Category Archives: Lifestyle

It’s about the various pieces of life from my perspective

Ini tentang berbagai potongan kehidupan dari sudut pandangku

Cari Pasangan Haruskah Seagama?

Sekian waktu lalu seorang teman bertanya apakah aku membuka kemungkinan menikah beda agama? Ini pertanyaan menarik.

Pada dasarnya selama ini dalam memilih jodoh aku tidak membatasi harus sesama muslim. Sebagai muslim, aku menganut tafsir boleh menikah beda agama. Dalam Islam memang ada perbedaan penafsiran terkait boleh tidaknya menikah beda agama. Ada ulama yang berpendapat tidak boleh menikah beda agama, mutlak harus sesama muslim. Ada pendapat yang membolehkan dengan syarat perempuannya ahli kitab, misal si perempuan Katholik taat. Dan, ada yang membolehkan menikah beda agama, meskipun si lelakinya nonmuslim. Ketiganya memiliki dasar syariat masing-masing. Aku tidak ingin berdebat soal itu.

Aku pribadi membuka hati untuk siapapun yang bisa saling jatuh cinta tanpa membatasi agamanya. Bahkan, untuk yang tidak beragama, atheis, agnostik, atau bahkan Deis.

Aku pernah membuka hati pada seorang lelaki beda agama, seorang protestan. Konsekuensinya, ada nilai-nilai yang harus disampaikan apakah bisa mencapai kesepakatan yang sama. Misal, seandainya kami menikah, tidak ada masakan babi dan wine di rumah, apakah dia bersedia? Seandainya dalam sebuah perjalanan bersama, aku akan sering meminta berhenti untuk salat, apakah dia bisa memahami tanpa keberatan? Saatnya berpuasa Ramadhan atau sunnah, apakah dia bisa sepenuhnya mendukung? Intinya apakah dia bisa menerima segala hal caraku beragama? Sepertinya dia bisa menerima. Begitu juga aku bisa menerima caranya menjalankan agamanya.

Tapi hubungan kami tidak bisa lanjut karena ada nilai-nilai dasar yang tidak ketemu. Soal itu, aku tidak bisa membaginya di sini. Yang jelas bukan karena agamanya beda denganku. Kami jauh lebih baik bersahabat saja. Itu kami sadari bersama. Jadi, perpisahan itu kami terima dengan lapang dada. ๐Ÿ™‚

Aku juga pernah coba membuka hati pada orang yang tak beragama. Tadinya dia muslim. Dia memiliki poin kebaikan di mataku karena sensitif terhadap penderitaan orang lain dan dia juga berprestasi. Dan tentu saja baik padaku. Tapi, ada prinsip-prinsip hidupnya yang aku tidak sepaham, tidak bisa kusebutkan di sini. Selain itu, aku tidak bisa menerima dia yang di mataku kurang matang dalam mengkritik Islam dan mengkritik orang beriman. Ia mungkin mengalami kekecewaan terhadap perilaku orang-orang beriman. Aku juga sebenarnya banyak kecewa dengan muslim bigot. Tapi aku tak kehilangan kepercayaan pada indahnya pesan-pesan mulia dalam Islam.

Dia memang menghargai aku yang salat, puasa, percaya Alquran, dll. Tapi di sisi lain, dia menganggap bodoh orang yang mempercayai Nabi Muhammad, Yesus, Quran, Injil, dll. Intinya dia menganggap bodoh orang beriman. Aku melihat ini bisa menjadi masalah besar nantinya. Tapi mungkin seiring waktu ia terus belajar, ia akan makin matang dalam mengekspresikan kritikannya pada orang beriman. Aku tidak berharap dia menjadi beriman, tak beragama pun tak apa-apa.

Agama memang salah satu jalan orang mencari sumber kebaikan. Tapi untuk menjadi orang baik, menurutku orang tidak harus menganut agama. Banyak orang di luar sana tak beragama mampu menghayati semesta dengan baik, bisa bermanfaat untuk sesama. Nilai-nilai moral bisa digali dengan nurani, rasa, dan pikiran rasional. Tidak melalu dari agama.

Kalau kemudian aku tak lagi membuka hati untuknya karena ada cara pandang prinsipil yang sangat berbeda. Intinya bukan karena dia tak menganut beragama, tapi cara pandangnya terhadap nilai-nilai tertentu yang menurutku bikin nggak nyaman. Oh ya, yang dimaksud membuka hati tidak berarti pacaran, tetapi proses mengenal lebih dalam.

Tapi bagiku pribadi, agama sangat penting untuk diriku sendiri, juga penting untuk anakku kelak. Aku sudah merasakan langsung kebaikan nilai-nilai agama. Yang membuatku lebih bernyawa dalam memaknai hidup.

Pada akhirnya, aku berpendapat bahwa aku akan memilih pasangan yang bisa menghargai cara pandangku, prinsip hidupku, dan caraku beragama. Begitu juga sebaliknya. Memilih pasangan sesama muslim, menurutku lebih baik. Tapi, tetap ada catatan muslim yang seperti apa.

