Energi Baru

Belakangan kurasakan energi baru, dari teman yang kukenal di Facebook. Ini energi nyata. Dunia maya kini bagian dari dunia nyata sebab kita berbagi kenyataan di sana.

Berteman dengannya di Facebook sudah sekian tahun, tapi entah kenapa baru kusadari kehadirannya belakangan. Mungkin karena selama ini postingannya jarang muncul di beranda, jadi kami seperti baru kenal saja. Meski begitu, dia tak benar-benar asing bagiku. Banyak temannya temanku juga. Lingkarannya lingkaranku juga. Jadi, lebih mudah untuk saling membuka diri.

Bermula dari sekian potong percapakan, mengantarkan aku pada ruang-ruang buah pikirannya. Membaca perjalanan, catatan, dan karyanya memang inspiratif. Dia sungguh-sungguh dalam menekuni literasi. Kemudian dari situ dia meraih pencapaian-pencapain sangat berharga. Ini membangunkan kesadaranku agar sungguh-sungguh lebih menekuni hal-hal yang kusuka. Aku belakangan merasa sedang berjalan lambat, bahkan kadang berasa berjalan di tempat. Aku bukannya tak mampu lagi melaju, tapi aku sedang terbelenggu kemalasanku. Maka kedatangan energi baru bagiku itu sesuatu. Ini berarti membaharui.

Selain itu, secara ideologi, dia seorang muslim progresif dan berpikiran terbuka. Cocoklah dengan ideologiku. Yuhu! Energi ini akan bertumbuh lagi menjadi apa, aku tidak tahu pasti. Aku senang sekaligus khawatir. Senang karena energi ini menghidupkan harapan, khawatir karena aku bisa jatuh hati lalu berakhir patah lagi. Eh, kejauhan ya mikirnya.

Kutuliskan pikiranku di sini sebagai caraku menghargai bahwa kehadiran energi kebaikan sekecil apapun itu sungguh berarti.

Depok, 12 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Perpisahan di Bandara Beirut

Sekian bulan belakangan jarang nulis di sini, aku lebih banyak curhat di Facebook. Menulis apa yang kita alami, pikirkan, dan rasakan membantu mengabadikan kenangan dan mengubah energi negatif menjadi positif. Karena itu rencanaku ke depan akan lebih sering hadir mengisi halaman ini.

Abadikan Kenangan

Di sini dan di Facebook tentu berbeda, salah satunya di sini tidak banyak yang berkomentar. Bukan berarti aku tak suka dikomentari, hanya saja kadang aku ingin lebih sunyi.

Saat membuka kembali tulisan masa lalu, kurasa aku perlu berterima kasih pada diri sendiri yang telah mengikat kenangan, jika hanya disimpan dalam pikiran kelak satu persatu akan retak. Di sisi lain, juga menertawai kekonyolan-kekonyolan caraku mengekpresikan pikiran.

Barusan aku membuka tulisan tahun lalu di fitur “Note” di Facebook. Curhatku yang pernah naksir salah satu teman di program Libanon. Ya ampun, ingat itu antara haru, lucu, dan (agak) malu. ๐Ÿ™‚ Tapi, aku hargai perjalanan sejarahku sendiri. Aku menghargai perasaan-perasaanku yang pernah hadir untuk siapapun. Juga, perasaan-perasaan mereka yang pernah hadir untukku.

Saat menengok hatiku kali ini, aku sudah tak naksir dia lagi. Kok bisa perasaan itu menghilang? Aku yang mematikannya sendiri. Aku tidak menghidupkan perasaanku padanya lagi karena aku tahu itu seperti angan yang kejauhan. Aku mungkin cuma kagum dan naksir, tapi tak ingin memiliki. Tepatnya, tak sanggup memiliki. Aku dan dia jauh terpisah sekian samudera. Lagipula, selama ini dia tak tahu isi hatiku. Haha. Jika boleh berangan, aku ingin menikah dengan orang Indonesia saja. Dan, yang lebih mendasar adalah ย kehidupan yang bahagia dan bisa dekat dengan keluarga. Syalalalah. ๐Ÿ˜€

Aku percaya setiap kehadiran adalah pertanda dari alam agar mengambil pelajaran. Perkenalanku dengan teman-teman lelaki dari Timur Tengah setidaknya mengubah persepsiku tentang lelaki Arab. Yang kutemui jauh lebih baik dari yang kusangka sebelumnya.

Meskipun ada satu orang yang menurutku centil (pernah menggodaku hingga bikin nggak nyaman–tak akan kusebut nama), tapi selebihnya tidak begitu. Aku bisa merasakan kebaikan yang tulus dari kebanyakan mereka, berasa seperti saudara.

Salah satu lelaki tulus itu adalah seorang teman dari Kuwait. Saat kali pertama lihat foto di kelas online, wajahnya terkesan kurang bersahabat. Tapi saat ketemu langsung, aura kebaikan dan ketulusan terpancar. Dia juga jauh lebih ganteng dari fotonya. Kuingat dia yang salatnya paling tepat waktu. Dengan senang hati dia membagi catatan bahasa Inggrisnya denganku. Sedangkan teman lain mencatat dalam bahasa Arab. Dari kebaikannya saat itu entah kenapa aku menilai inilah keindahan Islam.

Dia bukan orang yang kutaksir. Aku menganggapnya seperti saudara. Aku ingat percakapan kami saat mau naik bus ketika tour ke Tyre. Dia cerita pernah ke Jakarta dan suatu saat akan berkunjung ke Jakarta lagi.
“Of course I will come to Jakarta again. Now, I have family in Jakarta,” kata dia berbalut senyum.
“Oh good, you have family in Jakarta,” responku bernada senang juga.
“You. I mean, now we are family,” jawabnya sambil tertawa. Aaah iya kita kan saudara. Saat itu seingatku usai makan siang di Saida.

