Time Will Tell

Saat menyimpan catatan lama di FB nemu tulisan 6 tahun lalu. Apa yang kurasakan dulu masih sama dengan hari ini, hanya sekarang lebih relaks.:)

Berikut tulisannya:

2011, Time Will Tell

Judulnya terlalu indah, kayak lagu apa gitu ya, padahal intinya cuma mau curhat. Tapi bukankah lagu juga isinya cuma curhat kan? :p

Saya sering dihantui pertanyaan siapakah soulmate kita? Sebagian orang yang belum menemukan pasangan jiwa, mungkin sama seperti saya, sulit menjawabnya. Akhir-akhir ini saya bertanya pada diri sendiri serius soal ini. Sampai-sampai sekian waktu lalu ini tubuh saya abruk lantaran memikirkan ini. Huahaha dueerrr, segitunya sih Lael?!

Saya seringkali berpikir memiliki banyak keberuntungan dalam perjalanan hidup ini, kecuali soal jodoh. Bagi teman-teman pada umumnya, mungkin tidak pernah tahu apakah saya sedang dekat dengan seseorang atau tidak. Apakah saya sedang menjalin hubungan atau sedang patah hati. Atau kalau yang sering membaca catatan saya utuh, mungkin sedikit menyimpulkan. Kadang saya menulis prosa yang sungguh mewakili perasaan saya, tapi lain waktu saya menulis prosa hanya berdasar pengandaian saya dalam keadaan itu, kadang saya mewakili teman yang curhat. Bisa dibilang, orang tak bisa menyimpulkan keadaan saya sebenarnya dalam banyak potongan.

Seperti perempuan pada umumnya, saya juga mencurahkan hati alias curhat sama sahabat-sahabat tertentu. Pada sahabat ini saya cerita satu hal, sama sahabat lainnya saya cerita hal lainnya. Tegantung karakter sahabat itu, kadang saya hanya perlu didengarkan, kadang saya perlu pendapat, kadang saya perlu penguatan. Jadilah sebenarnya saya seperti nya tidak punya rahasia soal cinta. Bagian barat bisa melihat saya utuh dari barat, bagian selatan melihat saya utuh dari sudut selatan, begitu juga bagian timur dan utara. Namun secara satu-satu sepertinya tidak ada yang benar-benar mengerti apa sesungguhnya terjadi di kedalaman hati ini. Seringkali Tuhan menitipkan kegalauan hanya menjadi rahasia mahluk yang bersangkutan denganNya saja.

Kembali ke perihal soulmate. Membahas soal soulmate, tentu saja selalu terkait perihal cinta. Apa itu cinta? Kini saya sungguh sedang tidak tahu pasti apa itu cinta. Mungkin ketika kita punya energi besar untuk melakukan suatu hal demi seseorang, itu salah satu ciri-ciri cinta. Sesuatu yang membuat kita bermenung di depan kaca dan entah dari mana hadirnya perasaan istimewa mengingat sesosok nama, mungkin itu juga cinta. Atau ketika seseorang menyapa, membuat hati berbunga-bunga, mungkin itu juga cinta. Saya mencoba mendefinisikan dengan serius setelah menengok perjalanan lalu dan mengihitung berapa kali pernah mengalami perasaan yang seperti itu. Hingga seorang sahabat berpendapat, love is marriage. Dan itu sepertinya definisi paling masuk akal, cinta yang sebenarnya dan bertanggungjawab adalah cinta dalam ikatan pernikahan. Kalau begitu, yang saya rasakan selama ini bukan apa-apa, bukan cinta sejati, itu hanya cinta monyet. 😀

Sejak dulu saya pikir, datangnya perasaan cinta itu anugrah, ketika sesuatu tumbuh di hati, saya pikir itu sinyal Tuhan menunjukkan jodoh saya. Karena itu saat saya suka seseorang, apapun yang terjadi, saya coba pertahankan. Dan nyatanya? Semua beakhir bubar. Sejumlah nama pernah hadir istimewa di hati saya dan kini saya yakin mereka bukanlah soulmate saya. Kenapa? Sebagian diantara mereka telah menemukan pasangannya, lebih memilih perempuan lain ketimbang saya. Sebagian mungkin sedang penjajakan dengan yang lain. Intinya, mereka bukan bagian istimewa lagi di hidup saya kini. Yang teristimewa adalah yang sedang terjadi kini. Tapi bukan berarti saya menyesali mendefinisikan istimewa itu di masa lalu, semua seperti mata pelajaran yang sudah usai. Ganti mata kuliah berikutnya. Tentu saja ada hikmah di balik pertemuan-pertemuan itu. Pertemuan itu mungkin memang rencana Tuhan untuk mengajari kita sesuatu. Pertemuan-pertemuan itu pada akhirnya menunjukan bukan jodoh yang tepat. Atau entahlah mengapa pertemuan itu terjadi. Konon laki-laki baik akan bertemu dengan perempuan baik. Apakah dia atau saya tidak baik, hingga harus bubar? Seseorang itu bisa jadi memiliki pribadi baik, saya juga merasa orang baik-baik, hanya saja dua kebaikan itu tidak tepat bila disatukan alias tidak berjodoh. Ya sudahlah diikhlaskan Lel.

