Category Archives: Diversity and Peace

Perpisahan di Bandara Beirut

Sekian bulan belakangan jarang nulis di sini, aku lebih banyak curhat di Facebook. Menulis apa yang kita alami, pikirkan, dan rasakan membantu mengabadikan kenangan dan mengubah energi negatif menjadi positif. Karena itu rencanaku ke depan akan lebih sering hadir mengisi halaman ini.

Abadikan Kenangan

Di sini dan di Facebook tentu berbeda, salah satunya di sini tidak banyak yang berkomentar. Bukan berarti aku tak suka dikomentari, hanya saja kadang aku ingin lebih sunyi.

Saat membuka kembali tulisan masa lalu, kurasa aku perlu berterima kasih pada diri sendiri yang telah mengikat kenangan, jika hanya disimpan dalam pikiran kelak satu persatu akan retak. Di sisi lain, juga menertawai kekonyolan-kekonyolan caraku mengekpresikan pikiran.

Barusan aku membuka tulisan tahun lalu di fitur “Note” di Facebook. Curhatku yang pernah naksir salah satu teman di program Libanon. Ya ampun, ingat itu antara haru, lucu, dan (agak) malu. 🙂 Tapi, aku hargai perjalanan sejarahku sendiri. Aku menghargai perasaan-perasaanku yang pernah hadir untuk siapapun. Juga, perasaan-perasaan mereka yang pernah hadir untukku.

Saat menengok hatiku kali ini, aku sudah tak naksir dia lagi. Kok bisa perasaan itu menghilang? Aku yang mematikannya sendiri. Aku tidak menghidupkan perasaanku padanya lagi karena aku tahu itu seperti angan yang kejauhan. Aku mungkin cuma kagum dan naksir, tapi tak ingin memiliki. Tepatnya, tak sanggup memiliki. Aku dan dia jauh terpisah sekian samudera. Lagipula, selama ini dia tak tahu isi hatiku. Haha. Jika boleh berangan, aku ingin menikah dengan orang Indonesia saja. Dan, yang lebih mendasar adalah  kehidupan yang bahagia dan bisa dekat dengan keluarga. Syalalalah. 😀

Aku percaya setiap kehadiran adalah pertanda dari alam agar mengambil pelajaran. Perkenalanku dengan teman-teman lelaki dari Timur Tengah setidaknya mengubah persepsiku tentang lelaki Arab. Yang kutemui jauh lebih baik dari yang kusangka sebelumnya.

Meskipun ada satu orang yang menurutku centil (pernah menggodaku hingga bikin nggak nyaman–tak akan kusebut nama), tapi selebihnya tidak begitu. Aku bisa merasakan kebaikan yang tulus dari kebanyakan mereka, berasa seperti saudara.

Salah satu lelaki tulus itu adalah seorang teman dari Kuwait. Saat kali pertama lihat foto di kelas online, wajahnya terkesan kurang bersahabat. Tapi saat ketemu langsung, aura kebaikan dan ketulusan terpancar. Dia juga jauh lebih ganteng dari fotonya. Kuingat dia yang salatnya paling tepat waktu. Dengan senang hati dia membagi catatan bahasa Inggrisnya denganku. Sedangkan teman lain mencatat dalam bahasa Arab. Dari kebaikannya saat itu entah kenapa aku menilai inilah keindahan Islam.

Dia bukan orang yang kutaksir. Aku menganggapnya seperti saudara. Aku ingat percakapan kami saat mau naik bus ketika tour ke Tyre. Dia cerita pernah ke Jakarta dan suatu saat akan berkunjung ke Jakarta lagi.
“Of course I will come to Jakarta again. Now, I have family in Jakarta,” kata dia berbalut senyum.
“Oh good, you have family in Jakarta,” responku bernada senang juga.
“You. I mean, now we are family,” jawabnya sambil tertawa. Aaah iya kita kan saudara. Saat itu seingatku usai makan siang di Saida.

Saatnya pulang, dari hotel Alhamra ke bandara Alhariri di Beirut aku satu taksi dengan Sana, perempuan berdarah Mesir. Sana selama ini tinggal di Amerika untuk studi, tapi kali ini balik ke Uni Emirat Arab (UEA) ke rumah saudara. Saat menunggu di Bandara Beirut, di belakang kami muncul Badr, lelaki kece dari Kuwait tadi.

Mas Kuwait menawari kami berdua ke kafe dulu, dia bilang akan nraktir. Aku nggak bisa karena aku khawatir ketinggalan pesawat, aku ingin segera boarding. Aku khawatir karena sebelumnya di bandara aku diperiksa lebih lama dari penumpang lainnya. Sebab wajahku bukan Arab. Hiks.

Sana satu pesawat denganku ke Dubai, sedangkan Mas Kuwait beda jam penerbangan. Mbak Mesir meyakinkan aku kalau pesawat masih lama meskipun boarding sudah dibuka. Tapi aku tetap khawatir, aku nggak mau ingin ada masalah di negara orang, ingin cepat-cepat melewati pemeriksaan keamanan bandara dengan tenang. Akhirnya Mbak Mesir mengikutiku dan kami terpaksa nggak jadi nongkrong di kafe bareng Mas Kuwait. Ternyata tidak ada pemeriksaan tambahan buatku. Aku jadi merasa bersalah sama Sana karena kami menunggu lama di ruang tunggu boarding. Aku meminta maaf padanya, dia bilang tak mengapa.