Saatnya pulang, dari hotel Alhamra ke bandara Alhariri di Beirut aku satu taksi dengan Sana, perempuan berdarah Mesir. Sana selama ini tinggal di Amerika untuk studi, tapi kali ini balik ke Uni Emirat Arab (UEA) ke rumah saudara. Saat menunggu di Bandara Beirut, di belakang kami muncul Badr, lelaki kece dari Kuwait tadi.

Mas Kuwait menawari kami berdua ke kafe dulu, dia bilang akan nraktir. Aku nggak bisa karena aku khawatir ketinggalan pesawat, aku ingin segera boarding. Aku khawatir karena sebelumnya di bandara aku diperiksa lebih lama dari penumpang lainnya. Sebab wajahku bukan Arab. Hiks.

Sana satu pesawat denganku ke Dubai, sedangkan Mas Kuwait beda jam penerbangan. Mbak Mesir meyakinkan aku kalau pesawat masih lama meskipun boarding sudah dibuka. Tapi aku tetap khawatir, aku nggak mau ingin ada masalah di negara orang, ingin cepat-cepat melewati pemeriksaan keamanan bandara dengan tenang. Akhirnya Mbak Mesir mengikutiku dan kami terpaksa nggak jadi nongkrong di kafe bareng Mas Kuwait. Ternyata tidak ada pemeriksaan tambahan buatku. Aku jadi merasa bersalah sama Sana karena kami menunggu lama di ruang tunggu boarding. Aku meminta maaf padanya, dia bilang tak mengapa.

Oh ya, sebelum masuk pintu boarding, saat mau berpisah, kami tempel pipi kanan kiri dan peluk persahabatan dengan Mas Kuwait. Lalu kami selfie bertiga sebelum benar-benar berpisah. Di situlah rasa persaudaraan (sesama muslim) begitu terasa. Entah kapan lagi bisa bertemu. Mas Kuwait terbang ke Amerika untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Harvard. Mbak Mesir ke UEA ke rumah kerabatnya. Sedangkan aku kembali ke tanah air.

Berinteraksi dengan mereka banyak kisah-kisah kecil yang terekam di ingatan merasakan indahnya persaudaraan dalam Islam. Mereka anak-anak muda Muda yang berpikir liberal dan memperjuangkan perdamaian masyarakat dan dunia. Dalam satu dua hal kami memang berbeda pendapat, tapi secara keseluruhan niat kami sama, membangun perdamaian dan melawan ektremis kekerasan. Dari 30 peserta, muslim dari berbagai madzab dan 3 nonmuslim. Kami semua belajar memahami kembali teks Alquran dan hadits untuk dasar membangun perdamaian. Di balik carut marut wajah Islam, aku senantiasa percaya bahwa Islam yang sejati adalah yang membawa rahmat atau kasih sayang untuk semua umat manusia.

Merekatkan kenangan satu tahun lalu.
Depok, 11 Januari 2017

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace, Lifestyle

2017 Ingin Menikah

Ini barangkali sangat personal. Tapi tidak apa-apa kubagi di tempat terbuka ini. Barangkali ada yang senasib denganku. Kamu tak sendiri.

Sudah tak terhitung lagi orang bertanya kapan aku akan menikah. Usiaku memang sudah kelewatan sih. Maksudnya? Sudah lewat 30. Andai pertanyaan itu bisa kupecahkan pakai persamaan matematika, sudah bisa kujawab secara akurat. Aku suka Matematika! Haha.

Sudah lewat usia 30 kok belum menikah juga. Kenapa? Yang pasti karena belum menemukan seseorang yang tepat. Aku TIDAK trauma lantaran cinta. Tidak sama sekali. Aku jatuh cinta berulangkali dan patah hati berulangkali. Dan, tidak kapok berharap jatuh cinta lagi untuk kemudian ingin menjalani sebuah pernikahan dengan bahagia, senantiasa dan selamanya. Syalalalah.

Mungkin Allah akan memberiku amanah menikah tepat ketika aku sudah siap punya anak. Jiwa manusia itu kompleks, apalagi ketika dibedah dari pribadi ke pribadi. Secara teori, manusia secara umum ingin melanjutkan keturunan. Namun, tidak setiap manusia mempunyai keinginan yang sama. Aku juga ingin punya keturunan, tapi tidak ingin cepat-cepat. Seandainya aku dulu menikah di usia 27, belum tentu aku siap langsung punya anak. Secara fisik barangkali siap. Secara psikis belum tentu.

Melahirkan anak adalah tanggungjawab besar untuk mendidik, menghidupi, dan memastikan keselamatan dan kebahagiaannya. Seringkali aku berpikir keras, apakah kelak ketika menjadi ibu, aku sanggup menjadi ibu yang baik? Aku memiliki Panic Attack (Anxiety Disorder) yang sejak sekian tahun belakangan kulawan dengan berbagai cara.

Aku bisa memahami adanya para ibu yang mengidap Baby Blues. Mereka usai melahirkan takut berlebihan tak sanggup merawat, takut menyakiti bayi sendiri, dan seperti tidak terkoneksi dengan si buah hati. Jangan salahkan mereka karena itu ada faktor kerja hormonal yang berpengaruh. Aku pernah dalam fase takut membayangkan kelak punya bayi. Takut menyakiti, takut tak sanggup membersamai. Mungkin seperti yang dirasakan para ibu yang terkena Baby Blues. Padahal, aku belum juga nikah. Hihi. Dan, seandainya punya suami bagaimana caranya menyampaikan menunda momongan. Itu pernah berputar-putar di kepalaku.

Seiring waktu kecemasan itu berangsur hilang. Alhamdulillah. Kalau dalam agama disebutkan bahwa manusia akan sedikit diuji dengan berbagai hal seperti ketakutan, kemiskinan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, barangkali ini ujianku dalam bentuk ketakutan. Ketakutan itu ada dalam pikiran, tapi itu nyata kurasakan.

Islam membawa kabar gembira untuk manusia agar ketika diuji, melewatinya dengan salat dan sabar. Aku tidak bisa menilai sendiri apakah aku telah melewati ini semua dengan sabar? Aku pernah dalam fase terkena Panic Attack yang sangat mengganggu dan merasakan karunia paling berharga dalam hidupku adalah bisa sembuh dari ini. Kini menurutku alhamdulillah telah bisa mengatasi.