Saya kadang merasa sangat nelangsa mengingat pertanyaan diri, mengapa ya saya belum juga menemukan jodoh ? Bahkan kadang merasa malu jika ingat berganti-ganti cinta. Tahun sekian jatuh cinta sama seseorang, tahun berikutnya ganti, tahun berikutnya ganti lagi. Mungkin ada orang yang bangga pernah menjalin sekian kali relation, tapi sejujurnya saya malah nelangsa, saya tidak pernah meniati berganti-ganti seperti itu. Dan sejujurnya saya tidak pernah benar-benar pacaran seperti orang pada umumnya, mungkin yang terjadi yang sudah-sudah hanya semacam jalinan perkenalan untuk menuju proses serius, eh itu juga namanya pacaran bukan? Hampir-hampir saat saya punya teman istimewa, lidah saya sulit untuk bilang, hei itu pacar saya. Atau ketika semua berlalu, barulah mungkin saya baru bilang bilang oh ya itu mantan kekasih saya.

Saya ini produk negeri dongeng. Yang sejak kecil berpikir, sekali menemukan pangeran, dialah cinta terakhir selamanya. Itulah yang membuat saya merasa malu ketika berganti cinta. Saya pikir saya hanya akan jatuh cinta atau menyukai seseorang sekali seumur hidup. Jaman SMP, jaman belum ada HP dan jejaring sosial seperti saat ini, yang namanya cinta diungkapkan lewat surat. Saat itu saya tinggal di asrama pesantren, beberapa surat pernah saya terima, saat itu saya mungkin troble maker untuk hal lain, tapi tidak berani untuk melanggar aturan pesantren soal larangan pacaran. Surat cinta yang isinya saling balas bisa sebagai bukti kami bermain-main. Pesantren punya aturan main sendiri ketika santri ketahuan surat-suratan apalagi sampai melakukan janjian pertemuan. Seingat saya, saya tidak pernah membalas surat, setiap terima surat saya bakar di belakang koperasi. Haha. Tapi, saya juga pernah diam-diam mengirim suat kepada adik kelas yang saya suka berisi sepotong puisi dan tidak berbalas. Huahaha jaman SMP saya sudah suka brondong. Mungkin itu cinta monyet saya yang pertama, yang berani saya ungkapkan. Pernah sih pas SD suka kakak kelas, suka hanya dalam hati. Hanya suka memandang ketika dia di pintu kelas. Selebihnya cuma senyum dalam hati, lihat rumahnya saja deg-degan. Lagi-lagi, cinta anak monyet.

Saat SMA, saya pernah juga suka teman satu sekolah, tapi suka hanya dalam hati. Tidak berpikir untuk pacaran. Hanya menemukan dia baik dan menyapa saja, saya sudah bahagia, dan saya menyimpan perasaan itu rapat, berusaha agar yang bersangkutan tidak perlu tahu. Saya merasa saat itu, saya belum saatnya pacaran, atau karena sering bergaul dengan teman aktifis Rohis, saya lebih nyaman memilih seperti mereka, tidak ada kamus pacaran. Saya fokus belajar karena khawatir tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu ibu sigle fighter, aku khawatir orangtua tidak bisa membiayai andai saya kuliah di swasta, jadi saya 100% fokus belajar.

Ketika kuliah, saya selalu terngiang pesan guru SMA kalau mencari pasangan jangan satu profesi. Jadi, saat itu hampir saya tidak memperhitungkan teman-teman sefakultas saya untuk jadi pasangan saya kelak. Tapi prinsip itu saya ubah, ketika di akhir kuliah dan setelah lulus. Saya pikir mungkin dengan berpikir begitu menghalangi jodoh saya, saya pernah curhat pada salah satu teman laki-laki sesama kuliah fakultas Biologi. Kok aku nggak pernah ditembak sama anak Biologi ya? Temanku malah bilang, ya sudah Lel, bagaimana kalau kita pacaran? Mungkin dia iseng ngomong seperti itu, atau saat itu sepertinya dia sedang baru patah hati. Saya sempat berpikir, apa iya ya baiknya sama dia saja. Kalau sama sahabat sudah jelas kita sayang dia ya, tapi ya itu sayangnya lain, teman platonis. Huaa, saya malah jadi aneh sendiri. Akhirnya kami tetap bersahabat dan berharap terus bersahabat. Lain waktu saya juga akhirnya pernah terlintas suka sama sahabat Biologi yang lain, tentu saja karena saat itu dia single. Kalau saya tahu seseorang sudah punya pasangan, saya paling anti untuk mengganggu. Karena saya tahu rasanya, ketika sedang menjalin relation dengan seseorang, ada orang ketiga yang nggak tahu diri masuk, itu rasanya menyakitkan.

