki benci Pamuk karena dia menyentuh isu sensitif Armenia. Bisa dibunuh. Bukan hanya di bawah pemerintah AKP/Erdogan.

Terkait sastra oleh penulis-penulis perempuan di Turki.
BJ: konstelasi potret sastra di Turki memang dalam, tidak terkejut dibahas oleh banyak orang. Saya tidak terlalu detail membaca sastra perempuan di Turki. Sepertinya ada anak Hatta terinspirasi dari penulis Turki.

Buatku ini diskusi menarik. Kendalanya teknis, suara yang kadang timbul tenggelam saat streaming, kadang jelas, kadang cempreng lirih. Bagian akhir diskusi, aku kurang menyimak, sebenarnya bisa dicek ulang di YouTubenya. Tapi, aku belum sempat, karena pasti perlu waktu agak panjang. Ini saja dulu kusimpan di sini. 🙂

Depok, 5 Februari 2017.

2 Comments

Filed under Diversity and Peace Building

Jilbab Syar’i

Oleh Nur Laeliyatul Masruroh
Sore itu aku masuk ke toko jilbab di Depok Town Square. Mau cari pasmina buat syal untuk dibawa ke Timur Tengah. Patung manekin berhidung mancung pakai mukena pink ngejreng berenda biru itu menarik perhatianku. Kusentuh kainnya sepertinya adem. “Mukena yang kayak gini tapi warna lain dan nggak pakai renda ada Mbak?” tanyaku pada penjaga toko. Renda di kain itu menurutku seperti renda yang biasa dipakai untuk pemanis underwear. Rasanya gimana itu kalau salat pakai seperti itu. “Ini bukan mukena, Mbak,” jelas penjualnya. “Oh pantesan rendanya kayak renda underwear. Baju dalam?” Aku memastikan. “Bukan. Ini jilbab syar’i,” balasnya. Hah? Belum selesai kagetku, tiba-tiba ada pengunjung lain datang pakai ‘mukena’ serupa, warna pink juga, dengan tambahan kain pink tua di kepalanya dan asesoris bros pita memanjang di bagian kanan.
“Kayak gini lho Mbak, ini namanya jilbab syar’i,” jelas penjaga toko menunjuk wanita berjilbab pink ngejreng lebar itu. Sepertinya aku musti banyak beristigfar, karena dalam hati saat itu aku tak berhenti mengkritik baju itu, ya ampun baju warna ngejreng dengan renda underwear kayak gitu menarik perhatian semua orang. Bukan hanya menarik perhatian mata orang, tapi mungkin juga menarik kupu-kupu dan burung-burung ingin hinggap bersarang, kok disebut syar’i?
Baiklah, atas nama hak asazi, siapapun boleh mendefinisikan pakaian syar’i dengan caranya sendiri-sendiri 🙂
Syar’i artinya sesuai syariat. Syariat bisa berbeda-beda, tergantung mengikuti tafsir siapa. Bagiku, berpakaian sopan tanpa jilbab pun sudah syar’i, tapi bagi yang lain belum tentu. Bagi orang lain, menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, jilbab kecil ataupun lebar sudah syar’i, bagi ulama yang berpendapat cadar wajib, itu belumlah syar’i. Bagi orang tertentu, berjilbab lebar bunga-bunga, warna menyala, berenda underwear, sudah dianggap syar’i, bagi ulama yang berpendapat jilbab untuk meredam perhatian, seperti itu belumlah cukup syar’i.
Kalau aku pribadi lebih sepakat dengan pendapat bahwa pakaian tertutup itu untuk meredam perhatian. Semakin tertutup seharusnya semakin bersahaja. Semakin tertutup mustinya semakin mengurangi asesoris kecantikan. Tapi siapapun boleh berpendapat beda, tidak harus sepakat denganku.
Lebih dari itu, aku senang perempuan Indonesia merdeka memilih pakaian apapun yang disuka. Tertutup ataupun terbuka dan bisa mengekspresikan identitas diri sepenuhnya. Di Arab Saudi sana, pakaian perempuan diatur oleh budaya, dilegitimasi agama, harus lebar-lebar, bahkan kadang musti hitam dan bercadar.
Aku ingin berterima kasih, tapi entah pada siapa, tentang ini semua. Tentang kemerdekaan perempuan Indonesia menentukan sendiri pakaiannya.
Saat akan berangkat ke Beirut, aku sengaja membawa beberapa tutup kepala, jilbab, dan pasmina. Selain karena musim dingin, panitia juga memberitahu sebelumnya bahwa di tempat-tempat tertentu perempuan harus menutup kepala, disarankan bawa headscarf.