Hikmahnya adalah aku menjadi lebih menghargai keberanian-keberanian diri hingga level terkecil. Keberanian sendiri pergi ke luar kota misalnya. Bepergian sendirian bagi kebanyakan orang mungkin hal yang sangat biasa saja. Namun, bagi pengidap Panic Attack sepertiku, bisa menempuhnya adalah pencapaian luar biasa. Jangankan keluar kota, sanggup keluar pergi ke warung dekat rumah saja, itu bagiku karunia. Karena ketika Panic Attack menyerang, aku merasa tidak sanggup kemana-mana. Melawan kecemasan yang bersarang di pikiran seperti melawan monster jahat. Aku kalau mau pergi jauh sendirian kadang-kadang demam dulu. Ini sepertinya respon tubuh terhadap kecemasan yang timbul.

Hei, tapi aku sanggup bepergian sendirian ke Lebanon akhir 2015. Ini seperti mimpi sekaligus bukti bahwa tekad yang kuat sanggup melawan hambatan apapun. Tapi, sebelum berangkat aku demam 10 hari. Ups! Bolak balik ke dokter, cek darah alhamdulillah tak ada penyakit gawat, tapi tetap demam. Aku sampai nyari asuransi kesehatan khusus untuk Lebanon. Karena Lebanon termasuk wilayah rawan konflik, tidak ada asuransi Indonesia yang menyediakan. Atau, aku yang nggak nemu? Sudah cari-cari sana sini dengan berbagai bantuan, tak kutemukan. Akhirnya kusampaikan ke lembaga pemberi beasiswa di Beirut kalau aku butuh asuransi kesehatan selama di sana. Mereka meminta surat keterangan dari dokter dan hasil tes laboratorium. Tidak ada sakit spesifik, “hanya” sel darah putihku sedang turun drastis karena radang tenggorokan. Itulah kenapa aku demam. ย Sebelumnya lembaga tidak menyediakan asuransi, tapi karena kasusku ini akhirnya mereka memberikan asuransi kesehatan kepada semua peserta. Syukurlah. Saat mau pergi sendirian ke Aceh, aku juga demam. Pfff! Aku tak sanggup menempuh perjalanan hidup ini sendirian. Huohuohuo.

Kalau sekarang, aku jauh sudah siap. Siap bepergian, siap menikah, dan siap punya anak. Meskipun aku juga sadar bahwa amanah anak adalah kuasa Tuhan. Biarpun seseorang sudah siap belum tentu Tuhan memberi segera. Tapi setidaknya kesiapanku ini adalah pencapaian positif yang kumiliki. Selamat tinggal Panic Attack, tugasmu mengujiku sudah tunai, pergilah selamanya, mohon dengan sangat jangan kembali.

Itu saja dulu. Aku telah berpanjang lebar, padahal sejatinya aku cuma sedang mengetuk pintu Tuhan agar jodohku datang. Seorang yang tepat dan terbaik untukku. Seorang yang membawa ketentraman, yang selalu menyatu denganku, dan penuh kasih sayang. Senantiasa dan selamanya. Pun semoga aku demikian untuknya. Amiin.

Selamat tahun baru.

Dari Jomblo Bahagia. :p

Depok, 2 Januari 2017

2 Comments

Filed under Conservation

Hidup ini Piknik, Selamanya Piknik

foto 1.jpg“Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi”. Kali pertama membaca judulnya, saya berpikir, apa ini nggak terbalik? Yang fana bukankah kita? Sedangkan yang abadi bukankah waktu? Kita dalam pengertian saya-dan-Anda-sebagai-raga adalah fana. Raga ini hanya sementara, kita dulu pernah tiada dan nanti akan mati. Sedangkan waktu tidak diketahui awal dan akhirnya, dia abadi.

Atau judul itu satire? Saya nggak tahu pasti. Sebagai penonton yang tidak terlibat dalam proses pembuatan karya ini, tafsiran saya bisa berbeda dengan yang sejatinya ingin disampaikan sutradara dan pemainnya. Namun, menafsir karya seni tidak berlaku salah dan benar, tidak memiliki alat ukur dengan variabel tetap yang tidak bergerak. Jadi, inilah tafsir saya atas karya ini.

“Teater tubuhnya berhenti dulu, ini realis,” ucap salah satu pemain di tengah pertunjukan. Selama ini Teater Garasi memang dikenal sering menampilkan pertunjukan gaya akting nonrealis. Orang-orang menyebutnya teater tubuh. Pertunjukan kali ini campuran realis dan nonrealis. Buat saya, akting gaya realis bisa membantu memahami dengan lebih jelas isi cerita, yang kemudian menjadi bekal untuk menafsir beragam kosa gerak nonrealis.

Pertunjukan ini tentang sebuah keluarga, ibu, bapak, dan tiga anak dengan segala hasratnya. Rosna jadi TKW di Hongkong, hamil entah dengan siapa, dan saat kembali ingin jadi artis sinetron. Rasid (MN Qomaruddin) jual sawah untuk jihad ke Arab, kata ibu (Erythrina Baskoro). “Afganistan!” Rasid mengoreksi. Bagi ibu, Afganistan sama saja, Arab. Anak ketiga adalah Husain, suka adzan, suaranya jelek, dan sedeng. Si bapak seorang penembak burung dan si ibu menderita karena berbagai ulah keluarganya. Lebaran adalah satu peristiwa yang mempertemukan kehangatan mereka dalam satu meja. Saling cerita dan mendengarkan keluhan. Termasuk keluhan Rosna yang memberitahu rendang di meja dimakan kucing.