Lalu hari ini, apa yang sedang saya alami dengan hari ini? Saya sedang coba membangun hubungan dengan seseorang lantaran dijodohkan teman. Hah? Jaman begini masih ada acara jodoh menjodohkan? Iya betul. Ceritanya panjang, tidak akan saya paparkan kali ini. Jika boleh meminta kepada Allah, saya berharap sungguh ini yang terakhir. Amin. Dan sejujurnya saat ini bisa dibilang kondisi terbaik hati saya dibanding keadaan yang sudah-sudah.

Lelaki seperti apakah yang saya cari? Saya juga bingung kalau diminta menyebutkan kriteria. Saya berpatokan gini, Nabi tauladan saya, Muhammad SAW pernah ditanya apakah itu beragama ya Rasulullah? Beliau menjawab, beragama adalah ahlak yang baik. Beliau menerima pertanyaan yang sama hingga tiga kali dan beliau menjawab dengan kalimat yang sama hingga tiga kali. Dalam Islam, saya diajarkan untuk memilih pasangan dengan mengutamakan agama. Lalu orang beragama itu yang seperti apa? Seperti yang diungkap Nabi, yang berahlak baik, dan ini sangat luas maknanya. Orang yang nampak rajin salat, yang pengetahuan agamanya luas, atau yang sangat fasih melafal dalil, menurut saya bukanlah jaminan dia agamanya lebih baik dari yang lain. Jadi, ukuran ahlak baik itu seperti apa? Pada akhirnya saya pegang pesan nabi, mintalah fatwa pada hatimu, pada jiwamu. Kebaikan adalah sesuatu yang mendatangkan ketentraman, sedangkan keburukan akan membuat jiwa gelisah. Qolbun atau hatilah yang mampu memilah itu.
Jadi, pada akhirnya kriteria seperti apa seharusnya ketika kita memilih jodoh? Menurut saya, setiap manusia, sekali lagi, setiap manusia, bukan hanya muslim saja, berhak menemukan kebenaran dan diberi kesempatan yang sama oleh Tuhan untuk memahami kebaikan.

Di atas semua akhirnya sampailah pada kata saling cocok. Kalau sudah saling cocok, kita akan menemukan ketentraman, dan disitulah sepertinya akan lebih mudah hadirnya cinta. Jadi, apakah saya mencintainya? Perlukan saya jawab sekarang? Hoho. Coba mungkin nanti saya perlu tanya dia, apakah dia merasa saya mencintainya. Lalu, apakah dia mencintai saya? Perlukah jawaban itu saat ini? Sejujurnya di hati yang terdalam, saya perlu tahu. Tapi saya juga paham semua perlu proses. Kami terpisah jarak ribuan mil, semua akan terjawab oleh waktu. Mungkin dia bisa menjawab ketika menemukan catatan ini. Namun sayangnya dia bukan tipe yang suka baca catatan begini, dia tipikal pembaca rumus dan angka-angka, mungkin tak akan menemukan. Ya sudahlah sabar Lel, time will tell. ^_^

Jakarta, 23 Mei 2011

Leave a comment

Filed under Conservation

Gak Bisa Tidur 44 Jam

Ini rekor terlama aku terjaga. Bukan karena banyak pekerjaan, melainkan karena habis banyak baca dan anehnya nggak ngantuk sama sekali. Badanku lemas sampai tangan agak kiri tremor, tapi uniknya justru pikiran tenang dan sama sekali gak pusing. Cuma nggak bisa dibohongi kalau ada kecemasan kecil, cemas tapi nggak ngantuk.

Apa Yang Bisa Kulakukan?
Aku hubungi sahabat keadaan ini untuk berbagi aku mungkin insomnia. Memastikan aku punya teman bicara, ada ketenangan tersendiri. Aku tiduran dan merem, sambil mendengarkan musik instrumen seperti Relaxing Sleeping Music. Kedua kaki kunaikkan maksimal ke tembok biar lelah. Kalau dinaikan tanggung, aku bisa tertidur sampai pagi dengan kaki di atas. Meski nggak selalu, lebih sering tidurku nggak pindah posisi, nggak gerak sampai pagi. 🙂

Benar saja, setelah dinaikkan tinggi, kakiku lelah dan sekilas ngantuk. Ngantuknya aneh, langsung mimpi yang mengagetkan. Semacam tindihan. Jadi malah terteror. Aku baca-baca doa untuk tenang. Lalu, tertidur sampai pukul 5.15 pagi.