Aku tidak suka muslim fanatik. Tidak suka muslim yang suka kepedean menceramahi dan menasehati orang atas agama. Tidak suka muslim yang suka menuding kelompok lain sesat, fasik, dan kafir. Tidak suka muslim yang beragama secara dangkal.

Aku suka muslim yang berpikiran terbuka, progresif, dan memegang prinsip-prinsip kebaikan dan kemanusiaan. Intinya mencari pasangan yang bisa saling nyaman menjalani hidup bersama. Dan, keuntungan lain memilih pasangan sesama muslim adalah dia akan lebih mudah diterima di keluarga besarku. ๐Ÿ™‚

Oh ya, aku pernah menulis di catatan Facebook soal apakah ada kemungkinan menikah beda agama. Seandainya di dunia ini hanya tersisa dua lelaki single, yaitu Choky Sitohang yang Kristiani dan Ustad Solmed yang Muslim, aku memilih menikah dengan Choky. Hihi. Tapi nggak mungkin kan di dunia ini tinggal tersisa dua lelaki saja?

Demikian pandanganku tentang memilih pasangan kaitannya dengan agama. ๐Ÿ™‚

Depok, 12 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Perpisahan di Bandara Beirut

Sekian bulan belakangan jarang nulis di sini, aku lebih banyak curhat di Facebook. Menulis apa yang kita alami, pikirkan, dan rasakan membantu mengabadikan kenangan dan mengubah energi negatif menjadi positif. Karena itu rencanaku ke depan akan lebih sering hadir mengisi halaman ini.

Abadikan Kenangan

Di sini dan di Facebook tentu berbeda, salah satunya di sini tidak banyak yang berkomentar. Bukan berarti aku tak suka dikomentari, hanya saja kadang aku ingin lebih sunyi.

Saat membuka kembali tulisan masa lalu, kurasa aku perlu berterima kasih pada diri sendiri yang telah mengikat kenangan, jika hanya disimpan dalam pikiran kelak satu persatu akan retak. Di sisi lain, juga menertawai kekonyolan-kekonyolan caraku mengekpresikan pikiran.

Barusan aku membuka tulisan tahun lalu di fitur “Note” di Facebook. Curhatku yang pernah naksir salah satu teman di program Libanon. Ya ampun, ingat itu antara haru, lucu, dan (agak) malu. ๐Ÿ™‚ Tapi, aku hargai perjalanan sejarahku sendiri. Aku menghargai perasaan-perasaanku yang pernah hadir untuk siapapun. Juga, perasaan-perasaan mereka yang pernah hadir untukku.

Saat menengok hatiku kali ini, aku sudah tak naksir dia lagi. Kok bisa perasaan itu menghilang? Aku yang mematikannya sendiri. Aku tidak menghidupkan perasaanku padanya lagi karena aku tahu itu seperti angan yang kejauhan. Aku mungkin cuma kagum dan naksir, tapi tak ingin memiliki. Tepatnya, tak sanggup memiliki. Aku dan dia jauh terpisah sekian samudera. Lagipula, selama ini dia tak tahu isi hatiku. Haha. Jika boleh berangan, aku ingin menikah dengan orang Indonesia saja. Dan, yang lebih mendasar adalah ย kehidupan yang bahagia dan bisa dekat dengan keluarga. Syalalalah. ๐Ÿ˜€

Aku percaya setiap kehadiran adalah pertanda dari alam agar mengambil pelajaran. Perkenalanku dengan teman-teman lelaki dari Timur Tengah setidaknya mengubah persepsiku tentang lelaki Arab. Yang kutemui jauh lebih baik dari yang kusangka sebelumnya.

Meskipun ada satu orang yang menurutku centil (pernah menggodaku hingga bikin nggak nyaman–tak akan kusebut nama), tapi selebihnya tidak begitu. Aku bisa merasakan kebaikan yang tulus dari kebanyakan mereka, berasa seperti saudara.

Salah satu lelaki tulus itu adalah seorang teman dari Kuwait. Saat kali pertama lihat foto di kelas online, wajahnya terkesan kurang bersahabat. Tapi saat ketemu langsung, aura kebaikan dan ketulusan terpancar. Dia juga jauh lebih ganteng dari fotonya. Kuingat dia yang salatnya paling tepat waktu. Dengan senang hati dia membagi catatan bahasa Inggrisnya denganku. Sedangkan teman lain mencatat dalam bahasa Arab. Dari kebaikannya saat itu entah kenapa aku menilai inilah keindahan Islam.

Dia bukan orang yang kutaksir. Aku menganggapnya seperti saudara. Aku ingat percakapan kami saat mau naik bus ketika tour ke Tyre. Dia cerita pernah ke Jakarta dan suatu saat akan berkunjung ke Jakarta lagi.
“Of course I will come to Jakarta again. Now, I have family in Jakarta,” kata dia berbalut senyum.
“Oh good, you have family in Jakarta,” responku bernada senang juga.
“You. I mean, now we are family,” jawabnya sambil tertawa. Aaah iya kita kan saudara. Saat itu seingatku usai makan siang di Saida.

Saatnya pulang, dari hotel Alhamra ke bandara Alhariri di Beirut aku satu taksi dengan Sana, perempuan berdarah Mesir. Sana selama ini tinggal di Amerika untuk studi, tapi kali ini balik ke Uni Emirat Arab (UEA) ke rumah saudara. Saat menunggu di Bandara Beirut, di belakang kami muncul Badr, lelaki kece dari Kuwait tadi.

