Tag Archives: Indonesia

Renungan Diri di Hari Santri

santri 1992Gambar ini sekitar tahun 1992, saya bersama teman-teman santri di Pondok Pesantren Manba’ul Hisan, Mirit, Kebumen. Pesantren berbasis NU. Foto ini diambil saat saya kelas 3 SD, usai syukuran Khataman Juz Amma Bil Ghoib (syukuran atas keberhasilan kami menghafal Alquran juz 30). Saat itu di Indonesia belum banyak sekolah khusus/pondok anak-anak yang khusus belajar Alquran, belum marak seperti sekarang. Saat di pesantren, kami ngaji mengenakan baju kurung panjang. Sementara saat sekolah formal kami membaur dengan masyarakat setempat di SD Negeri, berseragam merah putih dengan atasan lengan pendek dan rok/celana selutut, sama layaknya murid-murid lainnya di luar pesantren. Kami santri cilik muslim dan kami tetap anak-anak Indonesia yang setiap Senin upacara bendera dan tidak dilarang memakai pakaian adat nusantara. ūüôā

Selanjutnya apa yang terjadi dengan anak-anak yang sekolah Islam masa sekarang?

Sekarang semakin banyak anak-anak Indonesia yang disekolahkan di sekolah berlabel Islam, banyak orang tua berharap anak mereka hafal Alquran. Entah kenapa banyak orang tua muslim yang menganggap hafalan Alquran sebagai sesuatu yang sangat penting. Mungkin juga karena didukung oleh ajaran tentang keutamaan hafalan Alquran, seperti mendapatkan surga tertinggi, terbebas dari api neraka, dan mendapat syafa’at di Hari Kiamat. Jika alasan-alasan itu yang menjadi dasar, itu tidak menerjemahkan Islam menjadi rahmat di bumi ini. Selain itu, hafal Alquran akan dianggap hebat sehingga membuat orangtua bangga. Kemudian orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke sekolah yang mengajarinya hafalan Alquran. Dan terkadang itu menjadi alasan utama sampai tidak memperhatikan aspek-aspek lain terkait pendidikan Islam di dalamnya. ¬†Kalau sudah dididik di sekolah Islam atau pesantren dianggap lebih baik.¬†¬†Perlu diketahui, sekolah berlabel Islam tidak serta merta pesantren, tetapi ada juga yang disebut pesantren. Dulu pesantren di Indonesia yang dominan hanya dua, yaitu NU dan Muhammadiyah, kini pesantren-pesantren baru muncul dengan berbagai aliran. Soal aliran-aliran ini penting untuk diperhatikan. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) menjamur di mana-mana.

Belajar Islam sejak dini bisa jadi kebaikan apabila mampu mendidik seseorang menjadi berakhlak luhur. Namun, jika belajar Islam dengan ajaran tafsir-tafsir sempit bisa membuat seseorang menjadi intoleran. Oleh karena itu, orang tua tetap perlu memantau kurikulumnya. Tak sedikit ditemukan SDIT sekarang yang melarang murid hormat bendera dengan alasan upacara tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW. Anak-anak dilarang memakai busana dan asesoris adat seperti kebaya dan sanggul dalam karnaval agustusan dengan alasan pakaian dianggap tidak syar’i. Anak-anak tidak mengenal lagu-lagu perjuangan bangsa sendiri seperti “Maju Tak Gentar”, tetapi lebih mengenal lagu-lagu perjuangan Palestina. Bahkan, ada juga SDIT yang melarang muridnya belanja di toko milik non-muslim karena dianggap menghidupi orang kafir. Ini ajaran yang sungguh berbahaya, melahirkan generasi yang kehilangan jati diri bangsa, intoleran, dan tidak siap menghadapi perbedaan.

Menurut peneliti yang investigasi masalah ini, sekolah-sekolah itu disusupi ajaran Wahabi, salah satu gerakan trans-nasional. Ajaran yang gemar melabeli bid’ah, sesat, dan kafir pada yang berbeda. Ajaran yang seolah ingin memurnikan Islam, tetapi sesungguhnya sedang mengikis nasionalisme generasi muda Indonesia. Tentu saja gerakan trans-nasional ini memiliki agenda politik kekuasaan di baliknya, yang sering tidak disadari oleh para penganut di level akar rumput.