Apa yang membuat aku terjaga? Mungkin karena aku terngiang-ngiang usai baca blog seseorang. Aku baca semua tulisannya di blog tentang depresi. Aku baca pelan-pelan, baik-baik, dan ikut merasakan beragam emosi di sana.

Kenapa tertarik baca semuanya?
Kalau aku betah menyimak tulisan panjang seseorang, itu artinya tulisannya memang menarik. Ia curhat secara terstruktur tentang sesuatu yang “menyeramkan”. Kisahnya ingin bunuh diri saat studi di negeri orang, lalu diulangi saat kembali ke tanah air. Tapi beruntungnya, ia gagal. Satu kunci yang perlu diingat, ia terselamatkan karena saat pikiran itu datang, ia mencari teman bicara.

Kondisi batin seorang yang sedang mengalami depresi itu biasanya sensitif. Dia bisa menceritakan dengan runtut dan merespon sekelilingnya dengan rapi, elegan, dan rendah hati. Tak ada amukan ataupun sinis melihat hidup. Ia bahkan, menawarkan kepada siapa saja yang depresi dengan tangan terbuka untuk bisa menjadi teman berbagi. Sejatinya ia memiliki hati yang hangat. Semoga Tuhan memberkarti.

Dia depresi dan berpikir bunuh diri justru setelah baru saja wisuda master dari salah satu universitas di Eropa. Dengan segala pencapaian yang diraih, ia sendiri mengakui tak bisa menghentikan rasa depresinya.

Depresi memang kompleks dan bisa menyerang siapa saja. Sementara itu, tidak semua orang yang dilanda depresi mau terbuka, lebih suka menyimpan sendiri karena khawatir stigma negatif.

Mereka khawatir karena kebanyakan masyarakat kita memang belum sensitif masalah ini. Padahal mereka butuh dimengerti. Kita mustinya bisa berempati atau menguatkan, minimal tidak menghakimi. 

Aku barangkali terlalu menjiwai, terngiang-ngiang yang dia ceritakan sampai nggak bisa tidur. Bukan cuma kisahnya, juga komentar-komentar pembacanya yang juga berbagi tentang keadaan depresi mereka masing-masing. Semua seperti berlarian keras di kepalaku. Aku jadi makin mengenal diriku, untuk hal-hal tertentu yang sangat menyedot perhatian bisa “terpengaruh”. Hal lain, seperti usai nonton film hantu, sebulan nggak bisa tidur sendiri. Untung dulu di kos banyak teman, tiap hari keliling kamar, tidur kamar teman atau minta teman tidur kamarku. Gitu terus sampai sebulan. 🙂

Setelah tulisannya bikin aku terjaga 44 jam, apakah kemudian aku menjadi takut padanya? Sama sekali tidak. Aku malah berencana ingin bertemu dengannya untuk ngobrol. Ia di Jakarta dan kemungkinan besar bisa jumpa.

Kembali soal tulisannya yang berkisah pengalaman empirisnya mau bunuh diri. Aku menyimak beragam perasaannya dan analisisnya karena tertarik mengenai kesehatan masyarakat. Aku pernah memakai sepatu yang serupa, bukan perkara ingin bunuh diri sih, melainkan soal tidak bisa mengendalikan kecemasan karena aku pernah Panic Attack. Seperti tersedot ke lorong gelisah dan warna dunia seperti tak menarik lagi.

Dari uraiannya aku menjadi lebih memahami lagi kompleksnya jiwa manusia dan pada akhirnya lebih mengenal diri sendiri.Menambah pengetahuan bagaimana mengambil sikap untuk diri dan orang yang menderita depresi. ❤

Depok, 14 Agustus 2017 dini hari 00:57

Leave a comment

Filed under Conservation

Masalah-Masalah Rumah Tangga

Sekian kali dicurhati masalah rumah tangga oleh beberapa teman. Aku berbagi di sini tentu tak akan menyebut nama. Kucatat agar menjadi pelajaran buatku atau siapapun yang membaca. Aku coba melihat secara objektif dari kacamata luar.