Saat turun dari pesawat di Beirut, suhu 15 derajat. Aku tidak melepas tutup kepalaku karena kupingku kedinginan. Begitu sampai hotel, seorang panitia menyambutku di depan pintu taksi. Dia mengucapkan selamat datang dan bilang aku sudah ditunggu Doktor N. Kadang-kadang kami menyebut mentor kami dengan gelar di depannya. Juga beberapa peserta yang sudah PhD dipanggil doktor. Tidak harus, boleh panggil nama.
Aku bilang akan check in kamar dulu sebelum ketemu siapapun. Karena aku baru menempuh perjalanan pesawat 15 jam dan belum mandi. Usai mandi dan menata isi koper di kamar, kubuka jendela kaca yang sekaligus pintu hotel, memastikan suhu di luar ruangan sedingin apa. Di kamar, AC tersetting hangat entah berapa derajat. Di HPku suhu kota menunjukkan 12 Celcius. Ternyata di luar cukup dingin, kupingku sepertinya tak sanggup dibiarkan terbuka. Akhirnya aku pakai tutup kepala untuk keluar.
Saat bertemu Doktor N, dia memelukku 3x sebagai salam khas Libanon. Doktor N adalah perempuan terpelajar, cerdas, cantik, berprestasi, dan baik hati. Beliau doktor teologi Islam. Padanya kami belajar interpretasi Alquran di kelas online sebelumnya. Mengikuti forumnya aku musti senantiasa siap menyediakan Alquran tiga bahasa. Indonesia, Inggris, dan Arab. Buat lainnya cukup dua bahasa. Tugas-tugas analisis teologis Alquran darinya menurutku sangat menarik dan menantang.
Pada awal pertemuan itu, dia tanya padaku bukankah aku tidak pakai jilbab. Kujawab, ya aku tak berjilbab, tapi di sini aku akan menutup kepala. Dia balas, di sini kamu tidak harus menutup kepala, kamu boleh membukanya. “Suhu di sini sangat dingin. Di Indonesia aku terbiasa di suhu 30 derajat, di sini 12 derajat, aku perlu menutup kuping,” jelasku. “Ah ya, kalau itu masuk akal.”
Peserta perempuan didominasi tidak berjilbab. Kami bebas berpakaian dengan batasan sopan. Beberapa peserta juga tanya soal jilbab padaku, juga ada yang tanya soal agamaku–menutup kepala tidak lantas otomatis Muslim. Kujawab, aku muslim dan berkeyakinan jilbab tidak wajib. Terus malah ada yang menanggapi, siapa yang menganggap itu wajib? Kujelaskan, muslim mayoritas di Indonesia berkeyakinan jilbab/ menutup kepala bagi perempuan itu wajib. Malah ada yang kaget dengan penjelasanku karena kebanyakan mengira Indonesia itu contoh ideal kehidupan muslim sebab perempuan bebas berjilbab dan bebas tidak berjilbab, dan tidak ada otoritas yang mewajibkan. Betul, di sini tidak ada otoritas yang mewajibkan, kecuali Aceh. Terkait wajib itu maksudku soal keyakinan, bukan urusan otoritas tertentu.
Menurut beberapa dari mereka, teman-teman dari Timur Tengah yang kebetulan berbagi soal ini, “jilbab itu pilihan bukan kewajiban dan Islam seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, melainkan lebih kepada akhlak.” Aku sepakat dengan itu.
Kembali ke soal jilbab ‘mukena’ pink ngejreng di atas. Yang dikatakan temanku soal Indonesia sebagai contoh ideal buat muslimah mengekspeasikan pakaian itu mungkin ada benarnya. Di Indonesia belakangan ini muncul beraneka model jilbab, sangat kaya pilihan. Bahkan konon Indonesia sebagai pusat mode hijab dunia. Mulai yang sederhana, elegan, rumit, hingga yang norak, semua orang bebas mengklaim itu sebagai identitas muslimah, bahkan bebas mengklaim itu syar’i. Keragaman yang mungkin tidak/belum ditemukan di Timur Tengah. Yang barangkali perlu dikritisi adalah jika menganggap pilihannya sendiri sebagai satu-satunya yang syar’i.
Ini juga pengingat untuk diriku sendiri yang kadang masih sulit memahami jilbab-lebar-ngejreng-renda-underwear dianggap jilbab syar’i. Astaghfirullah. Udah gitu aja sih. 🙂
12 Januari 2016

Leave a comment

Filed under activites, Diversity and Peace, Diversity and Peace Building