Oh ya, sebelum masuk pintu boarding, saat mau berpisah, kami tempel pipi kanan kiri dan peluk persahabatan dengan Mas Kuwait. Lalu kami selfie bertiga sebelum benar-benar berpisah. Di situlah rasa persaudaraan (sesama muslim) begitu terasa. Entah kapan lagi bisa bertemu. Mas Kuwait terbang ke Amerika untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Harvard. Mbak Mesir ke UEA ke rumah kerabatnya. Sedangkan aku kembali ke tanah air.

Berinteraksi dengan mereka banyak kisah-kisah kecil yang terekam di ingatan merasakan indahnya persaudaraan dalam Islam. Mereka anak-anak muda Muda yang berpikir liberal dan memperjuangkan perdamaian masyarakat dan dunia. Dalam satu dua hal kami memang berbeda pendapat, tapi secara keseluruhan niat kami sama, membangun perdamaian dan melawan ektremis kekerasan. Dari 30 peserta, muslim dari berbagai madzab dan 3 nonmuslim. Kami semua belajar memahami kembali teks Alquran dan hadits untuk dasar membangun perdamaian. Di balik carut marut wajah Islam, aku senantiasa percaya bahwa Islam yang sejati adalah yang membawa rahmat atau kasih sayang untuk semua umat manusia.

Merekatkan kenangan satu tahun lalu.
Depok, 11 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace, Lifestyle

Jilbab Syar’i

Oleh Nur Laeliyatul Masruroh
Sore itu aku masuk ke toko jilbab di Depok Town Square. Mau cari pasmina buat syal untuk dibawa ke Timur Tengah. Patung manekin berhidung mancung pakai mukena pink ngejreng berenda biru itu menarik perhatianku. Kusentuh kainnya sepertinya adem. “Mukena yang kayak gini tapi warna lain dan nggak pakai renda ada Mbak?” tanyaku pada penjaga toko. Renda di kain itu menurutku seperti renda yang biasa dipakai untuk pemanis underwear. Rasanya gimana itu kalau salat pakai seperti itu. “Ini bukan mukena, Mbak,” jelas penjualnya. “Oh pantesan rendanya kayak renda underwear. Baju dalam?” Aku memastikan. “Bukan. Ini jilbab syar’i,” balasnya. Hah? Belum selesai kagetku, tiba-tiba ada pengunjung lain datang pakai ‘mukena’ serupa, warna pink juga, dengan tambahan kain pink tua di kepalanya dan asesoris bros pita memanjang di bagian kanan.
“Kayak gini lho Mbak, ini namanya jilbab syar’i,” jelas penjaga toko menunjuk wanita berjilbab pink ngejreng lebar itu. Sepertinya aku musti banyak beristigfar, karena dalam hati saat itu aku tak berhenti mengkritik baju itu, ya ampun baju warna ngejreng dengan renda underwear kayak gitu menarik perhatian semua orang. Bukan hanya menarik perhatian mata orang, tapi mungkin juga menarik kupu-kupu dan burung-burung ingin hinggap bersarang, kok disebut syar’i?
Baiklah, atas nama hak asazi, siapapun boleh mendefinisikan pakaian syar’i dengan caranya sendiri-sendiri 🙂
Syar’i artinya sesuai syariat. Syariat bisa berbeda-beda, tergantung mengikuti tafsir siapa. Bagiku, berpakaian sopan tanpa jilbab pun sudah syar’i, tapi bagi yang lain belum tentu. Bagi orang lain, menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, jilbab kecil ataupun lebar sudah syar’i, bagi ulama yang berpendapat cadar wajib, itu belumlah syar’i. Bagi orang tertentu, berjilbab lebar bunga-bunga, warna menyala, berenda underwear, sudah dianggap syar’i, bagi ulama yang berpendapat jilbab untuk meredam perhatian, seperti itu belumlah cukup syar’i.
Kalau aku pribadi lebih sepakat dengan pendapat bahwa pakaian tertutup itu untuk meredam perhatian. Semakin tertutup seharusnya semakin bersahaja. Semakin tertutup mustinya semakin mengurangi asesoris kecantikan. Tapi siapapun boleh berpendapat beda, tidak harus sepakat denganku.
Lebih dari itu, aku senang perempuan Indonesia merdeka memilih pakaian apapun yang disuka. Tertutup ataupun terbuka dan bisa mengekspresikan identitas diri sepenuhnya. Di Arab Saudi sana, pakaian perempuan diatur oleh budaya, dilegitimasi agama, harus lebar-lebar, bahkan kadang musti hitam dan bercadar.
Aku ingin berterima kasih, tapi entah pada siapa, tentang ini semua. Tentang kemerdekaan perempuan Indonesia menentukan sendiri pakaiannya.
Saat akan berangkat ke Beirut, aku sengaja membawa beberapa tutup kepala, jilbab, dan pasmina. Selain karena musim dingin, panitia juga memberitahu sebelumnya bahwa di tempat-tempat tertentu perempuan harus menutup kepala, disarankan bawa headscarf.
Saat turun dari pesawat di Beirut, suhu 15 derajat. Aku tidak melepas tutup kepalaku karena kupingku kedinginan. Begitu sampai hotel, seorang panitia menyambutku di depan pintu taksi. Dia mengucapkan selamat datang dan bilang aku sudah ditunggu Doktor N. Kadang-kadang kami menyebut mentor kami dengan gelar di depannya. Juga beberapa peserta yang sudah PhD dipanggil doktor. Tidak harus, boleh panggil nama.
Aku bilang akan check in kamar dulu sebelum ketemu siapapun. Karena aku baru menempuh perjalanan pesawat 15 jam dan belum mandi. Usai mandi dan menata isi koper di kamar, kubuka jendela kaca yang sekaligus pintu hotel, memastikan suhu di luar ruangan sedingin apa. Di kamar, AC tersetting hangat entah berapa derajat. Di HPku suhu kota menunjukkan 12 Celcius. Ternyata di luar cukup dingin, kupingku sepertinya tak sanggup dibiarkan terbuka. Akhirnya aku pakai tutup kepala untuk keluar.
Saat bertemu Doktor N, dia memelukku 3x sebagai salam khas Libanon. Doktor N adalah perempuan terpelajar, cerdas, cantik, berprestasi, dan baik hati. Beliau doktor teologi Islam. Padanya kami belajar interpretasi Alquran di kelas online sebelumnya. Mengikuti forumnya aku musti senantiasa siap menyediakan Alquran tiga bahasa. Indonesia, Inggris, dan Arab. Buat lainnya cukup dua bahasa. Tugas-tugas analisis teologis Alquran darinya menurutku sangat menarik dan menantang.
Pada awal pertemuan itu, dia tanya padaku bukankah aku tidak pakai jilbab. Kujawab, ya aku tak berjilbab, tapi di sini aku akan menutup kepala. Dia balas, di sini kamu tidak harus menutup kepala, kamu boleh membukanya. “Suhu di sini sangat dingin. Di Indonesia aku terbiasa di suhu 30 derajat, di sini 12 derajat, aku perlu menutup kuping,” jelasku. “Ah ya, kalau itu masuk akal.”
Peserta perempuan didominasi tidak berjilbab. Kami bebas berpakaian dengan batasan sopan. Beberapa peserta juga tanya soal jilbab padaku, juga ada yang tanya soal agamaku–menutup kepala tidak lantas otomatis Muslim. Kujawab, aku muslim dan berkeyakinan jilbab tidak wajib. Terus malah ada yang menanggapi, siapa yang menganggap itu wajib? Kujelaskan, muslim mayoritas di Indonesia berkeyakinan jilbab/ menutup kepala bagi perempuan itu wajib. Malah ada yang kaget dengan penjelasanku karena kebanyakan mengira Indonesia itu contoh ideal kehidupan muslim sebab perempuan bebas berjilbab dan bebas tidak berjilbab, dan tidak ada otoritas yang mewajibkan. Betul, di sini tidak ada otoritas yang mewajibkan, kecuali Aceh. Terkait wajib itu maksudku soal keyakinan, bukan urusan otoritas tertentu.
Menurut beberapa dari mereka, teman-teman dari Timur Tengah yang kebetulan berbagi soal ini, “jilbab itu pilihan bukan kewajiban dan Islam seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, melainkan lebih kepada akhlak.” Aku sepakat dengan itu.
Kembali ke soal jilbab ‘mukena’ pink ngejreng di atas. Yang dikatakan temanku soal Indonesia sebagai contoh ideal buat muslimah mengekspeasikan pakaian itu mungkin ada benarnya. Di Indonesia belakangan ini muncul beraneka model jilbab, sangat kaya pilihan. Bahkan konon Indonesia sebagai pusat mode hijab dunia. Mulai yang sederhana, elegan, rumit, hingga yang norak, semua orang bebas mengklaim itu sebagai identitas muslimah, bahkan bebas mengklaim itu syar’i. Keragaman yang mungkin tidak/belum ditemukan di Timur Tengah. Yang barangkali perlu dikritisi adalah jika menganggap pilihannya sendiri sebagai satu-satunya yang syar’i.
Ini juga pengingat untuk diriku sendiri yang kadang masih sulit memahami jilbab-lebar-ngejreng-renda-underwear dianggap jilbab syar’i. Astaghfirullah. Udah gitu aja sih. 🙂
12 Januari 2016