Seringkali kita melihat sebuah rumah tangga tampak semua baik-baik saja. Suami suka posting foto anak dan istrinya yang bahagia di media sosial. Padahal, saat bersamaan, istri curhat rumah tangganya sedang dilanda penuh masalah. Kita hanya bisa melihat kulitnya hingga salah satu cerita kedalamannya.
Kucatat beberapa masalah di antaranya;

Pertama, perselingkuhan suami. Penyebabnya:
1. Suami bertemu cinta lama yang belum selesai. Dulu, suami putus sama mantan karena dipaksa orangtua. Masalah mereka belum selesai. Ketika dalam pernikahan istri harus terpisah kota untuk menempuh pendidikan lagi, suami bertemu mantan yang masih satu kota, perselingkuhan itu terjadi. Mantannya seorang janda. Parahnya, perselingkuhan itu sampai membuat si mantan hamil.
Pesan moral: Berjauhan dengan istri, seringkali mendorong lelaki mencari pelampiasan kebutuhan seksnya. Jadi, seandainya si suami memang tak sanggup menjaga diri, suami istri seharusnya selalu bersama. Ketika terpaksa harus pindah untuk sekolah lagi, salah satu harus ikut.

Ini barangkali terkesan bias. Tapi pada kenyataannya demikian, perempuan umumnya lebih bisa menahan/mengelola kebutuhan biologisnya ketimbang lelaki.

Pesan moral kedua: Sebelum menikah, pastikan perkara-perkara masa lalu terkait mantan harus sudah selesai.

2. Selingkuh dengan teman yang lebih menarik dan pintar.
Saat pernikahan sudah melewati 5 tahun pertama, si istri yang tak berkarier sibuk mengurus anak-anak. Si istri, dulu lulus kuliah belum sempat kerja atau meniti karier, saat masuk rumah tangga tidak punya ketrampilan khusus, sehingga tak tahu harus meningkatkan skill apa atau membangun pergaulan mulai dari mana. Bertahun berkubang di rumah dan masalah anak-anak. Suami merasa istrinya tak bisa mengimbangi intelektualitasnya dan tak menarik lagi, sehingga mencari teman curhat yang setara di luar. Atau, barangkali si suami bukan bermaksud selingkuh, hanya ingin ngobrol dengan teman yang nyambung, sedangkan si istri terlalu mudah curiga karena kurang paham pergaulan kerja di luar sana.
Pesan moral: Untuk suami mustinya menyadari bahwa istri tak bisa berkarier karena dulu lebih memilih menikah dengannya dan sibuk mengurus anak-anaknya. Mendidik dan mengembangkan kepribadian istri mustinya jadi tanggungjawab si suami juga.
Untuk istri, biarpun jadi ibu rumah tangga, harus punya skill yang positif dan tetap update pengetahuan.

Kedua, masalah ekonomi.
1. Istri Berharap Lebih
Ini sering terjadi karena sebelum menikah tidak ada pembicaraan masalah gaji. Istri kurang menyadari bahwa si suami gajinya tidak setinggi yang dia bayangkan. Perempuan itu berbeda-beda. Banyak yang baru merasa eksis kalau baju, sepatu, dan tasnya bagus dan berkelas. Sehingga ketika si suami tak mampu memenuhi gaya hidupnya, rumah tangga goyah. Sedangkan si istri tak memungkinkan kerja yang berpenghasilan tinggi.

Tapi, ada juga perempuan yang menganggap baju, tas, sepatu, dan materi-materi lainnya bukan alat untuk eksis. Selagi suami sudah maksimal giat bekerja, sekecil apapun gajinya, istri bisa menerima dan mengelola dengan baik.

Mungkin ini bukan persoalan salah dan benar, hanya gaya hidup yang berbeda bisa jadi sumber masalah.
Pesan Moral: Pastikan cari pasangan yang gaya hidupnya sesuai dengan kita. Tidak harus sama, tetapi yang bisa saling memenuhi. Kadang ada lelaki yang gajinya tinggi, tapi gaya hidupnya sederhana. Dia tentu bisa memenuhi gaya hidup istrinya yang berkelas tinggi. Kadang ada juga suami yang merasa puas bisa memenuhi gaya hidup istri. Kadang ada juga istri yang terbiasa dengan gaya hidup berkelas, tetapi mau menyesuaikan dengan suaminya yang sederhana.

Ketika gaya hidup tak sesuai, sedangkan pernikahan itu telanjur terjadi dan ingin mempertahankannya, jalan keluarnya saling memahami dan menerima.

2. Suami Nggak/Kurang Bertanggungjawab
Ini kadang terjadi si suami ketika terkena pemutusan kerja di perusahaannya tidak sanggup bangkit. Dia terbiasa dengan kerja mudah dan mengandalkan warisan orang tuanya. Ketika dilanda masalah ekonomi, tak tahan banting, dan kurang gigih berusaha. Saat kehilangan pekerjaan, malah santai menikmati gaji istri tanpa berupaya keras mencari nafkah. Beberapa perempuan bertahan dengan rumah tangga seperti itu karena alasan cinta, tapi akhirnya bercerai juga.
Pesan Moral: cari lelaki yang bekerja gigih. Mungkin bukan soal berapa banyaknya gaji, tapi seberapa gigih dia berupaya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Beberapa temanku yang dilanda masalah ini bilang, seandainya suaminya hanya memberi sejuta atau sekian ratus ribu saja sebulan, itu sudah bentuk tanggungjawab dan dihargai. Masalahnya si suami sama sekali nggak memberi, tapi terus-menerus memakai uang hasil kerja istri, terpaksa rumah tangga harus diakhiri.