Mas Kuwait menawari kami berdua ke kafe dulu, dia bilang akan nraktir. Aku nggak bisa karena aku khawatir ketinggalan pesawat, aku ingin segera boarding. Aku khawatir karena sebelumnya di bandara aku diperiksa lebih lama dari penumpang lainnya. Sebab wajahku bukan Arab. Hiks.

Sana satu pesawat denganku ke Dubai, sedangkan Mas Kuwait beda jam penerbangan. Mbak Mesir meyakinkan aku kalau pesawat masih lama meskipun boarding sudah dibuka. Tapi aku tetap khawatir, aku nggak mau ingin ada masalah di negara orang, ingin cepat-cepat melewati pemeriksaan keamanan bandara dengan tenang. Akhirnya Mbak Mesir mengikutiku dan kami terpaksa nggak jadi nongkrong di kafe bareng Mas Kuwait. Ternyata tidak ada pemeriksaan tambahan buatku. Aku jadi merasa bersalah sama Sana karena kami menunggu lama di ruang tunggu boarding. Aku meminta maaf padanya, dia bilang tak mengapa.

Oh ya, sebelum masuk pintu boarding, saat mau berpisah, kami tempel pipi kanan kiri dan peluk persahabatan dengan Mas Kuwait. Lalu kami selfie bertiga sebelum benar-benar berpisah. Di situlah rasa persaudaraan (sesama muslim) begitu terasa. Entah kapan lagi bisa bertemu. Mas Kuwait terbang ke Amerika untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Harvard. Mbak Mesir ke UEA ke rumah kerabatnya. Sedangkan aku kembali ke tanah air.

Berinteraksi dengan mereka banyak kisah-kisah kecil yang terekam di ingatan merasakan indahnya persaudaraan dalam Islam. Mereka anak-anak muda Muda yang berpikir liberal dan memperjuangkan perdamaian masyarakat dan dunia. Dalam satu dua hal kami memang berbeda pendapat, tapi secara keseluruhan niat kami sama, membangun perdamaian dan melawan ektremis kekerasan. Dari 30 peserta, muslim dari berbagai madzab dan 3 nonmuslim. Kami semua belajar memahami kembali teks Alquran dan hadits untuk dasar membangun perdamaian. Di balik carut marut wajah Islam, aku senantiasa percaya bahwa Islam yang sejati adalah yang membawa rahmat atau kasih sayang untuk semua umat manusia.

Merekatkan kenangan satu tahun lalu.
Depok, 11 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace, Lifestyle

Apakah Menikah Harus Seiman?

((( Peringatan: ini curhatan, bukan ceramah, jadi jangan jadikan rujukan ya! ๐Ÿ™‚ )))

Judul di atas bentuk pertanyaan. Itu artinya, saya tidak sedang menyimpulkan pendapat saya dalam judul. Jadi, bisa “harus seiman” atau bisa juga “tak harus seiman”.

Sekian waktu lalu seorang teman ngotot tidak setuju memilih pemimpin beda agama. Ini awalnya dalam konteks membicarakan pemimpin sebuah wilayah, seperti gubernur DKI yang dijabat Ahok dan lurah Menteng yang dijabat Susan. Keduanya oleh sebagian orang dianggap kafir. Temanku bersikukuh yang disebut “kafir” adalah beda agama. Setahu saya, Nabi Muhammad dalam sebuah hadits, mengingatkan keras agar umatnya tidak gegabah menuding sesat (fasiq) dan kafir pada orang lain. Karena jika menurut Allah orang yang dituding itu tak kafir dan tak sesat, maka tuduhan itu akan kembali pada si penuding.

Istilah “kafir” tidak boleh sembarangan dilekatkan pada seseorang. Kafir memiliki makna luas. Dalam konteks bermasyarakat, “kafir” bisa berarti orang yang banyak berbuat kedzaliman. Muslim atau bukan, kalau dia sering berlaku dzalim kemungkinan bisa masuk kategori kafir.

Teman saya berpendapat kira-kira begini, “pemimpin apapun itu haruslah Islam. Kalau kamu mencari calon suami pasti harus muslim juga kan?” Lah kok malah dia jadi membahas calon suami? Baiklah, karena dia menyebut demikian akhirnya kemudian tulisan ini berjudul terkait iman calon pasangan.

Sebelum menjawab, saya coba jujur dengan yang saya yakini. Saya termasuk yang mendukung pernikahan beda agama. Artinya, kalau ada teman mau menikah beda agama, tetap saya dukung. Ulama Islam berbeda pendapat dalam hal ini. Ada yang melarang keras pernikahan beda agama, ada yang mengizinkan dengan ketentuan lelaki muslim dan perempuan ahli kitab, ada yang membolehkan walaupun si perempuan bukan ahli kitab, dan ada yang mengizinkan perempuan Islam menikahi nonmuslim.