Leave a comment

Filed under activites, Diversity and Peace, Diversity and Peace Building

Silakan Bercadar, Berjilbab, atau Cukup Berpakaian Sopan

Belakangan ini di Indonesia semakin hari semakin banyak orang Islam yang menuntut semua muslimah wajib berjilbab. Tuntutan ini bisa dilihat dari sindiran, dorongan terus menerus, komentar-komentar yang menyudutkan muslimah tak berjilbab, hingga campur tangan mengatur jilbab di institusi umum. Akibat tuntutan tersebut banyak perempuan yang kemudian menjadi tidak nyaman. Saya sebagai warga negara Indonesia yang berhak mengekspresikan keyakinan tertarik untuk menuliskan hal ini.

Tuntutan masyarakat agar semua muslimah berjilbab muncul karena kebanyakan umat Islam di Indonesia mengetahui hukum jilbab hanya satu, yaitu wajib menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Banyak yang menganggap itu sebagai satu-satunya kebenaran aturan berpakaian dalam Islam dan tidak/kurang menghargai pandangan lain soal jilbab. Ketika kemudian menemukan berbagai pandangan soal jilbab, banyak yang kaget dan menolak. Oleh karena itu pengetahuan bermacam pandangan ulama terkait hukum jilbab perlu untuk terus sosialisasikan agar mencapai pemahaman yang sama, yaitu saling paham menghargai pilihan setiap orang.

Pandangan hukum jilbab wajib selama kurang lebih 15 tahun ini memang terus menerus didengungkan, hingga setiap orang semacam menjadi pendakwah yang harus menyampaikan. Bahkan, ada yang ingin memasukkan jilbab dalam peraturan negara dan mengawasinya. Ditambah lagi berseliweran di media sosial hadits tentang perempuan yang tidak pakai jilbab akan dibakar di neraka 70.000 tahun dan berdosa pula ayahnya, bapaknya, saudara lelakinya, dan suaminya.