Ada beberapa lagi masalah, tapi itu saja dulu. Ini catatan untukku, untuk tetap optimis menguatkan niat membangun rumah tangga. Masalah apapun mustinya bisa diatasi kalau kita bisa mengurai, kemudian melihat secara jernih mencari solusi. Mungkin tidak mudah, tapi kalau kita optimis, itu akan jadi energi positif untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Depok, 16 Februari 2017

Leave a comment

Filed under Activities

Tiga Pilihan

Aku sedang dihadapkan dengan tiga pilihan. Ini merepotkan, sekaligus menyenangkan. Senang dalam arti kusyukuri sebab aku masih punya pilihan.

Ini tentang tiga sosok. Atas berkat dan takdir Tuhan, dia, dia, dan dia datang ke kehidupanku dalam waktu bersamaan. Semua membawa energi positif. Meskipun kadar energinya berbeda-beda. Pada ketiganya aku menanamkan harapan. Aku tak bermaksud membagi-bagi hati atau menyakiti, bagaimanapun aku belum membangun komitmen dengan salah satunya. Mereka hanya mondar-mandir beredar di hati dan pikiranku. Dan, kuterima semua perhatian baik mereka. Aku masih menimbang, mereka sepertinya sedang menimbang juga.

Aku sebenarnya ingin segera mengakhiri pencarian cintaku. Aku menunggu salah satu dari ketiganya berani maju menaikkan level hubungan. Eh. Bagaimanapun, aku perempuan seperti pada umumnya; lebih suka dikejar daripada mengejar. Tidak susah kok mengejarku, kalau di awal aku sudah memberikan respon yang baik, aku hanya butuh diyakinkan. Tidak bermaksud membikin susah yang mendekatiku, aku hanya memberi kesempatan dia menunjukkan kesungguhannya memilihku. Aku akan memilih dia yang paling menghargai hatiku dan semua tentangku. Dia yang sedia bertahan denganku. Saatnya nanti berkomitmen, aku akan menaati, fokus hanya satu dengan pilihanku.

Aku tahu setiap pilihan akan menemui takdirnya masing-masing. Semoga keputusanku nanti menemui takdir terbaik.

Depok, 15 Feberuari 2017

Leave a comment

Filed under activites

Ke Sana Ke Mari

Aku tak pernah serepot ini, hatiku ke sana ke mari. Tapi tak perlu khawatir tentangku, aku telah terlatih patah hati. Semua akan baik-baik saja. Cinta sejati akan menemukan jalannya sendiri. Aku akan memilih yang paling sungguh-sungguh memperjuangkan cintanya padaku.

Depok, 09 Februari 2017

 

Leave a comment

Filed under Activities

Politik dan Sastra di Turki

Malam Minggu ini ceritanya aku gabung menyimak diskusi tentang “Politik dan Sastra di Turki” yang diselenggarakan oleh media Turkish Spirit lewat Hangouts Google dan streaming di YouTube.

Ini tema menarik buatku. Karena terkait satu wilayah di Timur Tengah. Kalau membahas Tunisia atau Lebanon pun aku akan menyimak. Selain juga, sambil refreshing dari aktivitas menyuntingan naskah dan mengisi malam Mingguku yang jomblo kelabu. Wkwk. Nggak kelabu ding, mengisi malam Minggu diskusi online gini keren tahu. Haha. Membela diri. Udah ah, kembali soal Turki.

Tadi aku menyimak sambil mencatat, bikin notula. Ini catatan yang berhasil kurangkum. Belum diolah.

Pembicara pertama, Hadza siapa gitu (nanti kucari nama lengkapnya), dia bicara soal politik Turki. Lalu, ada Bernando J. Sujibto yang berbagi perkara sastra di Turki.

Politik di Turki
1. Banyak orang Indonesia tidak paham Turki, banyak dibohongi informasi tak tepat.

Bagaimana Indonesia memandang Turki? Indonesia sering memandang Turki sebagai negara Islam yang menjalankan syariat Islam. Beredar di media sosial, blog, bahkan di khotbah Jumat. Turki sejak awal dirikan sudah sebagai negara sekuler, demokratis, dan sosial. Negara yang dijalankan ada pemisahan kekuasaan yang jelas antara legislatif, yudikatif, dan eskekutif. Tidak dikendalikan oleh ulama. Yang berlaku adalah hukum konstitusi berdasarkan sistem Perancis.