Ini satu potret keluarga hari ini. Sosok-sosok dengan caranya sendiri-sendiri ingin menuntaskan hasrat-hasrat tersembunyi. “PKI fuck, PKI fuck!” Rasid benci PKI dan benci Haji Ahmad. Haji Ahmad disebutkan sebagai pengagum Gus Dur, tokoh agama setempat yang memberikan nama untuk si Husain. Rasid seolah mewakili kebanyakan mereka yang berhasrat jihad dengan kekerasan, memimpikan khilafah, ingin mati syahid dalam pertempuran di Timur Tengah, dan tidak sejalan dengan pengikut Gus Dur yang mengusung penghormatan pada pluralitas.

Cerita ini juga memotret jalanan ibukota ketika Rosna ingin mewujudkan cita-citanya sebagai artis sinetron. “Jakarta adalah tempat bertemunya cewek urban dan cowok urban,” ucap sopir angkot. Gerrr. Tawa penontoh pecah. Sejumlah aktor memainkan lebih dari satu karakter. SepertiGunawan Maryanto memainkan sebagai bapak di dalam potret keluarga dan sebagai sopir angkot dalam potret kisah lain. Di sisi lain, satu karakter dimainkan oleh lebih dari satu aktor. Contohnya, karakter Rosna diperankan oleh dua aktor, Rosna yang menjalani hidupnya oleh Arsita Iswardhani dan Rosna dalam kisah “Petualangan Rosna” oleh Sri Qadariatin. Sopir angkot yang menonton kisah Rosna, mengapresiasinya dengan mengaitkan romantisme masa lalu. Mengingatkan tentang ibunya yang mengagumi Sri Devi dan neneknya yang PKI. “Blablabla…bagus Banget. Mungkin neneknya PKI juga,” komentar sopir. Tawa penonton memecahkan keheningan lagi.

Menariknya pertunjukan ini adalah mengajak penonton berpikir, menafsir, dan tak lupa menghibur. Sekian kali kita dibuat tertawa, setelah jidat mengkerut bertanya-tanya ini maksudnya apa.

Bagaimana kalau hasrat-hasrat itu hanyalah kegilaan di alam pikiran? Hal-hal yang mencekam dan menghibur itu barangkali hanya ada dalam pikiran si sedeng, Husain. “Anak saya Rosna tidak hamil, menikah dengan teman kerjanya di Hongkong,” jelas ibu menjelang akhir cerita. Rasid tidak jual tanah, tapi belajar ke Afganistan. Husain suka adzan, suaranya bagus, tidak gila. “Rendangnya tidak dimakan kucing,” jerit Rosna. Kehangatan di meja makan itu tidak lagi ada. Sosok-sosok itu menjadi beku, menyimak monolog Husain yang mengaku tidak sekolah tapi bisa sampai ke bulan. Benar kata mereka, hidup ini piknik, selamanya piknik.

Kehidupan dengan segala hasratnya adalah menghangatkan. Kehangatan itu tidak selamanya, waktunya terbatas, fana. Sedangkan kita sebagai kisah akan abadi.

Karya pertunjukan ini dipentaskan di FIB, Universitas Indonesia, 26 Juli 2016 dan di Goethe-Institute Jakarta, 30-31 Juli 2016. Sutradara Yudi Ahmad Tajudin.

Nur Laeliyatul Masruroh
Depok, 31 Juli 2016.