Soal hafalan Alquran, beberapa waktu lalu seorang ulama menyentil di Youtube. Beliau menyampaikan yang intinya bahwa hafal Alquran tidak akan berarti apa-apa jika tidak paham makna atau tidak memberi arti bagi kehidupan, jadi tidak perlu diraya-rayakan. Beliau menceritakan seringkali menemukan anak-anak yang didorong-dorong hafal Alquran berlomba-lomba menjadi imam salat tarawih untuk menampilkan hafalannya, kemudian saling sibuk menghitung bayaran menjadi imam salat di masjid ini dan itu. Jika tidak dikembalikan pada hakikat pendidikan, hafalan Alquran pun bisa tergelincir dari tujuan utamanya. Menurut saya, pada dasarnya “menghafal” itu “mengingat”, seperti halnya mengingat rumus-rumus Fisika, mengingat unsur-unsur Kimia, dan mengingat 16 tensis bahasa Inggris. Bukan suatu prestasi superhebat yang bermanfaat untuk umat, jadi tidak perlu dipuji berlebihan. Kemampuan menghafal Alquran ibarat kendaraan, alat yang bisa mengantarkan seseorang lebih mudah memahami Alquran, ayat per ayat, kata per kata, dan menggali maknanya. Bisa juga hanya menjadi pajangan mewah di garasi yang tidak berguna apa-apa.

Pesantren bisa melahirkan santri seperti Gus Dur, Kyai Musthofa Bisri, Buya Hamka, dan Buya Syafi’i Maarif. Sosok-sosok yang punya pengaruh dalam mempromosikan Islam Nusantara dengan wajah damai. Namun tak dipungkiri, pesantren juga bisa melahirkan santri macam Amrozi, Imam Samudra, dkk yang intoleran terhadap yang berbeda dan menyebarkan paham terorisme atas nama memerangi kekafiran.

reuni santri 2005Gambar ini sekitar tahun 2005, santri cilik angkatan saya reuni, sowan pada guru kami, Kyai Abdul Mufti, pendiri pondok pesantren anak-anak Manba’ul Hisan. Saat itu kami sudah mahasiswa dan masing-masing membawa pengalaman menempuh SMP dan SMA di pesantren yang tidak sama. Kami kembali sebentar ke pondok masa SD dengan perfoma dan ideologi yang beda-beda. Bagaimanapun, nilai-nilai yang kami pelajari di pesantren turut mewarnai perjalanan ke depan dan mengantarkan kami pada jalan yang bisa jadi berlainan. Namun, selagi tetap menjaga silaturrahim yang baik, perbedaan tidak akan menjadi sumber perpecahan.

Pada peringatan Hari Santri Nasional ini mungkin bisa menjadi pengingat bahwa menjadi santri di negeri ini berarti musti mampu menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Bangsa dengan penduduk yang berbeda-beda dalam suku, agama, dan kepercayaan. Orangtua yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di sekolah/pondok berlabel Islam musti jeli memilih dan memastikan sekolah tersebut benar-benar mengajarkan nilai-nilai luhur agama dan menjadi rahmat bagi semesta.

Seperti kita diketahui, Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015 guna menunaikan janjinya saat kampanye pemilihan presiden 2014. Penentuan tanggal tersebut dilatari oleh peristiwa resolusi jihad ulama Indonesia masa lalu melawan penjajahan Belanda.

Sumber gambar: koleksi pribadi milik Nur Laeliyatul Masruroh. Gambar 1 dipotret oleh Lik Joko Sukandar, Gambar 2 oleh Abdullah Faqih.

Laeliya,

Jakarta, 22 Oktober 2015.

NB: Tidak diizinkan mengambil/posting ulang gambar tanpa izin penulis atau tanpa menyebut sumber. Tidak diizinkan juga menyalahgunakan gambar untuk informasi yang tidak benar. Terima kasih.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Activities, Diversity and Peace

Prospek Pertanian Organik di Indonesia

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan “Back to Nature” telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

Wilayah Areal Tanam (juta /ha)

  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06

Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

Kategori Komoditi

  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Sumber Website : http://www.litbang.deptan.go.id

Leave a comment

Filed under Agriculture

Mahameru

Mahameru, is a name well known from the summit of Mount Semeru with a height of ¬Ī 3676 m above sea level (masl), as the highest mountain in Java, Indonesia. Mount Semeru is one of the still active volcano in East Java. Photo by Backpacker Indonesia.

Leave a comment

Filed under Environment