2. Ada anggapan Turki tak aman. Sering dirundung masalah sehingga nggak aman ditinggali.

Turki memiliki sebuah konteks yang berbeda. Turki memang sedang menghadapi masalah di perbatasan. Tapi sehari-hari orang masih hidup normal. Secara keamanan kurang stabil, tetapi kalau paham konteks yang terjadi di Turki dan bagaimana pemerintah menanggulanginya masih berjalan efektif. Dan masyarakat masih stabil.

3. Tentang pendirinya, yaitu Attaturk.

Attaturk memang figur kontroversial, tidak hanya di Indonesia, juga di Turki. Perannya cukup besar dalam revolusi Turki. Di sini masih ditemukan gambar-gambar dan patung-patungnya di Turki. Kenapa Attaturk masih dihormati dan ada gelombang Islam yang kuat, memang ada upaya pemerintah untuk propaganda sosok Attaturk. Attaturk dijadikan sebagai teladan untuk menjadi orang Turki yang ideal. Anak SD belajar mulai dikenalkan dengan karakter Attaturk.

Orang Indonesia masih menganggap buruk, Attaturk memiliki kebijakan keras sekulerisme. Sebenarnya Attaturk mencoba menerjemahkan lagi Islam dalam konteks Turki. Ketika Attaturk sedang membangun Turki sesuai dengan kondisi zaman. Saat itu masih percaya takhayul dan khurafat. Terlalu banyak percaya takdir dan kurang usaha. Itu menjadi refleksi Attaturk. Maka dia mengambil dasar sekulerisme. Mencoba memisahkan agama dan pemerintah. Agar orang tulus menjalankan agama, bukan dengan politik.

Attaturk mencoba membuat pemerintahan. Pada masa Attaaturk, orang masih salat dan baca Quran dengan cara berbeda. Misal, kalau zaman Attaturk orang lebih banyak baca Quran dengan bahasa Turki, memahami karya-karya agama dengan bahasa Turki. Attaturk mencoba mengubah agama Arab dengan bahasa Turki. Juga dengan menerbitkan buku berbahasa Turki. Kemudian dianggap berlebihan ketika membuat kebijakan azan dan salat pakai bahasa Turki. Akhirnya tahun 1950 tentang sekulerisme melunak.

Orang Asia Indonesia sering menganggap Attaturk meninggal tidak diterima bumi dan bukan dalam keadaan Islam. Oleh sejarawan di Turki, Attaturk masih dianggap muslim, meskipun disalatkan oleh sedikit. Jasadnya dipajang di museum sekian tahun, jasadnya dihadapkan ke arah Ka’bah.

4. Kebangkitan Islam di Turki.

Sejarahnya panjang dan sekarang masih berlanjut. Sejarah sangat kompleks sampai Turki menjadi negara yang menerapkan syariah. Menjadi negara yang memajukan Islam dan ekonomi Islam.

Bagaimana Turki bangkit sebagai sebuah negara yang membawa identitas Islam? Karena sudah memiliki modal itu ketika berperan sebagai Kesultanan Usmani. Itu semacam tersimpan dan dibangkitkan lagi. Banyak orang dari berbagai jamaah, saat itu sekulerisme sudah nggak begitu kuat. Adanya bentuk pelayanan ulama kepada masyarakat. Ini kemudian Turki secara domestik dan pendidikan membaik. Ini memungkinkan orang Turki mempelajari lebih baik lagi tentang Islam. Semakin banyak modal yang dimiliki umat Islam dan ulama, partai-partai Islam lebih maju lagi. Kombinasi kerjasama antara pengusaha dan ulama berperan dalam bangkitnya Islam. Sejak itu terus maju.

Tanya jawab:
Jawaban Hadza,
Terkait perubahan sistem pemerintahan di Turki. Tidak semua setuju dengan sistem presidensial, diubah dari parlemen. Karena akan melanggengkan sistem yang tidak sehat. Ini akan membatasi orang Turki melakukan koreksi terhadap penguasa. Manakah sistem yang cocok, parlementer atau presidensial, perdebatan menarik. Ini diserahkan ke orang Turki. Dengan ini, orang Turki akan mempelajari politik dengan lebih baru, terutama agar tidak tersentralisasi oleh satu orang.

Terkait penerapan syariat, misalnya tentang aktivitas kerja kurang memperhatikan waktu salat. Namun belakangan, kebanyakan universitas di Turki, dosen mulai menjadwalkan kuliah menyesuaikan waktu salat.

Mengenai daerah perbatasan, ada pengamanan intensif, relatif aman, misal di daerah Urfah. Di beberapa daerah lain, seperti Hakkari tidak aman. Meskipun dibangun dinding pembatas antara Turki dan Suriah, tapi belum dipastikan aman.