Leave a comment

Filed under Conservation, Theatre

Teman Spesial

“L, apa kabar? Aku sudah sampai Jakarta kemarin dan akan kembali ke Amerika 1 April. Aku merasa harus menghargaimu sebagai seorang teman yang sangat baik selama ini yang ingin bertemu aku. Jika ingin bertemu tuk makan siang bareng dekat kantormu, aku siap ke sana,” pesan itu kuterima di messenger. Aku cukup kaget mendapatkan pesan darinya seperti itu karena dari berbagai peristiwa percakapan kami di media sosial, aku sempat berpikir lelaki itu tak akan mau menyengaja bertemu denganku.
“Aku tinggal di daerah Tanjung Mas Raya. Pasti dekat ke daerah Depok kan. Jauhpun akan kujabanin kok. Makasih,” lanjutnya. Dari nada kalimatnya dia benar-benar mau ketemu aku. Baiklah.
Dulu aku memang pernah bilang ingin bertemu untuk meluruskan salah paham. Terlalu sering kami berdebat di media sosial, baik debat di lingkup umum, di ruang grup yang terbatas, maupun di area privat seperti di messenger dan WhatsApp. Kami banyak berdebat soal agama kemudian menjadi soal apa saja. Sebenarnya banyak nilai yang kami pahami sama, terutama nilai-nilai kemanusiaan. Namun, ada beberapa nilai moral yang saling bertentangan. Yang menurutku sesuatu haram dilakukan, baginya tidak apa-apa. Dan, kadang perselisihan kecil menjadi debat panjang.
Dia adik angkatanku, beda fakultas, dan usia kami sebaya. Buatku dia teman spesial, bukan teman biasa, karena dia orang yang paling banyak mendebatku, tapi sejauh ini bisa berakhir dengan tetap menjaga hubungan baik. Kadang aku merasa dia dekat, kadang merasa dia jauh sekali. Jauh dan dekat ini terkait dengan nilai-nilai yang kami pahami. Untuk banyak hal, dia sangat peka terhadap hal-hal kecil yang mengusik kemanusiaan. Dari sisi itu aku bisa melihat jiwanya yang lembut. Namun, untuk beberapa hal lain, kami sangat berbeda pandangan. Dan kalau telanjur mendebatkan sesuatu, kadang tidak selesai dalam seminggu.
Sisi baiknya ketika berhasil melewati perselisihan sulit, sebagai teman, kami jadi bisa lebih saling memahami perbedaan. Pengalamanku berdebat nggak cuma sama dia, tapi sejauh ini dia yang paling beda.
Saat dia mendebat soal eksistensi Tuhan, dia terus menerus mengejarku dengan berbagai pertanyaan. Lalu, ketika aku memang tidak bisa membuktikan adanya Tuhan, dia merespon, “terus kenapa kamu masih shalat?” Itu salah satu debat yang bikin kami salah paham. Aku merasa pertanyaan itu dengan nada mengejek, dia mengejekku yang tetap sembahyang meski tidak bisa membuktikan adanya Tuhan. Padahal mungkin maksud yang sebenarnya tidak demikian.
Kedua, ketika dia mendebat terkait Bunda Maria/Maryam, dia menyampaikan Maria tidak mungkin hamil dan melahirkan tanpa melakukan persetubuhan. Lalu dengan cara lain dia ingin bilang Alquran yang mengatakan Maria perawan dari sentuhan lelaki itu diragukan kebenarannya. Dan lagi-lagi perdebatan berakhir dengan pertanyaan dan pernyataan yang menurutku dia tidak menghargai imanku. “Mengapa kamu masih saja percaya Alquran?” responnya padaku.
Padahal dalam melihat iman, kami sepaham bahwa seseorang mengimani sesuatu tidak selalu butuh bukti. Seseorang yang mengimani Quran sebagai firman Allah, tidak perlu bukti bahwa sosok yang ditemui Nabi Muhammad untuk menyampaikan wahyu adalah malaikat Jilbril. Di lain waktu, dia mempertanyakan eksistensi Nabi Musa, juga soal berbagai tindakan Nabi Muhammad yang dianggap janggal. Untuk beberapa hal, aku berdebat berangkat dari iman, sedangkan dia dari pikiran skeptis, karena itulah sering berujung tidak nyambung. Aku tidak menganggap diriku yang berdebat berangkat dari iman itu lebih baik dari dia, sama sekali tidak. Orang skeptis yang kembali dari keraguannya justru biasanya menjadi lebih yakin. Dia berhak mempertanyakan sesuatu perihal iman dan agama. Padahal aku merasa termasuk orang yang tidak mudah “sami’na waatho’na”, aku banyak mempertanyakan dogma-dogma agama dan hukum-hukum Islam. Orang sepertiku bertemu dan berdebat dengan orang macam dia pun masih banyak bertentangan. Aku coba memahami yang dia pikirkan dan rasakan terkait iman agar setiap perdebatan tidak menimbulkan perselisihan mendalam.
Ada hal yang paling kuingat awal debat hingga terjadi salah paham. Saat itu aku pikir biar nggak makin ruwet, aku ingin mengurai masalah. Aku mau telepon dia lewat Skype karena kupikir ketika menyimak penjelasan orang dengan mendengarkan intonasi suaranya langsung, akan lebih memahami maksud yang sebenarnya. Aku izin lebih dulu kalau aku mau menelepon dia. Dia malah mengatakan bahwa aku agresif karena berinisiatif menelepon cowok duluan. Waduuuh, kok gitu responnya? Itu salah paham pertama yang menurutku sangat menjengkelkan, bagiku lumayan fatal. Seringkali kemudian aku menjadi merasa perlu berhati-hati menyampaikan sesuatu padanya, agar tidak salah paham lagi.
Selanjutnya sudah tak terhitung lagi apa saja yang kami debatkan. Kadang aku berpikir dia sengaja tak berhenti mendebatku sebelum bikin aku jengkel. Kami berinteraksi bukan sebatas berdebat, tapi juga belajar memahami sesuatu, berbagi apa yang dia lihat di sekitarnya dan aku berbagi apa yang kulihat di sekitarku. Banyak temannya yang temanku juga, kami kuliah di universitas yang sama. Kami pernah beredar di sejumlah lingkungan yang sama, memiliki ikatan sejarah dalam ruang dan waktu yang sama, tapi sebelumnya tak pernah jumpa. Kami punya latar belakang menekuni bidang yang juga sama. Banyak hal darinya aku belajar, begitu juga sebaliknya. Sampai kemudian aku berkesimpulan dia pada dasarnya anak baik dan punya jiwa yang halus. Selanjutnya ketika dia bilang mau ketemu, aku merasa tak khawatir, seperti apapun sosok dan karakternya.
Dalam banyak hal, dia memang berbeda dengan orang pada umumnya. Tapi aku nggak kaget sih, karena sudah sering ketemu orang aneh setengah gila. Haha. Selagi keunikannya tidak mengganggu, tak masalah buatku.
Saat mau janjian ketemuan, dia memberitahuku akan naik angkutan umum dari Jakarta Selatan ke Depok dan bilang butuh wifi. Kusebut nama restoran Gula Merah di mall Margocity yang kukira ada internetnya. Di sana rencananya kami akan jumpa.
“L, aku di Tous les Jour. Di Gula Merah gak ada wifi, adanya rendang :),” tulisnya untukku lewat WhatsApp. Dari kalimatnya bisa ditebak orangnya kayak apa, dia kadang suka bercanda.
Aku naik Gojek menuju Margocity. Menuju tempat dia berada, lantai dua depan tangga, toko roti yang ada kursi-kursi untuk ngopi.
Sosoknya mudah kutemukan, saat kali pertama tatapan, kami saling panggil nama dan melambaikan tangan. Lalu salaman dan tempel pipi kiri kanan. Hanya pada orang tertentu aku demikian. Serasa ketemu sahabat lama. Aku tidak merasa asing.