Saya tidak akan membahas dalil. Untuk berbagai alasan, sebenarnya saya tidak suka menarik dalil-dalil hukum begitu saja. Apalagi untuk perkara yang sensitif. Dalam tradisi kajian Islam jenis liqo’ di kampus saya (mungkin juga sejumlah kampus lain), mengutip dalil sepertinya hal yang sangat biasa, meskipun ilmu agama masih cetek. Dalam tradisi pesantren, untuk menyitir dalil sangatlah hati-hati karena perkata bisa dimaknai berbeda. Musti paham betul konteks dan maknawinya.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad pernah menikahkan putrinya, Ruqoyyah, dengan seorang yang disebut-sebut sebagai musyrik, yakni Utbah putra Abu Lahab. Ngerti kan peringai Abu Lahab kayak apa? Orang yang paling memusuhi Nabi Muhammad dan Islam.

Mereka menikah sebelum kenabian. Setelah Islam turun, walaupun Utbah tidak masuk Islam, mereka tidak dinikahkan ulang dan Nabi tidak meminta mereka bercerai. Meskipun akhirnya keduanya cerai, itu bukan lantaran campur tangan Nabi, melainkan atas pengaruh Abu Lahab.

Itu artinya, Nabi tetap merestui pernikahan mereka. Bukankah Nabi sendiri juga pernah menikahi seorang perempuan beragama Yahudi? Kalau yang disebut Islam adalah dimulai turunnya Alquran, itu berarti saat Nabi berusia 40 tahun. Sebelum itu Nabi beragama apa? Nabi menikahi Khadijah saat Nabi berusia 25 tahun. Saat itu khadijah juga agamanya apa? Mereka menikah dengan cara apa? Tentu saja dengan cara adat Arab saat itu yang kemudian diadopsi menjadi tradisi Islam.

Kalau ada ulama Islam berpendapat membolehkan pernikahan beda agama, baik yang Islam si perempuan maupun lelaki, tentu memiliki dasar yang tidak sembarangan. Tapi kalau Anda sependapat dengan ulama yang melarang pernikahan beda agama, itu juga boleh.

Jadi bagaimana, apakah saya akan memilih calon pasangan harus Islam?

Sebelum saya jawab, akan saya urai lagi soal pesan Nabi Muhammad tentang memilih pasangan agar mengutamakan “agamanya”. Nah, “agama” juga luas maknanya. Seorang Sahabat Nabi pernah bertanya, “apa itu beragama wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “akhlak yang baik”. Dia bertanya 3x dan Nabi membalas dengan jawaban yang sama 3x pula.

Kalau memilih pasangan dengan mengutamakan akhlak (attitude) yang baik, tentu saja masuk akal. Menurut saya, orang berakhlak baik itu adalah orang yang memiliki sikap dan rasa kemanusiaan yang baik. Yang menghargai dan menghormati kehidupan. Apapun agama formalnya, atau malah tak harus beragama formal.

Masalahnya, bagaimanakah ukuran pasti seseorang itu berakhlak baik untuk dijadikan pasangan? Nah, ini agak ribet juga. Tapi lagi-lagi mengingat pesan Nabi ketika kita bingung memutuskan sesuatu, “mintalah fatwa pada hatimu”.

Jadi, apakah saya akan memilih calon pasangan harus Islam? Saya akan lihat dulu orangnya, lalu akan meminta fatwa pada hati sendiri.

Namun, seandainya di dunia ini hanya tersisa dua lelaki single, yaitu Ustad Solmed yang muslim dan Choky Sitohang yang nonmuslim, hati saya berfatwa: saya memilih Choky! ๐Ÿ™‚

Depok, 06 Februari 2015

Leave a comment

Filed under activites, Lifestyle

Mau Jadi Apa?

Sabtu pagi di bulan Desember 2014 lalu, hujan. Di lantai dua yang dibatasi banyak kaca, enak sekali buat menulis. Pohon-pohon basah dan gemericik air jatuh di logam jemuran. Aku akan duduk menulis di emperan setelah mencuci dua ember baju pakai tangan di kamar mandi. Laptop nyala, sejumlah email penting masuk. Sebelumnya aku sudah bolak balik komunikasi dengan berbagai pihak terkait urusan pendaftaran dan beasiswa sekolah. Juga beasiswa les online dan beasiswa tes TOEFL, karena itu masih berhubungan. Donaturnya sama. Aku nunggu kabar beasiswa masterku di universitas di Amerika. Email kubuka, beasiswa masterku tak diterima. Dengan alasan pengalaman kerjaku dan tujuan studi kurang kuat. Huaaa, ya sudahlah.

Saat pendaftaran beasiswa les Inggris online khusus persiapan master, ada syarat esai tentang bidang yang akan ditekuni, bikin 2 esai untuk dua bidang. Aku memilih satu terkait Biologi, satunya Media Studies. Aku diterima entah alasan apa. Saat daftar master, entah kenapa aku ganti, dua-duanya jadi bidang Biologi Terapan, malah nggak diterima. Kini aku menduga, peluangku di bidang Media lebih memungkinkan.