Apakah hadist ancaman semacam itu benar? Entahlah. Perlu diketahui, hadits ditulis ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat berdasarkan ingatan si ini dan si itu yang disampaikan pada si anu. Ada hadits yang dianggap shahih, kurang shahih, dhoif, hingga yang diada-adakan dibuat untuk kepentingan politis. Biarpun dinilai shahih, redaksionalnya juga kemungkinan besar ada yang tidak sama persis perkataan Nabi. Bisa saja ada satu dua kata yang hilang, terganti, atau mengalami distorsi. Berbeda dengan Al-quran yang saat ayat turun, menurut sejarah, langsung ditulis di daun-daun lontar, tulang hewan, pelepah korma, dll. Serta diabadikan dalam hafalan banyak muslim saat itu hingga kini.

Kembali soal jilbab. Dalam diskusi di grup-grup media sosial terkait jilbab sekian kali ditemukan masih banyak orang Islam, baik wanita maupun pria, yang memaksakan muslimah wajib berjilbab. Seseorang meyakini hukum jilbab wajib tentu saja boleh. Namun, bisa menjadi bermasalah ketika dia menuntut semua muslimah harus meyakini sama seperti yang dia imani. Juga bisa menjadi bermasalah ketika lelaki muslim atas nama agama memaksa atau menuntut saudara perempuannya, ibunya, anak perempuannya, dan istrinya berjilbab karena khawatir ancaman neraka.

Terkait batasan aurat wanita dalam Islam, biasanya yang menjadi rujukan adalah Al-Quran Annur ayat 31 dan Al-Ahzab ayat 59. Juga sejumlah hadits yang menerangkan atau menguatkan hal itu.

Ulama berbeda-beda pendapat tentang batasan aurat perempuan. Ada yang berpandangan bahwa muslimah wajib menutup seluruh tubuh tanpa kecuali, wajib menutup seluruh tubuh kecuali mata kiri, wajib menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, dan wajib menutup aurat dengan batas kesopanan sesuai adat setempat.

  1. Wajib menutup seluruh tubuh tanpa kecuali

Pandangan ini mendasarkan pada Al-ahzab ayat 59 yang berbunyi, “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke (seluruh) tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.”

Dalam surat itu tidak menyebut batasan aurat perempuan secara jelas, hanya menyebut  “jalabihinna” yang diartikan “menutup seluruh tubuh”. Namun, ada yang mengartikan “menutup tubuh”, bukan “seluruh”.

  1. Wajib menutup seluruh tubuh kecuali mata kiri

Muhammad bin Sirin berkata, “Aku bertanya kepada Abidah As-Salmani tentang firman Allah dalam Al-ahzab 59, “يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ” maka ia menutup wajah dan kepalanya, serta hanya memperlihatkan mata kirinya.

  1. Wajib menutup seluruh kecuali telapak tangan dan wajah

Pendapat poin ke-3 di atas berdasarkan hadits, “Wahai Asma’, wanita yang sudah haid harus menutupi seluruh tubuhnya, kecuali ini dan ini.” (HR. Abu Dawud). Itu redaksional aslinya. Kata “ini dan ini” ada yang menafsir Nabi Muhammad menunjuk kepala dan lengan tangan. Ada yang menafsir menunjuk wajah dan telapak tangan. Pendapat terakhir itulah yang kini paling banyak digunakan.

Bagi ulama yang berpandangan hukum cadar wajib, hadits itu bisa batal oleh hukum yang lebih tinggi yaitu Alquran, Al-azhab 59 yang menyebut seluruh tubuh, tanpa kecuali. Bagi ulama yang berpandangan batasan aurat perempuan lebih longgar, rambut bukanlah aurat layaknya dada wanita yang penting untuk ditutup.

  1. Wajib menutup aurat dengan batas kesopanan sesuai budaya setempat

Ini berdasarkan Annur ayat 31 yang berbunyi, “… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain  ke dadanya…”

Kata “perhiasan” ditafsir sebagai aurat. Kalimat “yang (biasa) nampak darinya”  ditafsir sebagai bagian tubuh yang biasa tampak sesuai kebudayaan setempat. Batasan ini memang menjadi sangat relatif. Ada penekanan “menutup kain ke dadanya” sebagai reaksi atas keadaan saat itu masih banyak wanita gurun pasir yang berjalan di tempat umum tidak menutup payudara, sehingga ada perintah itu. Alquran menyebut perintah menutup dada, tetapi tidak menyebut perintah rambut kepala.

Empat pandangan di atas ringkasan dari bermacam pandangan batasan aurat perempuan dalam Islam. Kalau semua pandangan diurai satu persatu akan banyak sekali. Dalam Al-quran banyak ditemukan kata “hendaklah”, kata itu ada yang menafsir sebagai bentuk perintah wajib, sunnah, atau dibaca sesuai konteks. Jika ada yang berpandangan bahwa jilbab ataupun kerudung sebagai anjuran atau sunnah, atau sebagai bentuk kehati-hatian itu pun tidak salah.

Terkait hukum cadar, itu pun berbeda-beda. Ada yang berpandangan sunnah. Ada yang berpandangan wajib menutup wajah bila terbukanya muka dikhawatirkan mengundah fitnah. Menimbulkan fitnah itu maksudnya bagaimana pun “debatable” dan tidak akan dibahas di sini.

Di tulisan ini juga tidak akan membandingkan mana pendapat yang dianggap paling benar ataupun pendapat yang dianggap salah. Semua pendapat memiliki dasar masing-masing yang dianggap benar.