“Kamu trendy sekali, L” komentarnya terhadapku. Aku tidak menjawab apa-apa soal pakaianku. Biasanya kalau mau ke kampus UI aku memang pakai baju rapi. Sangat rapi. Celana jeans panjang hitam dan kemeja ungu yang kukancing rapi. Sepatu boot cokelat kesukaanku. Juga syal tebal warna hitam. Siang itu selain makan siang sama dia mall, aku rencana ke percetakan, lalu ke UI. Aku pakai baju sangat rapi juga karena untuk antisipasi, karena aku tidak tahu dia datang pakai kostum seperti apa. Ternyata dia pakai kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit. Hihihi. Mengingat riwayatnya yang unik aku nggak kaget dengan penampilannya, bahkan andaipun dia muncul di mall cuma pakai kaos singlet atau kain rasta, aku pun nggak kaget. Bhuahaha. Teringat saat masa kuliah di Jogja dulu, di area kampus bagian Timur, di area fakultas ilmu sosial terutama Sastra dan Filsafat, ada peringatan, “piyama dilarang masuk”. Saking kebangetan uniknya mahasiswa UGM kampus bagian Timur, mungkin sudah biasa ada mahasiswa pakai piyama beredar di kampus. Kalau di kampus bagian Barat, di area fakultas Sains dan Teknik, cukup ditulis “kaos oblong dilarang masuk”. Aku jadi mikir, mungkin dia saat mahasiswa termasuk yang pernah ke kampus pakai piyama. Ups, nuduh.
Di meja toko roti, dia menawarkan roti yang sedang dia makan. Juga, menawarkan minumannya. “Kamu juga boleh minum ini kalau kamu mau,” katanya. Aku suka peristiwa itu karena serasa bertemu kawan lama. Aku ambil sedikit rotinya. Aku tanya minuman yang dia pesan apa? Memastikan kalau minuman itu tidak mengandung wine. Kadang di luar sana orang mengganggapku Islam liberal dengan nada negatif, padahal minum wine setetes pun, aku tidak pernah.
Lalu dia cerita soal aktivitas dukungannya terhadap LGBT di Jogja yang mendapatkan semacam ancaman. Kami juga ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon, termasuk soal buku. Aku senang dan bersyukur dalam percakapan itu, ngobrol langsung memang jauh lebih baik daripada komunikasi lewat tulisan. Kalau ingin menyanggah atau mendebat bisa lihat ekspresinya dan mendengar intonasinya langsung. Jadi bisa lebih mengerti maksudnya dan mengurangi salah paham.
Usai dari mall, kami ke percetakan Cano di Jl. Margonda. Benar-benar jalan kaki. Lumayan terik, aku tak masalah. Aku malah mengkhawatirkan dia yang capai karena baru menempuh perjalanan jauh. Sebelumnya dia menempuh perjalanan dari Jogja ke luar Jawa sekian hari, terus ke Jakarta, untuk kemudian ke Amerika. Padat jadwalnya. Tapi dia bilang gpp. Kami mampir ke warung Lele Lela, aku yang minta karena ingin beli teh Tarik dan air mineral. Sekalian aku shalat dhuhur.
Dari tas kain putih, dia mengeluarkan buku yang katanya isinya mengecewakan, tidak seperti yang dia harapkan, buku itu ditawarkan buatku. Kalau dia kecewa dengan buku itu kenapa dikasih aku, ini sih namanya memindahkan kekecewaan. Hehe. Tapi tak apa-apa, kalau baginya mengecewakan, bagiku belum tentu. Bagaimana pun aku berterima kasih buku berjudul “Ibn Rusyd” kini jadi milikku.
Selanjutnya kami ke percetakan untuk mengambil bukuku. Aku perlu menandatangi buku-buku karyaku sebelum wrapping. Tandatangan itu permintaan pembaca yang pesan. Sambil menunggu proses wrapping, aku dan dia makan di Mang Kabayan. Kami makan jamur dan kangkung. Dia mengambilkan nasi ke piringku.
Di meja yang luas dengan iringan musik Sunda yang halus, kami ngobrol banyak soal bukuku dan bukunya. Dia menilai tokoh di bukuku terlalu suci, tidak ada kisah bercinta di dalamnya. Menurutnya pembaca umumnya ingin lebih dari itu. Aku mempertahankan argumenku, memang ada nilai yang ingin kusampaikan di buku itu. Termasuk soal batasan dalam pacaran. Mohon pelan-pelan membaca paragraf ini. Di luar sana, penulis biasanya memotret cerita dari sisi ekstrem berlawanan, sisi pertama menyampaikan pacaran itu tegas dilarang, sisi ekstrem lainnya memotret tentang bercinta di luar pernikahan itu biasa. Aku memotret di sisi tengah bahwa punya pacar itu tak mengapa, asalkan tidak mendekati zina. Bagi dia, kisahku yang seperti itu menjadi datar. Tapi itulah potret yang ingin kusampaikan. Di sinilah keuntungan menerbitkan secara independen, kita bebas mengekspresikan nilai apapun tanpa terikat kemauan pasar.
Matahari terus merangkak, menjelang sore. Sepertinya tak cukup waktu ke UI karena aku punya agenda kursus menulis mulai pukul 7 malam. Menuju tempat kursus butuh minimal 2,5 jam.
Setelah makan dan ambil buku lagi, kami naik angkot ke Stasiun Universitas Pancasila. Lalu jalan lagi untuk mencari toko sepatu. Sejak di mall, dia memang sudah bilang akan beli sepatu di daerah ini. Dapat rekomendasi dari orang di mall. Kami hanya menemukan satu toko dan tidak menemukan sepatu yang cocok. Bagiku itu salah satu jalan-jalan yang berkesan. Panic Attacks-ku kadang kambuh kalau sedang jalan kaki jauh, saat itu juga muncul pada level rendah dan bisa teratasi dengan baik tanpa dia tahu. Bersamanya aku bisa ngobrol tanpa putus, fokus dengan isi obrolan dapat membantuku menekan kecemasan. Terakhir aku merasakan Panic Attack saat menapaki trotoar panjang di Kota Tyre, Libanon. Saat Panic Attacks menyerangku di tepi jalan, untungnya pas aku ganti ngobrol dengan teman dari Yaman. Teman yang saat itu bahasa Inggrisnya jelas di telingaku dan aku bisa fokus menyimak ceritanya tentang pergerakan di Timur Tengah. Jika kecemasanku naik, aku akan berhenti dan duduk sebentar. Kadang tanpa perlu memberitahu teman jalanku.
Kembali ke cerita awal. Kami ke Stasiun lagi naik kereta yang sama. Dia hendak turun di St Sudirman, ada janji dengan teman. Sedangkan aku menuju Kebayoran Lama untuk kursus menulis.
Di dalam kereta, di depan tempat duduk kami, seorang perempuan tertimpuk botol minuman dari tempat tas di dekat atap. Perempuan itu membenamkan kepala menahan sakit dan dua temannya menenangkannya. Lalu, penumpang berambut panjang itu membuka tasnya, kirain mau ambil minyak kayu putih atau semacamnya. Ternyata ambil kaca dan lipstik, lalu memakainya sambil jongkok. Kulihat teman lelakiku merekam mereka. ๐Ÿ™‚
Di dalam kereta kami ngobrol soal beasiswa sekolah, aku agak pusing lihat kerumunan. Kami sempat selfie sebelum dia turun. Lalu saatnya kami harus berpisah. “Kamu hati-hati di Amerika ya,” bisikku dalam salam perpisahan. Aku ingin ngobrol lebih lama, tapi waktu tidak memungkinkan, dia harus turun. Saat dia mencapai pintu kereta, kujulurkan tanganku, dia meraih tanganku sampai akhirnya dia benar-benar turun. Sudah kayak adegan film India saja. Ha-ha. Harap maklum, kami berdua (mantan) aktor.
Kuberharap kami kelak berjumpa lagi. Namun, dia baru saja berangkat ke benua lain dan entah kapan akan kembali. Akan kukirimkan DOA kebaikan untuknya meskipun dia (mungkin) tak percaya pada kekuatan doa.
Depok, 4 April 2016