Terkait sekolah, saat itu sekali lagi aku ingin mencari jalan memanfaatkan ilmu Biologi. Aku ingin ambil Biologi Terapan. Mengingat pengalaman kerjaku tak terkait Biologi, aku ambil di wilayah kebijakannya. Entah kenapa aku sering merasa punya beban moral ketika sadar lulusan Biologi, tapi tidak/belum memanfaatkan ilmuku secara maksimal. Pengalaman kerjaku nyaris tak ada yang terkait Biologi. Pas di penerbitan pertanian, hanya sedikit yang bisa kuberikan terkait itu. Selebihnya, di bidang lain.

Dan entah kenapa, tiap kali aku mencari jalan untuk memanfaatkan ilmu Biologi, pintu itu seakan tertutup. Mulai dari ingin jadi reporter bidang pertanian, malah takdir membawaku lebih banyak liputan bidang hukum politik. Ingin mengedit buku pertanian, malah lebih banyak menangani buku sosial. Pernah nyoba daftar posisi kerja terkait Biologi, baru dipanggil wawancara saat aku sudah terikat kerja lain bidang penulisan. Seolah takdirku bukan di Biologi. Selalu ada jalan lain yang lebih terbuka untukku. Dan patut kusyukuri. Alhamdulillah.

Kalau dipikir serius, sebenarnya aku juga jenuh bila harus bekerja penuh di laboratorium. Itu kurasakan ketika mengambil data penelitian skripsi. Berhari-hari ngelab, seharian berteman dengan bahan kimia, daun-daun, bunga, buah, dan peralatan laboratorium. Saat-saat tertentu aku suka, tapi tenggelam begitu lama di lab dengan data-data sains tidak memuaskan aku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hidup. Saat itu aku membatin, kayaknya hidup di laboratorium bukan jalan yang kuinginkan. Aku lebih tertarik menulis saja, entah menulis apa. Terutama juga karena mimpiku menjadi wartawan.

Setelah mencoba berbagai jenis tulisan, entahlah aku mau jadi penulis apa sekarang. Aku sebenarnya ingin total di suatu bidang penulisan. Aku telanjur banyak terjebur di area ini.

Banyak tokoh-tokoh penulis yang total di bidang penulisan dan tidak terkait dengan latar belakang studinya. Sebut saja Andreas Harsono, dia lulusan Teknik Elektro, orang lebih mengenalnya sebagai jurnalis dan aktivis HAM yang rajin menulis. Pernah dapat beasiswa studi jurnalisme di Harvard University, Amerika. Nirwan Dewanto, penyair, pengarang, dan esais produktif. Banyak menulis tentang kebudayaan, padahal sarjana Geologi ITB. Pernah dapat kesempatan residensi program Iowa International Writing Program (IWA, sebuah program dari Universitas Iowa di bidang penulisan kreatif). Asma Nadia, dikenal sebagai novelis sangat produktif. Sejumlah karyanya difilmkan, banyak dapat kesempatan coursework, residensi penulis, dan semacamnya di berbagai negara, termasuk salah seorang peserta IWA juga. Dia pernah kuliah pertanian di IPB, tetapi tak lulus.

Lalu, aku mau jadi penulis yang seperti apa? Aku terpaksa membandingkan diri dengan mereka karena menurutku aku berada di titik jalan yang serupa. Aku harus total di suatu bidang. Mungkin lupakan sejenak soal keinginanku memaksimalkan ilmu Biologi. Mungkin aku sedikit khawatir soal ilmu yang belum bermanfaat. Mustinya aku berpikir, meskipun bekerja di luar bidang Biologi, pengalaman kuliah di Biologi tetap bermanfaat, khususnya pengetahuan dalam meriset dan analisis suatu hal.

Saat kuliah, di laboratorium terlatih membuat hipotesis salah dan benar. Melaporkan hasil praktikum dengan analisis ilmiah untuk menjawab hipotesis itu didukung fakta atau tidak. Ini penting dalam membangun konsep pikiran ke depan. Ah, ini kelebihan atau malah kekurangan? Saat di hadapkan dengan dunia kerja, untuk analisis tertentu hasilnya tidak selalu tentang salah dan benar. Apalagi kali pertama menulis jurnalistik, mengangkat dan menganalisis berbagai masalah hanya di permukaan. Juga harus siap segala tema. Itu awalnya sempat kewalahan, lama-lama terbiasa. Asyik malah.

Sekali lagi, aku mau jadi penulis seperti apa? Sekarang kemampuanku di bidang penulisan terasa sedang mentok, ingin meningkatkan keterampilan dan mendapatkan pengetahuan secara sistematis, ingin sekolah! Yang jelas tahun ini harus bikin perubahan yang signifikan. Tolong beri aku mantra dan kaca mata kuda biar lebih fokus total di satu jalan. ๐Ÿ™‚

#curhat
Suatu Tempat, 21 Januari 2015

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle, Writing&Journalism

Kapan

Lebaran ini saya nggak mudik. Banyak alasan, salah satunya masih menyelesaikan “les bahasa” dan persiapan ikhtiar untuk masa depan. Huaaa apaan tuh?

Sedih nggak mudik karena nggak bisa ngumpul keluarga besar dan nggak bisa silaturrahim tetangga dekat. Keuntungannya adalah nggak ada yang tanya “kapah nikah”.