Muslimah pada dasarnya punya pilihan bebas berpakaian sesuai kehendaknya, sesuai dengan iman yang diyakininya. Boleh bercadar, berjilbab, ataupun tidak berjilbab. Semua punya hak yang sama untuk mengekspresikan keyakinannya. Dan gaya pakaian tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan seseorang.  Yang semakin tertutup tidak berarti imannya lebih baik, yang semakin terbuka juga tidak berarti lebih buruk. Jika ingin menilai kualitas agama seseorang, silakan menilai bagaimana caranya dia memperlakukan orang lain. Bukan pada pakaiannya.

Kembali ke awal terkait dengan banyak orang Islam Indonesia yang kini mulai menuntut agar semua muslimah berjilbab, menjadi perlu lebih detail untuk dijelaskan pandangan ulama yang tidak mewajibkan jilbab. Ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi agar yang meyakini wajib jilbab membuka jilbab. Keyakinan tidak bisa dipaksakan. Kalau kemudian ada yang membuka jilbabnya karena tulisan ini, itu artinya pada dasarnya memang dia tidak meyakini jilbab wajib.  Dan itu tidak papa. Itu bagian dari perjalanan spiritualnya. Tak seorang pun berhak mengintimidasi seseorang yang melepaskan jilbabnya. Begitu juga sebaliknya, tak seorang pun berhak mengintimidasi seseorang atas pilihannya berjilbab ataupun bercadar. Namun, untuk saling kritik tentu saja boleh.

Pertama, salah satu ulama Islam Timur Tengah yang berpandangan jilbab tidak wajib adalah Al-Asymawi.

Dalam buku “Kritik Atas Jilbab” (2003), Muhammad Sa’id Al-Asymawi menyatakan bahwa jibab itu tak wajib. Al-Asymawi berpendapat hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab atau hijâb itu adalah hadist Ahad yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Bila jilbab itu wajib dipakai perempuan, dampaknya akan besar. Seperti kutipannya, “Ungkapan bahwa rambut perempuan adalah aurat karena merupakan mahkota mereka. Setelah itu, nantinya akan diikuti dengan pernyataan bahwa mukanya, yang merupakan singgasana, juga aurat. Suara yang merupakan kekuasaannya, juga aurat; tubuh yang merupakan kerajaannya, juga aurat. Akhirnya, perempuan serba-aurat.” Implikasinya, perempuan tak bisa melakukan aktivitas apa-apa sebagai manusia yang diciptakan Allah karena serba aurat.

Ulama Mesir tersebut mengurai bahwa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.

Kedua, Pandangan Quraish Shihab. Berdasarkan berbagai tulisan Quraish Shihab terkait pakaian muslimah, sejauh yang saya pahami, Quraish Shihab memaparkan berbagai pandangan ulama terkait batasan aurat perempuan dan tidak menilai mana pandangan yang paling benar atau pandangan yang salah. Menurutnya, ulama yang berpandangan jilbab tidak wajib memiliki dasar memadai sehingga kita tidak boleh menilai muslimah yang tak berjilbab tidak sesuai syari’at. Begitu juga yang berpandangan bahwa hukum cadar wajib, memiliki dasar yang memadai sehingga tidak perlu menilai muslimah bercadar telah berlebihan dalam berpakaian. Ulama berbeda-beda pendapat dan Quraish Shihab membebaskan pembaca/umat untuk memilih sesuai keyakinannya.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Laeliya,

Jakarta, 06 November 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Apakah Pertemuan Fransiskus Assisi dan Sultan al-Malik Bisa Sebagai Model Hubungan Kristen-Islam Era Modern?

Berikut ini adalah tugas ketiga, yaitu menganalisis teks 17 halaman tentang pertemuan antara seorang Kristiani dari Italia—Fransiscus Assisi dan seorang Sultan Muslim dari Mesir—al-Malik-al-Kamil dalam perspektif teologis. Kemudian mengaitkan apakah  pertemuan antara Fransikus dan Sultan al-Malik dapat menjadi contoh untuk kehidupan modern hubungan antara Kristiani dan Muslim.

Di tengah konflik Perang Salib Kelima, pada tahun 1219 seorang Kristen dari Italia, Fransiskus dari Assisi memilih jalan damai. Dia datang ke Islam Sultan al-Malik-al-Kamil di Mesir tanpa senjata. Sultan al-Malik juga luar biasa, ia menyambut Francis secara damai. Sultan memiliki banyak alasan untuk menghentikan Fransiskus yang akan memberitakan imannya, tapi Sultan bersedia mendengarkan khotbah dan membolehkan dia untuk diskusi beberapa hari. Pertemuan tersebut meninggalkan semangat yang mendalam. Panggilan reguler salat dari muazin di istana Sultan ditafsirkan oleh Fransiskus sebagai pengagungan manusia kepada Allah. Fransiskus juga mengamati cara doa ritual Muslim dan mengartikan sebagai rasa hormat yang mendalam kepada Allah, Allah yang dia puja. Pertemuannya dengan Islam telah menuntunnya kepada cakrawala baru pandangan religiusnya.

Selanjutnya bisa mengubah Francis yang awalnya jijik dengan penderita kusta, kemudian ia memeluk seorang penderita kusta karena menyadari bahwa Allah mengirim dia di antara mereka, sebagai penghormatan kepada setiap ciptaan. Sampai akhir hidupnya, Fransiskus mendorong Kristen dan Muslim untuk meninggalkan perang dan membangun kerendahan hati dan kedamaian. Untuk konteks kehidupan modern, Francis bisa menginspirasi orang-orang Kristen dalam dialog antaragama. Sultan al-Malik juga bisa menjadi model bagi umat Islam untuk menghormati kekudusan Kristen. Pertemuan bisa menjadi pola untuk hubungan Kristen-Muslim. Pertemuan itu menyisakan nilai terbaik bahwa dialog dan saling hormati dalam  iman pada dua pihak yang bertikai dapat menjadi jalan keluar untuk mencapai rekonsiliasi dan perdamaian.