Terkait bagaimana pemerintah memperlakukan sekte-sekte Islam.
Jawaban Hadza: pelarangan jamaah Gullen atas alasan politik.

Menurut BJ, selain Islam, agama lain tidak dianggap resmi. Kayak kementerian agama hanya untuk Islam. Seperti Yahudi tidak berkembang. Tetapi segala kepercayaan dilindungi. Untuk sekte-sekte khusus, underground. Pemahaman Islam di Turki sangat tertutup. Di luar Ankara secara jelas bisa ditemukan, dengan tegas menolak sempalan-sempalan yang dianggap sesat.

Sastra di Turki

Hadza: Sastra di Turki banyak terkait dengan politiknya. Banyak sastrawan merefleksikan politik Turki. Pada masa sastra awal Turki modern dan era berdirinya Republik Turki, ada nama-nama seperti Khaled Khadifar (gimana cara nulisnya? Googling namanya gak nemu profilnya. Atau aku salah dengar/penulisan namanya ya?), seorang wanita yang bukunya menginspirasi Soekarno.

BJ: Terkait salah satu penulis Turki Orhan Pamuk. Pamuk itu artinya kapas, putih. Dia imigran kulit putih, keluarga kaya, pemikirannya sangat Eropa. Pemikirannya dalam kalangan kelas menengah. Sebenarnya Pamuk tidak benar-benar dibenci. Setelah dia menyebut nenek moyang Turki, Ottoman membunuh atau melakukan genosida. Orhan Pamuk salah satu yang menyebut itu. Dari situ muncul kebencian. Pamuk tidak bisa dikatakan sebagai novelis yang bernafas Turki. Pemikirannya kebarat-baratan

Pamuk sekarang mulai diterima. 2005-2010 masa kelam Pamuk, banyak ancaman bunuh. Meskipun demikian, dilindungi negara. Dia dikasih bodyguard oleh negara. 2006 mendapat hadiah Nobel Sastra.

Tuduhan kenapa orang Turki benci Pamuk karena dia menyentuh isu sensitif Armenia. Bisa dibunuh. Bukan hanya di bawah pemerintah AKP/Erdogan.

Terkait sastra oleh penulis-penulis perempuan di Turki.
BJ: konstelasi potret sastra di Turki memang dalam, tidak terkejut dibahas oleh banyak orang. Saya tidak terlalu detail membaca sastra perempuan di Turki. Sepertinya ada anak Hatta terinspirasi dari penulis Turki.

Buatku ini diskusi menarik. Kendalanya teknis, suara yang kadang timbul tenggelam saat streaming, kadang jelas, kadang cempreng lirih. Bagian akhir diskusi, aku kurang menyimak, sebenarnya bisa dicek ulang di YouTubenya. Tapi, aku belum sempat, karena pasti perlu waktu agak panjang. Ini saja dulu kusimpan di sini. 🙂

Depok, 5 Februari 2017.

2 Comments

Filed under Diversity and Peace Building

Million Years Ago

Sudah hari ke-17 di bulan Januari. Detik bergulir cepat sekali. Lagu di komputerku masih sama sejak tanggal pertama, “Million Years Ago”. Lagu ini digubah dan dinyanyikan oleh Adele. Namun, konon sangat mirip dengan lagunya Ahmet Kaya yang berjudul Acilara Tutunmak, penyanyi dari Turki. Ahmet menciptakan lagu ini jauh lebih duluan. Jadi, Adele dianggap plagiat. Mau googling kapan tahun pastinya lagu Ahmet diciptakan kok malas. Haha.

Aku tahu lagu ini berawal dari percakapan dengan seseorang di Turki. Lalu, ini menjadi lagu kebangsaanku di bulan ini. :p

Ini versi Ahmet Kaya:

Ini versi Acoustic cover oleh Emir

Ini versi Violin Cover. Awas lirikan masnya! Haha.

Ini liriknya:

I only wanted to have fun
Learning to fly…
Learning to run…
I let my heart decide the way
When I was young…
Deep down I must have always known
That is would be inevitable
To earn my stripes I’d have to pay!
And bear my soul

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who can’t stand the reflection that they see
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor

I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother; I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago
When I walk around all of the streets
Where I grew up and found my feet
They can’t look me in the eye
It’s like they’re scared of me
I try to think of things to say
Like a joke or a memory
But they don’t recognize me now
In the light of day…

I know I’m not the only one
Who regrets the things they’ve done
Sometimes I just feel it’s only me
Who never became who they thought they’d be
I wish I could live a little more
Look up to the sky, not just the floor
I feel like my life is flashing by
And all I can do is watch and cry
I miss the air, I miss my friends
I miss my mother, I miss it when
Life was a party to be thrown
But that was a million years ago

A million years ago!

Leave a comment

Filed under Conservation