Masyarakat kita memang ribet banget ngurusin orang yang belum nikah. Padahal yang menjalani saja santai, orang lain malah yang nggak sabar. Haha. Ntar kalau sudah saatnya, Insyaallah sampai. Memutuskan nikah itu tidak seperti memutuskan berkarier, dijalani dulu kalau nggak cocok pindah tempat kerja. Laaah.

Dulu saya sempat mencatat jumlah pertanyaan kapan nikah dalam sekian tahun. Lebih dari 100x. Sekarang males mencatat lagi. :D. Kurang kerjaan waktu itu. Pertanyaan seputar jodoh akan datang terus sampai kapanpun. Pertanyaan “Kapan nikah” biasanya akan diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

1. Sekarang pacarnya siapa? (memangnya beda orang sama tahun sebelumnya?)

2. Jangan kelamaan pacarannya, buruan nikah (eh, memangnya punya pacar?)

3. Jangan terlalu milih-milih, yang penting a-i-u-e-o (beli sandal jepit saja milih, urusan superpenting macam jodoh masa nggak boleh milih?).

4. Sama si Fulan nggak mau, sama anaknya ibu Fulanah nggak cocok, terus mau yang seperti apa? (Hm… gimana ya, kalau belum cocok masa mau pura-pura dicocok-cocokkan? :)).

Buat yang belum nikah, pasti sudah kebal dengan pertanyaan begitu kan? Tos dulu.

“Yang dicari yang kayak apa sih?” Pertanyaan bagus yang akan selalu datang. Pada dasarnya semua orang mungkin sama, kalau soal kriteria susah dijelaskan. Yang jelas, kalau sudah yakin dan cocok, biasanya mudah memutuskan menikah. Tidak harus mengenal/pacaran bertahun-tahun. Cukup kenal sebulan kalau memang saling cocok, sangat mungkin memutuskan segera menikah. Jangankan sebulan, baru bertemu kali pertama pun bisa saja yakin berjodoh. Banyak contohnya. ๐Ÿ˜‰

Konon urusan jodoh ada campur tangan Tuhan yang sangat besar. Sepertinya benar. Kalau belum saatnya ketemu, tak akan ketemu, musti sabar menunggu. Biarpun orangnya supel, keren, ganteng, pinter, bangsawan, dan tajir mlintir, kalau belum saatnya ketemu jodoh, masih harus terus mencari. Dude Herlino saja baru menemukan jodohnya setelah usia kepala tiga. Saat Dude umur 27 kurang apa coba? Semua sudah dia miliki, punya peluang banyak memilih perempuan, tapi saat itu belum juga menemukan. Berarti saat itu belum ketemu orang yang tepat kan? *kok contohnya Dude sih? Lah suka-suka dong ah.

Begitu juga sebaliknya, orang yang sangat jarang ketemu orang, nggak gaul, katrok, pekok, kalau sudah saatnya berjodoh, bisa saja ketemu jodohnya segera.

ย Seseorang ketemu jodoh jalannya macam-macam. Ada yang sudah kenal belasan tahun, teman sekolah, teman kuliah, teman les, dijodohkan keluarga, dikenalkan teman, ketemu di seminar, di perjalanan, di hutan, di rumah ibadah, di kantor polisi, atau malah ketemu di pasar burung. Ada yang awalnya temenan, sahabatan, musuhan, pacar teman (heh?), atau malah pada pandangan pertama langsung yakin dialah soulmatemu! Dan yang lebih penting adalah bagaimana menjalani selanjutnya agar senantiasa saling bahagia, selamanya. โค

Jadi, bertemu jodoh sepertinya peristiwa alam yang nggak ada rumusnya. Mungkin lhoh ya, saya cuma nebak. Yang belum ketemu, sabar saja, karena pada dasarnya Tuhan sudah menyiapkan. Cinta itu tidak bisa dipaksakan kedatangannya. Sudah gitu saja, awas kalau ada yang komen tanya kapan nikah, denda 10 juta!

Suatu tempat, 07 Agustus 2014

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle

Jomblo Tangguh

1. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani nonton di bioskop sendirian, yang di situ ada mantan bersama pasangan.

2. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani datang kondangan sendirian di resepsi mantan.

3. Jomblo tangguh adalah jomblo yang sabar mendengarkan curhat sahabatnya yang baru jadian.

4. Jomblo tangguh adalah jomblo yang mengunjungi Kota Tua untuk motret orang prewed, kesana kemari sendirian.

5. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani jalan sendirian tutup mata membelah lapangan alun-alun kidul Jogja dan nabrak orang pacaran (Apa-apaan ini? >_

6. Jomblo tangguh adalah jomblo yang dengan senang hati menemani temannya cari cincin tunangan.

7. Jomblo tangguh adalah jomblo yang bersedia membantu urusan pernikahan mantan.

8. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berani makan malam sendirian di restoran pada Sabtu malam.

9. Jomblo tangguh adalah jomblo yang tidak gegabah jadian hingga menemukan pasangan yang tepat untuk berkomitmen dalam pernikahan.

10. Jomblo tangguh adalah jomblo yang berhati-hati dalam urusan cinta. Memastikan agar tidak jadi korban, tetapi jadi pemain. Pemain yang baik tidak menyakiti dan tidak tersakiti. #tsaaah.