Modul dalam bahasa Inggris dan tugas pun ditulis dalam bahasa Inggris, tetapi yang kuunggah di sini versi Indonesia. Karena alamat blogku ini terbuka dan pernah dibagi di forum teman-teman peserta lain, yang dari negara-negara Arab. Kalau mengunggah dalam bahasa Inggris, nanti mereka bisa baca, haha. Oh ya tulisan dibatasi 250 kata. Pembatasan jumlah kata ini bisa berarti dua hal. Pertama, ini bagus karena menantang bagaimana menulis ringkas tetapi bernas. Kedua, penjelasan yang terlalu singkat juga bisa mengurangi nilai yang sebenarnya lebih luas atau kehilangan benang merah yang mungkin penting. Tapi nggak papa, tiap penulisan 250 kata itu sudah tepat! 🙂

Untuk diketahui, Fransiskus ini adalah pendiri Ordo Fransiskan, salah satu denominasi dalam Katholik. Menjadi inspirator para OFM untuk menjalin kerjasama yang baik dengan lembaga atau sekolah Islam, romo OFM di Indonesia pun melakukannya di era modern ini.

Salam,

Laeliya

Depok, 29 Oktober 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Meme Jelang Hari Santri

Hari Santri EditMeme ini banyak beredar menjelang Hari Santri Nasional, 22 Oktober. Tulisan Arab ini semacam parodi lucu-lucuan ngaji Kitab Kuning. Santri, khususnya dari pesantren NU, identik dengan ngaji kitab kuning, kitab berbahasa Arab, umumnya ditulis oleh ulama dari Timur Tengah, yang diterjemahkan ke bahasa Jawa, tetapi ditulis dengan Arab pegon.

Agar meme ini tidak hanya dimengerti oleh para santri, perlu diterjemahkan. Ini kurang lebih artinya begini.
Gambar 1. Baabul Fisbuuqati (Bab yang menerangkan masalah Facebook). Walaa tufasbiquu fii kulli auqaatikum (Dan janganlah terlalu sibuk Fesbukan di setiap waktu Anda semua).
Gambar 2. Baabul Wasafi (Bab yang menerangkan masalah WhatsApp). “Alaikum bilwasafi (Wajib untuk Anda semua memakai WhatsApp). Fainnahu khairun minal Fasbuuqi (karena sesungguhnya lebih bagus dari Facebook).

Tentu saja itu tak ada di kitab manapun, mungkin hanya ada di buku diary santri zaman sekarang. 🙂

Kembali ke Hari Santri. Entah kenapa perlu diperingati secara khusus. Kekhususan ini dikhawatirkan bisa menimbulkan kesenjangan bagi yang lain. Misal, bagi kaum abangan, bagi muslim non-santri, bagi murid yang menimba ilmu di yayasan agama non-Islam, dsb.
Bagaimanapun ini sudah telanjur ditetapkan dan wajar jika ada pihak-pihak yang menolaknya.

Ini tantangan buat santri bagaimana pengalamannya belajar Islam secara mendalam di pesantren bisa menjadi rahmat untuk bangsa. Belakangan, negara kita sedang rawan dilanda konflik yang disebabkan oleh para penganut agama yang bersikap fanatik, intoleran, radikal, dan bahkan meneror. Ini tantangan bagi para santri bagaimana menerjemahkan nilai-nilai luhur agama untuk membangun dan menjaga keutuhan Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.

Seperti kita diketahui, hari Santri nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015 guna menunaikan janjinya saat kampanye pemilihan presiden 2014. Penentuan tanggal tersebut dilatari oleh peristiwa resolusi jihad ulama Indonesia masa lalu untuk melawan penjajah Belanda.

Sumber gambar: tidak diketahui.

‪#‎Diary‬ (mantan) santri 🙂
Laeliya
Jakarta, 21 Oktober 2015.

3 Comments

Filed under Activities, Diversity and Peace

Renungan Diri di Hari Santri

santri 1992Gambar ini sekitar tahun 1992, saya bersama teman-teman santri di Pondok Pesantren Manba’ul Hisan, Mirit, Kebumen. Pesantren berbasis NU. Foto ini diambil saat saya kelas 3 SD, usai syukuran Khataman Juz Amma Bil Ghoib (syukuran atas keberhasilan kami menghafal Alquran juz 30). Saat itu di Indonesia belum banyak sekolah khusus/pondok anak-anak yang khusus belajar Alquran, belum marak seperti sekarang. Saat di pesantren, kami ngaji mengenakan baju kurung panjang. Sementara saat sekolah formal kami membaur dengan masyarakat setempat di SD Negeri, berseragam merah putih dengan atasan lengan pendek dan rok/celana selutut, sama layaknya murid-murid lainnya di luar pesantren. Kami santri cilik muslim dan kami tetap anak-anak Indonesia yang setiap Senin upacara bendera dan tidak dilarang memakai pakaian adat nusantara. 🙂

Selanjutnya apa yang terjadi dengan anak-anak yang sekolah Islam masa sekarang?