Leave a comment

Filed under Conservation

Jilbab Syar’i

Oleh Nur Laeliyatul Masruroh
Sore itu aku masuk ke toko jilbab di Depok Town Square. Mau cari pasmina buat syal untuk dibawa ke Timur Tengah. Patung manekin berhidung mancung pakai mukena pink ngejreng berenda biru itu menarik perhatianku. Kusentuh kainnya sepertinya adem. “Mukena yang kayak gini tapi warna lain dan nggak pakai renda ada Mbak?” tanyaku pada penjaga toko. Renda di kain itu menurutku seperti renda yang biasa dipakai untuk pemanis underwear. Rasanya gimana itu kalau salat pakai seperti itu. “Ini bukan mukena, Mbak,” jelas penjualnya. “Oh pantesan rendanya kayak renda underwear. Baju dalam?” Aku memastikan. “Bukan. Ini jilbab syar’i,” balasnya. Hah? Belum selesai kagetku, tiba-tiba ada pengunjung lain datang pakai ‘mukena’ serupa, warna pink juga, dengan tambahan kain pink tua di kepalanya dan asesoris bros pita memanjang di bagian kanan.
“Kayak gini lho Mbak, ini namanya jilbab syar’i,” jelas penjaga toko menunjuk wanita berjilbab pink ngejreng lebar itu. Sepertinya aku musti banyak beristigfar, karena dalam hati saat itu aku tak berhenti mengkritik baju itu, ya ampun baju warna ngejreng dengan renda underwear kayak gitu menarik perhatian semua orang. Bukan hanya menarik perhatian mata orang, tapi mungkin juga menarik kupu-kupu dan burung-burung ingin hinggap bersarang, kok disebut syar’i?
Baiklah, atas nama hak asazi, siapapun boleh mendefinisikan pakaian syar’i dengan caranya sendiri-sendiri ๐Ÿ™‚
Syar’i artinya sesuai syariat. Syariat bisa berbeda-beda, tergantung mengikuti tafsir siapa. Bagiku, berpakaian sopan tanpa jilbab pun sudah syar’i, tapi bagi yang lain belum tentu. Bagi orang lain, menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, jilbab kecil ataupun lebar sudah syar’i, bagi ulama yang berpendapat cadar wajib, itu belumlah syar’i. Bagi orang tertentu, berjilbab lebar bunga-bunga, warna menyala, berenda underwear, sudah dianggap syar’i, bagi ulama yang berpendapat jilbab untuk meredam perhatian, seperti itu belumlah cukup syar’i.
Kalau aku pribadi lebih sepakat dengan pendapat bahwa pakaian tertutup itu untuk meredam perhatian. Semakin tertutup seharusnya semakin bersahaja. Semakin tertutup mustinya semakin mengurangi asesoris kecantikan. Tapi siapapun boleh berpendapat beda, tidak harus sepakat denganku.
Lebih dari itu, aku senang perempuan Indonesia merdeka memilih pakaian apapun yang disuka. Tertutup ataupun terbuka dan bisa mengekspresikan identitas diri sepenuhnya. Di Arab Saudi sana, pakaian perempuan diatur oleh budaya, dilegitimasi agama, harus lebar-lebar, bahkan kadang musti hitam dan bercadar.
Aku ingin berterima kasih, tapi entah pada siapa, tentang ini semua. Tentang kemerdekaan perempuan Indonesia menentukan sendiri pakaiannya.
Saat akan berangkat ke Beirut, aku sengaja membawa beberapa tutup kepala, jilbab, dan pasmina. Selain karena musim dingin, panitia juga memberitahu sebelumnya bahwa di tempat-tempat tertentu perempuan harus menutup kepala, disarankan bawa headscarf.
Saat turun dari pesawat di Beirut, suhu 15 derajat. Aku tidak melepas tutup kepalaku karena kupingku kedinginan. Begitu sampai hotel, seorang panitia menyambutku di depan pintu taksi. Dia mengucapkan selamat datang dan bilang aku sudah ditunggu Doktor N. Kadang-kadang kami menyebut mentor kami dengan gelar di depannya. Juga beberapa peserta yang sudah PhD dipanggil doktor. Tidak harus, boleh panggil nama.
Aku bilang akan check in kamar dulu sebelum ketemu siapapun. Karena aku baru menempuh perjalanan pesawat 15 jam dan belum mandi. Usai mandi dan menata isi koper di kamar, kubuka jendela kaca yang sekaligus pintu hotel, memastikan suhu di luar ruangan sedingin apa. Di kamar, AC tersetting hangat entah berapa derajat. Di HPku suhu kota menunjukkan 12 Celcius. Ternyata di luar cukup dingin, kupingku sepertinya tak sanggup dibiarkan terbuka. Akhirnya aku pakai tutup kepala untuk keluar.
Saat bertemu Doktor N, dia memelukku 3x sebagai salam khas Libanon. Doktor N adalah perempuan terpelajar, cerdas, cantik, berprestasi, dan baik hati. Beliau doktor teologi Islam. Padanya kami belajar interpretasi Alquran di kelas online sebelumnya. Mengikuti forumnya aku musti senantiasa siap menyediakan Alquran tiga bahasa. Indonesia, Inggris, dan Arab. Buat lainnya cukup dua bahasa. Tugas-tugas analisis teologis Alquran darinya menurutku sangat menarik dan menantang.
Pada awal pertemuan itu, dia tanya padaku bukankah aku tidak pakai jilbab. Kujawab, ya aku tak berjilbab, tapi di sini aku akan menutup kepala. Dia balas, di sini kamu tidak harus menutup kepala, kamu boleh membukanya. “Suhu di sini sangat dingin. Di Indonesia aku terbiasa di suhu 30 derajat, di sini 12 derajat, aku perlu menutup kuping,” jelasku. “Ah ya, kalau itu masuk akal.”
Peserta perempuan didominasi tidak berjilbab. Kami bebas berpakaian dengan batasan sopan. Beberapa peserta juga tanya soal jilbab padaku, juga ada yang tanya soal agamaku–menutup kepala tidak lantas otomatis Muslim. Kujawab, aku muslim dan berkeyakinan jilbab tidak wajib. Terus malah ada yang menanggapi, siapa yang menganggap itu wajib? Kujelaskan, muslim mayoritas di Indonesia berkeyakinan jilbab/ menutup kepala bagi perempuan itu wajib. Malah ada yang kaget dengan penjelasanku karena kebanyakan mengira Indonesia itu contoh ideal kehidupan muslim sebab perempuan bebas berjilbab dan bebas tidak berjilbab, dan tidak ada otoritas yang mewajibkan. Betul, di sini tidak ada otoritas yang mewajibkan, kecuali Aceh. Terkait wajib itu maksudku soal keyakinan, bukan urusan otoritas tertentu.
Menurut beberapa dari mereka, teman-teman dari Timur Tengah yang kebetulan berbagi soal ini, “jilbab itu pilihan bukan kewajiban dan Islam seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, melainkan lebih kepada akhlak.” Aku sepakat dengan itu.
Kembali ke soal jilbab ‘mukena’ pink ngejreng di atas. Yang dikatakan temanku soal Indonesia sebagai contoh ideal buat muslimah mengekspeasikan pakaian itu mungkin ada benarnya. Di Indonesia belakangan ini muncul beraneka model jilbab, sangat kaya pilihan. Bahkan konon Indonesia sebagai pusat mode hijab dunia. Mulai yang sederhana, elegan, rumit, hingga yang norak, semua orang bebas mengklaim itu sebagai identitas muslimah, bahkan bebas mengklaim itu syar’i. Keragaman yang mungkin tidak/belum ditemukan di Timur Tengah. Yang barangkali perlu dikritisi adalah jika menganggap pilihannya sendiri sebagai satu-satunya yang syar’i.
Ini juga pengingat untuk diriku sendiri yang kadang masih sulit memahami jilbab-lebar-ngejreng-renda-underwear dianggap jilbab syar’i. Astaghfirullah. Udah gitu aja sih. ๐Ÿ™‚
12 Januari 2016

Leave a comment

Filed under activites, Diversity and Peace, Diversity and Peace Building

2016: Baik

Ini tulisan pertamaku di tahun 2016. Lama nggak nulis di sini karena males mindah tulisan ke sini. Selain itu, karena tidak ingin terlalu banyak berbagi biarpun itu cerita kebahagiaan. Padahal seringkali menuliskan isi pikiran konon bisa menajamkan ingatan dan merekatkan kembali kenangan yang kelak mungkin akan retak. Tapi belakangan aku banyak menyimpan saja. Kalaupun ditulis tidak di tempat umum seperti ini. ๐Ÿ™‚

Tahun 2016 ini aku ingin ganti lensa kacamata, dalam arti literal dan arti konotasinya. ๐Ÿ™‚ Ingin beli kacamata baru kalau ada rezeki, tapi yang lama sebenarnya masih bagus, cuma sedikit longgar. Kacamata terakhir dibeliin kantor seharga Rp.800.000, itu sudah lengkap dengan pelindung radiasi komputer dan pelindung sinar matahari. Kalau di bawah terik mentari bisa menggelap sendiri. Kalau beli sendiri seharga itu kayaknya nanti dulu, ada yang perlu diprioritaskan lebih dulu. Untuk ganti lensa kacamata dalam arti yang lain, yaitu ingin mengubah cara pandang terhadap hal-hal tertentu.

Tahun 2016 semoga ada kejutan anugerah yang menyenangkan. Sebenarnya hal yang paling kubutuhkan sekarang adalah meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Baca sejumlah jurnal sosial rasanya sudah mual-mual, bolak-balik buka kamus dan kadang dahi masih berkenyit. Apalagi nulisnya, hanya menulis 500 kata bisa seharian karena mempelajari bahannya bisa berjam-jam. Eh, bukannya itu secara tidak langsung sedang menaikkan kemampuan berbahasa Inggris ya? Semoga demikian. Kalau bisa sih bisa mencapai skor IELTS 8! Haha, jangan nanggung-nanggung.

Tahun 2016 semoga bisa mengerjakan tugas-tugas dan pekerjaan dengan lebih baik, terus lebih baik, dan lebih baik. Mengelola jiwa dan raga dengan lebih baik juga. Dengan demikian, rizki juga akan mengikuti datang dengan lebih baik. Rizki materi maupun non-materi. Termasuk rezeki jodoh yang baik. Amiin. ๐Ÿ™‚

Sudah gitu aja, ini sudah kebanyakan curhat. ๐Ÿ™‚

Saat menulis ini sedang adzan magrib, dan doaku sore ini adalah PASTI sanggup menyelesaikan tugas-tugas the course malam ini dengan baik. ๐Ÿ™‚

#Segera kembali ke jurnal.

 

 

Leave a comment

Filed under Conservation