11. Jomblo tangguh adalah …( silakan lanjutkan).ย 

Depok, 08 Desember 2014

Leave a comment

Filed under Lifestyle

Jangan Ada Kekerasan (Agama) Lagi di Antara Kita

Sebelum berangkat konferensi Sabtu 18 Oktober 2014 lalu, karena tema berat, saya sempat berpikir, apakah saya benar-benar perlu datang di acara ini? International Interfaith Conference. Building Civic Peace: Inter-faith and inter-ethnic Relations in Indonesia. Karena itu undangan terbatas dan saya sudah konfirmasi datang, jadi saya tetap memutuskan datang.

Saya hadir tidak mewakili insitusi atau kelompok manapun. Saya datang sebagai pribadi dan dengan harapan kehadiran saya tidak terlihat. Terus terang untuk berbagai alasan, apalagi tema begini, saya lebih suka bicara lewat tulisan daripada lisan. Juga, khawatir ada wartawan. Khawatir salah ngomong terus dikutip. Ups, kepedean banget sih Lel, ada yang mau ngutip. Hehe. Justru karena saya pernah jadi wartawan, jadi cukup sadar ganasnya para juru warta. Jadi perlu siaga agar jangan sampai keliru ngomong di forum seperti ini. #Kidding.

Sebenarnya, saya menyimpan banyak pertanyaan tentang masalah-masalah lintas agama. Sekian kali menemui gesekan terkait ekspresi keimananan. Namun, kali ini saya hanya akan menjadi pendengar dan penyimak saja. Kalau acaranya ternyata membosankan, saya akan keluar kapan saja. Tapi ternyata, semua itu berjalan lebih baik dari yang saya bayangkan. Orang bisa berbicara tanpa rasa takut tentang permasalahan agama dan etnis. Acara ini berlangsung di Wisma Makara, Universitas Indonesia.

Acara diawali dengan uraian 3 pembicara dari universitas Indonesia (UI) dan Arizona State University (ASU). Setelah itu sesi tanya jawab. Selanjutnya workshop yang diawali dengan perkenalan satu persatu. Kita memperkenalkan diri pada beberapa orang secara acak mdengan menggambar sesuatu yang menunjukkan identitas/ekspresi diri.

Saat itu saya menggambar daun. Ada tiga alasan mengapa saya mengekpresikan diri dengan daun. Pertama, daun identik warna hijau yang di dunia medis warna hijau itu untuk menyegarkan mata yang lelah. Kalau dikaitkan dengan acara itu, artinya saya datang di acara ini demi mencari pencerahan karena telah lelah melihat kekerasan yang disebabkan perbedaan pemahaman agama. Kedua, daun itu bagian dari tumbuhan yang dalam siklus makanan berarti tumbuhan adalah produsen. Kita seharusnya seperti tumbuhan yang mampu memproduksi sesuatu, bukan hanya menjadi konsumen. Ketiga, daun itu mungkin bisa mewakili latar belakang studi saya Biologi.

Saya berkenalan acak dengan dua teman baru. Pertama seorang geologist, doktor geologi lulusan Italia. Dia menggambar jangkrik. Kenapa jangkrik? Karena jangkrik itu bersuara ketika orang-orang diam. Dia terinpirasi dari jangkrik, untuk bersuara ketika semua orang diam. Saya agak mikir sebentar, ternyata ada ahli geologi juga di sini. Saya pikir, semua yang mengikuti konferensi ini adalah orang-orang yang berlatar belakang studi lintas agama semua. Saya yang berlatar Biologi, jadi merasa tidak sendiri. :). Dia sempat tanya ke saya, “apakah kamu beragama?” Saya pun tanya agamanya. Dia Katholik.

Kedua, saya kenalan dengan teman yang sebelumnya sudah saya kenal. Lhoh, kenalan ulang jadinya. Seorang mahasiswa S2 Antropologi UI. Dia menggambar mata. Kenapa mata? Karena menurutnya dari matalah semua bermula. Baik itu kebaikan maupun dosa bermula dari mata.

Berikutnya, acara mengidentifikasi diri. Di dinding ruangan ada 10 kertas karton kosong yang membentang dengan sebuah judul. Masing-masing adalah:

1. Papua

2. Batak

3. Pantekosta

4. Katholik

5. Protestan

6. Liberal Islam

7. Aliran Kebatinan

8. Salafi-Wahabi

9. Ahmadiyah

10. Syiah

Setiap peserta workshop diminta menuliskan sesuatu yang pernah didengar/dipahami tentang masing-masing sekte itu. Mulai dari yang serius sampai konyol. Misalnya, para peserta mendeskripsikan Batak itu identik dengan marga, pengacara, kernet angkot dsb. Salafi-Wahabi itu identik dengan antitradisi, intoleran, FPI, celana cungklang, dsb.

Setelah itu semua peserta untuk mengidentifikasi dirinya sendiri itu pada salah satu sekte tersebut yang paling mewakili diri atau yang paling sreg di hati. Masing-masing sekte tersebut ada “pengikut”nya. Masing-masing dari sekte ada yang mewakili bicara. Salah satunya dari Ahmadiyah yang menurut saya paling mengharukan karena mereka dianggap berbeda dalam berakidah tetapi dikucilkan dan mengalami kekerasan akibat MUI memberi fatwa sesat. Betapa fatwa sesat itu bisa berakibat membahayakan nasib sekelompok orang yang tak bersalah. Sekian kali mengalami serangan, orang Ahmadiyah tidak membalas dendam karena mereka lebih mengutamakan kedamaian. Hanya karena akidah yang berbeda mereka diperlakukan seperti bukan manusia oleh sekelompok Islam lain. Ini sungguh tidak adil.

Saya berdiri di sekte apa? Rahasia. Sebagai orang Jawa, saya sempat terbersit ingin berdiri di sekte Aliran Kebatinan alias kejawen, tapi saya sendiri tidak paham nilai-nilai orang Jawa murni. Sebagai orang yang sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren, saya rasa lebih paham soal tradisi Islam dibandingkan dengan tradisi Jawa. Tapi, saya tidak antitradisi dan tidak sejalan dengan FPI, jadi saya tidak sepaham dengan Salafi-Wahabi. Kalau Liberal Islam itu diidentikan dengan menghalalkan wine, saya sendiri berkeyakinan haram minum wine, jadi saya harus berdiri di mana? Susah juga memilih sekte yang paling mendekati dengan identitas diri. Namun, kekerasan atas nama agama menurut saya jauh lebih tolol daripada minum segelas wine. Saya menghargai mereka yang berpandangan wine itu tidak haram, tapi karena saya meyakini itu haram, jangan tawari atau coba-coba menjebak saya. Itu juga tolol namanya. Saya pernah menyaksikan teman saya yang meyakini wine itu haram, tapi dijebak oleh sejumlah teman buat canda-candaan hingga tak sadar dia meminumnya, saya murka kalau ingat. Saya juga hampir terjebak, untung saya belum minum. Jadi, saya berdiri di mana? Hm… kasih tahu nggak ya? hehe.

Intinya, konferensi ini sangat menarik. Di sini kami mencoba mengurai masalah mengenai mengapa konflik sektarian meningkat di Indonesia. Di anataranya, keterlibatan pemimpin agama dalam kebijakan sangat tinggi dalam memproduksi kekerasan. Kalau diilustrasikan, ustad-ustad yang provokatif mudah menuding ini itu sesat dan kafir, tanpa penjelasan yang menyeluruh dan utuh bisa diterjemahkan kekerasan oleh pengikutnya. Pemimpin agama dan ย negara gagal mendistribusikan rasa adil dan rasa aman. Adanya kelompok-kelompok yang membungkus diskriminasi dengan agama juga berkontribusi meningkatkan kekerasan. Contohnya, Lurah Susan didemo agar turun bukan lantaran kinerja kepemimpinannya melainkan karena agamanya berbeda dengan mayoritas yang dipimpin. Itu diskriminasi yang dibungkus dengan agama.

Konferensi ini diselenggarakan atas kerjasama Abdurrahman Wahid Centre (AWC) UI dan Arizona State University (ASU). Dari konferensi ini juga membawa semangat Gusdur terkait pentingnya sadar pluralisme, memberi kesempatan orang-orang untuk tak takut bicara mengenai masalah sektarian, dan membawa harapan untuk mengatasi konflik dengan dialog.

Saya beruntung malamnya berkesempatan makan malam bersama para pembicara dan moderator, termasuk Prof Dr Mark Woorward dari ASU. Prof. Mark ternyata pernah mengajar terkait Lintas Iman selama 6 tahun di UGM. Jadi, sekalian cerita soal kurikulum Asisten Agama Islam (AAI) di UGM yang dikuasai PKS hingga kemudian tahun 2014 ini dihapus. Untuk menghapus yang semacam itu konon melewati dialog yang sangat sulit. Moderator acara adalah Hani Mohamed dari Singapura–CEO of Alertist (international interfaith & peace-building company) & produser film. Hani dan saya sempat membahas soal jilbab, kebetulan kami sama-sama muslim dan sama-sama meyakini jilbab tidak wajib. Untuk mengekpresikan keyakinan seperti ini juga sepertinya tidak mudah karena di luar sana ada saja yang menuding sesat.

Oh ya, dalam konferensi ini ada sejumlah komitmen nilai yang menjadi dasar dalam mencari solusi (full value commitment) yang disepakati bersama, yaitu: hormat (respect), kejujuran, pemahaman (understanding), transaparan, toleransi, solutif, simpati/peka, cinta (love), kesabaran (patience), peduli (care), dan pendengar yang baik (good listener). Semoga nilai-nilai ini bukan sebatas wacana yang kuat didenungkan dalam konferensi atau seminar, melainkan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang menebar kebencian atas nama agama, menurut saya, sepertinya jumlahnya tidak banyak, tetapi suara mereka keras jadi seolah menjadi representatif kelompok tertentu. Kebencian dibalas dengan kebencian hanya akan membuat kebencian makin mendalam. Saatnya membalas kebencian dengan kasih sayang. ๐Ÿ™‚

Depok, 18 Oktober 2014.

Leave a comment

Filed under Activities, Lifestyle