Sekarang semakin banyak anak-anak Indonesia yang disekolahkan di sekolah berlabel Islam, banyak orang tua berharap anak mereka hafal Alquran. Entah kenapa banyak orang tua muslim yang menganggap hafalan Alquran sebagai sesuatu yang sangat penting. Mungkin juga karena didukung oleh ajaran tentang keutamaan hafalan Alquran, seperti mendapatkan surga tertinggi, terbebas dari api neraka, dan mendapat syafa’at di Hari Kiamat. Jika alasan-alasan itu yang menjadi dasar, itu tidak menerjemahkan Islam menjadi rahmat di bumi ini. Selain itu, hafal Alquran akan dianggap hebat sehingga membuat orangtua bangga. Kemudian orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mengajarinya hafalan Alquran. Dan terkadang itu menjadi alasan utama sampai tidak memperhatikan aspek-aspek lain terkait pendidikan Islam di dalamnya.  Kalau sudah dididik di sekolah Islam atau pesantren dianggap lebih baik.  Perlu diketahui, sekolah berlabel Islam tidak serta merta pesantren, tetapi ada juga yang disebut pesantren. Dulu pesantren di Indonesia yang dominan hanya dua, yaitu NU dan Muhammadiyah, kini pesantren-pesantren baru muncul dengan berbagai aliran. Soal aliran-aliran ini penting untuk diperhatikan. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjamur di mana-mana.

Belajar Islam sejak dini bisa jadi kebaikan apabila mampu mendidik seseorang menjadi berakhlak luhur. Namun, jika belajar Islam dengan ajaran tafsir-tafsir sempit bisa membuat seseorang menjadi intoleran. Oleh karena itu, orang tua tetap perlu memantau kurikulumnya. Tak sedikit ditemukan SDIT sekarang yang melarang murid hormat bendera dengan alasan upacara tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW. Anak-anak dilarang memakai busana dan asesoris adat seperti kebaya dan sanggul dalam karnaval agustusan dengan alasan pakaian dianggap tidak syar’i. Anak-anak tidak mengenal lagu-lagu perjuangan bangsa sendiri seperti “Maju Tak Gentar”, tetapi lebih mengenal lagu-lagu perjuangan Palestina. Bahkan, ada juga SDIT yang melarang muridnya belanja di toko milik non-muslim karena dianggap menghidupi orang kafir. Ini ajaran yang sungguh berbahaya, melahirkan generasi yang kehilangan jati diri bangsa, intoleran, dan tidak siap menghadapi perbedaan.

Menurut peneliti yang investigasi masalah ini, sekolah-sekolah itu disusupi ajaran Wahabi, salah satu gerakan trans-nasional. Ajaran yang gemar melabeli bid’ah, sesat, dan kafir pada yang berbeda. Ajaran yang seolah ingin memurnikan Islam, tetapi sesungguhnya sedang mengikis nasionalisme generasi muda Indonesia. Tentu saja gerakan trans-nasional ini memiliki agenda politik kekuasaan di baliknya, yang sering tidak disadari oleh para penganut di level akar rumput.

Soal hafalan Alquran, beberapa waktu lalu seorang ulama menyentil di Youtube. Beliau menyampaikan yang intinya bahwa hafal Alquran tidak akan berarti apa-apa jika tidak paham makna atau tidak memberi arti bagi kehidupan, jadi tidak perlu diraya-rayakan. Beliau menceritakan seringkali menemukan anak-anak yang didorong-dorong hafal Alquran berlomba-lomba menjadi imam salat tarawih untuk menampilkan hafalannya, kemudian saling sibuk menghitung bayaran menjadi imam salat di masjid ini dan itu. Jika tidak dikembalikan pada hakikat pendidikan, hafalan Alquran pun bisa tergelincir dari tujuan utamanya. Menurut saya, pada dasarnya “menghafal” itu “mengingat”, seperti halnya mengingat rumus-rumus Fisika, mengingat unsur-unsur Kimia, dan mengingat 16 tensis bahasa Inggris. Bukan suatu prestasi superhebat yang bermanfaat untuk umat, jadi tidak perlu dipuji berlebihan. Kemampuan menghafal Alquran ibarat kendaraan, alat yang bisa mengantarkan seseorang lebih mudah memahami Alquran, ayat per ayat, kata per kata, dan menggali maknanya. Bisa juga hanya menjadi pajangan mewah di garasi yang tidak berguna apa-apa.

Pesantren bisa melahirkan santri seperti Gus Dur, Kyai Musthofa Bisri, Buya Hamka, dan Buya Syafi’i Maarif. Sosok-sosok yang punya pengaruh dalam mempromosikan Islam Nusantara dengan wajah damai. Namun tak dipungkiri, pesantren juga bisa melahirkan santri macam Amrozi, Imam Samudra, dkk yang intoleran terhadap yang berbeda dan menyebarkan paham terorisme atas nama memerangi kekafiran.

reuni santri 2005Gambar ini sekitar tahun 2005, santri cilik angkatan saya reuni, sowan pada guru kami, Kyai Abdul Mufti, pendiri pondok pesantren anak-anak Manba’ul Hisan. Saat itu kami sudah mahasiswa dan masing-masing membawa pengalaman menempuh SMP dan SMA di pesantren yang tidak sama. Kami kembali sebentar ke pondok masa SD dengan perfoma dan ideologi yang beda-beda. Bagaimanapun, nilai-nilai yang kami pelajari di pesantren turut mewarnai perjalanan ke depan dan mengantarkan kami pada jalan yang bisa jadi berlainan. Namun, selagi tetap menjaga silaturrahim yang baik, perbedaan tidak akan menjadi sumber perpecahan.

Pada peringatan Hari Santri Nasional ini mungkin bisa menjadi pengingat bahwa menjadi santri di negeri ini berarti musti mampu menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Bangsa dengan penduduk yang berbeda-beda dalam suku, agama, dan kepercayaan. Orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di sekolah/pondok berlabel Islam musti jeli memilih dan memastikan sekolah tersebut benar-benar mengajarkan nilai-nilai luhur agama dan menjadi rahmat bagi semesta.

Seperti kita diketahui, Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015 guna menunaikan janjinya saat kampanye pemilihan presiden 2014. Penentuan tanggal tersebut dilatari oleh peristiwa resolusi jihad ulama Indonesia masa lalu melawan penjajahan Belanda.

Sumber gambar: koleksi pribadi milik Nur Laeliyatul Masruroh. Gambar 1 dipotret oleh Lik Joko Sukandar, Gambar 2 oleh Abdullah Faqih.

Laeliya,

Jakarta, 22 Oktober 2015.

NB: Tidak diizinkan mengambil/posting ulang gambar tanpa izin penulis atau tanpa menyebut sumber. Tidak diizinkan juga menyalahgunakan gambar untuk informasi yang tidak benar. Terima kasih.

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Kursus Online ‘Islam, Keragaman, dan Membangun Perdamaian’

Ini hari pertama saya kursus online tentang “Islam, Keragaman, dan Membangun Perdamaian”. Kursus ini difasilitasi oleh sebuah lembaga antaragama di Timur Tengah. Kursus ini akan berlangsung selama 4 sesi. Sesi I akan berlangsung selama 6 minggu. Tujuan kursus Sesi I ini adalah membuka refleksi antara muslim, agama dan budaya lain. Ketiga hal itu akan dipelajari melalui 3 perspektif.

1. Perspektif Sejarah, meliputi pertemuan/perjumpaan (encounters), polemik, dan bentrokan (clashes).
2. Perspektif Geopolitik, akan mengupas soal identitas, keragaman (diversity), dan asimilasi.
3. Perspektif Teologis, akan mempertanyakan bagaimana Islam mempersepsikan agama-agama lain, dan pengalaman religius lainnya.

Kursus ini adalah beasiswa, diperoleh dengan mendaftar sebuah “Call for Application” yang salah satu syaratnya menuliskan 4 esai pendek, per esai berjumlah 300-500 kata dalam bahasa Inggris.

Kursus ini untuk 30 orang, (sepertinya ditawarkan) untuk negara-negara Islam atau mayoritas penduduknya Islam. Peserta tidak harus beragama Islam, tetapi diutamakan yang paham dunia Islam. Di formulir pendaftarannya juga ditanya soal kemampuan bahasa Arab, yang opsinya hanya Intermediate dan Advance. Saat daftar, kemampuan bahasa Arab saya Basic. Sempat ragu mendaftar karena keterbatasan bahasa Arab saya. Di websitenya video pengantarnya juga pakai bahasa Arab, tetapi ada subtitle Inggris. Ketika saya terpilih, tentu saja sangat bersyukur.

Di antara 30 orang ini, sejauh yang saya tahu, saya satu-satunya dari Indonesia. Setelah mendapatkan surat penerimaan dan menandatangi surat komitmen, lalu mengirimnya via email, diberi password untuk membuka sebuah web khusus. Web tempat materi diunggah dan mengisi profil berupa nama, asal negara, foto, dll.

Di sana ada materi yang akan dipelajari selama 6 minggu ke depan. Juga ada kuis perdana. Tujuh pertanyaan dengan durasi 10 menit. Kuis perdana ini memiliki tenggat waktu 3 hari. Dalam perjanjiannya, kami harus meluangkan waktu minimal 6 jam seminggu untuk kursus ini.

Setelah membuka halaman web sebagai pengguna dengan password, nampak profil peserta lain. Sebagian peserta adalah kandidat PhD, selebihnya aktivis perdamaian dan jurnalis. Mereka dari negara-negara di Timur Tengah. Di antaranya Irak, Palestina, Maroko, Tunisia, Yordania, Lebanon, Yaman, Mesir, dan Mauritania.

Kursus dibimbing oleh 3 Profesor dari sejumlah negara, satu staf untuk masalah teknis, dan seorang fasilitator atau manager program. Fasilitatornya seorang penulis ternama sekaligus jurnalis dari Palestina. (Untuk sementara, dengan berbagai alasan, nama-nama mereka tidak saya disebutkan di sini, mungkin lain kali).

Dalam kursus ini, juga perlu menyertakan alamat FB, twitter, blog, dan Skype. Dan berkomitmen untuk menuliskan hal-hal yang mempromosikan perdamaian. Ini sebuah tantangan besar buat saya. Selain materinya yang “wow”, juga menantang saya untuk lebih aktif menulis dalam bahasa Inggris. “Wow” dalam arti lumayan berat, tetapi sangat menarik. Para peserta lainnya memiliki latar belakang pendidikan tinggi terkait Studi Islam dan/atau Perdamaian, sedangkan saya berbekal ngaji di pesantren dan pengalaman di lembaga dakwah. Bahasa Inggris mereka juga sepertinya superfasih. Sepertinya saya butuh belajar lebih keras dari lainnya. Tapi tak mengapa, saya anggap ini sebagai pemanasan untuk mempersiapkan studi lagi. Semoga semua berjalan lancar, efisien, efektif, dan bermanfaat. Tidak hanya untuk diri saya sendiri, tetapi semoga kelak ada yang bisa bagi dan menjadi rahmat untuk semesta ini. Amiin.

Jakarta, 15 Oktober 2015.

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace